BarraNeska/C1 Prolog
+ Add to Library
BarraNeska/C1 Prolog
+ Add to Library

C1 Prolog

Happy Reading.

****

Seorang laki-laki dan gadis yang kini duduk saling berhadapan di sebuah cafe yang cukup terkenal dengan saling terdiam. Tak ada yang membuka pembicaraan saat mereka kini bersama dengan segelas minuman di hadapan mereka masing-masing.

"Aku rasa sebelum hubungan kita semakin jauh dan lama lebih baik kita udahin aja," ucap laki-laki yang kini berada di hadapan gadis dengan netra coklat tersebut. Gadis itu berusaha menahan air matanya agar tidak turun dan akhirnya ia mengangguk.

Apa yang laki-laki itu katakan benar, sebelum hubungan ini semakin jauh dan menyakiti untuk di akhiri lebih baik hubungan yang tak seharusnya berjalan ini di akhir saja. Karena penghalang yang berada di antara benar-benar menjadi sekat dan tentu tak ada yang bisa membantunya selain pengkhianatan.

"Ya aku rasa juga lebih baik berakhir. Tasbih dan salib gak bisa buat nyatu, istiqlal dan katedral yang saling berhadapan pun tak bisa untuk di satukan, tangan yang menengadah dan tangan yang dikepalkan bagaimana bisa memiliki doa yang sama?" tanya gadis itu dengan senyumannya yang jelas menyimpan banyak luka yang berusaha gadis itu sembunyikan lewat senyumnya.

Yang memisahkan mereka memanglah agama, di hubungan ini mereka harus memilih antara mengkhianati pasangan mereka atau tuhan mereka. Berpaling dari agama mereka atau pasangan mereka. Sangat sulit bukan? Seperti yang tertulis dalam surat al-baqarah ayat 22 dan pasal 2 korintus 6:14-15 tentang larangan menikahi yang berbeda agama.

"Aku harap kamu bisa nemuin laki-laki yang lebih baik dari aku," ucap laki-laki tersebut dengan senyumannya yang juga dibalas dengan senyuman dan anggukan dari gadis tersebut.

"Sudah pasti," ucap gadis itu berusaha dengan susah payah menahan air matanya agar tidak terjatuh di depan laki-laki tersebut.

"Maaf Aneska, aku gak bisa untuk mengkhianati tuhan ku," ucap laki-laki tersebut pada gadis yang tak lain adalah Aneska.

Aneska mengangguk, ia paham mereka memiliki kepercayaan mereka masing-masing. Seperti laki-laki tersebut yang tak rela meninggalkan agamanya begitupun Aneska yang tak ingin meninggalkan agamanya juga.

"Aku juga," ucap Aneska sambil mengangguk.

"Boleh aku minta pelukan untuk terakhir kalinya?" tanya laki-laki itu yang kembali mendapatkan anggukan dari Aneska yang selanjutnya berdiri begitupun laki-laki itu lalu mereka berpelukan tak lama Aneska melepaskan pelukannya.

Pelukan perpisahan, siapa yang tahu jika bagi Aneska ini sangat menyakitkan dan menyesakkan. Harusnya dari awal ia sudah tahu jika hal ini pastilah akan terjadi. Berakhir perpisahan atau salah satu dari mereka harus mengkhianati tuhan mereka namun jelas saja mereka lebih memilih opsi kedua untuk di pertahankan, dan memilih opsi pertama untuk di akhiri.

"Aku pergi, bahagia selalu Neska," ucap laki-laki tersebut lalu segera pergi dari sana meninggalkan Aneska yang kini terduduk di kursi hingga tanpa sadar kini air matanya sudah terjatuh dengan begitu deras membentuk sungai membasahi pipi mulusnya.

Tatapan para pengunjung cafe kini sudah tertuju pada Aneska yang duduk di meja pojok. Kini gadis itu sudah terisak, air mata yang ia tahan sedari tadi kini akhirnya keluar juga. Berusaha dengan kuat Aneska menahan air matanya itu agar tidak terjatuh. Aneska menghapus air matanya kasar lalu segera pergi dari cafe tersebut.

Berjalan dengan langkah gontai menuju halte bus terdekat, Aneska terduduk di halte dengan tatapan sendunya. Kini hari sudah mulai gelap, Aneska jadi ragu jika masih ada bus yang akan segera datang.

Siluet menyilaukan dari kendaraan yang berhenti tepat di depannya membuat Aneska menoleh, hingga tak lama seorang laki-laki keluar dari mobil tersebut dan berjalan ke arah Aneska membuat gadis itu waspada dan bersiap akan lari jika laki-laki itu melakukan hal buruk padanya.

"Nama lo siapa?" tanya laki-laki itu pada Aneska yang malah menatap ke sekeliling takut jika laki-laki itu berbicara pada orang lain tapi nyatanya di sana tak ada siapapun kecuali mereka.

"Gue?" tanya Aneska bingung dengan kerutan di dahinya yang terlihat mengerut.

Laki-laki berdecak mendengar pertanyaan Aneska. Tentu saja ia bertanya pada gadis itu karena di sana tak ada orang lain selain mereka. Apa gadis itu pikir ia bisa berbicara dengan hantu?

"Iya elo, siapa?" tanya laki-laki itu sekali lagi.

"Aneska," ucap Aneska menjawab pertanyaan laki-laki itu masih dengan sedikit takut dan waspada.

"Ayo gue anter pulang, udah malam bakal jarang angkutan umum lewat sini," ucap laki-laki itu yang segera Aneska balas dengan gelengan kuat.

Ia tentu saja tak mau, memangnya siapa laki-laki itu? bahkan Aneska tak mengenalnya untuk apa ia menerima tawaran laki-laki itu? siapa yang tahu jika laki-laki itu malah berniat menculiknya?

"Ayo deh cepet gak usah sok jual mahal," ucap laki-laki itu sambil menarik Aneska menuju mobilnya. Aneska meronta berusaha untuk melepaskan diri laki-laki itu.

"Huwaaa gak mau lo pasti penculikkan? Mama tolong Aneska," ucap Aneska sambil berusaha untuk lari namun laki-laki itu segera memasukkan Aneska kedalam mobilnya.

Di dalam mobil Aneska duduk begitu jauh dari laki-laki itu. Bahkan Aneska duduk di ujung sekali merapatkan dirinya pada pintu mobil.

"Gak bakal ada yang mau nyulik cewek rata kayak lo jadi gak usah banyak tingkah, kasih tahu gue di mana rumah lo?" ucap laki-laki tersebut yang menghina sekaligus bertanya pada Aneska.

Dengan cepat Aneska menjawab di mana rumahnya dan dengan segera laki-laki itu melajukan mobilnya ke rumah Aneska.

***

Thank for Reading all.

Hai semua, ini adalah cerita pertamuku di babel novel semoga kalian suka ya.

Makasih ya yang masih mau baca cerita aku, semoga kalian suka sama cerita kau ini.

Kalau ada saran silahkan DM ya atau silahkan koment menerima saran dan kritik.

Jangan lupa buat Vote dan koment ya guys, maaf kalau masih ada typo dan feel kurang dapet.

See you next chapter all

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height