CRAZY RICH MAN/C2 episode 2
+ Add to Library
CRAZY RICH MAN/C2 episode 2
+ Add to Library

C2 episode 2

Yura menyetir mobilnya dalam ke adaan mengantuk dan sedikit mabuk, gadis itu terlihat lelah setelah seharian ke sana kemari tanpa tujuan.

Sebuah decitan dan sinar cahaya membuatnya langsung terjaga dan terfokus.

Yura terperangan, melihat mobil mewah terlempar ke laut dengan cepat di ujung tebing. Beberapa saat Yura mengerjapka matanya dan memastikan apa yang di lihatnya itu nyata, bukan halusinasi dari pengaruh alkohol.

Tanpa perlu di pikir lagi Yura langsung menghentikan mobilnya di sisi tebing, dia berlari keluar dan melihat ke bawah laut untuk memastikannya.

Samar-samar hanya ada cahaya lampu di antara kebiruan warna laut, mobil yang Julian tumpangi menghilang di permukaan dengan cepat.

Byyuurrr

Yura melompat dan menyelam ke bawah, dia mengejar mobil yang perlahan-lahan semakin jatuh ke dalam.

Yura menggerakan kakinya lebih cepat dan menahan napas lebih kuat, beberapa ikan langsung berdatangan, suara teriakan lumba-lumba terdengar keras datang berbondong-bondong.

Ikan-ikan itu mendorong mobil itu kembali ke atas dengan punggung mereka.

Julian memejamkan matanya setengah sadar, kepalanya terlihat terluka dan dia tidak bisa membuka sabuk pengamannya, napasnya tersendat-sendat menyesakan dada dan melemaskan tubuhnya.

Yura mendekat dan menggedor-gedor pintu, meminta agar pria itu membukanya.

Samar-samar Julian menatap gadis yang sedang menggedor-gedor kaca jendela mobil, namun dia tidak memiliki tenaga lagi untuk menggerakan tangannya.

Setelah cukup lama tidak ada jawaban, Yura kembali ke permukaan laut karena kehabisan napas.

"Sial!" umpat gadis itu terlihat bingung dan terengah panic mengambil napas dengan cepat. Yura bersiul di antara ombak, pandangannya mengedar beberapa saat. Tangan mungilnya menepuk permukaan air laut dengan siulan nyanyiannya.

Dalam satu tarikan panjang, Yura mengambil napas dalam-dalam. Yura kembali ke bawah, di lihatnya ikan-ikan sudah menuju ke atas mendekatinya, seekor hiu datang dengan cepat, ikan itu mendorong mobil Julian ke daratan bersama ikan-ikan lainnya.

Yura berlari ke daratan, dia mengambil sebongkah batu karang dan memukul-mukul kaca sekuat yang dia bisa.

Prang

Suara pecahan kaca, menandakan jendela berhasil di bobol setelah Yura pukul entah kesekian puluh kalinya.

Yura memasukan tangannya ke dalam dengan ringisan, merasakan serpihan kaca melukai lengannya saat dia berusaha membuka pintu.

Setelah pintu dan sabuk pengaman terbuka, Yura menarik Julian keluar dan membaringkannya.

"Paman, bagunlah!, paman" Yura menepuk-nepuk pipi Julian, namun pria itu tak kunjung sadar.

Dengan kasar Yura membuka kancing kemeja Julian, dia segera menekan dan memompa dadanya dengan kuat. Yura menunduk, dia menekan hidung Julian dan memberikan napas buatan untuk pria itu.

"Paman, sadarlah" Yura terlihat panik, dia kembali memompa dada Julian dan memberi napas buatan tanpa menyerah sedikit pun.

Perlahan Julian membuka matanya, dia terbatuk-batuk dan membuang air yang terasa penuh di dadanya.

Sebuah hembusan napas lega terdengar dari bibir Yura, dia berjalan lemah ke pantai lagi, menemui ikan-ikan yang diam menunggunya.

"Terima kasih" Yura tersenyum cantik. Ikan-ikan menggerakkan ekornya dan melompat, kembali ke kedalaman.

***

Julian Pov

Aku merasa pusing dan kedinginan dengan darah terus menetes membasahi bajuku, namun gadis kecil ini tetap berasaha membawaku ke dalam mobilnya.

Aku tidak percaya jika gadis yang tadi membentakku dengan nada sarkasnya, kini menolongku. Menyelamatkan nyawaku.

"Bertahanlah paman, kita akan ke klinik terdekat" suaranya yang gemetar ketakutan masih bisa berusaha menenangkan aku.

Dia melajukan mobilnya dengan cepat, dan aku semakin pusing, darah mengalir membasahi bawah telingaku.

Tapi aku bersyukur, di sini aku masih hidup karena pertolongan peri kecil di sampingku.

Setelah aku sembuh, menggantikan mobil murahnya dengan sebuah Ferarri dan limusin, aku akan menjamin biaya kebutuhannya seumur hidup. Atau mungkin sampai ke semua keturunannya, biaya kehidupan mereka akan aku tanggung.

Samar-samar gadis kecil itu keluar dari mobil. Aku menggerakkan kepalaku dengan lemah, kulihat dia menggedor-gedor pintu sebuah kelinik.

Gadis kecil itu mengambil sebuah batu dan melemparkannya ke jendela hingga kaca-kaca pecah.

Gadis nakal..

Dia melompat ke dalam dan membuka pintu.

Gadis itu berlari ke arahku, "Ayo paman."

Berhenti memanggilku paman, kau membuatku tersinggung cantik.

Dengan lemah aku berdiri dan memeluk bahu kecilnya, dia menyeretku dengan susah payah memasuki kelinik.

***

Julian terbaring di ranjang, sementara Yura mengobrak-abrik semua yang ada di dalam klinik, dia mencari infusan dan perban dengan tangan gemetar kedinginan. Tidak berapa lama gadis itu berdiri di samping Julian yang terbaring di atas ranjang pasien.

"Kau harus membuka pakaianmu, nanti kau kedinginan." Ucap Yura gugup.

"Lakukanlah." Jawab Julian pelan setengah sadar.

Dengan sedikit keraguan Yura membuka pakaian pria itu, wajah cantiknya tampak merah malu setelah berhasil melucuti semu pakaian Julian, hingga pria itu telanjang seutuhnya.

Yura menutupi tubuh telanjang itu dengan selimut yang ada di dalam mobilnya, "ini selimutku. Aku menjamin kebersihannya."

Julian tersenyum kecil, matanya yang setengah terbuka mengawasi Yura yang masih berpakaian basah tampak gugup ketika akan memasang infusan di tangannya.

"Aku bukan ahli kesehatan, tapi kau sangat membutuhkannya." Ucap Yura gemetar, dia menusukan ujung jarum ke urat nadi di tangan Julian yang terlihat lurus, dan setelah di yakini Yura jika air infusan tidak akan tersumbat.

Setelah memasang infusan Yura membersihkn luka Julian dan menutupnya dengan perban.

***

Julian Pov

Aku terbangun tiba-tiba di bawah cahaya minim, sebuah selimut merosot dari dadaku ketika aku duduk. Aku ingat, beberapa jam yang lalu aku mengalami kecelakaan, dan ada seorang peri cantik menolongku.

Luka di kepalaku meninggalkan rasa sakit saat turun dari ranjang. Aku menarik jarum infusan karena air infusan sudah mulai habis.

Dan dia ada di sana...

Tertidur di sofa dengan baju basahnya. Tapi dia masih setia menungguku di sini, dan aku tersentuh dengan keberaniannya yang sangat mengagumkan.

Aku melilitkan selimut di pinggangku, lalu melangkah dan mendekati gadis itu. Dia tengah tertidur dengan baju basahnya, dan... lengannya terluka.

Sial! Aku telah membuatnya menderita!

***

Author Pov

Julian membungkuk dan menyentuh pipi Yura yang terlihat pucat kedinginan, "Hey, bangunlah" ucapnya sambil mengguncang bahu Yura dengan lembut.

Yura langsung terbangun dan duduk, matanya bergerak sayu melihat Julian, "Jam berapa sekarang?."

"Lima pagi"

"Ya ampun!" pekik Yura langsung panik, dia meraba-raba pakaiannya mencari kunci mobil.

"Kau kenapa?" Julian bersedekap dan menatap heran dengan tingkah Yura.

"Paman apa kau merasa baikan?" tanya Yura di sela kesibukannya.

"Namaku Julian!. Jangan memanggilku paman" ralatnya dengan nada protes, dia tidak suka di panggil paman meski usianya sudah dua puluh sembilan tahun, tapi wajahnya masih tampan dan tubuhnya lebih dari kata bugar dan atletis. "Aku baikan, terima kasih sudah menolongku."

Yura memangut-mangutkan dagunya, dia mengambil beberapa lembar kertas uang di dompetnya dan meletakannya di meja, "Aku harus pulang, kakakku pasti sedang panik mencariku. Aku hanya punya dua ratus dollar di dompetku, belilah pakaian. Urusan kerusakan klinik nanti kakakku akan memperbaikinya."

Belum sempat Julian menjawab Yura sudah berlari keluar menuju mobilnya.

"Apa-apaan dia ini?, apa itu uang dua ratus dollar, untuk mengusap keringatku saja tidak cukup" omel Julian setengah merutuk.

Julian berdiri di depan jendela, melihat kepergian mobil Yura dari rumah. Sudut matanya bergerak tajam melihat dan mengingat plat nomer kendaraannya.

To Be Continue..

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height