C23 Suapan Dicka
Clara menatap Dicka dengan wajah bingung, sewaktu melihat dokter pribadinya masuk ke dalam kamarnya,seraya menampakkan ekspresi cengar-cengir bahagia. Namun sedetik kemudian, justru tergesa-gesa mengunci pintu dari dalam.
“Ada apa dengan ekspresimu?” heran Clara melihat dokter ganteng tersebut. Tapi lelaki yang dia tanya hanya tersenyum lebar tanpa berniat menanggapi pertanyaan Clara.
“Hei, apa kau sebahagia itu bisa merawatku?” tanya gadis itu percaya Diri.
"Huh,"
Dicka yang pada awalnya bahagia pun langsung menarik nafas dalam mendengar pernyataan gadis dalam perawatannya ini begitu percaya diri.
“Kau terlalu percaya diri!” sanggah Dicka malas.
“Masih tidak mau mengakui, buktinya mulutmu terus saja tersenyum lebar.” Clara menganggap Dicka tengah berkilah.
“Ya ya ya, aku bahagia merawat pasien cerewet dan baru masa pertumbuhan sepertimu” ejek sang dokter menimpali ucapan Clara, tidak ingin berdebat.
“Kenapa kamu selalu menyebutku masa pertumbuhan, aku ini sudah kuliah!” ketus Clara kembali tidak terima, selalu dikatakan masa pertumbuhan.
“Benarkah, tapi kenapa terlihat seperti anak SD?” Dicka mengarahkan matanya ke dada Clara.
Lelaki itu tersenyum seraya menyeringai senang, bisa menggoda Clara dengan mudah. Sedang Clara, gadis itu sibuk menyilangkan tangan memeluk dadanya sendiri. Sesaat kemudian gadis berambut maroon itu memegang guling erat, dengan posisi sudah mengambil ancang-ancang untuk menyerang Dicka tatkala mengingat pandangan nakal pria itu mengarah ke dadanya.
“Kau,” kata-kata Clara terputus.
“Berani memukulku lagi, maka aku tidak akan memberi makan, dan mengurungmu mati kelaparan di kamarmu, atau..." pernyataan Dicka berhasil mengintimidasi Clara. Membuat Clara menarik mundur tangannya yang memegang guling, hendak mengayun ke kepala Dicka.
“Atau apa?” Nyali Clara menciut seketika.
“Atau aku akan menghukummu!” ucap dokter itu seraya menjilat bibirnya sendiri disertai kerlingan nakal, menggoda gadis polos di hadapannya.
Spontan Clara pun langsung menutup mulut dengan ke dua tangannya, ketika matanya menangkap lidah Dicka memainkan bibirnya sendiri dengan penuh sensasional dan penghayatan. Tidak ada cara yang paling aman menurut Clara, selain beringsut mundur ke belakang, sampai tubuh gadis itu duduk tegap menempel pada sandaran kasur.
“Ha ha ha,” Dicka tertawa terbahak-bahak.
Dia tidak menyangka Clara akan menanggapi godaannya dengan serius. Yang mana tindakan pasien remaja ini semakin memicu kesenangan Dicka, melihat ekspresi polos Clara yang begitu lucu di matanya.
“Kau sangat menjengkelkan!” Clara mengerucutkan bibirnya maju, saat menyadari dokter tengil itu hanya berniat menggodanya.
“Sudahlah.” Dicka menghentikan perdebatan mereka.
Kemudian dengan cekatan dokter dengan kulit bersih itu pun menata makanan yang dia bawa ke atas meja nakas, yang terdapat di samping ranjang.
“Wuah, kau ternyata tahu menu favoritku!” Clara bertepuk tangan bahagia, melihat seporsi iga bakar madu tertata cantik di mejanya.
Tangan gadis itu segera meraih piring berisi iga bakar, dengan semangat empat lima karena aroma yang begitu menggugah selera, hingga membuatnya menelan air liur, membayangkan rasa makanan dari resto yang terkenal bercita rasa tinggi, yang dia ketahui dari tulisan yang tercetak pada bungkus plastik tebal.
Belum sampai Clara meraih piring tersebut, Dicka memukul kecil lengan tangan Clara agar menjauh dari piring berisi Iga bakar madu.
“Ini bukan milikmu.” Dicka menjauhkan makanannya dari jangkauan Clara.
“Ini punyamu, makanan ini lebih sehat dan tidak memberatkan kerja lambungmu!” imbuhnya lagi, dengan menyerahkan satu paket makanan sehat yang berisi buah potong, salad sayur, nasi putih dan steam ikan laut.
“Tapi aku mau itu, kenapa kau membedakan menuku?” Clara memonyongkan bibirnya, menunjuk makanan yang di pegang oleh Dicka.
“Daging merah bisa memberatkan kerja organ pencernaanmu, dan yang terpenting adalah bisa meningkatkan produksi gastrol, sehingga memicu anxiety!” Jelas dokter itu, memberi pengertian pada pasien cantik di hadapannya.
***
Gastrol : asam lambung. Anxiety adalah gangguan kecemasan atau rasa takut yang berlebihan, biasa dialami oleh lseseorang karena adanya pengaruh dari kondisi kesehatan seperti gastritis dan lain sebagainya. Gejala anxiety bisa bermacam macam diantaranya panik, takut secara berlebihan, takut di tempat keramaian, atau takut berinteraksi dengan orang lain, takut gelap, ketinggian, atau ketakutan pada hal-hal yang tidak masuk akal sekalipun.
Gejalanya bisa juga ditandai dengan perilaku penderita seperti kesulitan tidur, traumatik pada hal-hal tertentu, rasa tegang pada otot, degup jantung tidak beraturan, gemetaran, nafas cepat atau bahkan kesulitan bernapas, sampai hilangnya kesadaran diri
ingsan.
Dalam beberapa kasus anxiety bisa mengarah pada psikosomatis parah jika tidak segera di antisipasi dengan benar. Dan anxiety biasanya sangat sering terjadi pada pasien gangguan pencernaan seperti gastritis, gerd, gangguan tukak lambung, hiatal hernia, dan lain sebagainya, ditandai dengan munculnya berbagai sensasi yang sangat mengganggu dan membuat panik attack pada si penderita.
***
“Ini tidak pedas."
"Aku juga tidak suka salad dan ikan steam.” Clara terus saja protes, karena tidak menyukai makanan yang dipilihkan Dicka. Bahkan aromanya saja sudah membuat gadis itu mual.
“Aku hanya menyuruhmu memakannya, tidak menyuruhmu untuk menyukainya.” Dokter itu tidak memusingkan kata-kata pasiennya yang memilih makanan berdasarkan rasa suka dan tidaknya.
“Benar-benar menyebalkan.” Clara mengumpati Dicka dengan suara kecil.
“Berhentilah mengumpat, dan cepatlah makan!” perintahnya ulang, saat mendengar umpatan kecil keluar dari mulut Clara.
“Hiss.” Gadis cantik itu mengayunkan sendok di atas udara seperti hendak memukul jarak jauh. Sedang Dicka, hanya tersenyum kecil melihat tingkah sebal Clara yang ditujukan kepadanya.
“Makanlah, atau kau memang mengharapkan aku menjalankan hukumanku untukmu sekarang?” Dicka kembali memainkan lidahnya keluar menjilati sisa saus di ujung bibirnya.
Melihat cara Dicka menjulurkan lidah, menyapu sisa saus di bibirnya, Clara bergidik ngeri membayangkan hukuman Dicka sesuai versi pikiran liar, yang dia ciptakan sendiri dalam imajinasinya.
Tidak ada pilihan lain, Clara pun mulai makan dengan sangat pelan, tanpa berselera sama sekali. Bahkan beberapa kali gadis itu menahan mual, tatkala memasukkan sepotong steam ikan ke dalam mulut yang menurutnya sedikit amis.
Dicka, dokter itu hanya geleng-geleng kepala melihat Clara menahan mual, saat mengigit sepotong steam ikan.
Sebegitu tidak sukanya, pada makanan yang sangat baik untuk proses kesembuhan organ pencernaannya yang begitu buruk? Begitulah pikir Dicka.
"Heh,"
Nyatanya Dicka kembali kalah oleh Clara. Dan menghembuskan nafas kasarnya, tidak tega melihat Clara menahan mual berkali-kali seperti sangat tersiksa ketika berusaha menelan dan memaksa makanan itu masuk ke dalam perutnya.
“Buka mulutmu!” perintahnya kemudian.
Lalu menyuapkan sepotong kecil iga bakar miliknya, dengan membersihkan saos yang menempel pada dagingnya menggunakan sendok dan mengusap-usapkan pada nasi terlebih dahulu, sebelum diberikan pada gadis manja di hadapannya.
Clara pun membuka mulutnya dengan bahagia, dan kembali bersemangat menerima suapan dari Dicka. Bahkan gadis itu seperti tidak sadar saat menghabiskan sepiring salad sayur, nasi dan setengah porsi iga bakar milik Dicka.
“Dokter, aku sudah kenyang!” ucapnya menghentikan Dicka yang terus saja menyuapinya makan.
Dicka kemudian menyodorkan air putih hangat untuk Clara, namun gadis itu lebih dulu menyambar jus alpukat milik Dicka dan menyesap sedotan dengan kuat hingga tersisa separuh gelas.
“Gadis nakal, biasakan minum air putih setelah makan berat!” Dicka dibuat geli dengan tingkah Clara.
"Air putih hangat, akan mempercepat recovery dinding lambungmu yang sudah tererosi." imbuhnya kemudian, tetap dengan bahasa berbau medis.
“Itu karena kau curang, semua milikmu lebih nikmat!” sanggah Clara tidak peduli, meski sebenarnya ia paham apa yang dikatakan oleh Dicka. Hanya saja, dia merasa tidak adil.
“Lain kali makan buah terlebih dahulu, sebelum makan nasi agar tidak terjadi konstipasi pada ususmu!” dengan sabar lelaki itu terus memberi Clara pengertian.
“Bukankah kau yang bilang aku masih dalam masa pertumbuhan, jadi biarkan aku makan sesukaku kali ini.” Clara, entah kenapa gadis itu menjadi sangat cerewet dan selalu mendebat apapun ucapan Dicka.
“Baiklah, hanya kali ini saja. Lain kali aku tidak akan mengalah pada pasien cerewet sepertimu!” Sang dokter mengalah pada Clara, lalu mengacak rambut Clara gemas.
Kemudian dengan santai ia memasukkan makanan sisa Clara, dengan sendok yang sama, yang ia gunakan menyuapi gadis itu tadi ke dalam mulutnya, tanpa rasa jijik sama sekali.
Clara pun hanya cuek melihatnya tanpa rasa bersalah. Ia mengusap-usap perut ratanya yang terasa super kenyang, dengan ke dua tangan miliknya.