CRAZY RICH MAN/C4 Episode 4
+ Add to Library
CRAZY RICH MAN/C4 Episode 4
+ Add to Library

C4 Episode 4

Semenjak kedatangan Yura ke rumah itu satu minggu yang lalu, Zicola langsung berubah.

Sikap murung, pendiam, dan penyendirinya jungkir balik menjadi pria hangat, cerewet dan posisif. Ya, Zicola posesif terhadap Yura, pria itu menjaga dan memperlakukan adiknya sudah seperti ratu kecil.

Setelah selesai mandi dan di obati dokter Yura pergi ke dapur, di lihatnya Zicola tengah memunggunginya. Pria itu tengah memasak dan bahagia, meski banyak pelayanan di rumah itu, Zicola tetap melakukannya dengan suka hati.

Para pelayan sering menangis dan bersyukur, mereka tidak pernah melihat tuannya sebahagia itu.

Dulu, sebelum Yura kembali, hidupnya Zicola di penuhi rasa sakit dan ketakutan yang berkubang dalam kegelapan, dan kini Yura berhasil menariknya dan membawa Zicola menuju cahaya.

Yura mendekat dan berdiri di sampingnya, dia mengambil sepotong wortel mentah dan memakannya.

"Jadi, siapa yang telah menyakitimu?" tanya Zicola, pertanyaan itu terus menerus di ucapkan semenjak satu jam yang lalu.

"Kenapa kau terus menanyakannya?"

"Karena kau belum memberikan jawabannya, Yu" Zicola berdecak pinggang, wajah tampannya menyiratkan kekesalan sekaligus khawatir. "Aku harus melindungimu, aku adalah ayah, ibu, kakak dan sahabatmu."

Yura tidak dapat menahan senyumannya, sikap rewel Zicola semakin mencerminkan seberapa pedulinya pria itu padanya. "Aku telah menolong seseorang. Kau puas?"

Zicola menarik napasnya lega, dia mendekati Yura dan memeluknya erat penuh kerinduan, "Lain kali hati-hati."

Yura mengangguk dalam dekapannya. "Aku merusak kaca sebuah klinik, apakah kau bisa memperbaikinya?."

"Apapun untukmu." Zicola tersenyum kecil sambil mengusap rambut Yura. "Ikutlah ke kantor pusat denganku."

"Tidak" Yura langsung melepaskan pelukannya, gadis itu tertunduk sedih "Itu perusahaanmu. Aku akan mencari pekerjaanku sendiri."

"Yu, aku mohon. Lakukanlah demi ayah. Tetaplah di sampingku, dan masuk kampus manapun yang kau mau, asal jangan ke luar negeri. Aku tidak mau kita terpisah lagi"

Yura kembali menggelengkan kepalanya. Pertanda penolakannya tidak akan berubah, meski Zicola terus memohon, memintanya ikut meminpin perusahaan ataupun meneruskan jenjang pendidikannya.

Yura mundur perlahan dan pergi untuk menghindari percakapan yang cukup berat bagi dirinya. "Aku ingin menemui Thomas"

Zicola berlari mengejar langkah Yura yang sudah ke luar rumah sambil membawa sepiring sarapan yang baru di buatnya. "Makanlah dulu Yu"

Yura menghentikan langkahnya, melihat sebuah ferrari 458 di hiasi pita merah. Berada tepat di depan rumah.

"Mobilnya sudah datang. Cobalah, itu untukmu" ucap Zicola terdengar senang, dia melihat setiap gerak tubuh Yura yang mematung dan bibir menganga kaget.

"Itu untukku?" tanya Yura kegirangan.

Zicola mengangguk dan tersenyum lebar. Yura berlari dan langsung melompat memeluknya dengan erat sampai-sampai Zicola hampir menjatuhkan piring di tangannya.

"Makan sarapanmu dulu, baru kau pergi" bisik Zicola penuh perhatian.

"Aku tidak lapar"

"Kau harus makan Yu"

Yura melepaskan pelukannya dan memasuki mobil barunya dan menyalalakan mesin. Zicola mengambil sepotong omelet dan menyuapi gadis itu selagi dia masih bertanya melihat-lihat mobil barunya.

"Apa aku boleh pergi sekarang?" tanya Yura setelah menerima suapan terakhirnya.

Zicola mengangguk kecil dan menatap puas.

Tangan Yura terulur melewati jendela mobil. "Beri aku dua ratus dollar."

Zicola terkekeh geli mendengar permintaan adik kecilnya itu, dia mengeluarkan dompetnya dan memberikan salah satu black cardnya.

"Aku akan membeli alat-alat lukis dengan ini" Yura melompat kegirangan, gadis itu segera memasuki mobilnya dengan riang.

Zicola masih berdiri dengan senyuman lebarnya menatap kepergian Yura. Sudah lama dia ingin melakukannya, dan rasanya seperti berada di surga yang selalu di impikannya.

Sudah hampir enam belas tahun Zicola kehilangan Yura, dan ketika gadis itu kembali. Zicola bertekad akan selalu menjaga dan membahagiakannya.

***

Julian Pov

Logan mengatakan jika mobil yang di gunakan gadis itu adalah milik restaurant kecil yang di pakai untuk mengantar pesanan.

Sekarang aku mengerti, dia bekerja di restaurant.

Yang tidak aku mengerti sekarang adalah, aku berada di sini. Di depan reataurant itu.

Sial ini bukan aku!

Meski dia menyelamatkan hidupku, rasanya aneh jika harus menemuinya. Akan lebih bagus jika aku mengundangnya dan berbicara di tempat tenang.

Terlanjur sudah aku di sini, rasanya semakin memalukan bila aku harus pulang lagi. Aku bukan pecundang yang harus malu bertemu seorang gadis.

Ketika aku keluar dan melangkah beberapa meter memasuki restaurant semua orang menatapku. Yeah.. aku tidak peduli.

Yang aku pedulikan sekarang adalah dia..

Gadis yang duduk di meja kasir, memangku dagunya dengan bosan.

Ketika aku mendekat dan berdiri di hadapannya dia tetap tidak melihat ke arahku, mata indahnya sibuk menatap keluar jendela.

"Ehem!" aku berdeham cukup keras.

Dia memalingkan wajahnya. Ya, lihat aku sayang, jangan mengacuhkan aku, itu sangat menyebalkan.

"Oh, paman." Ucapnya setengah terkejut.

"Julian. Julian Giedon." Dia perlu tahu margaku, setelah dia tahu aku harap dia menyesal. "Siapa namamu?, aku ingin mengucapkan terima kasih."

"Yura."

Bagus, sekarang aku tahu namanya. Tapi aku bingung harus berbicara apa padanya.

***

Author Pov

Julian merapikan jassnya sebentar, "Aku sangat berterima kasih atas semua yang telah kau lakukan. Aku harap aku bisa membalas jasamu suatu saat nanti."

"Tidak perlu" jawab Yura kelewatan dingin.

Julian melongo, dia tidak habis pikir dengan jawaban gadis di depannya itu. Apa yang di dengarnya seperti sebuah penghinaan dan penolakan Yura terhadap ketampanan dan kekayaannya.

Ada banyak kejengkelan dan merasa terhina di dalam dirinya, namun dia juga penasaran seberapa jauh gadis itu bertahan menolak pesonanya.

"Siapa pemilik restaurantnya?" tanya Julian.

"Sa.. saya Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Ana dengan gugup, dia terlalu terkejut dengan kedatangan seorang Julian Giedon ke dalam restaurantnya.

"Aku pesan enam ratus porsi makanan terbaik di sini untuk makan malam karyawanku" ucap Julian dengan angkuh.

Mulut Ana menganga, "Enam, enam ratus?."

"Ya, aku akan menunggunya di sini. Selama aku duduk, gadis ini harus menemaniku ngobrol." Tatapan Julian langsung tertuju pada Yura.

"Ini pasti sangat lama Tuan."

"Apa kau tidak sanggup?" tanya Julian terdengar sedikit mencela, ana menggelengkan kepalanya.

"Tentu bisa." Jawab Ana ragu, dia ragu jika Yura mau menemani Julian untuk duduk dan berbincang, sementara Ana tidak berani memerintah Yura.

Melihat kegelisahan Ana, Yura langsung berdiri dan tersenyum "Baiklah ayo."

***

Julian Pov

Entah apa yang sedang aku pikirkan sekarang. Duduk dan hanya menatap wajah Yura lebih dari setengah jam tanpa bosan, bahkan segelas anggur pun tidak aku sentuh sejak tadi.

"Mengapa kau irit bicara sekali?" Aku terlalu gatal ingin melihat bibir mungilnya bergerak. Jika perlu aku mencicipinya dan merasakan gerakannya di dalam mulutku.

Sial, laknat sudah pikiran kotorku

"Kau hanya memintaku untuk menemanimu" dia menjawab dengan cerdas pertanyaanku. Menarik.

"Bagaimana keadaan lenganmu?"

"Baik."

Aku benar-benar tidak sabar untuk berada lebih dekat dengan gadis dingin ini. Sikapnya mengingatkan aku pada seseorang, kakakku.

Aku menggeser kursi yang ku duduki, ku raih lengan kecilnya yang tertutup baju berlengan panjang.

Mungkin sebaiknya aku tidak memeriksanya di sini, kami perlu tempat yang lebih nyaman.

"Apa yang kau lakukan?, lepaskan aku!." Perintah Yu setengah berteriak.

Aku tetap menyeretnya pergi ke melewati lorong kecil menuju tangga yang mengarah ke atap restaurant.

Tubuh Yu membenturku ketika aku menariknya, aku bisa merasakan aroma rambutnya, mata bulatnya lebih dekat dan alisnya yang mengerut menampakan kekesalannya padaku.

"Aku ingin melihat lukamu."

Aku duduk di kursi bundar di bawah pohon, ku tarik tubunya hingga dia duduk di pangkuanku.

"Lepaskan aku!" Yu membentak di depanku.

Aku tidak peduli. Aku memenjarakan kedua tangan kecilnya dalam genggamanku, tanganku yang lain membuka kancing kemejanya.

Kesan pertama yang aku rasakan adalah. Aku bergairah.

Lehernya yang jenjang terlihat bercahaya di bawah sinar matahari sore, bahunya kecil ketika kemejanya aku turunkan. Dan sepasang dada yang bagus di bawah sana, akan lebih bagus jika di rasakan oleh tanganku.

Tapi, itu bukan tujuanku.

Ku lihat lengannya yang terluka semalam, kini di balut perban dengan rapi.

"Apakah akan meninggalkan bekas luka?" Dia terlalu cantik, sangat tidak adil jika tubuhnya di goresi luka.

"Tidak akan. Kau puas?!"

Wow, berhentilah memarahiku. Itu sangat keterlaluan.

Aku kembali mengancingkan pakaiannya dengan benar. "Berhentilah memarahiku, semalam kau baik padaku."

"Karena semalam aku tidak mengetahui sifat aslimu."

"Kau benar-benar tidak mengenaliku?"

Kepala cantik Yu bergerak ke satu sisi, dia menatapku seakan sedang melucuti semua yang ada pada diriku.

Aku merasa gugup tanpa alasan di bawah tatapannya. Dia mengingatkan aku pada ibu ketika dia tengah marah padaku.

Kemarahan yang mencerminkan aura yang lebih menarik, kecantikan dan keberanian.

"Memangnya kau siapa?."

Apa maksudnya?, dia benar-benar tidak mengenaliku!

***

Author Pov

Julian menggerakan kakinya dan menegakan tubuhnya lagi, dia mencebikan bibirnya dan terlihat sedikit kesal mendengar jawaban Yura.

Merasa mulai bosan dan tidak nyaman dengan keadaannya, Yura beranjak dari duduknya, namun dengan cepat tangan Julian menahannya.

"Kau mau ke mana?" tanya Julian semakin di buat kesal, dia tidak suka di acuhkan.

"Lepaskan aku brings*k. Dasar tidak sopan" Yura menghempaskan genggaman tangan Julian dengan kasar, lalu pergi dengan cepat.

"Brengs*k katanya?" tanya Julian pada dirinya sendiri, "Mulutnya pedas sekali."

Julian melangkah lebih cepat menyusul Yura, dengan cepat meraih tangan gadis itu dan menariknya dengan keras. Tubuh Yura terbentur ke tembok, dengan cepat Julian menghimpit semua pergergerakannya.

"Kau seorang mermaid?" tanya Julian dengan serius.

To Be Continue..

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height