C4 Chapter Three
Thank For Reading.
***
Ini adalah hari kedua MOS dan kali ini Aneska tak lagi kesiangan ia berangkat begitu pagi hingga saat sampai di sekolah pun hanya ada beberapa siswa-siswi yang datang. Aneska berjalan ke arah Aula yang hari ini menjadi tempat MOS.
Aneska berjalan ke arah kursi bagian tengah dan duduk di salah satu kursi. Aneska mengeluarkan ponselnya, tapi baru saja ia selesai memasukan sandi ponselnya ada yang merampas ponselnya melihat hal itu dengan segera Aneska melihat siapa yang berani mengambil ponselnya.
Mata gadis itu melotot saat melihat yang mengambil ponselnya ternyata adalah Barra, Kini laki-laki itu tengah menuliskan sesuatu di ponsel gadis itu setelah selesai ia langsung memberikannya lagi pada gadis itu.
Ia mengerutkan keningnya bingung, dengan apa yang laki-laki itu tuliskan di ponselnya hingga tak lama dering dari ponselnya membuat gadis itu mengalihkan perhatiannya pada ponselnya dan melihat nama yang tertera di sana adalah Barra.
"No gue," ucap laki-laki itu dengan senyumannya lalu mengelus puncak kepala Aneska.
Melihat perlakuan Barra, Aneska mengerjapkan matanya berkali-kali dengan jantungnya yang berdebar melihat senyuman dari laki-laki tampan tersebut. Ini gila, ada yang salah dengan hatinya.
Setelah membuat Aneska salah tingkah laki-laki itu malah meninggalkan Aneska dengan jantung gadis itu yang terus berpacu dengan cepat. Dengan segera gadis itu membuka kontak Barra dan menampilkan profil dengan Barra, foto profil laki-laki itu bahkan terlihat begitu tampan hanya dengan fotonya dari belakang.
Aneska terus saja merutuki dirinya yang malah salah tingkah atas perbuatan laki-laki tersebut. Entah apa sebenarnya yang laki-laki itu inginkan darinya hingga terus bersikap untuk menarik perhatian Aneska.
"Aneska," panggil suara di samping Aneska membangunkan gadis itu dari lamunannya.
Aneska tersentak dari lamunannya dan langsung menoleh ke sampingnya yang ternyata sudah ada Sandra dan Sella yang kini tengah menatap Aneska dengan bingung. Aneska langsung tersenyum ke arah dua gadis itu.
"Lo lagi mikirin apa hayo?" tanya Sella dengan matanya yang memicing, Aneska hanya menggeleng sambil tersenyum dengan menampilkan deretan gigi putihnya.
"Eh Nes lo sama kak Aezar ada hubungan apa sih? sumpah ya lo kemarin bikin gempar gara-gara lo deket sama salah satu most wanted FHS," ucap Sandra sekaligus bertanya. Ia sudah mulai penasaran dengan hubungan gadis itu dengan Aezar.
Sebenarnya hubungan seperti apa yang dimiliki gadis itu hingga terlihat begitu istimewa bagi Aezar. Bahkan Aezar mau susah-susah menjemputnya dan mengajaknya makan bersama dengan anggota gengnya.
"Kita cuma sahabatan, kita udah sahabatan dari kecil karena orang tua kita juga bersahabat," ucap Aneska menjelaskan hubungan mereka agar tak ada yang salah paham dengan hubungannya dengan Aezar.
Ia tak ingin mencari masalah di hari pertama sekolahnya, yang benar saja baru sekolah beberapa hari dan sudah mencari masalah. Mengingat Aezar adalah most wanted di sekolahnya.
"Oh gue kira kalian pacaran," ucap Sella sambil nyengir menampilkan deretan gigi putihnya.
Sudah Aneska duga pasti akan banyak yang mengira jika mereka memiliki hubungan spesial padahal tak sama sekali, mereka hanya bersahabat dan tak akan lebih dari itu. Memangnya Aneska akan mau berpacaran dengan laki-laki playboy seperti Aezar? tentu saja tidak, laki-laki itu sengaja memiliki kekasih yang berbeda sekolah juga karena tak ingin jika ada yang tahu jika ia memiliki kekasih dan fans nya berkurang. Sangat narsis.
"Gue yang ogah pacaran sama dia," ucap Aneska sambil terkekeh mengatakan hal seperti itu.
"Lah kenapa? kak Aezar pacarable banget loh Nes," ucap Sandra yang semakin membuat Aneska tertawa mendengarnya.
Memang yang paling mengetahui kejelekan seseorang adalah sahabatnya dan itu berlaku bagi Aneska yang sudah mengetahui segala tingkah dan sikap Aezar yang nyatanya sungguh menyebalkan dan bikin gondok.
"Kalian gak tau aja gimana sikap aslinya," ucap Aneska.
Kini temannya itu malah tertarik mendengarnya, dan meminta Aneska untuk menceritakan bagaimana sikap laki-laki itu jika sedang bersama sahabatnya. Dan benar saja kini kedua gadis itu merasa tercengang mendengarnya.
Bahkan mereka tertawa begitu keras saat mendengar cerita Aneska jika Aezar begitu takut dengan hal-hal yang berbulu, terutama pada kucing. Bahkan Aezar pernah sampai memanjat ke atas pohon karena ada seekor kucing yang terus mendekatinya dan selanjutnya berujung dengan Aezar yang malah jatuh karena tangannya terdapat ulat bulu. Sungguh sangat sial laki-laki itu.
****
"Bar, Aneska nanti pulang gak ada yang jemput nih. Nyokapnya minta gue yang nganter, lo mau gantiin gue?" tanya Aezar pada Barra.
Kini mereka tengah berada di gudang belakang sekolah yang sudah mereka sulap menjadi basecamp mereka. Tak ada yang berani melarang mengingat Felix adalah anak dari pemilik sekolah.
Gudang belakang yang sudah mereka sulap menjadi ruangan yang super elit dengan tiga kasur berukuran lumayan besar di lengkapi dengan sofa, kulkas, tv, wifi, ac bahkan di bagian pojok terdapat seperti dapur mini dan juga kamar mandi. Benar-benar ruangan yang begitu lengkap dan memang gudang itu sangat besar.
Felix tengah sibuk dengan ponselnya karena memang laki-laki itu selalu fokus dengan ponselnya hingga membuat sahabatnya curiga sebenarnya apa yang terus laki-laki itu mainkan di ponselnya karena yang mereka tahu laki-laki itu jomblo.
Dion dan Cakra tengah bermain ps sambil memakan cemilan yang sudah dibeli mereka sebelumnya. Aezar dan Barra tengah bermain game di ponsel mereka masing-masing sambil menghisap rokok yang di apit di dua jari mereka.
"Ok," ucap Barra sambil mengangguk membuat mereka tersenyum senang saat mengetahui Barra sudah mulai membuka hatinya kembali.
"Emang udah seharusnya lo Move on," ucap Dion sambil mengangguk bak orang bijak yang tengah memberikan nasihat dengan senyuman yang mengembang di wajah laki-laki itu.
"Untuk tuan Hector apa anda tidak berencana mencari seorang gadis?" tanya Cakra pada Falix.
"Gak," ucap Felix singkat hingga tak lama suara dering dari ponsel laki-laki itu segera membuat Felix menjawabnya dan keluar dari sana agar sahabatnya itu tak terganggu.
"Gue jadi takut dia Gay," ucap Dion sambil menggeleng dan meringis membayangkan jika sahabatnya yang satu itu ternyata seorang gay.
"Dia udah punya pacar kali," ucap Aezar sambil terkekeh memikirkan mungkin saja jika sahabatnya itu tengah terlibat backstreet.
Tak lama yang menjadi pembicaraan akhirnya kembali juga, dan kini ikut bergabung dengan Barra dan Aezar bermain game di ponselnya.
"Besok gue mau ke New York," ucap Felix memberitahu tahu sahabatnya.
Namun bagi sahabat laki-laki itu, hal tersebut bukan lagi sesuatu yang wah dan menarik hingga membuat mereka terkejut karena memang setiap sebulan sekali pasti laki-laki itu akan pergi ke New york negara asalnya entah apa yang laki-laki itu lakukan hingga harus pergi sebulan sekali ke New York.
Selanjutnya mereka mulai membicarakan banyak hal atau sibuk dengan permainan mereka masing-masing.
***
Thank for Reading all