CEO dan Gadis Terbuang/C27 Aku Merindukanmu, sayang!
+ Add to Library
CEO dan Gadis Terbuang/C27 Aku Merindukanmu, sayang!
+ Add to Library

C27 Aku Merindukanmu, sayang!

“Hmm, kenapa kalian tertawa, ada yang lucu?” Dicka mengernyitkan dahi, merasa salah tingkah melihat ke tiga trio kwek kwek Clara, Untung dan Viona yang seperti tengah menertawakan dirinya.

Namun ke tiga orang tersebut tidak merespon pertanyaan Dicka, dan terus tertawa geli menatap Dicka. Hal itu memicu rasa penasaran Dicka, pun akhirnya berjalan menuju kaca, ia memandangi tubuhnya dari atas sampai bawah, memperhatikan dengan seksama.

“Tidak ada yang aneh.” gumannya pelan, lalu mengabaikan ke tiganya. Kemudian meninggalkan kamar Adit, untuk menikmati sarapan yang sudah terhidang di meja, hasil masakan Clara.

“Cukup enak, sepertinya gadis bar-bar itu lumayan juga untuk urusan dapur.”

Dicka melahap sarapannya dengan sangat nikmat.

Saat sedang asyik menikmati sarapannya, Viona duduk di samping Dicka.

“Apa yang kau rencanakan?” sang model sexy itu mulai membuka obrolannya, merasa suasananya mendukung.

“Hmm?” Dokter itu pura-pura tidak menangkap maksud Viona. Dia menuangkan segelas air putih ke dalam gelas, kemudian meminum setengahnya.

“Jangan berlagak bego dan sok tidak mengerti!” ketus Viona yang begitu hapal watak Laki-laki yang sudah dia kenal dari kecil.

“Memangnya apa rencanaku?” Dicka mengulangi pertanyaan Viona yang ditujukan padanya.

Plaaak,

Viona memukul kepala dicka.

“Apa aku harus menjelaskan semuanya, kau pikir aku bodoh?” geram model tersebut.

"Ini bahkan masih terlalu pagi, untukmu berubah menjadi tulalit!" imbuhnya lagi, sambil berkacak pinggang.

“Sekarang baru sadar jika kau memang bodoh?” ucap dokter muda tersebut santai

.

Dia sengaja menggoda Viona, mengalihkan topik pembicaraan yang baru saja dimulai, dengan terus fokus pada makanan di piringnya. Ia sungguh enggan menjawab pertanyaan yang diajukan gadis itu.

***

Seorang wanita dengan rambut lurus sebahu, berwarna hitam kecoklatan tergerai rapi. Dress selutut tanpa lengan berwarna biru tua melekat sempurna sesuai lekuk tubuhnya yang sintal dan berisi.

Kaca mata hitam menghiasi matanya, sedikit menutupi polesan make up tipis natural yang dia kenakan di wajah. Bibir berwarna merah cabai, hasil coretan gincu bermerek kelas atas, sepatu high heels runcing semakin menambah kesan gayanya yang elegan.

Tak tak tak,

Wanita itu berjalan santai memasuki sebuah ruangan dengan cat bernuansa hitam, dua orang terlihat mengikutinya, berjalan pelan mengiringi langkah di belakangnya.

“Dimana dia?” tanya perempuan itu pada ke dua orang tersebut.

“Belum datang nyonya.” jelas salah seorang yang sedari tadi mengekori langkahnya. Kemudian wanita itu meraih telepon genggam dari tas tangannya, mendial cepat menghubungi seseorang.

Tuuuut, tuuuut...

Sampai nada dering berakhir seseorang tersebut tidak juga mengangkatnya.

Tuuut, tuut...

Wanita itu mendial ulang.

“Halo,” Suara orang di seberang. Akhirnya orang tersebut mengangkat panggilannya pada nada dering ke tiga kalinya.

“Dalam waktu satu jam, harus sampai di mansion.” titahnya pada penerima panggilan.

“Tapiii,” kalimatnya terputus.

“Kau akan tahu akibatnya jika berani tidak datang!” wanita itu menyela penjelasan orang di seberang sana. Tidak ingin mendengar alasan apapun.

Setelah itu langsung memutuskan panggilannya, terlihat seringai puas di wajahnya yang ayu. Kemudian dengan anggun, sang wanita pun meninggalkan ruangan tersebut.

“Ke mansion utama pak!” perintahnya pada sang supir. Sedang wanita itu duduk santai di kursi belakang mobil mewah bercat hitam miliknya, dengan sopan dan elegan sesuai ciri khas wanita sosialita.

“Aaargh sial, sepertinya pujaan hatiku sudah tahu aku sedang bermain-main lagi.” ucap seseorang tersebut melihat ponsel yang masih dia genggam.

Lalu secepat kilat ia mengganti celana pendeknya dengan celana jeans panjang. Segera ia mengambil dompet serta kunci mobilnya, kemudian berlari ke arah parkiran. Bahkan pria muda itu mengenakan jaket jeans yang senada dengan celananya sambil berlari, ketika ia melirik jamnya yang sudah berkurang sepuluh menit dari waktu yang ditentukan.

Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sewaktu berhasil masuk melewati pintu tol.

“Wanita itu, selalu saja berhasil membuatku kalang kabut seperti ini.” ucapnya sambil tersenyum.

“Jangan bilang dia hanya merindukanku.” narsisnya sambil menyetir.

“Aku juga sangat merindukanmu, sayangku!” pria itu tersenyum bahagia, ternyata keberadaan dinantikan oleh orang yang dia sayang.

“Sepertinya sudah lumayan lama kita tidak bertemu, sampai kau kembali melancarkan muslihatmu lagi.” Ia berguman sendirian, dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya yang sexy.

Setelah tiga puluh menit berkendara dengan kecepatan tinggi dijalur tol, mobil yang dikendarainya, memasuki sebuah jalanan pribadi yang terlihat sepi. Di samping kiri dan kanan jalan ditumbuhi bunga berwarna warni yang tertata apik pertanda tanaman itu sangat terawat.

Diiringi sebuah lagu jazz yang dia putar pelan, pria itu mengurangi kecepatan mobilnya santai, saat melewati jalanan sepi tersebut. Tidak dipungkiri bahwa lelaki ini merindukan suasana jalan yang sudah hampir dua bulan tidak pernah ia lewati.

Di depan pintu gerbang pria itu membunyikan klakson mobilnya dua kali sebagai isyarat pada penjaga untuk membukakan jalannya.

“Selamat pagi tuan.” sapa penjaga gerbang berseragam hitam dan berbadan tinggi besar mirip algojo, saat melihat kedatangan pria tersebut.

“Pagi juga pak, sehatkan?” senyum ramah tercipta dari bibir pria tersebut. Lalu melemparkan kunci mobilnya pada penjaga tersebut, untuk memarkir mobilnya di garasi.

Seorang wanita duduk santai di ruang tamu dengan memegang majalah fashion di tangannya. Wanita itu tersenyum sinis tatkala melihat pria ganteng tersebut sudah berdiri di hadapannya. Namun laki-laki itu justru tertawa gemas, melihat wanita cantik yang sedang merajuk dan memalingkan muka darinya.

“Aaaaargh, aku sungguh merindukanmu mamaku sayang!” pria tersebut memeluk dan mencium sayang kedua pipi wanita yang terlihat kecil dalam pelukannya.

“Masih berani kau mengatakan rindu dan mencium pipiku?” wanita berambut sebahu memukul lengan berulang-ulang kali, meluapkan kekesalannya pada anak semata wayangnya tersebut.

Namun anak yang memeluknya tidak jua melepaskan tangan dari pelukan sang bunda. Dan terus-menerus menciumi pipinya manja tanpa menghiraukan omelan yang terasa seperti irama merdu kasih sayang dari wanita yang paling dia sayangi.

Kemudian wanita itu pun membalas pelukan anak lelaki yang sangat ia rindukan, setelah meluapkan perasaan jengkel dalam hatinya. Dia memang sangat merindukan putra, yang hampir dua bulan ini belum pernah dia temui.

“Dasar anak nakal, masih ingat kedua orang tuamu rupanya?” suara lelaki yang terdengar familiar di telinga pria ganteng, mengalihkan perhatian kedua orang yang tengah berpelukan.

“Eh papa, apa kabar pa?” Cengir lelaki itu menyalami dan mencium tangan papanya.

Plaaak,

Pria tersebut memukul pelan kepala anak lelaki yang akan terus menjadi jagoan kecil baginya, menahan rasa geram di hati.

“Aaaargh, kenapa papa memukulku?” pria itu mengusap usap puncak kepalanya.

Dia berpura-pura sangat kesakitan dan mengadu pada sang mama, yang sebenarnya sudah sangat hapal dengan karakter anaknya.

“Aku tidak akan membelamu kali ini, kau pantas dihukum bocah nakal.” ketus wanita bernama Liana.

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height