C12 Rubah kecil
"Benar, kau terlihat sangat tampan. Seperti pemeran dokter psikopat dalam sebuah telenovela." sebal Clara setelah mengusap hidung, sadar dikerjai oleh Dicka.
"Apa psikopat? Wah ternyata selain bar-bar mulutmu juga sangat tajam!" lelaki itu sangat geram, mendengar ejekan Clara.
Dia memainkan pisau bedah kecil yang masih dipegangnya, tepat di depan muka putih susu Clara. Dengan penuh penghayatan Dicka membentuk gerakan mencincang, mencongkel, memotong dengan sadis, tidak lupa gerakan seperti membelah sesuatu seperti saat melakukan operasi.
"Hei, a-apa yang akan kau lakukan?" suara Clara bergetar.
Gadis itu beringsut mundur, bulu kuduknya merinding saat pandangan pria di hadapannya berubah menjadi dingin dan menampilkan wajah bengis. Dia ketakutan dengan reaksi dokter tampan yang masih terus memainkan pisau bedahnya.
"Aku adalah seorang psikopat. Maka aku tidak akan segan lagi. Aku akan menikmati teriakan penuh ampun, saat mencongkel matamu, akan ku ambil organ vitalmu dan ku jual pada mereka yang mampu membayar mahal!" seringai Dicka di barengi menarik tangan Clara.
Sedang gadis yang di tarik, tiba-tiba saja diam seribu bahasa. Matanya hanya tertuju pada pisau bedah yang sedang Dicka pegang. Tidak memberi perlawanan maupun berontak. Melihat reaksi Clara, Dicka pun sedikit heran melihatnya.
"Sepertinya ancamanku kali ini cukup berguna bagi bocah tengil ini." Namun itu hanya sekilas, lalu bersorak girang dalam hati.
"Kau boleh memilih, bagian mana yang bisa aku potong lebih dulu!" ucap Dicka santai, namun mempererat tarikan tangannya pada lengan gadis berambut maroon itu.
Aku akan mengambil organ vitalmu dan akan Aku jual.
Aku akan mengambil organ vitalmu dan akan Akuku jual.
Berbeda dengan Clara. Kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Dicka, terus terngiang di telinga Clara. Tubuh gadis itu bergetar hebat. Keringat mengucur deras membasahi wajahnya yang mulus. Tangannya dalam sekejap menjadi sangat dingin, pun wajahnya berubah sangat pucat, bibirnya membiru.
Hati dan tubuhnya seolah berhianat, hingga tidak menuruti apa yang di katakan oleh akal sehatnya. Bibirnya yang mulai membiru kembali bergetar disertai suara gemerutuk gigi seperti seseorang sedang mengalami ketakutan hebat.
Tidak pakai lama, tubuh gadis berparas cantik melemas dan ambruk tak sadarkan diri. Dicka yang melihat badan Clara limbung, segera menangkap dan mengangkat tubuh gadis mungil ke dalam dekapannya.
"Hei nona, kau sangat berbakat dalam berakting!" decihnya tak percaya.
"Hentikan sandiwaramu, atau aku akan menjatuhkanmu sekarang juga!" Dicka menggoyang-goyang tubuh Clara, namun tidak ada reaksi apapun. Clara tetap lemas tak berdaya.
"Sial, ternyata benar-benar pingsan." kesalnya, namun segera menggendong Clara masuk ke dalam ruangannya.
"Siapa wanita cantik itu?" tanya seorang suster kepada dua orang temannya di ruang jaga.
"Dia sangat cantik, tubuhnya sangat bagus meski sedikit pendek." sahut salah satu temannya.
"Dokter Dicka terlihat sangat perhatian, ini pertama kali membawa orang lain keruangannya, mungkinkah itu pacarnya?" perawat yang duduk di kursi paling ujung ikut menimpali obrolan temannya, dengan wajah cemberut.
"Tidak mungkin pangeran kita punya pacar, bukankah dia seperti mesin pendingin pada semua orang." jawab suster yang berada di tengah mulai bergosip.
"Tapi dia sangat tampan dan bertangan malaikat, melihatnya saja membuat hatiku berdebar." ucap salah satunya dengan pipi merona.
Sementara Dokter di bicarakan tidak peduli. Bahkan yang sebenarnya sangat sebal dengan tingkah Clara, sejak pertama kali bertemu pun tidak tega membiarkan gadis itu tanpa memberi perawatan.
Dibaringkan tubuh mungil yang terasa ringan dalam dekapannya di atas tempat tidur berukuran king size yang berada dalam ruangan kerjanya. Setelah itu mengambil stetoskop dan mulai memeriksa dengan mengarahkan pada dada kiri Clara, untuk mendengarkan detak jantungnya, lalu berganti perut bagian atas.
"Kenapa detak jantungnya tidak beraturan?
Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin, lambungnya terdengar sedikit aneh?"
"Kenapa para wanita sangat senang menyiksa diri, dengan mengenakan sepatu tinggi seperti ini?" keluhnya saat melihat sepatu yang masih terpasang di kaki mulus Clara.
Dicka melepaskan sepatu tersebut dengan pelan dan hati-hati. Kemudian diletakkan pada rak sepatu yang terdapat di pojok ruang kerja miliknya. Tak lupa dia longgarkan pakaian bagian atas Clara saat melihat nafas gadis itu terlihat sesak.
"Antarkan satu kantong cairan infus dan omeprazole dosis rendah keruanganku sekarang!" Dicka berkata dengan nada memerintah, melalui saluran telpon.
Tok tok tok,
Tak lama terdengar pintu ruangannya diketuk seseorang.
"Masuk." perintah lelaki itu.
"Dokter ini cairan infus dan omeprazole cair yang anda pesan." seorang perawat wanita berusia sekitar dua puluh tiga tahun mengantarkan pesanan Dicka.
"Tutup pintunya saat kamu keluar." balas Dicka cuek tanpa mengucapkan terima kasih.
Dan segera berlalu memasuki ruang istirahat tempat Clara berada, meninggalkan perawat yang masih dalam ruang kerjanya.
Setelah memasang infus dan menyuntikkan obatnya pada Clara, Dicka duduk di pinggir ranjang mengamati Clara yang masih tertidur.
"Gadis ini terlihat sangat cantik saat diam, tapi kenapa tubuhnya sangat kurus seperti orang cacingan?"
"Apa kamu sebegitu takutnya denganku, sampai sampai langsung pingsan hanya dengan kata kata konyol seperti itu?"
"Kenapa tubuhmu terus mengeluarkan keringat dingin sebanyak ini?"
"Apa kau memiliki luka di masa lalumu?"
Kemudian Dicka mengambil beberapa lembar tissue, untuk mengelap kening Clara yang basah oleh keringat, mengelap lembut pipi gadis itu. Menyingkirkan beberapa helai rambut panjang yang menutupi wajah cantik Clara.
Dipegang tangan gadis itu lembut. Desiran hangat mengalir pelan dalam nadi lelaki muda ini. Dicka mengerutkan wajah melihat bekas luka jahit yang cukup tebal pada titik nadi tangan kanan Clara.
"Mungkinkah dia pernah mencoba bunuh diri di masa lalu?"
"Begitu beratkah beban yang dia tanggung, sampai berniat mengakhiri hidupnya?"
"Huh, apa yang aku pikirkan, kenapa aku peduli dengannya? Gadis tengil ini, tidak boleh menyita perhatianku!" Berbagai pertanyaan tentang Clara memenuhi kepala Dicka, sampai tubuh dokter muda itu terasa lelah setelah menghadapi banyak pasien hari ini.
Dia membaringkan tubuhnya di samping Clara. Tak sampai lima menit kedua kelopak matanya sudah beradu erat, menyisakan desiran nafas halus, pertanda lelaki itu sudah terlelap berkelana di alam mimpi.
Beberapa jam kemudian Clara mengerjap-ngerjapkan matanya, dilihatnya ruangan elegan bernuansa abu-abu. Lalu sekilas matanya beralih menatap pergelangan tangan kirinya yang terasa sedikit sakit saat bergerak. Oh di rumah sakit, pikirnya saat melihat jarum infus di tangan.
Kemudian netranya beralih ke perut yang terasa berat, sebuah tangan kekar memeluk perutnya erat. Clara memiringkan tubuhnya ke kanan untuk melihat pemilik tangan kekar itu.
Deg,
Degup jantungnya langsung berubah cepat, saat melihat wajahnya sangat dekat dengan wajah polos Dicka yang tertidur pulas di sampingnya. Dia mengamati wajah lelaki itu, entah kenapa Clara merasa betah dalam pelukan lelaki asing yang baru ditemuinya beberapa hari lalu.
"Hidungnya sangat mancung, ah aku sungguh iri." gumannya pelan.
"Wajahnya lebih tampan dibanding tri masketirku,"
"Tapi tempramennya seperti herder pelacak yang garang." imbuh Clara lirih, dengan mengangkat pelan tangan Dicka dari perutnya.
Tanpa dia sangka, Dicka justru menarik dan memeluk tubuh Clara erat dangan mata terlelap, serta mengarahkan kepalanya di dada Clara.
"Dasar penjahat kelamin!"
Dug,
Sebuah dengkulan keras Clara meluncur tepat ke restricted area Dicka.
Clara yang kala itu kaget bercampur murka, secara refleks menyerang bagian tengah Dicka menggunakan kakinya, saat tangannya tidak bisa bergerak karena pelukan erat lelaki itu. Gadis itu mengira Dicka pura-pura tidur, sengaja berbuat mesum.
Aargh,
Dicka yang memang tengah tidur kaget, disertai rasa sangat sakit pada restricted areanya pun mengaduh keras, dengan tubuh dicondongkan ke depan hendak meringkuk memegangi telur ajaib miliknya.
Namun kepalanya sekali lagi beradu dengan benda kenyal milik Clara.
"Dasar dokter brengsek, bisa-bisanya kau mengambil kesempatan dalam kesempitan!" teriak Clara emosi. Gadis itu segera bangun dan berdiri di samping ranjang dengan kedua lengannya menyilang menutupi dadanya.
"Kau, aargh," perut bawahnya terasa sangat mulas sampai badannya ikut menggigil menahan sakit, akibat dengkulan maut gadis itu. Dicka memegangi selangkangannya yang kesakitan hingga tubuhnya merasa sedikit lemas.
"Bisa-bisanya kau mesum pada pasienmu yang tidak sadarkan diri!" Clara berapi-api.
"Kau wanita bar-bar arogan dan tidak tau berterima kasih." balas Dicka tak mau kalah.
"Kau sengaja mau memutus garis keturunanku ya? Lihat saja, jika terjadi masalah sama pusakaku maka Kamu adalah orang yang pertama kali kucari!" ancam Dicka dengan jari telunjuk kanan mengarah tepat ke wajah clara.
Dia berdiri tegap sambil menahan rasa sakit di selangkangannya. Dia melompat ke arah Clara, mencengkeram erat dagu Clara, pandangan matanya tajam menusuk mata Clara.
"Tadinya aku kasihan melihatmu pingsan, dan mengurungkan niat untuk membelah perutmu." seringai Dicka tajam.
"Tapi sekarang mengambil satu kukumu akan terasa sedikit menyenangkan" Dicka melirik jari-jemari tangan Clara.
"K-kau, seorang dokter, ingatlah sumpahmu!" gadis itu kembali ketakutan.
"Sumpahku tidak berlaku untuk gadis arogan sepertimu!" tegas Dicka mantap.
Clara menatap Dicka ketakutan. Ia tengah berusaha melepaskan diri dari malaikat sableng berprofesi dokter di hadapannya ini. Namun cengkeraman lelaki itu sangat kuat dan tidak memudar sama sekali. Bahkan dengan gesit Dicka berhasil menghindar dari pijakan kaki Clara yang hendak menyerangnya lagi.
"Sepuluh juta, lepaskan aku" Clara mencoba bernegosiasi.
"Aku tidak butuh uang recehmu!" Jawab Dicka sombong.
Kedua bola mata mereka sama-sama melotot, seolah tak ada yang mau mengalah, beradu argumen lewat sorot matanya.
"Tumben Kamu enggak nutup ruang kerjamu bro?" terdengar suara dari depan pintu ruang istirahat yang terbuka, membuyarkan konsentrasi dua anak manusia yang saling dipenuhi rasa benci itu.
Clara melihat Dicka mengalihkan pandangan ke arah pintu, dan cengkeraman tangan di dagunya memudar segera meloloskan diri. Gadis itu melompat sambil membawa tabung infus menjauhi Dicka.
"Cla, apa yang kau lakukan di sini?" Leon terheran melihat wanita yang dikenalnya berada di ruang pribadi Dicka.
"Leon, beruntung sekali kau datang tepat waktu." Clara bahagia melihat sahabatnya didepan pintu, ia segera berlari ke arah Leon.
"Anjing gila itu, terus mengamuk padaku!" Imbuh gadis itu, dengan mata mendelik ke Dicka.
"Apa anjing gila? Kau sangat menjengkelkan" Dicka hendak menyeret Clara lagi.
"Leon tolong aku, sepertinya rabiesnya mulai kambuh lagi!" Clara bersembunyi di belakang tubuh Leon.
"Bro, kenapa kau kejam sekali dengan gadis sebaik Clara?" tanya Leon.
"Bahkan kau sepertinya punya banyak identitas" Cibir Dicka ketika mendengar Leon menyebut nama Clara, berbeda dengan name tag yang terpasang di baju gadis dengan bulu mata lentik.
"Hmmmm?" Leon bingung maksud perkataan Dicka, sahabatnya dari kecil.
"Dasar rubah kecil licik." Sinis Dicka, sedang Clara yang mendengarnya menjulurkan lidah ke arah lelaki itu, membuat pria berparas tampan itu semakin geram.