CEO dan Gadis Terbuang/C20 Black Card
+ Add to Library
CEO dan Gadis Terbuang/C20 Black Card
+ Add to Library

C20 Black Card

“Gadis bar-bar ayo kita turun!” ajak Dicka pada Clara saat berhasil memarkir mobilnya di basement golden apartemen.

Namun gadis yang dipanggilnya hanya diam, tanpa memberi jawaban sama sekali.

“Hei, apa kau sangat suka menaiki mobilku, sampai begitu betah tidak mau turun?” ucap Dicka lagi, karna Clara yang diajak bicara masih belum memberi jawaban.

Beberapa saat kemudian Dicka melirik Clara dari kaca spion. Ternyata gadis manis itu sudah tertidur pulas, dengan posisi setengah berselonjor memenuhi barisan kursi belakang mobil serta mulut menganga.

“Gadis aneh, belum setengah jam yang lalu kau menuduhku sebagai seorang penguntit,”

“Tapi sekarang sudah tidur seperti bayi."

"Apa au bisa tidur setenang itu di depan penguntit ini?” Dicka tersenyum menggelengkan kepala, tidak habis pikir dengan kelakuan Clara yang seolah tidak peduli apapun.

“Dasar labil, merepotkan!” imbuhnya kemudian.

Dicka menyahut sebuah switer hitam yang tersampir di kursi samping kemudi, lelaki itu menutup paha Clara yang putih mulus, tanpa goresan sedikit pun menggunakan switer miliknya.

Setelah itu Dicka merengkuh tubuh mungil Clara dengan sangat pelan, agar gadis yang begitu begitu pulas ini, tidak terganggu tidurnya. Dengan gerakan sangat lembut pula, dokter itu mulai mengangkat Clara ke dalam gendongannya.

Selanjutnya Dicka menutup pintu mobilnya dengan menggunakan satu kaki, ketika keseimbangan tubuhnya sudah terjaga dan mampu berdiri tegap. Pria itu berjalan santai menuju lantai sembilan tempat apartemen Clara berada.

“Antar kunci cadangan untuk room 925, aku tunggu sekarang!” Dicka memerintah seorang security yang berdiri di depan loby apartemen.

Sedang security itu hanya membungkukkan badan, pertanda menyetujui ucapan lelaki itu, tanpa bertanya apapun. Security itu mengikuti Dicka sampai ke dalam lift, dan membantu dokter itu menekan tombol 9, lalu kembali pergi menjalankan amanat pria muda yang menggendong gadis dalam pelukannya.

“Sungguh tidak ku sangka, kau mahasiswi Golden University. Bahkan bentuk tubuhmu seperti anak SD!” guman Dicka tidak percaya.

Senyum simpul tercipta dari bibir pria yang berjalan memasuki apartemen Clara, lelaki itu langsung menuju kamar utama, tempat tidur Clara, seolah sudah sering masuk ke rumah tersebut. Di baringkan tubuh Clara, di atas kasur berukuran Quen size yang ada di ruangan tersebut.

“Kenapa kau ketakutan hanya dengan melihat peralatan medisku?” Dicka meraih kening Clara yang masih terpejam, menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya.

“Kenapa hatiku selalu sebal saat berurusan denganmu, namun aku juga tidak bisa mengabaikanmu?” lelaki mengusap-usap pipi Clara lembut.

“Kau gadis kasar dan paling bar-bar yang pernah aku temui.” sinisnya kemudian.

Dokter tampan itu pun bangkit menuju kamar mandi, untuk membersihkan seluruh tubuh dari bau busuk yang lengket di badan kekarnya. Dengan santainya Dicka menggunakan kamar mandi pribadi Clara, benar-benar terlihat seperti seorang penguntit.

Viona, Leon, Bara dan Untung yang menggendong Adit, memasuki apartemen Clara saat pria yang berprofesi dokter itu selesai mandi dan sudah berganti pakaian dengan kaus pendek berwarna biru tua dipadukan celana pendek warna hitam.

“Bagaimana kalian bisa masuk ke sini?” tanyanya pada ke empat orang yang sudah lama dia kenal.

“Kami sahabatnya, sudah pasti aku tau pasword apartemennya! Tapi kau?” cibir Viona, mempertanyakan keberadaan Dicka di dalam apartemen Clara.

“Kau tau, itu hal yang sangat gampang untukku!” cuek Dicka memasang muka tebal dan tidak peduli.

“Dasar licik!” seloroh Untung dan Bara bersamaan.

“Benar-benar buaya seperti yang Clara katakan.” kini Leon ikut mengatai Dicka sembari menunjukkan ekspresi sebal.

“Apa ini balasan kalian pada orang yang telah berkorban untuk menolong sahabat kalian?” Dicka tidak terima mendengar semua kalimat yang menyudutkan dirinya.

“Cih," decihke empat sahabatnya.

“Baringkan Adit di tempat tidur!” sahutnya dengan cuek memerintah Untung, dan berjalan menuju kamar di lantai satu yang berada di sebelah ruang tamu.

Setelah itu Dicka mulai melepaskan pakaian yang dikenakan oleh Adit, kemudian membersihkannya dengan telaten menggunakan kain handuk kecil. Lalu menutupi dengan selimut untuk menjaga tubuh bocah itu tetap hangat. Tak lupa memasang infus pada lengan bocah itu. Selanjutnya memberi obat anti depresan, yang dia suntikkan di tabung infus.

“Kalian bertiga, belikan semua kebutuhan Adit tanpa kurang sedikit pun!” Dicka keluar dari kamar Adit, dan berkata pada ke tiga lelaki yang tengah duduk menikmati teh yang baru saja dibuat oleh Viona.

“Vio, apa kamu sudah mengganti pakaian gadis tengil itu?” tanyanya pada Viona.

“Sudah.” jawab Viona melanjutkan ritual meminum teh hangatnya.

“Woi panci aluminium, apa yang akan kau lakukan?” teriak Leon ketika Dicka berjalan menuju kamar Clara.

“Memangnya apa yang akan aku lakukan?” Dicka masih bingung dengan perkataan Leon.

“Awas saja jika kau berani macam-macam!” ancam Bara yang mulai panas menghadapi Dicka.

“Sudah tentu aku harus macam-macam dengannya!” Dicka sengaja mengerlingkan matanya nakal.

Kemudian tetap melanjutkan langkah memasuki ruang pribadi Clara, di ikuti Bara dan Leon yang tidak percaya pada sahabat kecilnya yang terkenal jenius itu.

“Kenapa kalian mengikutiku?” tanya Dicka heran.

“Aku hanya memastikan kau tidak akan berbuat senonoh pada sahabatku!” dahut Leon dan Bara kompak, bersikap selayaknya penjaga Clara.

“Wah kalian luar biasa sekali, seperti sebuah ikatan cinta segitiga!” Dicka mengejek ke dua sahabatnya.

“Kalian sungguh bodoh, bagaimana bisa aku merawat gadis bar-bar itu, jika tidak melakukan berbagai macam-macam tindakan medis?” geramnya kemudian saat sudah gerah dengan tuduhan yang terus dilayangkan ke empat orang itu sedari tadi.

“Cepat pergi dari sini, belikan semua kebutuhan Adit!” Dicka melempar sebuah Credit Card ke arah Bara.

“Tapi,” ucap mereka berdua menggantung, enggan beranjak dari tempatnya.

“Ku hitung sampai tiga, atau aku akan menghajar kalian berdua, jika masih berani menggangguku!” ancam Dicka tegas.

Ke dua lelaki itu pun langsung mengambil langkah seribu, meninggalkan kamar Clara, tatkala mendengar ancaman Dicka. Bara dan Leon yang mengetahui keahlian bela diri Dicka, bergidik ngeri membayangkan tubuhnya di ajar oleh singa liar Afrika yang mulai mengamuk.

Di ruang tamu Bara dan Leon mengapit Untung dari sisi kiri dan kanan, mengajak sahabatnya yang paling lugu dan katrok itu pergi ke pusat perbelanjaan. Senyum seringai terlihat dari bibir kedua orang yang menerima Credit Card milik Dicka.

“Ayo kita belanja sepuasnya!” seru Bara penuh semangat empat lima.

“Vio, kau ikut atau akan terus duduk ngeteh cantik di sini?” Leon memainkan Credit Card platinum warna hitam dengan limit tanpa batas milik Dicka.

“Let’s Goo brow, gue pengen beli tas KREMES keluaran terbaru!” girang Viona berlari ke arah pintu, mendahului ke tiga pria yang tengah berangkulan erat itu.

Ke empat anak manusia itu pun pergi meninggalkan apartemen Clara, dengan raut wajah sangat bahagia. Mereka sama-sama membayangkan akan mendapatkan barang yang mereka incar dengan gratis alias hasil memalak tanpa diketahui oleh pemiliknya. Sejenak mereka lupa akan sosok Clara dan mempercayakan gadis itu pada dokter yang mereka hina dina beberapa menit yang lalu.

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height