CRAZY RICH MAN/C5 Episode 5
+ Add to Library
CRAZY RICH MAN/C5 Episode 5
+ Add to Library

C5 Episode 5

"Kau sudah gila?."

"Aku melihatmu berbicara dengan ikan-ikan itu."

Kening Yura samar-samar mengerut heran, dengan tangkas tangan kecilnya mendorong dada Julian agar mundur.

"Urusi saja urusanmu sendiri. Kau sudah berterima kasih padaku, dan aku tidak terluka parah. Jadi urusan kita selesai."

Julian menarik napasnya dalam-dalam menatap punggung Yura yang semakin menjauh dari pandangannya. "Dia benar, untuk apa aku melakukan ini" sesalnya.

Julian memutuskan untuk membayar makanan yang telah di pesannya dan langsung kembali ke dalam mobilnya.

Sesaat dia kembali di buat penasaran melihat Yura memasuki mobil ferrari 458, Yura mengendarainya dan pergi meninggalkan parkiran.

Julian sedikit tidak percaya. Neydish memiliki biaya pajak dan harga yang sangat tinggi jika urusan dengan kendaraan untuk menekan angka kemacetan.

Mobil yang mahal dan untuk seorang penjaga kasir?.

Perlu lima sampai enam tahun menabung. Atau tidak terbeli sama sekali.

"Sial, kenapa aku harus ingin tahu?. Bodoh! Urusannya bukan urusanku!" maki Julian pada dirinya sendiri.

***

Suara alunan musik terdengar mendayu indah antara violin dan piano, orang-orang berdiri dengan penampilan mewah mereka yang mencerminkan kumpulan orang penting.

Dua orang artis terkenal bernyanyi dengan indah menghibur tamu, para pelayan hilir mudik membawa nampan minuman membawa pesanan tamu.

Para isteri konglomerat menenteng tas mahal dan jaket berbulu mereka, perhiasan berlian, mutiara dan emas hasil pelelangan dengan barang terbatas, berkilauan menghiasi tubuh mereka. Pakaian yang di buat langsung oleh desainer pribadi mereka untuk menjadi kompetisi fashion di kalangan aristokrat.

Mereka melenggang dengan percaya diri terkesan menantang siapa yang berpakaian lebih mahal.

Karpet merah panjang terlihat mencolok di lantai sampai menelusuri tangga, sementara ruangan di dekorasi kuning keemasan dan lampu kristal raksasa yang tergantung di mansion mewah tersebut.

Malam itu adalah malam perayaan hari ulang tahun Yang Mulia Ratu Ema Giedon, nenek Julian.

Ema Giedon adalah seorang ratu kerajaan Neydish generasi ke enam. Julian adalah cucu generasi ke delapan dengan gelar Pangeran, karena itu Julian di gadang-gadang untuk menjadi seorang presiden. Banyak pihak yang menginginkan kerjaan kembali mengambil alih pemerintahan sepenuhnya jika Julian bisa menjadi presiden.

Thomas Giedon nampak sudah ada bersama Rebeca kekasihnya yang masih muda dan seksi.

Jasen Gideon, adik dari Thomas berdiri di samping Ema dan membantu wanita itu menuruni tangga melewati cucu-cucunya yang satu persatu memeluk dan mengucapkan do'a.

"Di mana Julian?" tanya Ema dengan tatapan kecewa karena yang ada hanya Nick, Scarlet dan Zicola. Sementara cucu kesayangannya tidak muncul.

"Dia sedang dalam perjalanan, nenek" Zicola tersenyum lembut menjawab.

Ema tersenyum samar, dia meremas bahu kokoh Zicola. "Kau terlihat sangat bahagia sekarang. Di mana adikmu?, harusnya kau membawanya, aku sangat penasaran."

Zicola mengusap tengkuknya dan tersenyum malu. "Aku akan membawanya nanti nek. Tapi sekarang aku membawa kekasihku"

Senyuman yang sempat pudar dengan kekecewaan Ema, kini kembali melengkung membentuk senyuman bahagia, "Di mana dia?"

"Disana." Zicola menunjuk seorang wanita yang sejak tadi diam duduk sendirian.

"Bawa kemari sayang, jangan mendiamkannya"

***

Julian mengancingkan kemeja putih yang terpasang di tubuh atletisnya, dia menatap dingin cermin besar yang memenuhi dinding di depannya.

Julian menarik laci panjang yang di isi ratusan model dasi, kali ini dia memilih mengambil dan mengenakan dasi biru tua. Julian membalikan tubuhnya hanya untuk menatap para pelayan yang berdiri rapi di belakangnya.

Langkah Julian mendekati kursi, lalu dia duduk, seorang pelayan wanita membungkuk di hadapannya untuk memakaikan kaus kaki dan sepatu di kaki Julian.

Sementara seorang pelayan lainnya menyisir dan menata rambutnya dengan rapi.

Setelah selesai, Julian berdiri membiarkan pelayan pria memakaikan jass yang senada dengan warna dasinya.

julian mengulurkan tangannya mengambil salah satu jam tangan Rolex Daytona yang menunjang penampilannya menjadi semakin sempurna dan berkelas.

"Terima kasih" ucap Julian sebelum dia pergi keluar dari ruangan.

Langkah Julian melebar dan cepat melewati banyak ruangan dan tangga menuju pintu terakhir atap rumahnya.

Suara mesin helikopter terdengar bising dengan baling-baling berputar, sudah siap untuk di terbangkan.

"Pesawat sudah siap Tuan" Robin mempersilahkan.

Julian mengangguk dengan senyuman singkat, "Terima kasih Robin."

Julian memasuki pesawat kecilnya sendirian, malam ini dia akan membawa sendiri tanpa pilot. Terbang menuju mansion Yang Mulia Ratu Ema Giedon.

***

"Mengapa kau tidak ikut, Yu?" Daniel menggeleng heran dan tidak mengerti dengan keputusan Yura yang tidak pergi ke pesta.

Yura tersenyum seadanya, irish matanya terlihat berbinar terselimuti air mata yang hampir jatuh, "Tidak apa-apa Daniel, aku perlu waktu menerima kehidupanku yang dulu."

"Jangan sedih sayang" Nately memeluknya dengan erat. "Kami mengerti. Aku akan pergi sebentar, nanti kita bertemu lagi di Tereskop Gold."

"Iya"

Nately tersenyum lebar, "Nanti aku akan memperkenalkan dirimu dengan pria yang selama ini aku kejar" bisiknya dengan semangat.

"Cepatlah keluar Nat!" teriak Daniel mulai kesal.

Nately mencebikan bibirnya, dia langsung keluar mobil dan pergi melenggang menuju mansion Ema Giedon.

Daniel melajukan mobilnya lagi keluar dari dari area mansion.

"Apakah Nately yakin dengan keputusannya melamar pria?" Yura bergerak melewati porseneling dan duduk di kursi depan.

Daniel menyerigai geli. Kakaknya, Nately sudah terbiasa melamar pria yang selama ini di kejarnya tanpa melihat harga dirinya sebagai wanita, bahkan ini bukan untuk yang pertama kalinya Nately melakukannya.

Dan hasilnya sama, pria itu mengacuhkan dan menolaknya.

"Lupakan saja Yu, Nat tidak akan pernah mendapatkannya. Pria gila itu terlalu tinggi untuk di raih" decih Daniel setengah kesal.

"Siapa pria itu?, aku sangat penasaran."

"Nanti juga kau tahu"

***

Julian melompat turun dari pesawat, dia berdiri sejenak untuk mengancingkan jassnya.

Julian melangkah lebar melewati hamparan rumput yang sangat luas, mobil-mobil berjajar rapi mengkilap dan mewah terparkir rapi di samping mansion.

"Selamat datang Tuan muda" seorang pelayan yang berjaga di depan pintu utama mansion membungkuk memberi hormat dan mempersilahkannya masuk.

“Selamat malam” Julian melewatinya dengan senyuman menawan, sama sekali tidak menunjukan kesombongan dan keangkuhannya seperti yang dia biasa lakukan.

Julian hanya akan sombong dan angkuh kepada sesama rekan kerjanya, tetapi tidak kepada orang-orang kecil.

Bagi dirinya dalam permasalahan menghasilkan uang, orang kaya adalah virus, dan orang miskin adalah vitamin.

Kerumanan orang berkumpul perlahan membelah memberi jalan, mereka tersenyum dan memberi hormat melihat kedatangan Julian.

Ema yang sedang duduk berkumpul dengan anak dan cucu-cucunya langsung tersenyum lebar melihat kedatangan Julian.

“Selamat ulang tahun nenek” Julian memeluk Ema cukup lama lalu duduk bergabung dengan orang lainnya.

“Aku pikir kau tidak akan datang” ucap Ema masih dengan senyuman yang menghiasi bibirnya yang sudah keriput, kini usianya sudah Sembilan puluh tujuh tahun.

“Mana mungkin aku mengabaikan hari ulang tahun wanita tercantik di dunia ini” puji Julian yang langsung membuat Ema tertawa.

"Duduklah, jarang sekali keluarga kita bisa berkumpul seperti ini."

"Terima kasih nenek."

Julian menegakan tubuhnya mendengarkan percakapan kecil keluarganya, pria itu lebih irit bicara sejak duduk bergabung karena ada Rebeca dan Jaselyn yang ikut bersama Thomas. Di tambah dengan keberadaan Jasen Giedon pamannya yang menyebalkan.

“Aku tidak menyangka kau membawa Jane kemari” bisik Julian yang duduk di samping Zicola, dia tidak tahan untuk tidak menggoda kakaknya yang pada akhirnya membawa Jane dan memperkenalkan wanita itu secara resmi.

“Diamlah brings*k. Kau sendiri ke mana saja?, kau tahu kan adikku sudah kembali.” Umpat Zicola membalas.

Julian dan Zicola memang bukanlah saudara kandung, Zicola tidak memiliki darah keluarga Giedon sama sekali.

Zicola adalah anak dari Alexander Franklin seorang penasihat terbaik kerajaan sekaligus sahabat Thomas, namun sejak aksi kudeta di masa lalu, Zicola harus kehilangan ayah dan ibunya, juga adiknya.

Kini adik Zicola sudah kembali, dan Julian belum melihatnya karena terlalu sibuk.

“Whoa.. santailah, aku juga adikmu. Kau langsung pilih kasih sekarang” rajuk Julian tidak suka.

“Akhir minggu nanti datanglah ke rumah, aku membuat pesta untuk adikku.”

Jesen yang duduk di ujung meja menatap tajam interaksi antara Julian dan Zicola, ada senyuman sinis yang menggambarkan ketidak sukaan di wajahnya. Namun, Jasen tahan karena ada Nick dan Scarlet anaknya yang sama sekali tidak bisa dia andalkan.

Nick dan Scarlet tidak pernah tertarik dalam berbisnis, mereka lebih suka menjadi selebiriti.

“Aku dengar kau memasok misil kepada teroris, tiga ratus orang berdemo di depan gedung karena penduduk mereka terluka dan rumah mereka hancur. Jadi bagaimana perkembangannya sekarang?” tanya Jesen dengan lembut namun menekan setiap kata-katanya.

“Baik” Julian tersenyum lebar, dia mengambil segelas anggur dan menegaknya sampai tandas. “Semuanya sudah selesai. Itu misil bukan buatan Giedon Junior, jadi sudah tidak ada urusannya lagi denganku.”

“Tetap saja bukan, citramu tercoreng, kau kan calon presiden.” timpal Jasen yang belum puas untuk menjatuhkan harga diri Julian.

“Tidak masalah. Aku bisa membangun Negara di pulauku sendiri” jawab Julian enteng dan menohok, hampir saja Jasen tersedak dengan makanannya sendiri.

To Be Continue..

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height