C6 Dinner
Aku berjalan ke arah balkon kamar di apartemen, tempat tinggalku tiga tahun ini. Apartemen kecil sederhana yang selalu bisa membuatku merasa bersyukur dan bersyukur lagi.
Kenapa?
Padahal cuma sepetak apartemen kecil yang biasa aja dan emang biasa banget. Kehidupanku pun sama, biasa saja. Tapi hidup yang biasa saja inilah, yang paling aku syukuri.
Bagaimana tidak, aku mempunyai tempat untuk pulang yang bisa disebut rumah. Aku bisa tidur pulas di kasur empuk, bisa makan dengan kenyang, tanpa ketakutan adanya pertanyaan pertanyaan:
Besok makanan apa yang bisa aku makan?
Bagaimana caraku mendapatkan makanan untuk bertahan hidup?
Yah, pertanyaan yang selalu muncul di pikiranku empat tahun lalu. Ketika aku dijual oleh ayah kandungku, sewaktu ibu yang melahirkanku tidak pernah menginginkan keberadaanku dan menyuruhku "mati saja" katanya.
Saat aku yang notabene seorang gadis kecil berusia empat belas tahun, hidup menggelandang tanpa tujuan, dengan sisa duit dua ribu perak di tangan. Bahkan sebotol air mineral pun tidak sanggup untukku membelinya.
Empat tahun lalu, hidupku dipenuhi oleh banyak ketakutan. Berjalan di pasar-pasar tradisional, bersaing dengan banyak preman dan gelandangan lain, yang bernasip sama denganku. Mengais sisa dagangan dekat tong sampah dengan bau menyengat dipenuhi oleh lalat, sisa dagangan yang masih bisa kita makan.
Bisa di makan meski jauh dari kata layak. Jauh dari kata bersih, apalagi higienis.
Kalian pun mungkin akan muntah, hanya dengan duduk di dekat keranjang sampah pasar tradisional yang berbau busuk, menyengat dan kumuh. Di mana sampah makanan basah itu lebih sering diangkut oleh mereka para peternak babi, untuk diberikan pada hewan ternaknya.
Soal rasanya, jangan lagi ditanya. Aku tidak pernah merasakan bagaimana rasa makanan itu, aku hanya menelannya, tanpa pernah ku rasai dengan benar. Bisa makan saja sudah suatu hal yang luar biasa.
Ah entahlah, sudah berapa banyak jenis bakteri jahat, virus dan patogen apa saja yang masuk ke dalam ususku ini. Aku sendiri tidak pernah tau dengan keberadaan makhluk tak kasat mata itu. Karena tak terlihat, maka aku menepiskan semua bayangan makhluk-makhluk itu, yang mungkin menjadi momok menakutkan bagi kebanyakan orang yang menjalani hidup dengan layak.
Tapi aku bisa apa? Aku butuh makan untuk bertahan hidup, sekalipun makanan itu adalah sampah. Nyatanya dulu aku memang sering kali menahan sakit perut yang sangat melilit.
Aku pun tak pernah tahu penyebab pastinya. Sakit karna aku terlalu sering menahan lapar, atau sakit karna disebabkan oleh bakteri, virus atau patogen lain, yang telah menginfeksi organ pencernaanku. Orang-orang di sekitarku, yang sama awamnya denganku tentang ilmu medis hanya menyebut "masuk angin". Dan membantu mengeroki punggungku dengan uang koin lima ratus perak, yang terlebih dulu kami diolesi minyak goreng, yang tertempel di plastik bekas bungkus jajanan pasar. Karna tidak pernah sekalipun aku periksa ke dokter saat itu. Yang aku tau sakit itu akan hilang seiring berjalannya waktu dan hari berganti.
Ketika malam menjelang, aku masih harus berebut tempat untuk tidur di emperan toko yang setidaknya berlantai rata. Dan sedikit hangat, jika badan kecil dan kurus ini, ku tempelkan rapat dan erat pada sisi tembok, sambil menelungkupkan tubuh memeluk dengkulku.
Pun tidurku tidak bisa nyenyak, karna aku terlalu takut, kalau-kalau di keroyok mereka para preman, pemabuk, dan mereka para hidung belang yang sering kali berdatangan, ingin merampas kehormatan serta kegadisanku.
Menangis dan memohon belas kasihan pada orang lain, entahlah sudah berapa banyak air mata yang tumpah. Aku pun sudah lupa berapa kali aku menangis. Mungkin bisa ratusan, ribuan bahkan jutaan tetes air mata tertumpah dan mengalir dari pelupuk mataku jika di kalkulasikan.
Memohon pada mereka para wanita setengah kaya yang berbelanja dipasar, untuk menjadikanku kuli angkut. Ya kami para gelandangan, menyebutnya wanita setengah kaya. Karena mereka semua rata-rata sangat perhitungan dan seringkali mengeluarkan pernyataan kasar tidak manusiawi, terhadap kami para gelangdangan yang mencari keberuntungan menjadi kuli angkut pasar.
Salah satunya adalah aku, kuli angkut yang sering disepelekan. Karena tubuh kecil dan kurus ini, sering kali tidak kuat mengangkat karung beras, maupun tumpukan sayuran menggunung, hasil belanjaan mereka para wanita setengah kaya, demi sepuluh ribu perak. Tidak, kadang hanya diberi tiga ribu saja saat mereka kecewa.
Bagaimana aku tidak bersyukur?
Aku mempunyai empat sahabat yang memperlakukanku dengan tulus, meski mereka tau aku berbeda kasta darinya. Sahabat yang kadang menjengkelkan, namun selalu mengisi hari hariku dengan banyak tawa, mengisi jiwaku yang sepi dan hampa. Jiwa yang rindu oleh pelukan hangat sebuah keluarga. Pelukan yang terasa hanya sebuah fatamorgana untukku.
Mungkin inilah yang disebut Tuhan itu maha adil, iya adil. Sangat adil malah! Selain memberiku banyak luka, nyatanya aku masih di anugerahi dengan otak untuk berpikir. Kecerdasan alami di atas rata rata, "Jenius" begitulah yang dikatakan banyak orang padaku.
Nyatanya memang terbukti berkali-kali, dari hasil seluruh test IQ di berbagai tempat saat mengikuti olimpiade, test kerja dan masih banyak lagi. 223 jumlah total hasil test, angka yang sama, setiap kali Mereka memberiku dan menjejaliku berbagai pertanyaan logika maupun psikologis. Entahlah itu hanya sebuah angka bagiku.
Berkat kecerdasan yang diberikan oleh Tuhan, serta ketertarikanku akan sebuah chart dan grafik-grafik pergerakan mata uang, nilai-nilai saham yang ku pelajari dari koran yang aku pinjam dari teman, seorang pedagang koran asongan. Dari situ aku mulai mengenal trading, forex, saham, obligasi, unit link serta berbagai reksadana.
Berbekal dua puluh ribu rupiah, hasil kerja ku tiga hari, aku masuki sebuah warnet dua puluh empat jam. Warnet yang sangat nyaman untuk memejamkan mata lelahku. Tapi tidak, terlalu sayang membuang hasil kerja kerasku untuk sebuah kenyamanan sesaat.
Ku mainkan jari jari kecilku, masuk sebuah platform analisa keuangan. Dan hasilnya amazing, sebuah tawaran datang dari broker asing, untuk bergabung mejadi seorang IB (introduction broker) dan seorang analyst. Perusahaan tempatku mengais rezeki sampai sekarang. Pekerjaan yang menurutku mudah dan sangat fleksibel, bisa ku kerjakan dari mana pun dan kapan pun. Akhirnya aku bisa membeli apartemen kecil ini. Apartemen hasil tangisan, perjuangan n kepingan kenangan di dalamnya.
Ah, terlalu banyak hal yang bisa aku syukuri, terlalu banyak yang terlalu sampai aku bingung untuk mengungkapkan.
Perjalanan pahit itu pula yang membuatku sering kali merasa iba, dengan mereka yang menjalani kehidupan yang sama sepertiku dulu.
***
Klunthing,
Di tengah lamunannya, Clara mendengar suara pesan dari handphone miliknya. Hanya dilirik sekilas tanpa berminat untuk membuka. Dia masih ingin menikmati sorenya yang indah.
Klunting,
Rasa malas menggelayutinya, paling juga dari group yang berisi para kurawa, dengan obrolan obrolan konyol.
Klunting,
suaranya terdengar beberapa kali, Clara baru meraih HP miliknya itu.
"Berisik!" Ketiknya sekali di group.
Klunting,
"Dinner yook!" Yang ternyata pesan dari Bara.
Clara: "Dinner?"
Bara: "iya dinner."
Clara: "Tumben, dalam rangka apa?"
Bara: "A plus dari si killer, macan tutul betina."
Clara: "Call, kapan?"
Bara: "Malam ini, jam tujuh, di resto Empire"
Clara: "Deal"
Selesai membalas pesan Bara, kemudian gadis itu kembali mengirim pesan blast untuk ke ketiga teman lain.
Viona, Untung, Leon: "Diajakin dinner ma pak haji, jam tujuh, Empire resto."
Jam sudah menunjukkan angka setengah tujuh, Clara bergegas mengganti pakaiannnya. Lalu berjalan kaki menuju empire resto yang tidak jauh dari apartemen.
Di halaman parkir sebuah gedung tinggi bertuliskan Golden Hospital, seorang lelaki berparas ganteng, mata sayu kemerahan seperti menahan kantuk, serta wajah seperti kelelahan, rambut cepak sedikit berantakan tak mengurangi kesempurnaan ukiran Tuhan di wajahnya.
Lelaki itu berjalan santai dengan tangan memegang sebuah cup kopi instant panas di tangan kanannya. Duduk di bangku panjang taman rumah sakit, sembari menyeruput kopi panas di tangannya.
"Aaargh nikmatnya!" ucapnya keras, seolah sangat menikmati rasa kopi yang sedikit pahit.
Sesaat dia terbengong, saat matanya mengarah pada seberang jalan.
Celeguk,
"Vitamin and Zink" Gumannya tanpa sadar.
Zink, salah satu mineral yang dibutuhkan tubuh, maksud lelaki itu.
Jakunnya naik turun, tatkala matanya menangkap seorang gadis memakai dress berlengan pendek, motif bunga bunga warna coklat muda, tas selempang hitam, dan sepatu kets warna putih. Gadis itu seolah mengeluarkan cahaya berkilauan dari tubuhnya, rambut lurusnya beterbangan tertiup angin.
Sesekali si gadis melompat-lompat kecil, dan tangan memainkan jajaran bunga bougenvile, yang tertata rapi di pinggir taman rumah sakit.
Matanya tak berkedip menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang haqiqi, pandangan matanya kagum dengan kecantikan yang di miliki gadis itu. Dia adalah Clara!
Laki laki itu benar benar terpesona oleh aura sang gadis, sampai...
Cuurrr,
tanpa sadar dia menumpahkan kopi panas ditangannya mengenai paha lelaki itu.
"Sial"
"Auh panas" Rutuknya sambil menepuk-nepuk paha, yang terasa panas terkena tumpahan kopi.
Di empire resto, Bara terkejut melihat penampakan tiga curut tengah asyik ngobrol di bangku yang sudah dia reservasi, untuk special dinnernya dengan yayang Clara tercinta. Dia mengacak rambutnya frustasi.
"Eh curut, ngapain kalian di sini?" Tanyanya dengan nada pedas, pada ketiga makhluk aneh.
"Dinner" Ketiganya kompak.
"Haaaissst, maksud gue siapa yang nyuruh kalian duduk di sini?"
"Minggir sana, ini khusus buat gue ma bidadari gue!" usir Bara sebal.
"Hai, aku telat ya?" belum sempat ketiganya beranjak, Clara lebih dulu menghampiri mereka dengan wajah riang dan polosnya.
Bara melihat wajah Clara yang ceria, menjadi tidak tega mengusir tiga alien tengil di hadapannya. Karena bara takut keceriaan gadis itu akan menghilang tanpa adanya tiga alien tengil.
"Ambyar, ambyar" ucap Bara sambil membentur-benturkan kepalanya frustasi ke sisi meja. Sedang ketiga temannya yang tahu, hanya terkekeh saat berhasil mengerjai Bara.
"Yok pesan yang termahal, mumpung gratis!" seru Leon penuh semangat disertai nada provokasi.
"Hajar." teriak Viona dan Untung bersamaan.
"Hanya boleh pesen air putih!" sahut Bara kesal, namun hanya disambut kekehan teman-temannya, tanpa dihiraukan sama sekali.
Mereka tetap memesan makanan yang paling mahal, sesuai yang mereka inginkan. Memakan makanan di atas meja, diselingi tawa dan obrolan ringan, sampai bergantian saling mencicipi menu, sudah menjadi hal wajar buat kelimanya.
Selesai makan, akhirnya kesempatan yang ditunggu Bara untuk berdua saja dengan Clara tiba. Bara mengantar Clara pulang dengan mobil camaro biru miliknya. Meski cuma beberapa menit, itu sudah cukup membuat Bara tersenyum bahagia.