C18 Good girl
Dicka terus melangkahkan kakinya semakin cepat sambil memanggul Clara di pundaknya, menuju mobil yang terparkir di seberang makam. Lelaki itu tidak memperdulikan Clara yang terus berontak minta diturunkan.
Sesampainya di mobil, lelaki itu langsung membanting Clara pelan di kursi bagian belakang mobilnya. Sedang Clara menarik nafas panjang merasa sangat lega, terbebas dari anjing herder yang selalu membuat hatinya ciut ketika berhadapan dengan Dicka.
“Diam ditempat atau aku akan menyeretmu dengan paksa!” titahnya pada gadis itu, saat melihat Clara memaksa hendak keluar dari mobilnya.
Clara yang mendapat ancaman dari Dicka pun mengurungkan niat, mendapati tatapan membunuh dari mata dokter tampan tersebut.
Ish,
Benar benar menyebalkan.
Setidaknya itulah yang batin Clara ucapkan. Namun realitanya Clara hanya bisa mendelikkan mata pasrah, membalas perlakuan pria menyebalkan itu.
Di mobil satunya yang terletak persis di belakang mobil Dicka, Bara duduk di kursi belakang sambil memangku Adit. Tak lupa mengolesi tubuh bocah malang itu dengan minyak kayu putih yang kebetulan selalu tersedia di kotak P3K, di dashboard mobil Leon. Sedang Leon si pemilik mobil sudah duduk di belakang kemudi, bersiap mengemudikan mobil tersebut.
“Ini kita ke rumah sakit atau kemana dek?” tanya Untung menghampiri Clara, mengingat kondisi Adit yang butuh perawatan.
"Rumah sakit."
"Apartemen!"
Seru Dicka dan Clara secara bersamaan, merespon pertanyaan Untung.
“Kalian luar biasa kompak, cie,!” goda Viona pada keduanya, setelah mendengar pernyataan yang sama-sama keras.
“Ka, gue nebeng mobilmu ya?” imbuh Viona sembari melenggangkan kaki menuju pintu belakang sebelah Clara.
“Hmm.” Dicka hanya berdehem, sebagai tanda setuju.
“Ini jadinya kita kemana, apartemen atau rumah sakit?” tanya Untung bingung, untuk ke dua kalinya.
"Apartemen!"
"Rumah sakit!"
Dicka dan Clara kembali mengucapkan kalimat yang sama dengan beberapa detik lalu, saling meneriakkan pendapat masing masing untuk yang kedua kalinya.
“Rumah sakit aja, Adit dan kamu masih butuh perawatan intensif!” tegas Dicka melihat kondisi Clara dan Adit.
“Aku tidak mau membawa Adit ke rumah sakit” sementara gadis itu tetap kekeh dengan pendapatnya.
“Kenapa kau keras kepala banget sih, apa Kau tidak lihat kondisi tubuhmu dan bocah yang baru saja Kau angkat jadi adikmu itu? Lihatlah bocah itu masih belum sadar!” Dicka kesal setengah mati, memancing Leon untuk menghampiri mereka.
Tidak habis pikir dengan keputusan Clara yang begitu gegabah, tanpa mempertimbangkan kesehatan Adit dan dirinya sendiri. Sejak gadis itu memaksa menghentikan perawatannya dan memilih menemani bocah kecil mengantarkan ibunya ke peristirahatan terakhir.
“Karena dia adikku, maka aku akan membawanya pulang ke apartemenku!” balas gadis berambut maroon dengan wajah sendunya.
“Kau benar-benar gadis paling egois yang pernah ku kenal.” Dicka mulai terpancing emosi.
Bahkan kini Dicka mulai marah, sebab gadis itu tidak mau mendengarkan pendapatnya sebagai seorang dokter, yang sangat paham dengan kondisi kesehatan kedua anak manusia yang butuh sentuhan tangan medisnya.
“Bagaimana bisa seseorang menyebut dirinya kakak, tapi tega membiarkan adiknya yang sakit tanpa perawatan?” imbuh pemuda itu, sambil meninju udara meluapkan kekesalannya.
“Benar Cla, Adit butuh perawatan medis kondisi tubuhnya kurang baik!” Viona yang hendak membuka pintu mobil mengeluarkan pendapatnya.
“Karena aku kakaknya, maka aku tidak akan membiarkanmu membawanya ke rumah sakit.” Clara pun sama jengkelnya pada lelaki yang selalu mengatur hidupnya beberapa hari ini.
"Kau adalah dokter paling sombong yang pernah ku temui.
"Apa kau tidak bisa melihat, adikku sangat terpukul saat ini, hati kami yang terluka."
"Alat medismu itu tak akan pernah bisa menyembuhkan hati kita, yang sudah menghitam menjadi butiran arang."
"Terbakar oleh pedihnya hidup, yang tidak akan pernah kalian semua rasakan."
"Jadi ku mohon, berhentilah bersikap seolah kamu mengetahui segalanya tentang kehidupan orang-orang seperti kami." akhirnya Clara tidak tahan untuk mengeluarkan semua isi hatinya, sambil menyandarkan kepalanya yang kembali berdenyut di jok belakang.
“Apa Kau lupa, Adit bocah itu baru saja kehilangan ibunya. Dia juga menatap wanita yang sangat berharga dalam hidupnya, untuk yang terakhir kali juga di Rumah sakit?" nada suara Clara sedikit melemah, namun tetap meneruskan kalimatnya dengan penuh penekanan.
"Aku tidak ingin adikku semakin terluka melihat alat-alat medismu yang memuakkan itu. Aku tidak mau, sebab akan semakin menambah trauma pada Adit, dia masih terlalu kecil!” ternyata pikiran Clara jauh lebih dari apa yang mereka ketahui.
Hingga membuat ke tiganya terdiam, mendengar penuturan gadis itu.
Sesaat, Dicka tertegun mendengar isi hati gadis itu, dia tidak menyangka Clara bisa memiliki sisi kelembutan yang sangat tulus dalam hatinya. Namun logikanya sebagai tenaga medis menolak pernyataan gadis itu.
“Tapi,” kata-kata Dicka terpotong oleh Clara.
“Apa kau benar-benar menyebut dirimu dokter, bagaimana bisa seorang dokter tidak bisa membedakan antara sakit psikis dan organ pada pasiennya?” sinis Clara membungkam dokter tampan tersebut.
Gadis itu sudah tidak tahan terus menerus berdebat dengan lelaki tampan di hadapannya ini.
“Pikirkan baik-baik Cla, kamu juga masih lemah. Jika kalian memilih ke apartemen siapa yang akan merawat kalian? Selain itu peralatan dan obat-obatan akan lebih lengkap jika kalian di rawat di rumah sakit!” ucap Leon lembut, menengahi ketegangan ke dua manusia yang mempertahankan pendapat masing-masing.
“Jadilah dokter pribadi kami, berikan perawatan pada Adit di apartemen bukan di rumah sakit. Dia butuh pelukan yang mengisi kekosongannya, bukan peralatan medismu yang canggih!” ucap gadis itu pada Dicka setelah mendengar perkataan Leon. Karena dia juga paham, bahwa adiknya masih butuh pantauan tenaga medis.
“Apa kau yakin Cla?” tanya Viona pada sahabatnya.
Viona serasa tidak percaya, Clara bisa membarterkan miliknya sebesar itu. Hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun dipertaruhkan begitu saja untuk seseorang yang baru dalam hidupnya.
“Benar Cla, jasa dokter pribadi sangat mahal apa Kau sanggup?” imbuh Untung yang merasa kehidupan gadis itu sangat sederhana, membenarkan Viona.
“Belum lagi kau harus membeli semua obat-obatan, setelah itu jika Adit sembuh Kau juga harus menanggung semua kebutuhannya yang pasti biayanya tidaklah sedikit.” Leon mulai menghawatirkan keputusan Clara yang dinilai terlalu sembrono, mengingat beberapa hari yang lalu gadis ini terlihat sangat sedih hanya karena kehilangan sepeda bututnya yang murahan.
“Aku akan berusaha membayarnya!” gadis itu mantap dengan pilihan yang dia ambil.
Ketiga teman dekat Clara mengambil nafasnya dalam dalam, mereka meragukan keputusan Clara yang terlalu tergesa-gesa tanpa memikirkan efek ke depannya.
Viona, Untung dan Leon saling berpandangan satu sama lain. Ke tiga sahabat Clara berpikiran sama. Seorang gadis sederhana, bisa dibilang adalah yang paling miskin di antara mereka berlima. Tidak, bahkan mungkin gadis itu adalah yang termiskin di lingkungan kampus GOLDEN. Apakah Clara mampu membayar dokter pribadi, apalagi dokter itu adalah Dicka.
Seorang dokter bertalenta tinggi, dengan segudang prestasi medis serta memiliki latar belakang yang luar biasa.
“Tarifku sangat mahal, apa Kau yakin mampu membayarku?” Dicka setengah mengejek Clara yang berkepala batu.
“Aku tidak peduli!” jawab gadis itu mantap, tidak terpengaruh sedikitpun.
“Berapa tarifmu sekali datang sebagai dokter pribadi?” tantang Clara tidak terima dengan tatapan Dicka yang terkesan merendahkan dirinya.
Sedang Leon, Viona dan Untung, yang mengenal siapa Dicka, seketika langsung terduduk lemas mendengar jawaban Clara. Temannya yang paling muda dan masih berusia belasan tahun itu, memang memiliki harga diri yang sangat tinggi dan tidak pernah mengijinkan siapa pun untuk menginjaknya.
“Bagaimana jika kau tidak mampu membayarku, apa konsekuensi yang akan Kau lakukan?” Seringai Dicka kecil, tak terlihat oleh Clara dan teman temannya.
“Aku pastikan, bahwa aku akan membayarmu tanpa kurang sedikit pun!” Clara percaya diri, ia tidak ingin kalah oleh intimidasi pria ini.
Meski sejujurnya nyali gadis itu sedikit menciut, membayangkan konsekuesi yang belum dia ketahui. Pun khawatir biaya yang mungkin akan menghabiskan seluruh tabungan yang telah dia kumpulkan selama ini.
“Kalau pada akhirnya aku tidak bisa membayarmu, maka Aku akan melakukan yang kamu perintahkan padaku!” tambahnya lesu kemudian.
“Wow, aku suka keputusanmu gadis bar-bar.” Dicka menowel janggut gadis itu pelan, sambil mengerlingkan matanya bersemangat.
“Terima atau tidak?? Atau aku akan mencari dokter lain!” tekan gadis itu pada Dicka, dengan tangan menampik tangan dokter itu dari mukanya yang cantik. Kini gilirannya untuk memasang taring.
“Woi, kalian rapat jangan di depan makam dong, lama banget sih!” kesal Bara dari dalam mobil, saat pahanya mulai terasa kesemutan efek memangku Adit dalam waktu lama.
“Baiklah, karena kau memaksa, maka aku akan bermurah hati padamu kali ini!” Dicka seolah keberatan dengan keputusan gadis dengan bulu mata lentik dan lebat tersebut.
Namun tindakan lelaki itu sangat gesit dan bersemangat, menandakan suasana hati yang bertolak belakang dengan kata-katanya.
“Kau harus menandatangani ini, sebelum melupakan kata-katamu gadis bar-bar, Aku harus melindungi diriku sendiri, agar tidak tertipu oleh gadis tengil sepertimu!” Dicka menyerahkan selembar kertas kosong yang sudah dilengkapi dengan materai tertempel di atasnya, yang dia ambil dari tas kerjanya, kebetulan terletak di kursi depan mobilnya.
"Ciiiih, "asar munafik."
"Mulutmu seolah-olah terpaksa, tapi kau sangat bahagia bisa menindasku!"
Clara, gadis itu tanpa pikir panjang langsung menandatangani kertas itu. Dia ingin segera membersihkan dirinya dari bau got bercampur muntahan yang semakin menusuk hidungnya. Selain itu dia juga mau cepat beristirahat, tubuhnya terasa sangat lemas dan matanya mulai berkunang-kunang.
Setelah mendapat bukti hitam di atas putih dari Clara lelaki tersebut menerimanya dengan bahagia, lalu menyimpannya kembali ke dalam tas kerjanya dengan rapi.
“Oke good girl, saatnya kita pulaang!” ucapnya bersemangat sambil menginjak pedal gas mobil.