BarraNeska/C3 Chapter Two
+ Add to Library
BarraNeska/C3 Chapter Two
+ Add to Library

C3 Chapter Two

Happy Reading.

***

"Sekarang kalian boleh istirahat setelah ini akan kita lanjut lagi," ucap salah satu anggota OSIS membuat mereka semua berteriak senang. Akhirnya waktu yang mereka tunggu-tunggu datang juga.

Setelah serangkaian kegiatan akhirnya mereka bisa mengisi perut mereka yang sudah meronta untuk di isi serta mengaliri tenggorokan mereka yang sudah kering.

"Aneska mau bareng sama kita?" tanya Sandra menawarkan pada Aneska untuk bergabung dengannya dan satu sahabatnya.

Sandra sudah mengetahui jika Aneska tak memiliki teman dekat di angkatan mereka jadilah ia tak tega jika harus meninggalkan Aneska sendiri. Sandra sendiri memiliki satu sahabat yang bersekolah di sekolah yang sama dengannya.

"Boleh, ayo," ucap Aneska dengan senyumannya dan mengangguk.

Namun baru saja Aneska berjalan beberapa langkah ada yang memanggil namanya dan itu tak lain adalah Aezar yang berjalan ke arah nya dengan senyuman di wajahnya. Melihat keberadaan sang most wanted membuat banyak mata langsung melihat ke arah mereka.

"Aneska," panggil Aezar yang sudah berjalan ke arahnya. Tatapan tanya banyak yang mereka layangkan bagi Aezar dan Aneska.

Karena walaupun mereka tahu jika Aezar bukan seperti Felix dan Barra tapi mereka cukup tau Aezar bukan laki-laki yang mau repot menjemput kekasihnya atau mencari kekasihnya. Dan dari yang mereka tahu Aezar lebih suka mencari kekasih di luar FHS. Memang Aezar dan sahabatnya begitu terkenal bukan hanya bagi Siswa-siswi FHS tapi juga di luar FHS bahkan bagi anak SMP, hingga banyak peminat yang ingin sekolah di FHS hanya untuk satu sekolah dengan kumpulan pria tampan tersebut.

"Ayo kantin," ajak Aezar yang langsung menarik Aneska pergi tanpa menunggu jawaban dari gadis itu.

"Eh tapi gue sama mereka," ucap Aneska sambil menunjuk Sandra dan Sella-sahabat Sandra.

"Sama gue aja," ucap Aezar yang tak mempedulikan dengusan gadis itu.

Aneska hanya bisa menggeleng sambil menghela nafasnya kasar melihat tingkah sahabatnya yang satu itu. Aneska menoleh ke arah Sandra yang masih melihatnya dengan tercengang.

"Sorry ya San, gue sama Aezar," ucap Aneska sambil berteriak tidak enak pada Sandra.

"Dasar pemaksa," kesal Aneska yang malah hanya di balas dengan tawa oleh Aezar, Aezar mengelus puncak kepala Aneska atau lebih tepat nya mengacak rambut gadis itu hingga berantakan dan itu berhasil membuat Aneska kesal.

"Aezar sialan, bego. Berantakan rambut gue njir," ucap Aneska dengan kesal nya lalu memukul pundak Aezar. Bukannya marah dan kesal Aezar malah hanya tertawa membuat banyak gadis yang memekik saat melihat tawa Aezar serta perlakuan laki-laki itu yang membuat iri.

Saat mereka berjalan di koridor banyak yang menatap mereka dengan tatapan penasaran, iri, kagum, dan kesal. Namun jelas saja Aneska tak peduli dengan hal itu karena mengingat dia tipe orang yang tidak peduli dengan persepsi orang lain terhadapnya. Prinsipnya adalah biarkan orang ngebacot sampek tuh mulut berbusa biar sesekali bahagia kasian hidupnya susah mulu. Ia tak akan peduli dengan omongan orang-orang bodoh.

Saat sampai di kantin Aezar langsung menuju meja yang sudah di hak patenkan sebagai milik geng nya. Saat berada di sana dan melihat sahabat Aezar Aneska mengedipkan matanya sebelum matanya melotot saat melihat salah satu sahabat Aezar yang tak asing baginya dan hingga ia sadar siapa laki-laki tersebut mata Aneska senakin memelotot. Tadi pagi sepertinya memang fokus Aneska terganggu saat ia bertemu dengan Aezar hingga ia tak menyadari seperti apa saja wajah sahabat Aezar yang ternyata memang tampan-tampan bahkan ada yang seperti bule sangat tampan.

Laki-laki yang duduk di paling ujung dan tengah menatapnya itu, ah laki-laki itu. Laki-laki gila yang memaksanya untuk di antar pulang saat ia baru saja putus dari kekasihnya satu minggu yang lalu. Aneska langsung duduk di samping Aezar menunduk dalam menyembunyikan wajahnya agar laki-laki gila itu tak melihat nya.

Entah mengapa tapi kini malah Aneska yang malu saat melihat laki-laki tersebut. Atau mungkin ia malu karena sudah berpikir buruk pada laki-laki tersebut? tapi tak ada yang salah bukan? yang salah adalah laki-laki tersebut yang tak kenal tapi malah memberikan tumpangan pada Aneska dengan paksa, jelas saja jika saat itu Aneska berpikir yang macam-macam pada laki-laki yang tak diketahui namanya itu.

"Bentar ya gue pesen makanan dulu," ucap Aezar berpamitan pada Anesa.

Tapi gadis itu malah menarik ujung seragam Aezar yang dikeluarkan membuat laki-laki itu mengerutkan keningnya melihat tingkah Aneska.

"Gue ikut," ucap Aneska sambil berdiri di samping Aezar dan hal itu membuat Aezar mengangguk.

Ia berpikir mungkin saja jika gadis itu merasa tak nyaman duduk dengan sahabatnya yang semua laki-laki, apa lagi dengan banyak tatapan yang terus menghujamnya karena ia duduk dengan laki-laki populer di di sekolah mereka.

"Ya udah ayo," ajak Aezar sambil menggenggam tangan Aneska dan mengajaknya untuk mengikuti laki-laki itu.

Di kursi para most wanted tersebut kini laki-laki itu tengah membicarakan berbagai hal random sampai acara nongkrong mereka malam ini.

"Cantik ya Bar?" tanya Dion menggoda Barra dengan senyuman nakalnya yang hanya dibalas dengan tatapan datar oleh Barra yang sudah tahu jika maksud laki-laki itu hanya untuk menggodanya.

"Bacot sia anying," ucap Barra sambil menggeplak kepala Dion dengan sendok yang di pegang nya.

"Wadai sakit bego," umpat Dion sambil mengelus kepalanya yang terasa begitu sakit akibat ulah Barra.

"Gas Bar lanjutin," kompor Cakra dengan tawanya yang begitu senang melihat sahabatnya kesakitan.

Tertawa di atas kesakitan sahabat memanglah epik tapi jika sahabat ada yang menyakiti mari saling adu kekuatan dengan kita yang berada di depan untuk melindunginya. Felix tidak terlalu menghiraukan sahabatnya itu karena terlalu fokus dengan ponselnya entah apa saja yang dilakukan laki-laki itu dengan ponselnya sambil tersenyum sendiri.

Tak lama Aneska dan Aezar datang dengan makanan mereka yang sudah berada di tangan mereka masing-masing. Aezar lebih dulu duduk di samping Dion dan Aneska duduk di paling ujung berhadapan dengan laki-laki tampan yang tengah sibuk dengan ponselnya.

"Kenalin dulu kek Zar," ucap Cakra sambil mengedipkan sebelah matanya pada Aneska yang langsung mendapatkan tatapan datar dari Barra yang berada di depannya. Melihat Barra yang sudah bersikap seperti itu padahal belum memiliki hubungan membuat Cakra terkekeh melihatnya.

"Kata orang tak kenal maka tak sayang jadi kita kenalan dulu lah biar saling sayang," goda Dion dengan senyumannya pada Aneska yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari gadis itu. Melihat Aneska yang memelototkan matanya membuat Dion nyengir menampilkan wajahnya watados-nya (Wajah tanpa dosa).

"Barra udah sayang tuh," timpal Felix yang sedari tadi Diam. Namun, lihatlah sekali berbicara laki-laki itu langsung mengeluarkan sebuah bom yang membuat orang di sekitarnya menahan tawa sedangkan Barra menatap kesal ke arah sahabatnya itu.

Aneska hanya diam saja seolah ia baik-baik saja dengan pembicaraan laki-laki tersebut, Dan dari itu sepertinya ia tahu laki-laki yang mengantarnya pulang saat itu bernama Barra.

"Kenalin Aneska dia sahabat gue, dan Aneska kenalin mereka juga sahabat gue yang depan lo itu Felix, sampingnya Cakra, samping Cakra itu Barra, depan Barra itu Dion," ucap Aezar memperkenalkan sahabatnya satu persatu. Aneska mengangguk dan menampilkan senyumannya.

Selanjutnya mereka mulai membicarakan banyak hal dan membawa Aneska pada objek pembicaraan mereka dan tentu saja hal itu tak lepas dari perhatian seluruh kantin yang terus menatap iri pada Aneska dan itu berlaku bagi kaum hawa yang menyukai salah satu dari kelima laki-laki itu.

Siapa yang memangnya tak ingin berada di dekat laki-laki tersebut? Jelas saja mereka ingin bahkan jika bisa mereka ingin bertukar posisi dengan Aneska sebentar saja.

****

Thank for Reading all

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height