+ Add to Library
+ Add to Library
The following content is only suitable for user over 18 years old. Please make sure your age meets the requirement.

C1 BAB 1

Julian Pov

Bela membuka bibirnya perlahan, mengeluarkan desahan saat menyebut namaku, dia menanamkan cakarnya yang tajam di bahuku. "Juls.. baby aku mohon" rengeknya memohon.

Aku membungkuk, menarik puncak dadanya kedalam mulutku, menghisapnya lebih keras, dan jari-jariku bermain di miliknya lebih cepat. Bela berteriak merasakan gelombang orgasme yang datang padanya.

Jariku menarik diri dari dalam dirinya, Bela masih terengah bersandar pada dinding. "Aku ingin dirimu" dia mendekat, menaruh telapak tangannya di balik celanaku, meremas dan memijatnya dengan lihai, aku menegang. "Kau sangat hebat sayang. Aku ingin merasakanmu" dia berbisik di depat mulutku, membuatku bisa melihat kedalam warna matanya yang kebiruan. Bela mengeluarkan milikku terburu-buru, dia berjongkok dengan hilsnya, dan melahap milikku dengan rakus.

"Sabar sayang" aku menggeram, merasakan lidahnya bergerak di sepanjang hisapannya, dia bergumam menikmati pekerjaannya. "Ya, gadis pintar" aku tersenyum memujinya, dia mendorong milikku lebih dalam, aku membelai rambutnya menuntun Bela saat klimaks akan segera datang.

"Ya sayang, aku ingin merasakanmu" ucapnya dengan desahan, membuka mulutnya lebih lebar dan sesuatu yang aku keluarkan. Bela tersenyum puas, menjilat bibirnya dengan tatapan sensual, dia bangkit menuntun milikku untuk segera memasukinya.

Aku mundur menjauh dari jangkauannya. "Maafkan aku sayang, aku tidak bawa pelindung" ucapku menyesal.

"Kau bisa mengeluarkannya di luar Juls. Ayolah"

Aku menggeleng dengan senyuman, dan kembali merapikan pakaianku. Aku tidak akan pernah mengambil risiko. Seks, memang menyenangkan, tapi itu bukan segalanya bagiku. "Maafkan aku, aku tidak bisa" ucapku sekali lagi.

Aku membungkuk dan mencium pipinya sekilas sebelum pergi.

Aku keluar dari ruangan itu, melangkahkan kakiku lebih jauh melewati loby menuju tempat teramai di sini. Kasino terbesar di Neydish. Dan ini semua milikku.

Aku menyempatkan diri bertegur sapa dengan para tukang judi terbaik di negeri ini. Setelah itu, duduk di kursi depan bartender. "Vodka, sedikit es" ucapku tanpa basa basi.

"Iya, Tuan" Maat tersenyum singkat, dia berbalik dan menyediakan pesananku.

Aku duduk dan menilai keadaan, melihat orang-orang tengah sibuk berpesta dan berbisnis. Aku jarang kemari, Justin asistantku terkadang mengurusnya, dia cukup bisa di percaya dalam menjalankan bisnis malam seperti ini.

Aku menghabiskan waktuku dengan bekerja dan menghasilkan uang setengah sadar, lalu membuang sepanjang hidupku. Itu adalah bagian dari caraku bersenang-senang setelah lama bekerja keras.

Saat usiaku enam belas tahun aku menjual bitcoin seharga delapan ratus ribu dollar, uang itu aku investasikan di perusahaan ayahku yang bergerak di teknologi. Saat usiaku delapan belas tahun, aku memiliki uang sebanyak dua juta dollar dari bermain judi dan berbisnis pengolahan makanan.

Dan sekarang inilah aku, aku Julian Giedon. Usiaku dua puluh sembilan tahun, aku memiliki pabrik mobil, pabrik pesawat pribadi, memiliki lebih dari dua belas club malam sekaligus kasino yang tersebar di Neydish, enam taman hiburan, tiga puluh Sembilan pabrik, aku memiliki stasiun televisi sendiri, enam belas hotel di berbagai dunia. Dan aku meminpin sebuah perusahaan yang menguasai perdagangan perhiasan, terutama berlian.

Dan yang terakhir, aku memproduksi peralatan perang untuk beberapa Negara.

Di dunia ini aku hanya memiliki ayah dan kakak. Selain dari itu, mereka adalah para penjilat dan sebagiannya orang-orang yang setia membantu di balik kesuksesanku.

Ibuku sudah meninggal saat usiaku dua belas tahun, dia menderita leukimia yang di sebabkan oleh bencana perang dan kudeta yang pernah terjadi di Neydish.

Ibuku sangat cantik, dia adalah wanita terbaik yang aku miliki dalam hidupku. Dan aku bangga menjadi anaknya.

Ayahku mantan perdana menteri, dan sekarang dia menghabiskan waktunya untuk memancing, sesekali dia memasok alat-alat perang ke berbagai Negara.

Sementara kakakku, si brings*k itu sainganku dalam bisnis. Dia meminpin perusahaannya yang bergerak di bidang teknologi dan kesehatan. Dia sangat berambisi membuat orang-orang sehat dan jauh dari kata kelaparan. Si brings*k yang mulia.

Aku kembali dari lamunanku, sebentar lagi aku harus pergi ke Swedia untuk menyelesaikan kekacauan disana. Terkadang ini sangat melelahkan, dan aku bosan hidup seperti ini.

"Aku mau wine"

Aku mengalihkan perhatianku pada seseorang yang baru datang. Tunggu, kenapa ada anak kecil di sini?.

Kenapa mereka membiarkan anak di bawah umur masuk!. Apa aku harus mengusirnya segera?. Sial! Sial! Ini melanggar undang-undang.

Dia menguap dengan pipi kemerahannya, bulu matanya yang panjang bergerak pelan. Diam-diam aku mengawasinya, aku menaksir usianya mungkin lima belas tahun.

Dia menggerakan kepalanya, melihat ke arahku dengan cemberutan di bibir merah penuhnya. Membuatku sempat terpesona. "Paman, kenapa kau melihatku"

Paman? Aku masih muda sayang. Jangan menghinaku dengan wajah cantik itu!.

Aku mendengus kesal dan sedikit terhina, usiaku baru dua puluh sembilan, dan itu tidak terlalu buruk.

Aku menghabiskan minumanku dengan cepat, ku lihat gadis kecil itu sudah tidak melihatku lagi. Dia membuatku sedikit meragukan ketampananku yang mebuatnya tidak terpesona, apakah dia tidak mengenaliku juga?. Mungkin kah dia seorang turis?.

Aku memilih duduk lebih lama lagi di sini, mencoba menelaah gerak-geriknya sebelum mengusir. Emm... dia cantik.

Tunggu ada apa denganmu juls?. kau bukan pedofil!.

"Siapa namamu?" Aku tidak tahu kenapa harus bertanya seperti ini.

Dia turun dari kursinya, menatapku dengan dingin.

Sial! Ini menarik dan menggairahkan.

"Maaf paman, berhenti menatapku seperti anak kecil yang sedang tersesat. Usiaku dua puluh tahun, dan aku seorang wanita, bukan gadis!." Bentaknya dengan ketus lalu pergi meninggalkan aku yang melongo kaget.

Dua puluh satu?, apakah tubuhnya menolak tua?.

***

Author Pov

Julian berdiri dengan tegap di depan gedung tereskop gold, tempat di mana para pejudi handal, orang-orang kaya menghamburkan uang mereka secara cuma-cuma di sini. Para wanita panggilan terlihat keluar masuk kedalam gedung itu, mereka selalu tertunduk dan memberi hormat pada Julian, si pria kaya yang gila.

Tidak jarang pula ada wanita yang memberanikan diri untuk merayu dan menariknya mengajak pergi. Julian tetap bersikap manis meski dia menolak ajakan mereka.

Julian memasuki mobilnya yang baru datang, dia melesat pergi meninggalkan gedung dengan cepat.

Danau Aldes membentang luas di sisi jalan, air mancur bergerak indah di bawah efek lampu LED yang terpasang, robot-robot terlihat bergerak di setiap sudut tempat, gedung pencakar langit berkilauan dengan cahaya mereka masing-masing.

Julian melajukan mobilnya lebih cepat membelok ke arah kota Aldes, pria itu mengambil handponenya di saku jassnya setelah mendengar nada dering telepon masuk.

"Hallo" ucap Julian.

"Tuan, ada masalah. Ada sebuah serangan di perbatasan Makami dua jam yang lalu, dan misil yang mereka gunakan milik perusahaan Anda."

"Apa kau gila!" teriak Julian dengan keras.

"Sepertinya mereka dari sebuah organisasi, atau mungkin teroris."

Julian mengetatkan rahangnya dengan keras, dia membelokan mobil dengan tajam ke arah laut Savity. "Aku tidak pernah melanggar undang-undang, apalagi memasok misil ke kepada teroris. Dengarkan aku, segera selesaikan masalah ini, dan jangan sampai ayahku tahu."

"Iya Tuan."

Julian kembali menekan beberapa tombol nomer di layar handponenya, pandangannya menjadi sepenuhnya teralihkan pada handpone dalam genggamannya.

Tiba-tiba laju mobil Julian menjadi tidak seimbang saat jalan menurun.

"TINN.." sebuah kelakson mobil truk yang bergerak dari arah berlawanan terdengar keras hingga pria itu terlonjak kaget dan mengalihkan perhatiannya lagi pada jalan.

Mobil bergerak ke sisi jalan hingga menabrak pagar besi, Julian melempar handponenya dan membanting stir ke arah lain dengan belokan tajam, dia menginjak rem dengan keras. Namun mobil tidak dapat terkendali saat di sisi tebing, sehingga terpelanting dan terjun ke laut.

To Be Continue..

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height