CRAZY RICH MAN/C14 episode 14
+ Add to Library
CRAZY RICH MAN/C14 episode 14
+ Add to Library

C14 episode 14

"Untuk apa kau datang kemari?" tanya Julian dari kejauhan, dia memilih duduk sangat jauh dari posisi Rebeca berada.

"Di mana kakakmu?"

Sekilas Julian melihat Rebeca yang terlihat berantusias ketika Thomas menyebut nama Zicola, "Berkencan"

Thomas melihat Yura yang sejak tadi diam tengah duduk di samping Rebeca, di lihatnya lagi keberadaan puteranya yang duduk empat meter dari jarak tempatnya berada.

"Bagaimana keadaanmu Yu?" tanya Thomas melembut.

Yura tersenyum canggung, dia tidak nyaman dengan Rebeca yang terus tersenyum manis padanya.

"Baik" jawab Yura singkat.

Suara langkah kuda terdengar samar-samar mendekati pekarangan, kedatangan Zicola dan jane berhasil mengalihkan pembicaraan semua orang. Terutama Rebeca.

"Jika ada yang membuatmu tidak nyaman, katakan saja padaku"

Yura mengangguk dengan senyuman canggung. Karena orang yang membuatnya tidak nyaman adalah anak Thomas sendiri.

***

Wangi bunga mawar terasa lembut mengisi semua ruangan kamar mandi, gelembung-gelembung busa memenuhi bathup menutupi sebagian tubuh Yura.

Yura memeluk lututnya duduk di tengah-tengah bak mandi itu.

Isi pikiran di kepalanya di penuhi ketakutan saat melihat kekasih Thomas, wanita cantik itu membuat kekuatan di dalam dirinya mengamuk. Sama seperti saat Yura dekat dengan Johan, suami lain dari ibunya.

Aura Rebeca berbeda dari orang lain, ada kemarahan dalam pikiran Yura yang membuatnya terdorong ingin menyakiti wanita itu. Yura tidak tahu siapa sebenarnya Rebeca, namun Yura yakin jika wanita itu akan membawa sebuah masalah suatu saat nanti.

Terlarut dalam lamunannya, membuat Yura tidak menyadari sesuatu. Tepat di luar kamar Julian tengah berusaha melompati pagar pembatas dan memasuki kamarnya melalui pintu kaca.

Julian mengedarkan pandangannya melihat setiap penjuru kamar mencari sosok Yura yang tidak ada disana.

Julian mendekati pintu kamar mandi tertutup rapat namun tidak di kunci sama sekali.

Ketika ia masuk, wangi bunga mawar langsung menusuk indra penciumannya.

Kamar mandi kecil itu hanya memiliki dinding pembatas kaca kecil antara Shower dan wastafel, sehingga Julian langsung dapat melihat Yura yang berendam di bak dan tidak menyadari kehadirannya.

Sebuah serigai nakal langsung menghiasi bibir Julian.

***

Julian Pov

Aku melepaskan pakaianku dengan cepat, sebelum akhirnya kaki kananku memasuki air.

Yu masih tidak menyadari keberadaanku. Bagus!

Ketika kedua kakiku sudah sepenuhnya berada di bathup, aku langsung duduk dan membuat air di bak tumpah.

"Apa yang kau lakukan!" Yura berteriak dan membalikan tubuhnya.

Berteriak saja sayang, biarkan semua orang melihat. Itu membuatku menjadi lebih mudah.

"Kamarku harus di sterilkan karena serangga, jadi aku numpang mandi di sini" dustaku, padahal aku sudah mandi beberapa menit yang lalu.

Yu menurunkan tubuhnya menyembunyikan belahan dadanya, matanya berkilat menunjukan kemarahan yang sangat aku sukai.

"Sialan, keluar dari sini. Kau sangat tidak sopan" hardiknya menyemprotku.

Aku tidak peduli

Aku meluruskan kakikku dan membuat kami saling berhadapan, duduk di masing-masing ujung bak.

"Kau tidak pernah mandi dengan pria?" Aku mengujinya. Tipe pria brings*k seperti apa yang bisa membuatnya jatuh cinta.

"Yu! Kau tidak apa-apa?" Teriak Zicola di luar kamar menggangguku.

"Cepat keluar" desis Yu menggertakku, kaki kecilnya mendorong dadaku untuk mengusir.

Dia salah, aku tidak takut meski setengah mati takut dengan Zicola. Tapi ardenalinku terasa tertantang.

"Tidak mau, kau saja yang keluar." Ya, itu ide yang bagus. Jika dia berdiri dari bathup maka aku akan melihat tubuh indah dia seutuhnya.

Sial, singkirkan pikiran kotormu Juls

"Yu, kau di mana?" Teriakan Zicola kembali menyadarkanku untuk segera bersembunyi.

Aku mengambil pakaianku di lantai dan kembali ke bak. Mengambil napas lebih banyak dan menenggelamkan diri di bawah busa.

"Aku baik-baik saja" Yura terpekik dan menggerakan kakinya untuk di rapatkan.

Aku tidak sengaja menyentuh pahanya karena memeluk pakaian.

"Mengapa kau berteriak?"

"Aku.. aku hanya kesepian" suaranya terdengar gemetar.

Dia tidak pandai berbohong

"Kenapa kamu gugup Yu?"

Sialan, enyahlah dan berhenti bertanya. Aku mulai kehilangan napas bila Zicola tetap disana.

Mataku terpejam erat menahan perih, sedikit demi sedikit aku membuang napas.

"Ah.. aku baik-baik saja" Yu mencengkram tangan nakalku yang mengusap-usap pahanya. Tidak apa-apa kesusahan bernapas, aku punya mainan lezat di bawah sini.

"Tadi kamu terlihat gelisah Yu, apa ada masalah?, katakan padaku."

Sialan, dadaku semakin sesak dan mataku semakin perih. Aku balas mencengkram tangan Yu dan memenjarakannya dalam genggaman.

Sekarang aku bebas…

Tangan nakalku kembali bergerak menelusuri tubuh indah Yu, ku remas dadanya di bawah busa.

Dadanya pas dan penuh, aku suka. Ini saat menyenangkan untuk aku mainkan.

Tubuh Yu mengeliat "Rebecaa.."

Sialan, dia sengaja menyiksaku di bawah sini dan terus berbicara dengan kakaknya yang menyebalkan.

Aku benci di abaikan

Dengan sedikit memaksa aku membuka paha Yu agar terbuka, ku tangkup kewanitaannya dan membelainya dengan dua jari.

Kita lihat saja, siapa yang akan menyerah

"Rebeca?" Bisik Zicola di buta penasaran.

"Anu, ah.." suara Yu menghilang saat aku menarik clitorisnya, "Sebaiknya kau keluar. Aku tidak nyaman. Nanti kita bicarakan."

"Baiklah"

Bagus, pilihan yang bagus.

***

Author Pov

Julian kembali ke permukaan dan mengambil napas sebanyak-banyaknya.

Plak

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Julian.

"Kurang ajar" hardik Yura dengan wajah merah setengah mati menahan malu. Apa yang di lakukan Julian padanya adalah sebuah pelecehan, Yura sangat membencinya.

"Kau kasar sekali" rajuk Julian mengusap-usap pipinya yang memerah.

"Sekali kau menyentuhku, akan ku patahkan tanganmu"

"Bagaimana jika seperti ini" tangan Julian menjangkau jarak di antara mereka, di remasnya dad4 Yura di bawah busa.

Dalam satu gerakan Yura menendang perut Julian dan menepis tangan kekar itu, lalu memutarnya mengunci pergerakan Julian.

"Aw.. aw, sakit" rintih Julian tidak berdaya di bawah tubuh kecil Yura.

Perlahan Yura melepaskan cengkramannya, "Jangan macam-macam denganku."

Napas Julian terengah seperti anak kecil yang nakal, pandangannya menelusuri tubuh kecil Yura berada di atasnya. Dadanya yang tersembunyi kini terpampang jelas, menggantung indah di depan matanya. Puncaknya yang kemerahan itu kini keluar dan mengeras.

Julian tersenyum polos dan menelan salivanya perlahan, "Bukankah posisi kita sekarang terasa sangat merangsang?"

Dalam hitungan detik Yura langsung menjauh dengan wajah memerah malu, gadis itu bangkit dan tidak mempedulikan ketelanjangannya di hadapan Julian.

Mata Julian memicing melihat leher jenjang Yura dari belakang, sebuah bahu kecil yang terlihat rapuh menelusuri pinggang kecilnya, bahunya yang putih itu terlukis oleh goresan merah bekas luka.

"Punggungmu kenapa?"

Yura tidak menjawab sama sekali, ia bergerak menuju Shower dan membasuh tubuhnya dengan air hangat.

"Aku bertanya" timpal Julian lagi yang mulai kesal dengan kebisuan Yura.

Yura mengambil handuk dan jubah mandinya, tatapan kosongnya kembali menghiasi wajah cantiknya. "Jangan bicara lagi padaku" ucapnya dingin.

Julian bangkit dari duduknya menatap kepergian Yura keluar dari kamar mandi.

To Be Continue..

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height