C28 Bocah nakal
Plaaak,
Pria tersebut memukul pelan kepala anak lelaki yang akan terus menjadi jagoan kecil baginya, menahan rasa geram di hatinya.
“Aaaargh, kenapa papa memukulku?” Pemuda itu mengusap-usap puncak kepalanya. Berpura-pura sangat kesakitan dan mengadu pada sang mama, yang sebenarnya sudah sangat hapal dengan karakter anaknya.
“Aku tidak akan membelamu kali ini, kau pantas dihukum bocah nakal.” ketus wanita bernama Liana.
“Aku tidak melanggar hukum, kenapa harus menerima hukuman?” Sungut pria berusia dua empat tahun manja, bertingkah seperti bocah.
“Dasar bocah nakal, masih berani kamu menjawab ke dua orang tuamu?” Lelaki berusia lima puluh tahun, kembali menaikkan nada biacaranya memarahi anak yang sebenarnya sangat ia rindukan.
“Tidak, aku...." Kata-katanya terputus, ia sedikit bingung memikirkan alasan agar tidak menerima hukuman dari ayahnya.
“Kemana saja dua bulan berkeliaran, sampai tidak ingat pulang?” Ayahnya memukul bokong pria yang hendak kabur ke kamarnya itu dengan keras.
Belum sampai pemuda itu lari menghindari pukulan ayahnya, lelaki paruh baya yang sangat fasih dengan tingkah anaknya, segera meraih kerah jaket yang masih dikenakan oleh anak lelakinya, hingga putranya sedikit tercekik kerah depan baju yang dia kenakan.
Pria bernama Hendi itu menariknya sangat keras sampai anaknya terduduk paksa di sofa ruang tamu.
“Uhuk uhuk, paa apa kau akan membunuhku?” Cocah nakal itu terbatuk-batuk lebay sambil memegangi lehernya, memancing belas kasihan mamanya.
Namun mamanya hanya memalingkan wajah, menahan agar tidak tergoda tipu daya dan perbuatan anak yang selalu saja mampu meruntuhkan kemarahannya.
“Iya aku akan membunuhmu, karena berani membuat wanitaku menangis sepanjang hari memikirkan ulahmu!” Jawab Hendi mantap mengarahkan tangan hendak memukul bokong anakanya kembali.
“Mama, tolonglah aku atau aku akan mati di tangan papa!” Melihat papanya mengarahkan tangan, pria berparas ganteng segera melompati kursi, berlindung di belakang kursi mamanya, dan memegang pundak wanita separuh baya tersebut.
“Kau pantas dipukul!” Sahut Liana enteng, namun tetap mendelikkan mata kepada suaminya, sebagai isyarat menghentikan tindakan memukul anak kesayangannya.
“Benarkah?” la memelas.
Kembali duduk di sofa tempatnya semula, dengan wajah lesu dan menatap ke dua orang tuanya secara bergantian, hembusan nafas berat muncul di wajahnya tatkala lelaki itu menatap mamanya untuk yang ke dua kali.
“Baiklah, aku akan cepat mati mewujudkan impian kalian.” Dia melepaskan jaket jeans dan kaos yang dikenakannya.
Kemudian meraih gelas berisi air putih yang berada di atas meja, dan mengambil sebuah pil berwarna pink dari kantung celana, setelah itu ia serahkan pada papanya.
“Kenapa kau memberiku ini bocah nakal?” Hendi mengernyitkan dahinya.
“Papa bisa memasukkan pil ini ke dalam air putih itu dan aku akan meminumnya agar cepat mati!” Jawab anaknya santai.
“Hah, pil apa itu nak?” Mamanya sedikit ketakutan melihat tingkah anaknya yang terlihat bersungguh-sungguh kali ini.
“S*anid*!” Sahutnya yakin dan dengan cepat memasukkan pil ke dalam segelas air putih, kemudian menegguknya habis dalam sekali minum.
“APA?” Teriak ke dua orang tuanya secara bersamaan.
Mereka begitu syok melihat anak semata wayangnya menelan pil mengandung racun yang sangat mematikan di hadapannya.
“Cepat muntahkan minuman sialan itu!” Teriak mamanya panik.
“Buka mulutmu sekarang papa akan membantu mengeluarkan racun itu dari tubuhmu!” Hendi berusaha membuka mulut anak lelakinya, tak kalah panik dari istrinya.
Sedang si anak justru sedikit berlari menghindari kedua orang tuanya yang tengah panik.
“Tidak mau, sebelum papa berjanji tidak akan menghukumku lagi.” Anak nakal kemudian menutup mulut dengan ke dua telapak tangannya.
“Cepat berjanjilah, apa kau mau melihat anakmu mati, hiks hiks!” Liana mulai menangis histeris memikirkan nasib anak lelakinya.
“Cepat muntahkan racun itu nak, papa berjanji tidak akan menghukummu lagi!” Hendi ikut memohon kali ini.
Laki-laki paruh baya itu, merasakan ketar ketir hebat di dalam hati. Ia berdoa pada tuhan untuk menyelamatkan nyawa putra pewaris tunggalnya.
“Papa benar-benar berjanji?” Tanya ulang pemuda nakal meyakinkan ayahnya.
“Janji!” Mantap pria berusia lima puluh tahun ini.
Hendi mengusap wajahnya kasar, dia tidak ingin kehilangan anak semata wayangnya, meski tingkah bocah itu sering kali membuat tekanan darahnya naik.
“Karena papa sudah berjanji, maka aku tidak akan mati dengan mudah kali ini!” Pria muda meraih pitcher berisi air putih dan menenggaknya sedikit.
“Heeeei, kenapa kau malah meminum air putih, cepat muntahkan racun dalam tubuhmu, dan ikut papa ke rumah sakit untuk membersihkan ususmu!” Teriak ke dua orang tuanya panik.
“Heiii, kamu mau kemana?” Liana kembali berteriak ketika anaknya menaiki tangga.
"Bibi, cepat telpon ambulan dan dokter pribadi kita!" masih berteriak Liana sambil menangis tersedu, memberi komando pada pegawai di rumahnya.
“Ma, aku ngantuk sekali biarkan aku istirahat sebentar.” Jawabnya sambil membuka pintu kamar dan menguncinya dari dalam.
Liana dan hendi segera berlari menyusul anaknya, mereka berdua benar-benar sangat panik melihat anaknya mengantuk setelah meminum kapsul yang disebut oleh pria muda tersebut.
“Sayang maafkan papa, papa menyesal sudah memukulmu tadi!” Hendi sangat menyesali tindakannya barusan.
“Sayang buka pintunya, kamu tidak boleh tidur nak, jangan tinggalkan mama!” Liana memohon pada anak tunggalnya.
“Hiks hiks, ini semua salahmu, kenapa menghukumnya sangat keras!” Liana histeris saat anaknya tidak memberi respon.
“Bibi, tolong cepat ambilkan kunci cadangan!” Teriak sang suami memekakkan telinga, memanggil asisten rumah tangga mereka.
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu, jika sampai terjadi apa-apa dengan anak kita!" Liana mulai mengancam suaminya.
Ayah satu anak itu sangat menyesali tindakannya, dia tidak sanggup membayangkan anak kesayangannya akan meninggalkan mereka. Bahkan dia tidak menyangka anak lelakinya yang jenius bisa melakukan hal bodoh, di luar nalarnya sebagai manusia yang beragama.
Hendi segera membuka pintu kamar anak semata wayangnya saat sudah mendapatkan kunci cadangan dari asisten rumah tangganya.
“Sayang buka matamu, jangan tinggalkan mama nak, hiks hiks!” Liana berlari memeluk anak yang memejamkan matanya erat, di atas ranjang berukuran king size.
“Bocah nakal, cepat buka matamu, papa benar-benar menyesal telah menghukummu!” Hendi pun mulai meneteskan air matanya melihat mata anaknya terpejam sangat erat.
Kemudian pria berumur lima puluh tahun itu mengoyang-goyang tubuh anaknya agar kembali membuka mata, menunjukkan bahwa anak tunggalnya itu masih bernyawa.
“Bangun nak, buka mata sayang, hiks hiks,” Liana terus saja menangis.
Merasa tidurnya terganggu, pria berparas rupawan itu pun mulai membuka matanya yang masih terasa sangat berat. Dia menggosok-gosok ringan ke dua kelopak matanya untuk mengembalikan kesadarannya.
“Kenapa kalian menangis?” Bocah nakal itu merasa heran melihat ke dua orang tuanya berderai air mata.
“Ayo kita kerumah sakit!” Ajak Hendi tidak sabaran hendak menggendong putranya.
“Pah, aku sangat ngantuk, biarkan aku tidur dan beristirahat.” Pria muda itu memelas.
Karena ia memang merasa sangat lelah dan merasakan kantuk yang luar biasa saat ini.
“Mama mohon jangan tidur dan buka matamu, Kau tidak boleh mati, hiks hiks!” tangis Liana semakin meraung, memohon kepada anaknya.
“Kenapa kalian berpikir aku mati? Bukankah sudah ku bilang aku tidak akan mati dengan mudah tadi!” Seringai jelas terlihat dari bibir pemuda nakal.
“Bocah nakal cepat katakan apa yang Kamu minum tadi atau papa akan kembali menghajarmu?” Hendi berjalan ke arah sudut kamar dan meraih stik golf.
Pria itu kemabil emosi ketika melihat seringai yang terpancar dari kedua bibir anak kesayangannya, ia baru menyadari bahwa anak tersebut kembali berhasil mengelabuhi dia dan istrinya.
“Apa maksud papa?” Tanya liana kepada sang suami.
