CEO dan Gadis Terbuang/C8 Dikejar Herder
+ Add to Library
CEO dan Gadis Terbuang/C8 Dikejar Herder
+ Add to Library

C8 Dikejar Herder

Triing, triing, triing...

Suara jam weker yang terletak di samping tempat tidur Clara berdering nyaring, membangunkan tidurnya yang nyenyak sepanjang malam.

Gadis itu menggeliat mengerjap-ngerjapkan matanya sesaat, setelah itu mengucek pelan ke dua bola mata bermanik coklat itu, dengan kedua jari tangan untuk membantu menghilangkan kantuk.

Lalu gadis itu bangkit dari tempat tidur, berjalan ke sisi jendela, membuka horden lebar-lebar di susul dengan menarik kait jendela agar udara berganti. Tak lupa pintu yang mengarah ke balkon apartemen pun dia buka. Terlihat mentari sudah menyapa lewat kemilau indah di ufuk timur.

"Aah pagi yang cerah." guman Clara sambil tersenyum lebar.

"Terima kasih Tuhan, sudah membangunkanku pagi ini." imbuhnya penuh syukur.

Setelah itu Clara bergegas ke kamar mandi, untuk mencuci muka bantalnya sehabis bangun tidur serta menyikat giginya.

Kemudian dia mengganti baju tidurnya dengan celana hitam pendek selutut, dipadukan dengan atasan kaos berwarna pink bergambar seekor kucing di bagian depan. Rambutnya di kuncir kuda, dan sepatu warna hitam dengan aksen pink sebagai alas kakinya.

"Tetep cantik meski keteknya masi bau kecut, hihihi." narsisnya ketika mematut diri di depan kaca.

Setelah melihat bayangan tubuhnya di kaca, yang sudah pas sesuai dengan keinginannya, Clara memgambil sebuah handuk kecil dikalungkan ke lehernya yang mulus. Sebuah botol berisi air minum dia bawa di tangan kirinya.

Hari ini adalah minggu pagi. Sudah menjadi kebiasaan Clara untuk berolah raga pagi, dan bersepeda santai di taman kota yang terletak tidak jauh dari apartemennya.

Clara mengayuh sepeda lipatnya dengan santai. Gadis bertubuh mungil itu, begitu menikmati waktu berolah raga mingguannya yang seorang diri, seperti hari ini.

Clara memang terbiasa melatih semua ototnya khusus pada hari minggu sebagai rutinitas wajibnya. Mulai dari bersepeda santai, disusul berlari mengelilingi taman kota.

"Laper, sarapan dulu dech"

Empat puluh menit berlari mengelilingi lapangan, membuat cacing di perutnya protes minta makan. Clara menghampiri pedagang nasi pecel yang sudah menjadi langganannya.

"Bang Jayus, nasi pecel satu ya, pake pincuk daun aja, lauknya tempe mendoan dua!" Clara memesan makanan pada penjual yang sudah lama dia kenal.

"Siap neng, ekstra sambel kan, seperti biasa?" jawab bang Jayus, penuh semangat.

"Bang Jayus emang top banget." Clara mengangkat ke dua jempolnya ke atas.

Gadis itu menikmati sarapan paginya dengan semangat, pecel adalah makanan favoritnya. Dalam sekejap Clara menghabiskan nasi yang terhidang di atas pincuk daun pisang, yang menambah aroma dan cita rasa segar saat terkena nasi panas. Ditambah dengan aneka sayur hijau rebus, bercampur sambel kacang serta tempe mendoan yang nusantara banget. Terasa nikmat dan mengenyangkan di lidahnya yang terbiasa menyicip menu sederhana kesukaannya.

Setelah itu meneguk air putih dari botol yang dia bawa dari. Melepaskan dahaga yang dirasa.

"Yey kenyang!" ucapnya bahagia, dengan teriakan khas remaja belasan tahun, sembari mengelus perutnya yang rata.

"Nich bang, bayar nasi pecel seporsi tadi ya!" Clara memberikan pecahan dua puluh ribu pada bang Jayus, kemudian berjalan meninggalkan lapak tersebut.

"Neng Clara, tunggu, kembaliannya masih sepuluh ribu!" Bang Jayus berteriak, saat melihat Clara berjalan menjauhi lapak miliknya.

"Bonus buat abang!" Clara mengerlingkan matanya centil sembari terkekeh ke penjual pecel itu.

"Makasih banyak ya neng!" Jawab lelaki yang sudah beruban tersebut senang.

When will l see you again,,

You left with no goodbye,

Not a single word was said.

No final kiss to seal anything,

I had no idea of the state we were in,

But don't you remember...

Clara berjalan menuju sepeda lipatnya yang terparkir di pinggir jalan, sembari mendendang kecil lagu favorit dari mulutnya yang mungil.

Saat hendak mengayuh sepeda lipatnya, netra coklat Clara menangkap seseorang yang terlihat familiar di matanya. Dia mencoba mengingat ingat sosok itu.

Seorang lelaki berkulit putih, mengenakan celana jeans panjang warna biru tua, dengan kemeja putih bergaris garis kecil warna hitam, sedang berdiri dengan salah satu tangan memegang lengan anak kecil di hadapannya.

Sedang lengan yang satunya memegang beberapa lembar uang pecahan ratusan ribu dan beberapa pecahan lain.

Anak kecil yang ada di hadapan pria itu menangis tersedu sedu, tanpa suara. Hanya air mata terus mengalir deras dari ke dua pelupuk mata kecilnya.

Terlihat pula pemandangan si anak mengosok-gosok ke dua tangannya sebagai bentuk permohonan yang sangat, kepada pria yang ada di hadapannya. Entah kenapa hati Clara merasa ngilu, melihat air mata dan tatapan penuh permohonan tanpa suara yang terpancar dari wajah si anak. Hatinya seolah ikut terhujam dan perih.

Teringat akan masa lalunya yang selalu memohon dan mengemis pada orang orang di sekelilingnya. Orang-orang yang acuh dan tidak perduli, meski dia telah memohon dengan banyak air mata kepiluan.

Belum sempat Clara terhanyut lebih dalam pada kisah lalunya, gadis berusia belia itu tiba-tiba teringat sesuatu yang membuyarkan lamunannya.

"Adit, iya benar, itu Adit." mengingat nama anak kecil yang sudah dikenalnya sejak lama.

"Adit dan ibunya sudah agak lama gak terlihat berjualan di dekat kampus."

"Kenapa dia menangis?"

"Dimana ibunya, kenapa dia sendirian?"

"Siapa pria itu?"

Berbagai pertanyaan bergentanyangan menghinggapi isi kepala Clara, tanpa kuasa gadis itu hindari.

"Jangan-jangan, pria itu preman tampan berpakaian rapi, untuk menutupi kedoknya yang sering mengeksploitasi anak!"

"Dasar pecundang, bisa-bisanya memanfaatkan anak kecil yang lemah."

"Ciiih, ganteng-ganteng kurang ajar!" sengit Clara melihat interaksi Adit dan si pria.

Bayangan liar tentang kehidupan jalanan, seketika berkecamuk di dalam otak yang biasanya jenius. Namun pengalamannya sebagai gelandangan mengalahkan logikanya.

"Adit, aku harus menolongnya!" tegas Clara berapi api tanpa putus.

Clara melepaskan kedua sepatunya, lalu berjalan dengan cepat ke arah Adit, saat terlihat pria itu seperti memaksa dan menarik tangan Adit. Dan,

Bugh,

Clara melempar salah satu sepatunya, tepat mengenai kepala sang Pria. Sesuai dengan prediksinya ketika jarak sudah dekat.

"Aargh," pria itu mengerang sembari memegangi kepalanya yang terasa sakit.

Belum sempat si pria menyadari keadaan,

Buugh,

Clara kembali memukul punggung sang pria tak dikenal dengan keras, menggunakan salah satu sepatu yang masih ada di tangannya.

"Aargh," untuk kedua kalinya, pria itu berteriak lebih kencang, ketika Clara kembali memukul punggungnya sangat keras.

Setelah itu, dengan sigap segera membalikkan badan, sebelum Clara sempat memukul lagi untuk yang ke tiga kalinya. Kemudian dengan cekatan menangkap lengan Clara erat.

"Kau, apa kau gila?" teriak lelaki itu marah, di pukul dua kali berturut-turut oleh gadis bar-bar yang tidak dia kenal. Kepalanya sedikit berkunang-kunang, menerima lemparan bebas dari sepatu Clara, mengenai kepala belakangnya.

"Kau, knapa memukul orang sembarangan?" pria itu kembali berteriak kencang, masih tidak bisa terima perlakuan semena-mena Clara terhadapnya.

"Apa Kau preman gila, yang suka memukul?" lantang sang pria, sambil jari telunjuk kanan menoyor dahi Clara kuat, menyebabkan Clara terhuyung ke belakang beberapa langkah.

"Wuah, dia, ganteng sekali!" untuk sesaat Clara lupa tujuannya, ia terpana melihat mahkluk indah di hadapannya.

Ia terbengong sesaat, kemudian segera menyadarkan diri, dengan menepuk-nepuk pelan ke dua pipinya.

"Kau yang gila, kenapa tega memalak anak sekecil itu?" balas Clara tak kalah lantang.

"Apa, memalak?" elak pria itu tidak terima.

"Ciiih, tidak tau malu, sudah ketahuan masih tidak mau mengaku!" Clara berdecih sinis.

"Siapa yang memalak? Aku tidak memalaknya, dan aku juga bukan preman!" sangkal si pria tidak mau kalah.

"Wah kau sangat hebat dalam berakting, bekerjalah yang baik, kalau ingin punya uang!" Clara memungut lembaran uang yang jatuh, lalu diberikan pada Adit.

"Kau benar-benar gadis bar-bar yang aneh!" geram, pria itu menahan dongkol.

Sedang Adit, bocah itu hanya diam, menatap ke dua orang yang sedang beradu mulut di depannya, dengan tatapan bingung ke arah Clara. Menganalisa apa yang terjadi, dengan sedikit terisak, sisa tangisnya.

"Kak Clara, kenapa memukul om dokter?" setelah beberapa menit, akhirnya Adit membuka suara.

"A-apa om dokter, dia dokter?" tanya Clara kaget, sambil menuding wajah Dicka menggunakan jari telunjuk.

Namun kekagetannya hanya sekilas saja, dalam hitungan detik berubah menghawatirkan sosok mungil yang berdiri di hadapannya.

"Adit, Adit sakit apa?" imbuh gadis itu khawatir sambil membolak balik tubuh Adit, melupakan sosok dokter yang baru saja menerima dua kali bogem darinya.

"Bukan Adit yang sakit kak, tapi Ibu, hiks hiks." Adit, bocah kecil itu kembali menangis.

"Ibu Adit sakit di sana, sudah seminggu, hiks hiks." jelas bocah kelas tiga SD, sambil menunjuk ke arah Golden Hospital, yang terletak di seberang taman kota.

"Ibu Adit sakit apa, dirawat di ruang apa?" cerocos Clara panjang lebar, seolah tidak sadar masih ada sepasang mata yang menatapnya tajam.

"Ibu terus saja tidur, tidak mau membuka matanya, Adit takut kak, hiks hiks." tangis Adit semakin keras, disertai gelengan kepala, pertanda ia tidak mengetahui perihal penyakit ibunya.

Clara langsung memeluk Adit, dengan memberi sedikit elusan lembut di puncak kepala Adit, bermaksud menenangkan anak kecil itu.

"Gadis ini, sungguh menyebalkan!" batin pria berprofesi dokter yang berdiri mengamati Clara.

Sosok yang mengamati interaksi Adit dan Clara mulai tidak sabar, dengan sikap bar-bar Clara yang berubah drastis saat menghadapi Adit.

"Kau, cepat minta maaf padaku!" tegas pria di hadapan Clara sinis, menuntut permintaan maaf.

Clara yang menyadari kesalahannya, tiba-tiba merasa seluruh tubuhnya merinding, ketika netranya mendapati mata elang sang pria, menatap tajam ke arahnya. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.

"He he he" Clara nyengir kuda merasa bersalah dan menatap pria ganteng tersebut.

"Maaf, Saya tidak sengaja!" lalu berkata sambil menundukkan kepala.

"Apa, tidak sengaja? Kau bahkan berteriak dengan percaya diri sekali tadi?" sinis sang lelaki sebal dengan sikap Clara.

Melihat aura kemarahan sang dokter, Clara berjinjit, sembari berjalan pelan-pelan memungut sepatunya yang tergeletak di tanah. Dan berjalan sedikit menjauh.

"Aku benar-benar tidak tau, maaf!" ucapnya lagi masih sambil nyengir.

"Kau, Aku akan menuntutmu!" balas sang dokter dengan kemarahan yang berapi-api, sewaktu melihat Clara berlari kencang, meninggalkan taman dan melupakan sepedanya, berpikir pria itu akan mengejarnya.

Dokter muda tampan itu menyeringai saat melihat sepeda lipat milik Clara tertinggal. Dibawanya sepeda milik gadis bar-bar setidaknya menurut sang dokter, ke Rumah sakit bersama Adit.

Clara terus saja berlari terbirit-birit dengan tangan masih memegang ke dua sepatunya. Telapak kakinya terasa perih, saat berlari kencang beradu dengan aspal yang mulai panas akibat terjemur sinar matahari.

Sampai di pintu apartemen, Clara segera memencet pasword, dan masuk ke dalam apartemennya secepat kilat. Ia bernafas sangat cepat, kakinya terasa pegal setelah berlari hampir satu kilo meter tanpa istirahat.

"Kamu kenapa sih Cla?" tanya Viona dan Leon bersamaan heran, melihat nafas Clara terengah-engah dengan tangan memegang sepatu dan bertelanjang kaki.

"Aargh," Clara berteriak kaget, mendengar suara dari dalam apartemen.

"Abis dikejar anjing herder." sahutnya, melihat dua orang sahabatnya duduk santai di ruang tamu.

"Sejak kapan kalian di sini?" tanya Clara pada keduanya.

"Sejak sepuluh menit lalu." jawab Viona yang memang sudah sering keluar masuk ke apartemen Clara, dan satu-satunya orang yang tau akses masuk ke dalam apartemen tersebut.

Clara berlalu ke arah dapur, mengambil sebotol air dingin yang ada di kulkas ia teguk sampai tak bersisa. Tenggorokannya merasa kering setelah maraton yang kedua. Setelah itu ia duduk menyelonjorkan kaki di sofa panjang yang ada di ruang tamu, sambil memijit kedua kakinya yang terasa pegal.

"Waduh, sepedaku!!" Clara berteriak sembari menepuk jidat, teringat sepedanya yang tertinggal di taman kota.

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height