C4 3

Aku dan Jez menghabiskan beberapa jam untuk berbicara. Setelah pemakaman, saya pergi, tetapi temanku satu ini sepertinya tak menginginkan aku pergi. Apple yang berada di salah satu tangannya diletakkan, dia berkata jika dia harus pergi karena ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini.

"Hei Gadis, ayolah! Lagi pula, sejak tadi pagi kau belum juga sarapan. Baumu benar-benar tak sedap!"

Aku tidak mengerti apakah dia ingin meringankan suasana hatiku atau mengejekku. Tissue yang diberikannya padaku sudah habis kugunakan, dan dengan terpaksa dia menyodorkan saputangan miliknya kepadaku.

"Terima kasih. Aku akan mengembalikannya nanti setelah aku mencucinya," kataku seraya menarik napas panjang. Kemudian dia menyeringai lebar saat melihatku.

“Tidak perlu kau kembalikan. Tapi, terserah kau saja!”

Dia tak pernah mengharapkan siapapun mengembalikan barang yang telah dipinjam darinya, terlebih seperti saputangan yang sudah digunakan untuk membersihkan ingus.

"Alkohol. Aku akan membantumu menggunakannya.” Lagi-lagi dia menyeringai saat aku melakukannya.

Setelahnya tak ada yang dikatakan di antara kami berdua, sepanjang jalan kami berdua hanya terdiam ketika melangkahkan kaki keluar dari area pemakaman. Mungkin dia merasa, aku sedang kehilangan seleraku untuk berbicara.

"Ngomong-ngomong, aku ada pemotretan hari ini. Aku harus mempromosikan sebuah butik. Aku ingin kau ikut bersamaku," dengusnya. Aku menghentikan langkahku sejenak, lalu berusaha menenangkan diri.

"Apakah kamu serius? Bukankah bauku tak sedap, dan kau ingin aku pergi bersamamu?"

Dia menggaruk kepalanya dengan kesal.

"Lagi pula siapa anak nakal ini yang tidak mau mandi sebelumnya?"

Aku mengangkat alis padanya.

"Aku tak membawa satu potong pun pakaian! Aku tak mau mandi begitu saja tanpa berganti pakaian setelahnya. Kau pikir aku bodoh?"

"Ya, Gadis. Aku akan membelikanmu pakaian baru, tetapi sebelumnya pergilah denganku dulu."

Dia mengambil saputangan lain dari tasnya.

Laki-laki ini benar-benar seperti seorang anak pramuka. Dia selalu siap siaga. Dia menutup wajahnya sebelum dia menyentuh lenganku dan mengangkatku.

Kira-kira berapa lama dia akan melakukan pemotretan?

Ketika aku merasakan nyeri di perutku, pemotretan pun berakhir. Dia tertawa terbahak-bahak seraya menatap ke arah kamera fotografer. Pemilik butik mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk membayarnya. Ini hanya sedikit cerita tentang dirinya, semenjak dia ditunjuk sebagai brand ambassador mereka.

Pendapatan yang diterimanya tentu saja berlipat ganda dari sebelumnya. Lagi pula, siapa yang tak terpesona dengan penampilan Jez?

Jika saja dia bukan laki-laki dengan perasaan yang seperti wanita, tentu dia sudah memiliki banyak wanita di sisinya. Sepertinya aku pun akan masuk di dalam daftar yang mencoba untuk mendekatinya.

Tentu saja yang baru saja kukatakan hanyalah sebuah lelucon. Aku dan Jez tak mungkin bisa bersama karena kami memiliki kesepakatan untuk tetap menjadi sepasang saudara perempuan.

Fotografer tak mengatakan apa pun padaku, aku pikir dia pasti berpikir aku sangat menjijikkan. Aku tak ingin jika dia menganggapku lebih buruk dari seorang pengemis!

Jez membelikan beberapa potong pakaian di pasar. Bahkan dia ingin mengajakku pergi ke sebuah mall.

Padahal, yang aku inginkan hanyalah sebuah rumah sebagai tempatku berteduh. Aku tak menginginkan hal lebih. Tidak sama sekali!

“Bukankah sudah kukatakan padamu. Kita akan membelinya di mall!” dia berseru ketika melihat sandal yang baru saja kupilih.

“Kau tahu, kau akan menghabiskan banyak uang untuk itu. Kenapa kau tak menyimpan uangmu dan mempergunakannya untuk keperluanmu sendiri.”

“Apakah sandal itu cocok untukmu?” pegawai wanita di toko bertanya menyela di tengah-tengah percakapanku dan Jez. Dia mendekat dan melihat lebih jelas apakah sandal bunga-bunga yang kupilih cocok dengan ukuran kakiku atau tidak.

“Sudah cocok,” kataku. Aku bergumam dan memberikan sandal itu padanya.

“Kenapa kau terlihat malu setiap kali aku membelikanmu sesuatu? Kau ini benar-benar kasar, Cewek. Apa kau ingat ketika seseorang mencoba menggodamu? Kau selalu membiarkannya membelikanmu kue munchkins dan donat.”

Baiklah, itu hanya kejadian tahun lalu, tapi aku tak begitu jelas mengingat bagaimana awal pertemuanku dengan laki-laki itu.

Aku mengabaikannya berkali-kali karena aku tak merasakan percikan rasa apa pun padanya. Jadi apa yang kulakukan pada laki-laki itu murni sebuah sarkasme dan juga ejekan-ejekan yang pada akhirnya membuat laki-laki itu merasa kesal.

Bahkan Jez bisa merasakan cemburu karena laki-laki itu begitu baik padaku. Dia selalu menjemputku di sekolah.

“Kira-kira, di mana laki-laki itu sekarang?” tanya Jez.

Pegawai wanita itu memberikan sebuah kantong besar berisi sandalku.

“Mana aku tahu. Aku tak memiliki informasi apa pun mengenai laki-laki itu,” jawabku.

“Ngomong-ngomong, kau bilang kau mengetahui sesuatu yang bisa menjadi sebuah pekerjaan untukku. Kira-kira di mana? Aku sangat membutuhkannya.”

“Apa kau memiliki anak yang harus kau biayai, kenapa kau begitu terburu-buru untuk mendapatkan pekerjaan?”

“Sinting! Aku membutuhkan uang ... kau mengetahuinya ... untuk Lolita dan juga diriku sendiri.”

Kami menumpang motor beroda tiga. Aku dan Jez duduk di arah luar, jadi Jez hampir saja terantuk karena atap dari motor roda tiga yang terlalu rendah. Motor roda tiga berjalan begitu lambat seperti seekor kura-kura.

“Sepertinya kita akan lebih cepat tiba di sana jika kita berlari sebelumnya,” Jez mendekatkan wajahnya dan berbisik padaku.

“Apakah seseorang bisa membuatnya berjalan lebih cepat?” kata Jez sekali lagi.

Perutku melilit ketika kami melewati sebuah gundukan besar yang diikuti dengan jalanan bergelombang tak rata. Ketika kami berdua turun, kami seperti kehilangan keseimbangan, dan merasakan sekeliling kami berputar.

“Sungguh, Bang! Terima kasih untuk perjalanan yang sangat mulus ini!” ucap Jez sarkas.

Ketika Jez membuka pintu gerbang berwarna biru dari rumah yang kami tuju, keadaannya benar-benar berantakan dan tak terawat.

“Maaf. Tempat kerjamu sepertinya berantakan.”

Terlintas dalam pikiranku mengenai pekerjaan apa yang akan kukerjakan, dan siapa kelak yang akan kulayani.

Beberapa pria terdengar sedang berteriak-teriak dari dalam ketika pintu baru saja dibuka oleh Jez. Seketika terlihat seperti sebuah sinar mengelilingiku ketika aku mencoba mencari tahu darimana suara berisik barusan yang berasal dari pria-pria tersebut.

“Kau pemain yang busuk! Berhenti saja bermain ML!”

Dia mengenakan kaos oblong berwarna putih dan ... celana boxer! Jakunnya bergerak-gerak mengikuti setiap gerakan tawanya. Dia begitu tinggi, dia kelihatan sangat tampan.

“Kau pemain yang lebih busuk dariku!” jawab seorang pria lainnya. Dia mengenakan kaos oblong berwarna abu-abu dan celana pendek. Dilemparkannya sebuah guling ke arah temannya.

“Hei! Anak-anak berhentilah!” seru Jez. Keduanya menatapku kemudian perlahan mereka berjalan mendekat.

"Bau busuk! Siapa itu! Sial?"

Barusan adalah pria berbaju kaos oblong itu yang mengatakannya.

"Itu kamu! Kamu mencium dirimu sendiri. Bagimu tak mandi adalah hal yang biasa. Kau belum mandi selama tiga hari!" tawa pria yang mengenakan kaos oblong, dan sekarang dia menutupi wajahnya dengan bantal yang dipegangnya. Aku menelan ludah. Mereka bertiga terlihat lebih tampan dari jarak dekat.

"Siapa itu, Jez? Kau benar-benar sangat membantu. Kau bahkan membawa seorang pengemis ke sini untuk membantu?"

Pria jangkung itu benar-benar seksi, tapi aku merasa jijik padanya karena menyebutku sebagai seorang pengemis.

"Dia bukan pengemis! Bodoh! Dia itu temanku!"

Aku mengamit pergelangan tangan Jez. Aku pun berbisik padanya, "Jangan bilang aku akan bekerja di sini?"

Dia mengangguk pelan lalu tersenyum lebar saat mata kami bertemu.

"Kau benar. Aku harap kau tak keberatan."

Baru saja aku ingin mengatakan ‘tidak’ tapi ....

“Astaga Jez, apakah dia yang kau temukan? Gadis yang kau bicarakan itu?”

Wajah mungilnya begitu lembut, surga pasti mengirimkannya untukku. Kurasa aku telah jatuh cinta padanya! Wow ... senyumannya!

"Eh. Hai. Siapa namamu, Nona?" Suaranya terdengar seperti lagu pengantar tidur.

"Namaku?"

"Baiklah, Gadis. Bergenit-genitlah sesering mungkin. Kamu benar-benar tak jelas," bisik Jez kepadaku sambil mendorongku.

Dia selalu sarkastik

"Namaku?"

Dia kembali mengangguk saat aku mengulang kembali pertanyaannya.

"Uhm. Kaoree Rogen"

Aku tidak tahu apakah aku akan berjabat tangan atau melakukan apa, tapi pada akhirnya, pilihanku adalah.. tentu saja ... aku akan berjabat tangan! Dia menerima uluran tanganku.

"Wyn. Wynder Roshan"

Aku pikir saat ini aku sedang berada di surga.

"Tenangkan rahimmu!" tegur Jez.

Aku tak yakin dengan yang satu ini, apakah dia seorang malaikat pelindung atau?

“Sekarang giliranku! Perkenalkan dirimu! Gadis bubur. Namaku Latrelle. Latrelle Aurelius, sangat mudah untuk diingat, kan? Aku yang paling tampan di sini.”

Gadis bubur?

Kualihkan pandanganku ke arah pria yang lainnya.

"Namaku Marcus Giberson, salah satu yang paling lucu. Jangan percaya, Latrelle. Dia bukan yang paling tampan di sini."

Latrelle menendang pantatnya.

Tidak tentu saja! Aku tahu itu! Aku pun tersenyum.

Aku tahu dengan jelas, Wyn adalah yang paling tampan di sini.

"Dia belum memiliki pacar, dan sepertinya dia tidak berencana untuk memilikinya. Jadi kau tidak punya harapan," bisik Jez diam-diam lagi sambil kedua tangannya berada di belakang.

"Terima kasih atas dukungannya," kataku sinis. "Ngomong-ngomong, apakah aku diterima?"

Report
Share
Comments
|
New chapter is coming soon
+ Add to Library

Write a Review

Write a Review
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height