CRAZY RICH MAN/C10 episode 10
+ Add to Library
CRAZY RICH MAN/C10 episode 10
+ Add to Library

C10 episode 10

Saat kami memasuki kamar, Yura langsung turun dari dekapanku dan berjalan tertatih-tatih menaiki ranjang.

"Apa kau masih mabuk?" Aku perlu memastikan.

Yura membungkuk melepaskan sepatunya dan melemparkannya ke karpet berbulu, dia melompat-lompat di atas ranjang, terhibur oleh dirinya sendiri.

Aku terpukau...

Dia tertawa lepas, rambutnya berkilauaan bergerak seirama dengan gaunnya, kaki jenjangnya sesekali terlihat saat tubuhnya berada di udara.

Sial! Dia cantik dan indah

Yura melompat dan memelukku tiba-tiba, dia tersenyum. Kejantananku langsung menegang mendesak.

"Aku senang kamu di sini Ray"

Ray? Sudah dua kali dia memanggilku dengan nama itu.

"Jangan tinggalkan aku" kaki kecilnya berjinjit meraih leherku, bibir merah Yura mendarat di bibirku.

Persetan!

Aku menarik pinggangnya dan membalas ciumannya yang tidak berpengalaman, merasakan kelembutan bibirnya yang senikmat pertama kali aku merasakannya.

Lidahku bergerak mengabsen semua penjuru mulutnya yang berasa anggur dan sampanye, ini memabukan. Aku ingin lebih!.

Napas kami terengah-engah begitu ciuman terlepas, Yura mendorongku dan kembali naik ke ranjang mempermainkan gairahku.

"Kau sangat menyenangkan saat mabuk" aku suka memujinya.

"Dan kau sangat menyebalkan saat sadar" teriaknya dengan napas tersenggal-senggal di antara senyumnya yang masih tersisa.

Apa aku menyebalkan?, aku tidak terima itu, meski dia sedang mabuk. Tapi, untuk siapa kata-kata itu tertuju?. Untukku atau Ray?.

***

Author Pov

Julian bersedekap dengan angkuh, "Aku pria yang murah hati Nona, kau belum mengenalku dengan baik" ucapnya penuh penekanan.

"Kau brings*k"

"Pria yang kau panggil brings*k ini menyelamatkan enam ratus ribu manusia dari pengangguran" ucap Julian dengan bangga.

Perlahan napas Yura kembali santai, tubuhnya jatuh terlentang di ranjang, "Di dunia ini hanya pria brings*k yang menawarkan uang untuk sebuah hubungan."

Wajah Julian langsung memerah malu, diam-diam tangannya mengepal dan gairahnya memadam.

Julian mendekat dan duduk di tepi ranjang, "Dan kau gadis kecil yang angkuh."

Yura menguap dan tersenyum dengan mata terpejam, "Karena aku tidak suka padamu"

Alis julian terangkat perlahan, perkataan Yura seperti sebuah tantangan tentang harga diri. "Kita lihat saja nanti, siapa yang akan lebih dulu bertekuk lutut"

"Kau seperti dia. Benar-benar sama" racau Yura melemah.

Kening Julian mengerut tidak mengerti, dengan sebuah keheningan yang tersisa dia termenung mencerna kata-kata terakhir Yura yang sama sekali tidak Julian mengerti.

Yura tertidur pulas meninggalkan rasa penasaran di benak Julian.

BRAK!

Pintu tiba-tiba terbuka dengan kasar. Zicola bernapas memburu berdiri di ambang pintu, dengan tergesa-gesa Zicola melangkah lebar melihat Yura yang tertidur pulas.

"Kau tidak menyentuhnya kan?" tanya Zicola tanpa basa-basi lagi.

Julian mencebikan bibirnya seketika, kedua tangannya di lipat di dada dan duduk bersila layaknya anak kecil yang sedang marah.

"Aku tidak se kotor itu!, aku menjaganya. Harusnya kau berterima kasih" rajuk Julian terdengar manja.

Zicola menghembuskan napasnya lega, "Iya iya terima kasih. Sekarang kau keluar, jangan ganggu adikku tidur."

"Kau mengusirku?, aku juga adikmu!."

"Aku tidak mengusirmu, tapi kau harus keluar dari kamar Yu.”

"Aku mau tinggal di sini" ucap Julian tiba-tiba, sontak Zicola melotot kaget bahkan wajahnya pucat pasi.

"Tidak, tinggal di istanamu!" tolak Zicola dengan tegas tanpa keraguan.

"Aku juga adikmu, mengapa kau pilih kasih?, aku bosan hidup sendirian."

"Aku bilang tidak, ya tidak. Ayo keluar" Zicola menyeret tangan Julian dengan paksa.

"Pokoknya aku mau tinggal di sini!, jika kau menolak aku tidak akan meluncurkan aplikasi kesehatanmu" ancam Julian meronta-ronta, tangannya berpegangan pada sisi sofa saat Zicola berusaha menyeretnya pergi keluar.

Zicola langsung melepaskan cengkramannya, dia mengacak-ngacak rambutnya frustasi sekaligus tidak dapat menutupi kemarahannya dengan ancaman Julian.

Julian pria gila dan manja, tapi dia sangat mematikan saat serius.

"Oke, kau boleh tinggal di sini" Zicola mengalah dengan mudah.

Julian langsung bangkit, merapikan jassnya lagi dan tersenyum angkuh, "Baiklah, sekarang aku akan keluar. Senang bekerja sama denganmu" serigainya menepuk bahu Zicola sebelum pergi.

***

ketika Julian kembali ke bawah Ariana dan Nately tengah berdebat dengan serius. Perdebatan kedua wanita tersebut langsung terhenti, perhatiannya langsung tertuju pada Julian yang berdiri di tangga.

Ariana dan Nately teruburu-buru berlari ke arah Julian.

"Kamu dari mana saja?" tanya Ariana langsung bergelayut manja di lengan kokohnya.

Nately menatap jijik, "Jauhkan tubuhmu darinya jal*ng" bentaknya seraya menarik Ariana agar terlepas dari Julian.

"Kau yang pergi!, Julian tidak tertarik padamu" hardik Ariana tidak mau kalah.

"Jaga bicaramu sialan, Julian calon suamiku."

Perdebatan di antara Nately dan Julian semakin memanas, membuat kekesalan tersendiri di hati Julian.

"Diamlah!, dan enyah!" desis Julian memperingatkan.

"Juls, temani aku malam ini" rajuk Nately.

Julian hanya memutar bola matanya dengan jengah, "Aku harus pulang."

"Juls" rengek Nately memohon.

"Diamlah Nat, nikmati saja pestamu. Aku sibuk"

"Aku bisa menemanimu" kukuh Nately.

"Aku akan bercinta dengan wanita lain, kau ingin menontonnya?"

Nately langsung terdiam dengan raut wajah sedih, perkataan Julian sudah menggores hatinya.

Menyadari perkataannya cukup kasar Julian memeluk Nately dan mengecup keningnya sekilas, "Aku tidak bermaksud melukaimu Nat. Beri aku ruang, dan lupakan aku"

"Tapi Juls" suara Nately menghilang karena Julian sudah pergi begitu saja meninggalkannya.

***

Author Pov

Thomas berdiri menatap kerlap-kerlip kota Loor yang terlihat indah di malam hari, menara Neydish berdiri menjulang terlihat mencolok indah di antara bangunan lainnya, beberapa ratus meter di samping menara itu terdapat gedung mewah milik Julian anaknya.

Gedung itu berlantai tujuh puluh, pusat dari semua pergerakan usaha yang Julian kendalikan lebih dari sepuluh tahun.

"Apakah kau sudah mengatakannya?" Ema berjalan tertatih-tatih dengan tongkatnya.

Thomas menarik napasnya dalam-dalam, lalu berkata "Aku tidak bisa mengatur Julian lagi, dia sudah tidak mau mendengarkan apa kataku"

"Lepaskan Rebeca, maka Julian akan mendengarkanmu"

"Aku mencintai Rebeca"

"Julian harus menikah sebelum usianya tiga puluh tahun. Julian lebih berharga daripada wanita tidak jelas itu"

"Bu, aku mohon" lirih Thomas putus asa, "Julian tidak ingin menjadi presiden. Dia sudah cukup berkuasa di negeri ini, biarkan dia menikmati masa mudanya"

"Kalau begitu percepat pernikahannya dengan Yu" ucap Ema dengan nada menajam. "Katakan semuanya pada Zicola"

Raut kebingungan di wajah Thomas semakin bertambah, "Aku butuh waktu"

"Aku sudah hampir mau mati Thomas. Dan sebelum aku mati, aku harus melihat darah Franklin dan Giedon bersatu untuk meneruskan tahtaku."

Thomas langsung membungkam, dia melangkah pergi menuju pintu keluar meninggalkan Ema sebelum wanita tua itu semakin mendesaknya.

***

Zicola duduk termenung dalam temaram lampu kemerahan, jari-jarinya bergerak di atas tuts piano, namun matanya sejak tadi tidak pernah melepaskan pandangannya dari rumah kekasihnya.

"Sedang apa kau disana?" Yura bersandar di dinding, gadis itu menatap heran kakaknya.

Zicola tersenyum kaku dengan kepala menggeleng, "Tidak ada. Kemarilah" ajaknya seraya menepuk bangku kosong di sebelahnya.

Yura hanya mendekat dan berdiri di sampingnya.

"Kenapa kamu bangun?" tanya Zicola penuh perhatian.

"Suara pianomu"

"Baiklah. Aku tidak akan bermain lagi, tidurlah. Atau mau aku temani?" Tawarnya masih dengan suara lembut dan merendah.

Yura menggeleng, di peluknya bahu pria itu dan berbisik, "Jadi, katakan padaku, mengapa kau membiarkan kekasihmu pergi?"

"Urusannya bukan urusanku"

"Tapi kau memikirkannya" tekan Yura yang berhasil membuat bahu Zicola menegang. "Aku tahu kamu mencintainya"

Sebuah mobil hitam perlahan menepi dan berhenti di depan rumah Jane. Seorang pria melompat keluar mobil dan mempersilahkan Jane keluar, mereka terlihat sedang terlibat perbincangan kecil sebelum akhirnya pria itu mencium Jane.

"Tidak Yu. Kau salah, tidak ada kata cinta dalam hidupku" tekan Zicola terdengar dingin.

Yura mengeratkan pelukannya seketika, "Itu artinya kau tidak mencintaiku juga"

"Aku mencintaimu Yu" tawa Zicola memecahkan ketegangan di wajahnya, "Aku mencitaimu. Aku peduli padamu" tekannya lagi dengan serius.

Seulas senyuman menghiasi bibir Yura, "Apakah besok kita bisa berlibur untuk merayakan kelulusanmu?"

Zicola langsung mengangguk mengiakan, matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang bahagia.

To Be Continue..

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height