C1 Prolog
Pukul sembilan malam, gerimis membasahi jalan utama pun tak menyurutkan pengemudi memacu kendaraan masing-masing.
"Jam berapa jadwal penerbanganku?" Seorang pemuda berparas tampan bertanya pada supir pribadi sekaligus asistennya dari kecil yang duduk di sebelahnya.
"Jam sepuluh lewat lima belas menit, itu adalah jadwal boarding terakhir untuk semua penumpang dengan tujuan negara xx, tuan muda." Tanpa mengalihkan perhatian dari jalanan yang ada di hadapannya, supir itu menjelaskan secara terperinci apa yang ditanyakan oleh Tuan mudanya.
"Kita masih memiliki waktu dua setengah jam lebih, tidak perlu terburu-buru, menyetir dengan pelan saja." Tuan muda yang beberapa bulan nanti berusia dua puluh satu tahun itu melirik arloji di pergelangan tangannya.
Kemudian matanya ikut menatap lurus ke depan, mengikuti arah mobil yang dikendarai oleh supir, menuju bandara terbesar dengan tingkat penerbangan internasional terbanyak di negara ini.
Namun tidak sampai lima menit, pemuda berhidung mancung itu menegakkan tubuh. Mata elangnya menangkap sebuah pemandangan yang tidak biasa.
"Apa kau juga melihat hal yang sama denganku, kurang lebih lima ratus meter arah depan?" Tuan muda memicingkan ekor matanya, memastikan bahwa yang dia lihat adalah nyata.
"Ya, Tuan." Hanya sepatah kata, namun sudah cukup membuktikan bahwa pandangan matanya tidaklah salah.
"Hentikan mobilnya." Tegas sang Tuan muda, tepat setelah mobil mereka melintasi sebuah jembatan besar.
"Tapi tuan,"
Supir pribadi itu berusaha mencegah Tuan mudanya untuk keluar dari mobil. Di luar sekarang hujan tengah menderas. Belum lagi perjalanan menuju bandara masih membutuhkan waktu hampir satu jam. Lima puluh menit lebih tepatnya jika perjalanan mereka lancar dan tidak ada kemacetan.
Pakaian Tuan mudanya bisa basah, jika ia harus keluar mobil. Padahal setelah ini Tuan muda kesayangannya harus menempuh penerbangan sekitar dua puluh jam untuk sampai ke kota xx, tempat yang Tuan mudanya pilih untuk melanjutkan pendidikannya. Supri itu khawatir jika Tuan muda akan sakit di perjalanannya kali ini.
"Hentikan." Tak menggubris, pemuda itu tetap kekeh pada pendiriannya.
Ciiit,
Suara rem mobil, sebagai jawaban dari supir tersebut. Meski dia mengkhawatirkan kesehatan tuannya, namun sekali lagi sabda majikan adalah sesuatu yang wajib dia turuti. Menghentikan mobil tepat di pinggir jalan.
Bruuaaak,
Hanya beberapa detik setelah supir menghentikan mobil. Terdengar suara pintu mobil dibanting dengan keras oleh sang tuan muda. Kemudian secepat kilat pemuda itu berlari ke arah belakang. Tepat di jembatan yang sedari tadi menyita perhatiannya.
"Tolooong..." Rintihan kecil dari seorang gadis kecil yang terluka parah kini terdengar jelas, seiring jarak yang semakin terkikis.
Dengan susah payah, gadis itu menggeser tubuhnya yang bahkan tidak mampu lagi untuk berdiri akibat luka yang cukup parah di bagian pinggang gadis itu. Dengan merangkak, sedikit demi sedikit, gadis itu berhasil minggir dan keluar dari bahu jalan yang ramai oleh kendaraan berlalu lalang di tengah gelapnya malam dan derasnya guyuran hujan. Kendaraan yang siap melindas tubuh kecilnya kapan saja.
"Aaargh..." Gadis itu berteriak di tengah ketidak berdayaannya.
Entah karena kesadaran yang menurun karena telah kehilangan banyak darah, atau karena ia merasa frustasi dan ingin bunuh diri tubuh gadis itu justru terperosok ke bawah karena ia terlalu minggir hingga dia terjatuh ke sungai yang kini meluap oleh tingginya curah hujan yang mengguyur kota malam ini.
"Hei, kau baik-baik saja?" Beruntung pemuda itu datang tepat waktu.
Dengan cepat dia meraih pergelangan tangan gadis yang jika sedetik saja ia terlambat menariknya, akan terjatuh dan hanyut oleh arus air yang deras. Tak menunggu waktu, pemuda berbadan tegap itu segera menarik tubuh kurus gadis itu kembali ke atas. Aspal jalanan yang basah oleh air hujan.
"Tolong..." Hanya kata itu yang terucap dari bibir sang gadis. Kemudian pandangan gadis itu meredup ia kehilangan banyak darah.
"Hei buka matamu, siapa namamu?" Pemuda itu terus menepuk-nepuk pipi gadis kecil dalam dekapannya, berusaha menjaga gadis itu tetap sadar.
"Cla..." Lirih gadis itu dengan mata terpejam.
"Buka matamu, kau harus terus sadar." Suara cemas dari bibir pemuda yang menyiratkan kekhawatiran pada gadis yang pertama dia jumpai.
"Tolong aku, dan aku pastikan akan membalasmu di masa depan." Senyum tipis melengkung di bibir gadis itu terlihat, saat sorot lampu mobil melintas.
Cantik, sangat cantik wajah yang terlihat pucat pasi itu, terlihat begitu menawan di mata sang pemuda. Hanya sekilas, sebelum pada akhirnya gadis itu benar-benar kehilangan kesadarannya.
"Hei kau, bangunlah jika kau ingin aku menolongmu." Panik pemuda itu.
"Tuan muda," Menyaksikan kepanikan yang melanda Tuannya, sang supir itu pada akhirnya bersuara.
"Tuan, anda akan ketinggalan pesawat jika tidak segera bergegas ke bandara." Tak mendapat jawaban, akhirnya supir itu mengulang maksud perkataannya untuk ke dua kalinya.
"Cepat panggil ambulan, gadis ini terluka parah." Sambil menekan pinggang gadis agar tidak mengeluarkan banyak darah." Tak menggubris penerbangan yang terlambat, bagi pemuda ini nyawa lebih berharga.
Patuh, sang supir segera mengeluarkan ponsel untuk menelpon.
"Tunggu, pakai mobil kita saja. Ini akan lebih cepat, gadis ini butuh segera di tangani oleh rumah sakit." Belum sampai supir itu menekan tombol dial, tindakannya kembali dicegah oleh sang Tuan muda.
"Aku akan pergi menggunakan taksi." Tak ingin menyia-nyiakan waktu lebih lama lagi, pemuda itu segera menggendong tubuh sang gadis dan berlari ke mobil. Meletakkan tubuh gadis yang tidak berdaya itu di kursi bagian belakang.
Pun pak supir itu dengan cekatan menurunkan satu koper yang berisi pakaian tuan mudanya. Setelah itu segera berlari ke arah kemudi. Memacu gas menuju ke rumah sakit terdekat sesuai titah sang tuan, menyelamatkan nyawa satu anak manusia.