CRAZY RICH MAN/C12 episode 12
+ Add to Library
CRAZY RICH MAN/C12 episode 12
+ Add to Library

C12 episode 12

Julian menarik kopernya dan melenggang pergi ke kamar Villa yang kecil setelah beberapa perdebatan dalam pembagian kamar.

Brak

Julian membuka pintu dengan tendangannya yang terlihat jijik melihat daun pintu sederhana di depannya.

Ketika pintu terbuka Julian hanya berdiri di luar, hidungnya mengerut tidak suka saat melihat isi kamarnya yang terisi lemari biasa dan ranjang kecil menyambutnya.

Julian melangkah ragu dan duduk di pinggiran ranjang untuk memastikan kualitas dan keempukannya. Dia selalu mendapatkan ide yang brilian setiap kali tertidur pulas, dan itu di butuhkannya setiap malam. Dengan begitu, Julian butuh ranjang kualitas terbaik.

"Aku tidak suka ranjangnya!" teriaknya seperti anak kecil.

Tok tok tok

Suara ketukan di jendela mengalihkan perhatiannya, di lihatnya Yura sudah berdiri di luar di depan jendela menunggu Julian membuka jendela.

Sepintas ada ide licik yang terlintas di pikiran Julian, dengan gerak berpura-pura malas Julian berdiri di depan jendela tanpa membukanya.

"Wah.. suatu kehormatan di datangimu" ucap Julian dengan tangan bersedekap angkuh.

"Buka jendelanya."

"Kencan denganku."

Brak

Yura memukul jendela dengan keras, tatapannya menajam "Jangan bercanda denganku"

"Apa aku terlihat sedang bercanda?" Pelotot Julian mulai kesal.

"Katakan padaku!, apa rencanamu agar kakakku dekat dengan Jane?."

"Datang ke kamarku nanti malam"

"Apa maksudmu!."

Julian tertawa geli menatap ekspresi horor Yura. "Jangan berpikir macam-macam. Kita membicarakannya nanti malam, sekarang aku sibuk" ucap Julian terdengar ketus.

Sebagai seorang pria, Julian harus bisa bersikap cantik dan tidak terburu-buru lagi setelah penolakan Yura terhadap caranya yang terang-terangan. Julian harus memiliki harga diri yang lebih tinggi dari Yura, agar wanita itu tidak meremehkannya.

"Kau bisa berkuda?" tanya Julian sebelum pergi. Yura hanya mengangguk kecil mengiakan.

Julian langsung berbalik pergi dan memutuskan untuk keluar kamarnya yang sumpek untuk menikmati segelas anggur.

***

Jane dan Zicola menyajikan makanan yang telah mereka masak. Sementara, Julian dan Yura duduk diam dan memperhatikan, seperti anak yang sedang di atur oleh kedua orang tuanya.

"Kau yang mimpin doa" titah Zicola setelah duduk dengan tenang.

Julian menahan cemberutan di bibirnya namun tidak protes, dia menarik kedua tangannya dan menyimpan di atas dada.

"Masakan hari ini tidak mewah, tidak di masak chef pribadiku, alat-alat makannya sangat sederhana, bahan-bahannya bukan kualitas terbaik, tapi aku bahagia. Terima kasih Tuhan hari ini kami tidak kelaparan."

Yura diam terpaku melihat bagaiamana kata-kata sombong yang keluar dari mulut Julian tidak semuanya salah.

Yura termenung sendiri menatap makanan di depannya yang masih belum dia sentuh.

Flashback

Kedua kaki kecil itu mulai gemetar kesemutan, lututnya yang merah dengan beberapa goresan di hiasi debu. Sudah dua jam Yura berdiri dan membungkuk menunggu ibunya membukakan pintu.

"Aku lapar" rintihnya gemetar. Yura kecil berdiri di depan jendela pembatas dapur, tangan kecilnya yang terluka itu mengusap perutnya.

Sebuah tatapan tajam menusuk Mia langsung menciutkan hatinya, wanita itu terlihat jijik menatapnya.

Yura kembali membungkuk sendirian menahan kesedihan di matanya. Dia harus bersabar menunggu kapan Mia bersedia membukakan pintu dan memaafkan kenakalannya.

Seorang anak laki-laki datang melewati gerbang rumahnya, anak laki-laki tersebut masih berpakaian seragam dengan rapi mendekati Yura dengan tatapan heran.

"Yu, kenapa kau di sini?" Ziovan membungkuk mengusap pipi cantik adiknya itu. Ziovan menatap langit mendung yang sebentar lagi akan hujan, "Ayo masuk"

Yura menggeleng kecil dan tertunduk, "Aku terlambat lima menit, ibu bilang aku tidak boleh masuk sampai nanti malam ayah pulang. Jika aku masuk ibu akan memukuliku"

"Tidak ada yang akan menyakitimu" Ziovan membungkuk menggendong Yura dengan mudah dan membawanya masuk.

Semenjak kepergian kakek dan nenek yang mengadopsi Yura meninggal, kini hak asuh Yura jatuh ke tangan Tomi. Mia nampaknya masih belum mau menerima Yura, apalagi mengakuinya sebagai seorang anak.

Menyadari Ziovan datang, Mia langsung menghentikan acara makannya, "Sayang.. kamu baru pulang" sambutnya dengan ramah dan penuh perhatian. Sayangnya, perhatian itu sepenuhnya itu hanya tertuju pada Ziovan.

"Jangan pernah menghukum Yu lagi, aku tidak suka" pinta Ziovan seraya menurunkan Yura dari gendongannya.

Mia tersenyum samar dengan tatapan benci pada Yura, gadis kecil itu langsung bersembunyi di belakang tubuh Ziovan.

"Ayo makanlah dulu, setelah ini kau istirahat" kata Mia mengalihkan topik pembicaraan. Mia mengambil tas Ziovan dan mempersilahkan anak semata wayangnya duduk.

Yura mendekat dan menarik kursinya yang tinggi bermaksud untuk makan.

"Mau apa kau?" hardik Mia menunjuk Yura. Dengan bringas dia menarik bahu Yura dan menjauhkannya dari kursi hingga tubuh kecil itu terhuyung ke belakang dan membentur tembok.

"Jangan kasar pada Yu!" Ziovan melepaskan cengkraman tangan Mia pada bahu Yura.

"Aku juga mau makan" bisik Yura ketakutan, matanya berkaca-kaca menatap mata Mia. "Aku mohon, aku lapar. Nanti aku yang semua mencuci piring dan memotong semua rumput di halaman. Dengan tanganku, tidak memakai gunting, aku janji."

"Tidak ada!, pergi keluar dan beli makanan di sana! Ini semua hanya untuk Ziovan."

"Bu, jangan membentak adikku!" bela Ziovan mulai tidak tahan dengan teriakan Mia.

"Dia tidak memiliki kursi di sini, aku tidak sudi satu meja dengan anak pungut. Pergi!" usirnya berdecak pinggang dengan angkuh.

"Aku tidak akan makan" bisik Yura dengan senyuman polosnya penuh kekecewaan, tetesan air mata membasahi wajahnya. Namun Yura berlapang dada. "Aku menunggu di kamar saja."

"Apa kau tuli!, aku bilang keluar ya keluar!. Dasar bod*h tidak berguna"

Yura menekan bibirnya yang bergetar ketakutan, dia mundur perlahan dan kembali keluar dan berdiri menatap gerimis yang mulai turun.

Setetes air mata terjatuh membasahi pipinya lagi, dengan cepat Yura menghapusnya dan menahan diri untuk tidak menangis.

Langkah Yura menyentuh tetesan hujan, kaki kecilnya berlari menuju rumah mewah di sampingnya.

Gerbang rumah itu tertutup rapat saat Yura mengguncangnya dengan lemah, "Paman Jose" teriaknya beberapa kali di antara hujan.

Seorang pria kecil berambut pirang membuka pintu utama rumah, bola matanya yang kehijauan berkilauan, bibir mungilnya gemetar memanggil, "Yu!."

Raymen berlari menerobos hujan dan menekan tombol pembuka gerbang.

"Masuklah! Jose dan ibu sedang menjemput ayah" Raymen menarik tangan Yura dan menuntunnya untuk segera berteduh.

"Kenapa hujan-hujanan sih!" omel Raymen dengan cemberutan tidak suka, dengan perhatian dia mengusap wajah Yura yang basah sementara tangan satunya lagi masih menggenggam tangan Yura dengan erat.

Yura kecil tertunduk sedih menatap kedua sepatunya, "Aku lapar."

Raymen menarik napasnya dengan berat, wajah tampannya langsung kusut penuh kesedihan. Di tariknya tubuh mungil Yura dan di peluknya dengan erat tanpa memikirkan seberapa basahnya baju mereka.

"Aku tidak akan membuatmu kelaparan lagi Yu. Aku janji"

"Yu, apakah makanannya tidak enak?" Zicola mengguncang bahu Yura karena sejak tadi gadis itu terlarut dalam lamunan. Yura terperanjat hingga terlepas dari bayangan potongan masa lalunya.

"Yu, kau baik-baik saja?" Zicola meraih wajahnya dan menatap khawatir. Dengan sedikit kasar Yura menepis sentuhannya dan membuang muka yang di hiasi tetesan air mata.

"Aku tidak lapar" Yura beranjak dari duduknya dan pergi.

"Yu ada apa denganmu?" Zicola berlari mengejar langkahnya dan menarik tangan Yura, "Jawab aku."

"Aku ingin sendiri" jawab Yura dengan dingin, perlahan Zicola melepaskan sentuhannya dan membiarkan Yura pergi.

***

Gemercik air sungai terdengar seperti sebuah nada, warnanya yang jerning menampakan dasarnya yang di penuhi bebatuan dan ikan.

Yura duduk di pinggiran sungai dengan kaki terjuntai ke air.

Sinar matahari terlihat samar-samar menerobos beberapa daun pohon pinus yang menyinarinya.

Hati Yura terasa kosong dan menyisakan perih meski dia sudah pulang ke Neydish. Bertemu dengan Zicola bukanlah mimpinya lagi semenjak Raymen di sisinya, namun semenjak Raymen meninggalkannya dunianya menjadi tanpa arah.

Yura berusaha keras mencari kebahagiaan sesungguhnya yang selama ini di inginkan jiwanya.

"Kau membuat kakakmu bersedih" Julian berdiri di samping Yura ikut melihat ikan-ikan yang bergerak mendekat kakinya.

Sepintas Julian mengingat bagaiaman dulu dia pernah melihat Yura berbicara dengan hewan.

"Apa kau tidak memiliki pekerjaan selain berbicara denganku?" tanya Yura terdengar ketus.

Julian mengerjapkan matanya beberapa kali, "kau kasar sekali. Aku sudah bosan bekerja dan menghasilakan uang."

"Dasar sombong."

"Sombong adalah kebanggaanku Nona, dan aku berhak sombong."

Seulas senyuman geli menghiasi bibir Yura, sikap Julian memang sombong meski tidak semena-mena. Julian memiliki aturannya sendiri.

"Jadi.." Julian membungkuk mendekatkan wajahnya di dekat Yura, "Bagaimana dengan tawaranku?" Bisiknya bersemangat.

"Tawaran apa?."

"Kencan denganku. Dan aku pastikan kakakmu menikah dengan Jane"

"Sudah aku bilang aku tidak tertarik padamu" tolak Yura tanpa di pikirkan lagi.

Julian menekan kekecewaannya setelah di tolak beberapa kali oleh Yura, namun semangatnya tidak akan pernah mundur sedikit pun.

Perlahan wajah Julian semakin mendekati wajah Yura hingga jarak mereka menyisakan beberapa inch untuk saling menyentuh.

"Apa kau tidak normal?" tanya Julian terdengar ragu dengan pertanyaannya sendiri.

Bola mata Yura langsung membulat sempurna, dalam satu gerakan kakinya menendang perut Julian hingga pria itu terjungkal ke rumput dan mengaduh.

Yura langsung berdiri dan berdecak pinggan, "Ya. Aku tidak normal bila harus berkencan dengan orang sepertimu!."

Rahang Julian menegang penuh kemarahan, dengan cepat dia mencengkram pergelangan kaki Yura dan menariknya hingga gadis itu terjatuh.

Bugh

Tubuh Yura terhempas di atas rumput, Julian berguling ke sampingnya dan menduduki tubuh gadis itu, sementara satu tangannya mencengkram kedua tangan Yura dan memenjarakannya di atas kepalanya agar Yura berhenti memberontak.

"Lepaskan aku!" teriak Yura dengan tangan yang susah payah berusaha terlepas dari cengkraman Julian.

"Katakan dulu, kau mau kencan denganku" pinta Julian dengan gigih.

"Tidak akan!."

Senyuman mesum menghiasi bibir Julian, dia semakin tertantang dengan penolakan Yura padanya.

"Kau sangat cantik saat marah" bisik Julian terdengar parau terbawa gairah, "Kau layak aku kejar meski bukan tipeku"

Cengkraman Julian mengendur, perlahan dia membungkuk mengecup bibir Yura sekilas sebelum dia terbangun dan berdiri dengan tegak.

Kedua mata Yura membulat sempurna, napasnya memburu dengan tubuh yang masih terbaring kaku.

To Be Continue..

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height