C2 1

Aku bangun lebih awal karena suara bising dari sepeda yang ditunggangi oleh penjual roti. Aku mendengar Mama memanggilnya. Kami senang makan pandesal (roti favorit setiap orang Filipina) setiap pagi, jadi Mama tidak ketinggalan untuk membelinya untuk sarapan kami sekeluarga.

Aku melipat selimut dan menumpuk bantalku dengan rapi. Aku meregangkan tubuhku sebelum meninggalkan kamarku.

Papa menyeduh kopi di cangkir favoritnya. Aroma kopi membuatku terpesona. Aku menarik kursi lalu duduk di atasnya sambil memandang Ayah dan Mama yang sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing.

"Nah, sarapan dulu," kata Mama. Kusentuh bungkus Roti yang masih hangat dan semakin menggugah selera makanku.

"Kopi favoritmu," kata Papa sambil menarik kursi di sebelahku. Dia tahu aku ingin kopi dicampur susu atau kopi dan kali ini papa benar-benar berbagi kopi denganku. Kami seperti ini setiap pagi, apalagi saat aku tidak ada pekerjaan. Kami hanya memiliki pandesal untuk sarapan. Namun terkadang, kami juga makan nasi saat penjual Pandesal tidak lewat.

"Sayang, maukah kamu ikut denganku? Aku akan pergi ke pasar pagi ini".

Sekarang hari Sabtu. Hari untuk berbelanja. Selain karena kami tidak punya hidangan di lemari es selain kacang untuk makan siang, Mama juga akan menyiapkan cadangan makanan untuk hari-hari kami selanjutnya.

Aku tidak memiliki pekerjaan di rumah Bu Charlotte untuk mengajar Chander, putranya. Ayah juga tidak bekerja hari ini, tetapi Papa selalu bangun lebih awal karena Papa memiliki beberapa hal yang perlu diperbaiki. Baja galvanis yang perlu kita ganti karena saat hujan, air menetes dan membanjiri dapur.

“Kamu bisa ke pasar sendiri kan?. Aku akan membersihkan rumah dulu. Aku selalu merasa bersalah ketika hujan dan dapur bocor, Sayang.”

“Baiklah. “ Mama melangkah meninggalkan ruang makan menuju kamar. Mama mengenakan gaun hijau dengan desain bunga. Keranjangnya sudah ada di atas meja. Dia sepertinya habis mandi karena rambut keritingnya masih basah.

"Oh, oke. Aku juga tidak sabar menunggumu. Aku akan pergi ke pasar," katanya pamit setelah makan pandesal lagi.

Papa menyuruh Mama membeli sesuatu untuknya. Mama ke pasar dan Papa segera mengunci pintu, sedangkan aku, Aku langsung pergi ke kamar untuk mengambil handuk. Aku mandi selama satu jam dengan air panas yang mengusir dingin yang dibawa pagi.

"Kamu sangat cantik!" Ucapku memuji diri sendiri. Kupandang cermin sekali lagi saat busa bermain dengan rambutku. Ini hobiku, berbicara dengan diri sendiri di pagi hari.

"Kau mewarisinya dariku, Sayang! Kau suka sekali berlama-lama saat mandi" Suara Papa menyapaku dari luar.

"Ya, Pa. Itu benar!" Aku bernyanyi karena musik tetangga yang keras. Lebih baik mendengarkan musik keras daripada berkelahi, kan? Itulah mengapa aku melakukannya tanpa mempedulikan Papa yang menungguku keluar dari kamar mandi.

Beberapa kali kuguyur air ke tubuh sebelum saya selesai. Saat keluar, kulihat Papa menarik napas dalam. Dia seperti sedang menunggu Natal menungguku selesai mandi.

Aku mengenakan kemeja putih sederhana dan celana jeans pudar dan kupadukan dengan sepatu agar terlihat sederhana. Sebelum pergi, kupastikan kamar dalam keadaan rapi.

"Pa! Aku pergi!" Aku berteriak setelah membawa kartu ucapan untuk anak yang akan kuberi pembelajaran. Kartu motivasi yang semoga bisa membuat dia menjadi lebih semangat.

"Hati-hati, Sayang! Ada uang sakumu di atas meja!" katanya dari kamar mandi.

Awalnya aku tidak akan menerima itu, tetapi kupikir mungkin ongkosku tidak cukup. Aku juga tidak sarapan. Aku akan makan di kantin dekat rumah Bu Charlotte ketika merasa lapar.

Seketika perutku keroncongan. Aku membeli sepiring bubur dengan telur. Bubur dengan bawang putih cincang dan jeruk nipis yang sangat enak. Kupikir aku adalah satu-satunya yang makan pagi ini di kantin ternyataa kulihat seorang pria sedang makan dari meja tidak jauh dari tempat dudukku. Dia memiliki fisik yang bagus, dan hidungnya mancung. Kamu pasti akan mengagumi wajahnya yang sempurna. Sangat tampan. Kukagumi wajahnya dari tempat dudukku sebelum akhirnya dia sadar dan mengetahui kalau aku sedang terkesima menikmati wajahnya. Aku menunduk untuk menata perasaan agar tak gugup saat dia tahu semua kelakuanku. Setelah semua baik-baik saja, aku segera berdiri dan melangkah ke meja kasir untuk membayar semua tagihan makanku.

“Sudah, Bu. Ini uangnya dan ambil kembaliannya.” Ucapku sambil buru-buru minum air lalu mengambil tisu dan mengelap bibirku.

"Kembaliannya untukku? Kamu pikir berapa kembaliannya? Kembaliannya hanya satu peso!" teriak pemilik kantin.

Memalukan! Namun bukan aku kalau tidak bisa menjawabnya ha ha ha.

"Setidaknya masih ada pengembalian! Bersyukurlah, Bu. Itu berkah!" ucapku sambil berlari meninggalkan kantin dengan tatapan pria yang sejak awal sudah membuatku terhipnotis.

Selama beberapa jam mengajar Chander, aku merasakan kepalaku pusing. Jika ibunya tidak datang ke tetangga untuk bergosip, Chander akan mendengarkanku. Cahnder selalu maunya hanya mendengarkan ibunya, dan itu menyebalkan.

Konsentrasinya mudah sekali terganggu. Dia akan cepat mengerti apa yang saya ajarkan jika dia fokus. Namun, dia sangat tidak sabar dan mudah bosan. Terkadang dia tiba-tiba mengambil mainan robotnya untuk menghibur dirinya sendiri.

"Terima kasih, Kaoree. Bagus kalau kamu tahan anakku" ucap Bu Charlotte sambil tertawa lalu menyerahkan uang hasil kerjaku selama sebulan.

"Tidak apa!" Aku tersenyum. Ini akan menambah tabungan saya untuk kuliah tahun depan. Aku ingin melanjutkan study ke perguruan tinggi demi mencapai cita-citaku.

Karena kelelahan, aku tertidur di dalam angkutan kota. Jika saya tidak dibangunkan oleh orang di sebelahku karena kepalaku bersandar di pundaknya. Kalau tidak mungkin aku tidak akan bangun.

"Oh maafkan aku!"

Alisnya bertemu. "Kamu baru saja tidur di bahuku. Kamu bahkan sudha membuat peta di sini."

"Air liurku memiliki manfaat karena itu adalah air liur Dewi. Anda harus bersyukur!" Aku menertawakannya, jadi alisnya semakin bertemu, heran dengan kelakuanku yang bar bar mungkin.

Biarlah dia marah asalkan aku tetap ceria. Setelah angkutan kota berhenti, aku segera turun.

Awan hitam mengepul di udara seolah menandakan bahwa hujan sebentar lagi akan tiba. Dalam beberapa menit berjalan, kulihat tetangga sedang berkerumun. Petugas pemadam kebakaran berisik, dan ada banyak tangis yang terdengar menyayat hati.

"Pak! Di mana Mama Papaku, dimana mereka!?" Aku berlari menghampiri petugas pemadam kebakaran dan bertanya kepada salah satu petugas pemadam kebakaran.

"Jangan khawatir. Kami sedang menyelamatkan mereka!"

Tiba-tiba aku merasa gugup ketika melihat api perlahan menghanguskan rumah kami. Aku tidak tahu apakah orang tuaku ada di rumah atau tidak dan hal ini menambah aku lebih gugup.

"Aku ingin melihat apakah mereka ada di dalam rumah, Pak!" ucapku sambil berusaha menyibak kerumunan manusia di sekelilingku, tetapi mereka menghentikanku. Sepuluh menit sebelum petugas pemadam kebakaran memadamkan api, tidak ada tanda-tanda keberadaan Mama dan Papa.

Air mataku mulai mengalir. Ada getir yang mulai menyusup masuk ke dalam dadaku. Sangat tidak menyenangkan namun aku tidak tahu harus berbuat apa.

"Tolong! Di mana orang tuaku!" Aku berkata kepada petugas pemadam kebakaran. Tapi matanya menjadi sedih, dan aku mengikuti ke mana dia melihat.

"Pa! Ma!" Aku menangis begitu aku mengenali mereka. Tubuh mereka terbaring bersama korban kebakaran lainnya. Wajah mereka tidak mudah dikenali karena luka bakar. Aku tahu mereka adalah orang tuaku. Cincin kawin yang dikenakan keduanya dan sandal yang kuberikan pada Natal lalu sudah cukup untuk memastikan bahwa itu memang mereka membuat tubuhku semakin bergetar.

"Mama! Papa!"

Aku ingin ikut mereka, namun semua orang tetap memegangi tubuhku dan membiarkan aku mati rasa karena berat dan rasa sakit yang kurasakan. Aku berharap mereka akan mengajakku bersama mereka.

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height