+ Add to Library
+ Add to Library

C14 Patah

Di ruang ICU, Adit tidur meringkuk, di sofa panjang yang terletak di sebelah ranjang medis, tempat ibunya terbaring koma dalam kesakitan.

Tubuh bocah kecil berusia sepuluh tahun itu, terlihat lebih kurus. Tubuh kecilnya terbalut baju tipis dengan warna yang sudah memudar dan terkesan kumal. Menandakan betapa bocah itu terhimpit beban berat di pundaknya, ibarat seperti tulang rawan. Tulang muda yang terus tumbuh seiring berkembangnya usia, namun ia rapuh dan mudah patah.

Hidup memang tidak pernah mudah, untuk mereka yang fakir. Mereka harus mengais rezeki dalam kenistaan-kenistaan kehidupan yang mereka jalani. Uluran tangan yang sering kali tersiar, nyatanya tak pernah sampai, seperti kepada tangan mungil berusia sepuluh tahun itu. Bak suara drama yang dilakonkan oleh mereka pemilik singgasana, yang biasa mereka sebut "Harta".

Harta itu tak terlihat!

Namun bisa berlaku demikian kejam, egois, kasar, menyengsarakan. Namu bisa pula lembut dan membahagiakan dalam satu waktu yang bersamaan. Para pemainnya pun beragam. Kadang mereka begitu welas asih. Ya, welas asih yang begitu gampang untuk luntur, tergantikan oleh angkara keserakahan dalam ketamakan, jika pelakonnya adalah mereka para durjana kelam.

Dan Adit, bocah yang bahkan belum tahu apa itu arti hidup yang sebenarnya, adalah bukti dari durjananya sebuah rasa ketidak pedulian orang-orang sekitar.

Mata bocah itu terpejam, di balik pulas, ia mencoba merajut mimpi-mimpi manis di antara hidup yang jahanam. Dia bahkan belum bisa merasakan, apa yang mereka katakan sebagai asam garam kehidupan.

Nyatanya saat ini, dalam kesendiriannya, mata bocah itu dipaksa terbuka, oleh alarm yang terus berdering nyaring dari alat pesakitan yang terpasang di tubuh perempuan yang melahirkannya. Alarm sebagai pertanda tubuh wanita itu tengah berada di antara jurang kematian.

Bocah sepuluh tahun itu yang baru saja membuka mata itu terpaksa bangun penuh dengan ketakutan. Tubuhnya bergetar, menahan kekalutan yang bergumul dalam ruang hatinya yang terdalam.

Mata bocah itu dipenuhi oleh kepanikan, tatkala melihat nafas tersengal yang keluar dari mulut sang ibu, yang sudah dipasang selang oksigen sebagai penunjang hidup wanita itu.

"Ibu..."

Bocah itu berteriak sekencang mungkin, air matanya mengalir deras dari balik kelopak matanya yang sendu.

Adit berlari keluar mencari pertolongan. Dia terus berlari, mengikuti irama jantungnya yang sebenarnya terasa kosong.

"Suster, tolong Ibuku, nafas Ibu dan tubuhnya bergerak-gerak!" Adit berteriak sembari memegang erat tangan salah seorang perawat yang ditemuinya.

Bocah itu berlari dengan terus memegang erat tangan suster muda. Memaksa suster itu mengikuti langkahnya. Dimana sang suster kepantingan ketika berlari dengan tangan tergenggam erat oleh Adit.

Code blue,

Code blue,

Code blue ICU 003,

Perawat muda itu segera memencet tombol darurat, ketika melihat tanda pasien dalam keadaan kritis.

Di kantin, Dicka yang tengah menikmati makan siangnya bersama Clara, Leon dan Linda, mamanya Leon, terlonjak kaget begitu mendengar alarm darurat yang berasal dari ICU tempat ibunya Adit dirawat.

"Adit," tidak sempat ia meneruskan perkataanya, Dokter muda itu segera berlari meninggalkan makan siangnya yang masih tersisa separuh porsi. Lelaki itu berlari dengan secepat kilat tanpa pamit pada teman makannya.

"Adit?" Clara yang mendengar Dicka menyebut nama bocah yang sangat dia kenal itu pun, mencoba mencerna maksud lelaki itu.

Setelahnya Clara ikut berlari dengan sedikit pelan karena harus mendorong tiang gantungan infus serta berusaha mengejar lelaki yang sudah jauh di depannya itu.

"Sial, aku melupakan ponselku di kamar." ucap Dicka sambil terus berlari, saat hendak menelpon perawat untuk memandu tindakan darurat.

Di depan ruang ICU, seorang perawat tengah berusaha keras memegangi tubuh Adit. Bocah bertubuh kurus itu, terus memberontak, ia ingin memeluk sang ibu yang tengah kritis.

Dicka yang melihatnya pun mengabaikan bocah dalam pelukan sang perawat itu, meski lubuknya dipenuhi oleh rasa iba. Namun ini juga bukan saatnya memeluk bocah yang tengah meraung keras itu.

Wanita di ranjang pesakitan di hadapannya ini, jauh lebih membutuhkan pertolongan dengan tindakan medisnya, yang mungkin saja mampu memperpanjang umurnya.

"Dokter, bagaimana ini, kondisi vital pasien terus menurun." jelas seorang dokter muda dan perawat secara bersamaan ketika melihat kehadiran Dicka.

Dicka yang mendengarnya segera berhambur kemudian mengambil tindakan dengan cepat. Namun belum sempat dia melakukan aksinya,

Beep...

Layar monitor berubah, hanya menampilkan garis lurus.

"Dokter, jantungnya berhenti berdetak." perawat pemula itu panik, melihat kondisi pasiennya.

Seketika ruangan itu di penuhi oleh aroma ketegangan, yang berasal dari seorang perawat dan dua orang dokter yang tengah berjuang menyelamatkan nyawa wanita paruh baya tersebut.

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Tio, sang dokter junior dengan nada penuh kepanikan juga. Ini adalah masa koasnya, dan juga pertama kali menghadapi kondisi kritis pasien.

"Yaa, apa kau menyebut dirimu dokter?" ucap Dicka marah, tatkala melihat juniornya terdiam dalam kepanikan tanpa melakukan tindakan apapun untuk menolong pasien.

"Tenanglah sedikit." bentaknya lagi.

"Suntikkan 1MG Adrenalin, cepat!" perintah Dicka pada Tio kemudian.

"Gunakan respirator untuk membantunya bernafas!" Dicka memandu perawat di sampingnya.

Sedang dia sendiri tengah melakukan CPR, berusaha mengembalikan detak jantung ibunya Adit.

47, 48, 49, 50...

51, 52, 53, 54...

"Ku mohon, ku mohon..."

"Berdetaklah, berdetaklah!"

Dicka terus memohon pada Tuhan, dengan tangan terus bekerja semaksimal mungkin memompa jantung pasien di hadapannya dengan keras dan menambah ritmenya. Keringat mulai bercucuran memenuhi keningnya yang putih di sela hawa dingin ruangan ber-AC.

"Dokter, sudah lima menit tiga puluh detik sejak jantungnya berhenti berdetak." perawat wanita berdiri di sampingnya membuka suara.

Dicka yang mendengar suara perawat itu tidak menghiraukannya. Pria itu terus memompa jantung ibunya Adit, kemudian memberi nafas buatan secara berulang kali.

"Hei nyonya, bangunlah, apa kau tuli?" teriaknya menahan rasa putus asa.

"Apa kau tidak melihat, anakmu di luar pintu terus meraung mengharapkanmu terus hidup?" Dicka terus berteriak dengan kencang, mencoba yang terbaik.

"Siapa yang akan menjaganya, jika kau menyerah semudah ini?" Dicka menanyakan sesuatu yang sudah pasti bisu adalah jawabannya.

68, 69, 70, 71...

Dicka masih terus memompa jantung wanita itu, tanpa menyerah meski hatinya diselimuti kegalauan yang teramat sangat. Hanya keajaiban dari tuhan yang mampu mengembalikan detak jantung ibunya Adit.

Tit, tit, tit,

Ajaib, layar monitor EKG kembali menunjukkan grafik tanda kehidupan. Dan jantung ibunya Adit pun kembali, tepat di saat Dicka hendak menyerah.

Lelaki berparas tampan itu menghembuskan nafas lega, kemudian segera memasang kembali semua alat bantu pernafasan yang masih sangat diperlukan oleh wanita itu.

Di luar ruangan ICU, Clara berusaha memeluk Adit dengan sayang. Namun bocah itu terus berontak di luar kendalinya.

Tubuh mungil Clara, tidak mampu menahan gerakan brutal dari Adit, hingga membuat gadis itu terjatuh beberapa kali, akibat dorongan Adit. Bahkan jarum infus yang terpasang di tangan gadis cantik itu kini sudah terlepas, saat ia terus berusaha menghentikan Adit yang ingin masuk ke ruang ICU.

Darah segar menetes dari tangan lembut milik gadis dengan bulu mata yang lentik dan lebat itu. Tapi Clara mengabaikan rasa sakitnya sendiri serta darah yang keluar dari pergelangan tangannya, menetes ke lantai putih rumah sakit, menciptakan warna kontras. Merah dan putih. Clara terus memeluk Adit, tanpa lelah dan meski tubuhnya sendiri masih terasa lemah.

Antara iba, sayang, serta rasa ingin melindungi bocah sepuluh tahun yang bernasib sama dengannya saat ini. Yaitu sama-sama tidak memiliki siapapun untuk bersandar.

Dalam ruang ICU, Dicka dan kedua orang temannya yang merasa sedikit lega berhasil mengembalikan detak jantung wanita paruh baya itu kembali tegang, ketika:

"Dokter, pasien muntah darah." Tio sang dokter junior berteriak keras, saat melihat alat respirator sudah dipenuhi oleh darah.

Dicka segera melepas alat tersebut dari mulut pasien, dan menyuruh perawat untuk membersihkan mulut ibunya Adit. Lalu segera mengambil alat respirator baru, yang terletak tidak jauh dari nakas samping ranjang pesakitan. Dan,

Beep,,,

Wanita itu kembali kehilangan detak jantungnya. Kepanikan dan ketegangan beberapa saat lalu terulang kembali.

Sepuluh menit berlalu, segala usaha Dicka dan kedua orang yang membantunya tidak membuahkan hasil. Ibunya Adit tidak tertolong! Ke tiga petugas medis tersebut merasa sangat terpukul akan hal itu.

"Waktu kematian pukul 15.23." dokter itu pun dengan terpaksa mengumumkan waktu kematian pada bocah yang menangis pilu.

"Tidak, Ibuu, Ibu tidak boleh pergi, hiks hiks." Adit meraung, memeluk wanita yang sangat dia cintai.

"Ku mohon bangunlah, bu." tangisan Adit sungguh membuat iba setiap orang yang menyaksikannya.

Bahkan Clara dan juga Dicka, pun tak kuasa menahan air matanya tatkala melihat bocah itu begitu terpukul telah kelihangan malaikat pelindungnya.

"Ibu, Ibu, Adit harus sama siapa, jika ibu pergi?" Adit mengiba pada jasad malaikat yang dia panggil ibu, yang bahkan tak mampu membuka matanya sekarang.

"Ibu, hu, hu, hu..." Tangisan Adit terdengar sangat menyayat jiwa di hati Clara dan semua yang ada di ruangan.

"Adit, Adit jangan takut ya, ada kakak di sini!" Clara memeluk Adit dengan air mata menetes.

"Adit cuma mau Ibu bangun kak. Adit, Adit janji tidak nakal lagi, hiks hiks.." bocah itu terisak, terus memohon pada jasad sang ibu yang mulai membiru karena darah mulai membeku.

"Adit janji akan jadi anak baik. Bangun Bu, bangunlah!" janji Adit sembari mencium telapak kaki wanita paruh baya yang mulai mendingin, sedingin es, hingga mampu membekukan bocah tidak berdosa itu.

Clara masih terus mencoba membujuk dan menenangkan anak kecil yang kehilangan kendali dalam dekapannya.

"Aku tau, dekapan ini, pelukan ini, tidaklah sama dengan tangan lembut ibumu,"

"Namun, setidaknyaa, aku ingin engkau tahu, bahwa Aku akan menggenggam tangan kecilmu, mulai saat ini."

"Melindungimu, sekuat tenagaku,meski aku tahu, bagimu akan terasa berbeda."

"Aku tidak peduli. Karena aku tidak ingin Kau sia-sia."

Clara bertekad dalam hati, ia akan memungut Adit, menjadikannya sesuatu yang berharga bagaimanapun caranya. Gadis itu tidak ingin melihat masa depan anak lelaki itu hancur dalam keterpurukan.

"Adit, mulai sekarang kamu adikku." ucapnya lirih dengan penuh kasih sayang di telinga adit.

"Kakak akan melindungimu, mulai saat ini!" imbuhnya penuh tekad.

Adit yang mendengarnya hanya memeluk Clara dalam diam. Bocah itu tidak tau harus berbuat apa. Ia dipenuhi ketakutan yang teramat sangat di dalam hatinya. Yang dia tahu, dia butuh seseorang untuk merangkulnya serta menggenggam tangannya.

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height