C3 Sang pewaris
“Ayahmu telah menjual ginjal kirimu seharga tujuh puluh lima juta padaku!” Kata-kata pedih yang baru saja ia dengar,terus terngiang di telinganya. Menyambar gendang telinga, gadis itu menggeleng-gelengkan kepala sambil menutup daun telinga.
Kedua tangan terkepal kuat, hingga kukunya menancap melukai telapak tangan lembut milik remaja polos tersebut.
Hatinya sungguh sakit, tercabik-cabik seperti butiran kertas kusut tersiram air keras. Tak berbentuk dan tak mungkin lagi kembali utuh meski telah dilebur menjadi daur ulang. Semua tidak akan pernah sama lagi.
Relung hatinya terluka. Suara tangisan dengan raungan keras yang ia keluarkan pun, tak mampu menggambarkan seberapa dalam sayatan tajam dalammenguliti jiwanya. Alam dengan hujan serta petir menyatu menjadi saksi kepiluan relungnya yang terdalam.
Sesaat setelah gadis pemilik rambut sebahu itu tergugu, ia terdiam seolah tak bernyawa. Pandangan matanya kosong seperti tidak memiliki jiwa, pikirannya berkelana entah kemana, tidak ada seorang pun yang tau. Badannya masih terus bersandar pasrah pada tembok yang menopang tubuhnya saat ini. Bibirnya bergetar menahan isak tangisnya yang tidak lagi terdengar.
Dengan tubuh lemah ia mencoba berdiri, namun ia kembali jatuh terduduk diposisi semula, kakinya terlalu lemas untuk menopang tubuh mungil itu. Hanya sesaat, tapi dia kembali bangkit, memegang erat pinggiran kursi di samping ia duduk untuk menegakkan tubuh.
Dalam posisi setengah berdiri disertai pandangan yang masih saja kosong dan hampa si gadis berparas cantik mendongakkan kepala ke arah pria gemuk yang melempar sebuah amplop coklat berisi perjanjian antara pria gemuk dan orang yang dia sebut ayah selama ini, kemudian berucap:
“Ayahku menjual ginjal kiriku ya? He he he…” Pria gemuk memicingkan mata, tatkala mendengar tawa gadis itu.
Ia terheran bagaimana seorang gadis tertawa begitu mengerikan di depannya, saat mengetahui bahwa telah dijual oleh ayah kandungnya sendiri. Entah mengapa pria itu sedikit merinding dengan pernyataan sang gadis,pr ia itu mengusap lengan tangan yang tiba-tiba terasa dingin oleh tawa itu.
"Ayah, apa kau benar-benar menjualku? ” Batin gadis itu berkata.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, gadis remaja itu melangkah masuk ke dalam, menuju ke sisi tempat tidur yang tersedia di pojok kamar, ia menaikkan ke dua kakinya lalu duduk bersila di atas kasur dengan mulut terus saja tertawa.
“Om anda telah membeli ginjalkuya? He he he” Lanjutnya lagi.
“Apa aku memang tidak berharga sama sekali untukmu ayah, ibu?” Gadis itu mengusap kedua lengan menggunakan telapak tangan seoalah ia sedang duduk di sebuah kutub yang dingin.
“Kenapa kamu tertawa?” Tanya pria di depannya heran.
“Ginjalku laku sangat mahal om, tujuh puluh lima juta! He he he” Jawabnya sambil mengacungkan salah satu jempol tangan kirinya ke atas.
“Bahkan anggota tubuhku pun rela kalian perjual belikan.” Tangisnya dalam hati.
“Jangan tertawa!” Perintah lelaki itu.
Namun gadis remaja bermata nyalang seolah tak memperdulikan peringatannya, mulutnya terus terkekeh, diiringi ocehan dingin mengalir begitu saja dari bibir mungil nan pucat itu.
“Wuaaah om, anda sangat kaya bisa membeli ginjalku. He he he.” Sambungnya sembari bertepuk tangan.
“Aku benar-benar takut, Tuhan kemana aku harus mengadu? Masihkah ada harapan untukku?” Berjuta Tanya dalam nestapa membahana di pikiran bawah sadarnya.
“Diam!” Seru pria bandit yang mulai geram dengan tingkah sang gadis.
“Baiklah om, aku akan diam dan beristirahat dengan baik, agar ginjalku super sehat saat kau bawa operasi nanti. He he he” balasnya sambil merebahkan tubuh di atas kasur.
“Aku ingin tidur selamanya, aku mohon kepadamu Tuhan, jangan bangunkan aku besok, di meja operasi setelah pengangkatan ginjal!”
“Izinkan aku menemui kakek dalam tidur panjangku, setelah esok tiba!”
“Kakek, aku akan datang menemuimu besok, tunggu aku kek! Kita bisa tinggal bersama lagi.”
“Aku bahagia, akhirnya kita bisa bertemu lagi kek!”
“Selamat tinggal ayah, selamat tinggal ibu! Besok, aku tidak akan pernah datang lagi. Semoga kalian bahagia!”
Pria bandit itu berlalu pergi meninggalkan kamar, dia cukup gerah dengan tingkah gadis aneh tersebut. Sesaat setelah menutup pintu, ia bergidik ngeri di depan kamar sambil mengusap-usap tangannya kasar. Entah kenapa dirinya merasa takut dengan tingkah dingin gadis yang masih berusia empat belas tahun.
Lewat tengah malam, gadis kecil itu masih terjaga. Duduk di atas kasur dengan ke dua tangan memeluk ke dua kaki serta kepala posisi miring ditopang lutut kakinya. Ia melamun dalam diam hingga jam menunjukkan pukul tiga dini hari, dilihatnya seluruh ruangan kosong sepi.
Kemudian mencoba membuka pintu ke arah balkon, ternyata tidak terkunci. Di samping gerbang yang tidak jauh dari balkon, terlihat dua orang pengawal tengah tertidur, melirik pintu gerbang sedikit terbuka.
Dengan cepat gadis itu kembali ke kamar, mengambil tas selempang kain lusuh. Memakai jaket tak lupa mengambil telepon genggam using miliknya. Berdiri sejenak di atas balkon, ditatapnya langit malam gelap tertutup awan dihiasi rintikan hujan, hatinya berkata:
"Tuhan inikah jalan keluar untukku? Atau mungkin justru jalur menuju keterpurukanku? Ku pasrahkan jalan hidupku pada-MU! "
Menghentakkan kaki, melompat keluar balkon. Sangat pelan berjalan ke arah pintu gerbang yang dijaga oleh pengawal. Dadanya berdegup kencang dipenuhi ketakutan dan keinginan untuk kabur.
Sampai di depan pintu gerbang tubuh gadis itu mematung sejenak, ketika salah satu pengawal bergerak dan berguman, ia gemetar. Namun ternyata pengawal hanya sedang mengigau dalam tidur.
Dibukanya gerbang besi tinggi dengan hati-hati, melongokkan kepala ke arah luar. Terlihat jalanan begitu sepi dan gelap. Di sampingnya terdapat banyak semak dan area persawahan yang luas. Melangkahkan kaki secara perlahan, hingga sampai luar gerbang, gadis itu masih saja berjalan dengan sangat pelan. Rasa takut jika tiba-tiba salah satu atau ke dua pengawal itu akan terbangun dan menangkapnya.
Sampai jarak dari pintu gerbang sekitar seratus meter, gadis itu memutuskan untuk berlari sangat kencang. Ia terus berlari secepat yang ia bias. Di tengah gelapnya malam menyusuri area persawahan luas dan jauh dari pemukiman penduduk serta jalan besar.
Nafasnya ngos-ngosan yang terasa hampir putus, tak dihiraukannya. Ia terus berlari, meski langkah kakinya sudah mulai melemah. Bahkan kaos putih serta celana pendek yang dia kenakan kotor terkena lumpur basah, saat terjatuh beberapa kali.
Setelah dua puluh lima menit berlari, sampailah di jalan besar. Nafasnya memburu. Gadis itu kelelahan. Pun dengan cepat mengistirahatkan tubuh dengan duduk di pinggiran trotoar. Lalu segera memesan taksi online di aplikasi miliknya setelah itu.
Tiga menit kemudian, sebuah mobil berhenti di depannya, supir taksi membuka jendela mobil menyebutkan nama si gadis. Dengan cepat gadis itu naik ke kursi belakang mobil. Di dalam mobil taksi yang dia tumpangi, gadis itu tertidur pulas. Rasa capek membuat pemilik rambut sebahu itu, tak bisa menahan kantuk. Supir di belakang kemudi sedikit heran dengan penampilan kotor dan napas terengah penumpang belia itu, saat memasuki mobil. Belum lima menit, diliriknya sudah tertidur pulas. Supir taksi hanya menggelengkan kepala meski tak dipungkiri, ia merinding melihat kondisi penumpangnya, namun berusaha mengabaikan.
Lima menit sebelum taksi sampai tujuan, supir membangunkan gadis itu dari tidurnya.
“Mbak bangun, sudah hampir sampai, rumahnya yang mana ya?” Tanya pak supir.
“Sudah hampir sampai ya? He hehe,”
“Pak saya gak punya uang, saya bayar pakai HP ya? He he he.” Jelasnya pada supir sambil mengulurkan tangan memberikan hp usang miliknya.
“Maaf mbak saya hanya terima uang tunai, tidak menerima pembayaran lain!” Jawab si supir taksi sopan.
“Tapi saya benar-benar gak punya duit pak, he he he…” Ucapnya cengengesan.
“Mbak kalau gak punya duit kenapa pesan taksi?” Pak supir mulai tersulut emosi oleh tingkah customernya.
“Saya tambahin sepatu sama tas saya ya? He he he” Gadis itu segera melepaskan sepatu butut yang dia kenakan dan mengarahkannya pada pak supir.
“Gak bisa mba!” Jangan-jangan ini orang stress batin supir.
“Atau saya bayar dengan ginjal kanan saya aja ya pak, soalnya yang kiri sudah laku! He he he” Nego gadis sambil terkekeh mengerikan, namun terdengar nada pilu dari kata-katanya.
Supir taksi merasa hawa dingin seketika ia merasa takut, mendengar keterangan penumpangnya. Pun langsung meminggirkan mobil dan menghentikannya. Dibukanya pintu belakang mobil seraya berkata:
“Udah deket mbak turun saja, gak usah bayar!” Dengan tangan menarik penumpangnya untuk keluar.
“Mau ya pak ya, he he he” Rayunya sambil memegang tangan dan menarik narik lengan baju pak supir.
“Buat mbak gak usah bayar gratis.” Memang benaran stress kayaknya ini cewek batin supir.
“Ginjal saya mahal loh pak, laku tujuh puluh tima juta. He he he” paksa gadis itu pada sang supir dengan mengedip-gedipkan mata.
Melihat reaksi penumpangnya yang semakin lama semakin ganjil, supir itu segera berlari ke arah kemudi dan cepat-cepat melajukan mobilnya setelah penumpang tersebut turun.
“Bener- bener wong edan!” Umpat sang supir ketika mobilnya sudah mulai menjauh.
**
Beberapa tahun kemudian.
“Jemput saya di bandara sekarang!” Seorang pemuda berambut cepak dengan penampilan rapi, keluar dari pesawat yang baru saja landing beberapa menit yang lalu. Berjalan santai menuju area departure, lalu memilih sebuah executive lounge yang tersedia di area luar bandara. Ia menelpon dengan menggunakan satu tangan sembari berjalan menyeret koper kecil di tangan kirinya.
Dia adalah pewaris sebuah perusahaan besar yang cukup ternama di Negara ini. Golden Group.