BarraNeska/C8 Chapter Seven
+ Add to Library
BarraNeska/C8 Chapter Seven
+ Add to Library

C8 Chapter Seven

Happy Reading.

***

Setelah melihat Aneska selesai dengan segera ia berjalan meninggalkan sahabatnya dan berjalan menuju Aneska. Setelah menemukan gadis itu tengah berbicara dengan temannya. Barra segera menariknya membawa gadis itu untuk pergi dari sana.

Aneska yang ditarik oleh Barra terus saja meronta meminta untuk dilepaskan. Namun Barra seakan menulikan pendengarannya dan melanjutkan jalannya menuju taman samping sekolah yang kini terlihat begitu sepi.

"Gue gak suka liat lo nari-nari gitu," ucap Barra to the point. Ia tidak suka berbasa-basi.

Mendengar ucapan Barra, Aneska malah mengerutkan keningnya bingung. Lagi pula Barra siapa? bari melarangnya melakukan apapun. Aneska suka Dance lalu untuk apa ia menuruti laki-laki gila ini? ia bebas melakukan apapun yang ia suka bukan? Barra juga bukanlah siapa-siapanya.

"Lah lo kenapa? emang lo siapa gue?" tanya Aneska dengan tatapan kesal nya. Ia tak mengerti mengapa laki-laki itu malah melarangnya melakukan apa yang telah ia suka.

"Kalo gue bilang gak suka ya gak suka. Dan mulai hari ini, jam ini, menit ini, dan detik ini lo pacar gue. Gue gak nerima bantahan," ucap Barra dengan tegasnya membuat Aneska mengerjapkan matanya berkali-kali menatap tak percaya pada Barra yang kini masih berdiri kokoh di depannya.

"Ck lo emang gak tahu cara nyatain cinta, harusnya lo tain dulu," ucap Aneska sambil menggeleng. Bukannya ia berharap Barra akan menembaknya hanya saja jika Barra memberinya opsi maka ia bisa menolaknya. Lagi pula ia baru mengenal Barra bahkan mereka tak akrab dan kini tiba-tiba laki-laki itu malah mengklaim Aneska sebagai kekasihnya. Sungguh gila.

"Lo mau gak jadi pacar gue? pilihannya cuma mau dan mau banget," ucap Barra yang mengatakannya tanpa ekspresi dan wajah datarnya.

Kali ini Aneska benar-benar dibuat melongo oleh ucapan dan tingkah laki-laki tersebut yang di luar ekspektasinya. Ia kira laki-laki itu begitu susah untuk ditaklukan tapi lihatlah bahkan saat Aneska tak melakukan apapun untuk menarik perhatian laki-laki itu Barra malah dengan mudah mengklaim dirinya.

"Nih buat lo," ucap Barra sambil memberikan minuman yang sudah dibelinya untuk Aneska. Sensasi dingin dari air mineral tersebut membuat Aneska tersadar dari lamunannya. Tapi laki-laki yang memberinya air tersebut malah sudah pergi berjalan meninggalkannya yang masih dibuat terkejut.

"Barra," teriak Aneska pada laki-laki yang kini sudah berjalan meninggalkannya itu.

"Iya sayang tar pulang sekolah gue yang anter," ucap Barra juga ikut berteriak membuat Aneska membulatkan matanya mendengar hal tersebut. Untung saja kini di teman samping sekolah tampak sepi.

***

Di sisi lain kini Dion terus menarik tangan gadis nya untuk menuju gudang belakang. Setelah tadi ia mencari keberadaan gadis itu dan bertengkar sedikit dengannya itu akhirnya Manda mengalah dan memilih untuk mengikuti Dion yang berjalan lebih dulu darinya sambil menarik tangan Manda.

"Kamu ngapain sih pensi sama Dia? Aku gak masalah kamu nunjukin suara kamu tapi aku gak suka kamu berhubungan sama cowok lain," ucap Dion dengan tegasnya.

Kini Manda sudah berada dalam kukungan Dion yang mengapitnya dengan kedua tangan laki-laki itu sebagai kukungan dan menghimpit Manda di dinding.

"Aku cuma nyanyi dia cuma main gitar. Bukan saling pegangan tangan, ciuman, pelukan, keluar malam, atau ke club bareng," ucap Manda sambil menyindir Dion yang jelas langsung tersindir mendengarnya.

Ia tahu jika Manda tengah menyindirnya bahkan lagu yang gadis itu nyanyikan juga menyindir nya. Gadis nya itu sungguh sangat pintar menyindir, entah bagaimana bisa ia bisa tertarik dengan gadis suka menyindir seperti Manda.

Manda adalah adik kelasnya dulu saat SMP. Hubungan itu begitu awet walau sering ada orang ketiganya. Manda begitu tahan dengan sikap Dion. Walau ia tahu apa maksud Dion melakukan hal itu tetap saja ia merasa kesal dan sakit hati. Lagi pula siapa yang tak sakit hati melihat kekasihnya bersama dengan gadis lain? Bahkan terkadang wanita yang dibawa Dion adalah wanita bayaran yang ia sewa dari club.

"Kamu nyindir aku?" tanya Dion yang sebenarnya tak perlu lagi dijawab karena ia sudah jelas mengetahui jawabannya.

"Tau Majas Retoris kan?" tanya Manda dengan senyuman sinisnya pada Dion.

"Ck tau ah, ayo ke kantin," ucap Dion sambil menarik tangan Manda untuk ikut dengannya ke Kantin.

Sebelumnya ia tak pernah mengajak gadis ke kantin karena memang jika siang hanya Manda kekasihnya. Dan selama Manda sekolah di sini pun hanya kali ini ia mengajak Manda untuk duduk dengannya di kantin.

***

Setelah upacara selesai Siswa-siswi sudah bisa pulang. Aneska dengan terburu-buru meraih tas nya dan segera pergi. Bukannya apa hanya saja ia takut Barra akan menepati ucapannya dan mengantarnya pulang kini ia harus menghindari Barra. Dekat dengan Barra pasti tak akan berujung baik entah untuk hatinya yang mungkin saja akan lemah untuk Barra atau fisiknya yang akan terkena bully dari Fans Barra.

Bukannya Aneska takut pada fans Barra tapi untuk saat ini rasanya menghindar lebih baik daripada mencari masalah. Aneska kini berjalan dengan tergesa keluar dari sekolah namun baru saja ia keluar dari gerbang sudah ada yang mencekal tangannya.

Aneska memejamkan matanya berharap jika itu bukanlah Barra. Namun sepertinya dewi fortuna sedang tidak berpihak padanya. Setelah mendengar laki-laki itu membuka suara dapat ia simpulkan dengan mendengar suaranya jika itu adalah Barra.

"Mau kemana hm?" tanya Barra dengan suara datarnya.

Aneska membalikkan tubuhnya dan dapat ia lihat Barra yang tengah mengerutkan keningnya dengan alisnya yang naik sebelah. Melihat itu Aneska malah menatap kesal pada Barra. Mengapa laki-laki itu datang di saat yang tidak tepat? sial.

"Ya mau pulang lah," ucap Aneska dengan kesalnya menjawab pertanyaan Barra.

Kini ia terlihat begitu berani menantang laki-laki itu walau sebenarnya kini ia tengah berusaha mengontrol ketakutan saat melihat Barra yang kini tengah menatap tajam padanya.

"Gue udah bilang kan lo balik sama gue," ucap Barra dengan nada tegasnya.

Kini mereka sudah menjadi pusat perhatian karena baru kali ini mereka melihat Barra berinteraksi dengan seorang gadis, biasanya malah laki-laki itu sangat menghindari kaum hawa.

"Tapi gue ogah," ucap Aneska dan hendak pergi dari sana namun seperti sebelumnya Barra malah menarik tangannya dan membantunya atau lebih tepatnya memaksa Aneska untuk masuk ke dalam mobilnya.

Dan lagi tak ada yang bisa Aneska lakukan selain pasrah saja. Mungkin juga setelah ini hidupnya di FHS tak akan tenang karena Fans laki-laki itu yang mungkin saja akan mengamuk padanya.

***

Thank for Reading all

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height