C5 Sahabat Laknat
Clara dan sahabatnya Vio berdampingan melenggangkan kaki santai di atas trotoar jalan besar menuju kampusnya. Dia melirik jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan, masih sekitar empat puluh menit sebelum kelas mulai. Sepanjang jalan kedua gadis itu berhasil mencuri perhatian banyak orang yang melintas di jalanan tersebut, lewat penampilan kece, body oke, kulit mulus serta wajah cantik di atas rata-rata yang dimiliki ke duanya.
Selang lima menit mereka sudah sampai di depan gerbang tinggi area GOLDEN UNIVERSITY, yang berada di sebelah kiri persimpangan jalan. Tak jauh dari persimpangan ada sebuah lampu pengatur lalu lintas dengan pemandangan beberapa pedagang asongan menawarkan barang dagangannya. Seolah tak pernah lelah, mereka terus saja menanti sebuah rezeki dari pengendara yang terpaksa berhenti karena lampu menyala merah. Beberapa tukang becak terlelap di atas becaknya meski jam masih menunjukkan pukul sembilan pagi. Tersirat wajah lelah mereka setelah mengayuh roda kehidupan yang kian melelahkan.
Memasuki area kampus terlihat tiga orang pria berpakaian rapi dengan celana berbahan kain semi jeans warna biru dongker, serta kemeja lengan pendek warna biru muda, aksesoris pin warna emas yang sama dengan milik Clara terpasang di dada kiri, serta dua garis hitam di depan dada kanan.
Mereka bertiga duduk di sebuah bangku panjang yang berjajar di depan ruang kelas. Ke dua wanita cantik itu berjalan mendekati tiga pria berparas ganteng yang menjadi idola perempuan di kampusnya. Mereka adalah Bara, Leon dan Untung teman dekat mereka berdua.
"Hai bidadari surgaku!" Sapa Bara, cowok yang mendapat julukan haji playboy, saat melihat Clara mendekati mereka.
"Plak" Kepala Bara di getok oleh Leon yang berada ditengah tengah.
"Bidadari surga endasmu, lu aja sana yang ke sorga duluan, Clara jangan!"Imbuhnya lagi.
"Iya, aku masih betah liat wajah adekku yang bening ini!" Sahut Untung dengan gaya bicara medoknya, sambil merangkul Clara yang sudah duduk di sampingnya.
"Awas, asisten bidadari mau duduk!" Ketus Viona yang memaksa Untung melepaskan rangkulan tangannya dengan duduk di tengah ke duanya.
"Anying, kalian emang kagak pernah rela liat gue seneng." Umpat Bara, sembari mengusap usap jidatnya yang terasa panas akibat ulah Leon.
Sedang Clara yang di ributkan hanya menatap teman temannya sesaat dengan wajah datar. Kemudian serius membuka beberapa paper yang ada di tangan seraya berdiri dan berucap:
"Ayo masuk, kalian udah pada siap kan buat presentasi mata kuliah ATC (Air Traffic Controller)?"
"Celeguk" Keempat temannya hanya bengong sembari mengekori Clara masuk ke dalam kelas.
"Siapa yang presentasiin kali ini?" Tanya Clara ulang.
"Viona aja dech." Sahut Leon pemilik manik mata biru, yang malas menghapal materi materi ATC.
"Ogah, kemarin mata kuliah MTU (manajemen transportasi udara) sama manajemen keuangan aku. Ganti kalian skarang!" Viona mendelik.
"Kamu aja dech Bar, IPK mu kan paling tinggi diantara kita bertiga!" Tunjuk Untung mengharapkan Bara.
"Yach gue kagak tau materinya nyiiing, semalem gue dzikir mpe subuh lupa ada tugas kelompok, kenapa kagak lu sendiri sih?" Bara berkilah dengan wajah sok polosnya.
"Mati aku, koe rak ndelok sikilku wes ndruedeg (kamu gak lihat kakiku sudah gemetaran)?" Jawab Untung ketakutan dengan bahasa jawa tulen, saat melihat bu Pauli, dosen terkiler di kampusnya.
Sementara Clara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, saat melihat ke empat temannya gaduh dan saling tuding, enggan mewakili kelompoknya untuk presentasi. Melihat kegaduhan tersebut, Clara lantas beranjak maju ke depan kemudian mempresentasikan tugas kelompoknya dengan tegas dan lugas. Clara pun dengan brilian menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, baik oleh semua teman sekelasnya maupun sang dosen.
"Emang kagak salah dia jadi mahasiswa termuda di kampus kita, otaknya tok cer bener!" Celetuk Viona mengagumi kecerdasan sahabat mungilnya.
"Ehemm." Sahut ketiga trio laknat merespon ucapan Vio.
Setelahnya ke empat anak manusia itu hanya terbengong ditempat duduk masing-masing, melihat cara penyampaian presentasi Clara yang sangat apik. Serta mendengar jawaban-jawaban brilian yang bahkan tidak tertulis dalam materi presentasi kelompok mereka.
Riuh tepuk tangan memecah keheningan kelas setelah Clara menyelesaikan presentasinya. Seisi kelas standing applouse untuk Clara, sang dosen pun memberi dua acungan jempol. Di mana ini merupakan sejarah baru di kampus GOLDEN. Bu Pauli si dosen killer yang terkenal sangat pelit nilai, di mana sebelumnya nilai A adalah sebuah kemustahilan bagi para mahasiswanya, memberi dua acungan jempol yang berarti nilai A plus untuk Clara.
Hal-hal seperti ini lah yang membuat mereka berempat begitu menyayangi Clara. Clara yang selalu bisa menolong mereka disaat yang tidak terduga. Clara dengan sifat pendiam tidak banyak bicara dan tingkah cueknya selalu mampu memberi warna yang berbeda setiap hari untuk mereka ke empat sahabat, yang sudah seperti keluarga selama dua tahun ini. Dan hanya mereka yang Clara miliki selama ini.
Clara seperti pelangi dengan gradasi warna indah, pelangi yang terbentuk oleh spektrum cahaya putih yang terbias oleh prisma butiran air hujan dengan bantuan sinar mentari. Menghasilkan kumpulan beragam warna tipis, mejikuhibiniu nan indah dan cantik, yang cukup serta tidak berlebihan. Ya cukup terlihat cantik dengan penampilannya yang sederhana. Cukup sederhana seindah parasnya yang menyejukkan jiwa. Cukup saja, tidak kurang juga tidak lebih. Memang hanya pas dan cukup saja, sesuai yang kita butuhkan, tidak berlebihan.
"I Love You Claraaa!" belum selesai reda riuh tepuk tangan, Bara kembali berteriak keras, dengan kedua tangan diangkat ke atas membentuk simbul hati, menimbulkan kegaduhan lagi.
"Huuuuuuu......" Sorak teman sekelasnya untuk Bara.
Seiring teriakan dari teman sekelasnya, Clara mendelik tajam ke arah Bara dengan tatapan membunuh. Lalu, "Plak plak plak" ketiga temennya secara bersamaan mengeroyok Bara.
Selesai kelas, mereka berlima berlomba melangkahkan kaki ke kantin untuk makan siang bersama.
Pertemuan dua tahun lalu waktu ospek dengan karakter unik masing-masing di antara mereka, menciptakan perbedaan namun saling melengkapi. Pertemanan mereka sudah begitu kental dan terkenal tak terpisahkan. Seperti saat ini mereka berlima duduk disalah satu bangku pojokan kantin dengan canda ria membuat iri mata yang melihat. Mereka hampir tidak pernah terlihat berseteru meski saling mengolok-ngolok satu sama lain.
Clara meneguk air mineral yang ada di meja, dengan cepat sampai menyisakan hanya setengah, tenggorokannya terasa kering setelah presentasi dan menjawab segudang pertanyaan dari teman sekelasnya.
“Sini, mana duitnya?” Viona menengadahkan tangan kepada trio masketir, meminta uang untuk membayar lima mangkok bakso dan air mineral yang sudah dia pesan.
***Masketir berasal dari bahasa Perancis mousquetaire, dalam bahasa Inggris musketeer, kemudian kedua kata itu berubah menjadi masketir saat diserap dalam bahasa Indonesia. Masketir sendiri merupakan bagian penting dari terbentuknya awal tentara moderen baik di Asia maupun Eropa yang di lengkapi dengan senjata musket atau senapan lontak dalam bahasa Indonesia. Sebagian cerita ada yang mengisahkan bahwa tri masketir adalah seorang tentara yang menjadi ajudan serta mempunyai mandat dalam menjalankan sebuah misi penting.***
"Cla, kamu tahu gak senyawa kimia air ini sama kaya kita?" ucap Bara sambil memegang botol berisi air mineral di dalamnya.
"Hmm?" Clara dan ketiga teman yang di bangku mengernyitkan dahin bingung.
"Iya, kita ini seperti unsur Hidrogen dan senyawa oksigen, yang tak terpisahkan membentuk senyawa H2O, guna melepaskan dahaga." celetuk Bara garing menurut teman-temannya.
"Masa?" Jawab Clara malas, sembari memutar bola matanya.
"Kalau menurutku itu gak bener, karna aku dan kamu gak akan pernah bersatu." Ketiga temannya menahan tawa mendengar jawaban Clara.
"Yang bener nih ya, kamu itu NH3." Tutur Clara santai.
"Apaan tuh?" Tanya Untung.
"Senyawa Amonia, gas yang gak keliatan, tapi aromanya meracuni jiwa, bikin mual pengen muntah!" Balas Clara Asal tanpa rasa berdosa.
"Buahahaha" Tawa ke tiga temannya pecah mendengar jawaban Clara dan melihat muka Bara memerah seperti kepiting rebus, menahan malu.
Mendengar jawaban Clara yang dilontarkan untuk Bara, menarik perhatian seorang cowok yang duduk di bangku sebelah kanan mereka. Cowok itu mengalihkan pandangannya, sesaat menoleh ke arah Clara. Melihat sosok Clara yang begitu imut dan kecil cowok itu mengernyitkan wajahnya sekilas, mengingatkan seseorang yang pernah dia temui. Namun hal itu dia tepis jauh jauh, kemudian kembali fokus menghabiskan makanan yang ada di hadapannya.
Ya, di antara tiga cowok yang menjadi sahabat Clara, hanya Untung lah yang benar-benar menganggap Clara sebagai adik.
Sedang Bara dan Leon memang memiliki perasaan lebih untuk Clara dalam hatinya. Namun Leon memilih menyimpan rasa itu rapat-rapat dalam hati, karena dia tahu Clara hanya menganggap sebagai sosok kakak, sahabat dan keluarga terdekt
Sedang Bara, lelaki itu seolah tak pernah lelah untuk menunjukkan perasaannya pada Clara meski sudah sering mendengar penolakan dari gadis cantik tersebut. Pun Bara seakan tidak pernah sakit hati mendengar kata-kata Clara yang terkadang sangat pedas menurut teman teman lain.
Karena menurut Bara itu cukup. Cukup dengan dia mengatakan isi hatinya, tak perlu mendapat balasan. Cukup dia bisa bersenda gurau dengan gadis yang terpaut usia empat tahun di bawahnya itu.