CRAZY RICH MAN/C6 episode 6
+ Add to Library
CRAZY RICH MAN/C6 episode 6
+ Add to Library

C6 episode 6

Julian Pov

Sudah hampir satu jam aku di sini, berdansa dengan beberapa gadis dan bicara basa basi. Rasanya sangat bosan dan membuat otakku terpenjara.

Aku butuh rokok. Atau mungkin seks.

“Juls” sebuah tangan bergerak memeluk pinggangku dengan erat.

“Lepaskan Nat” ya, aku tahu dia Nately. Parfum vanilla atau lavendernya terlalu familiar, dan kebiasaannya memeluk atau menciumku sembarangan, dia adalah wanita yang kacau.

Malam ini Nately memakai gaun warna toska, aku tidak tahu desainer mana lagi yang membuatnya hingga membuat dia berpakaian hampir terbuka seutuhnya.

Nately berdiri di depanku, dia membuka sebuah kotak hitam beludru dalam genggamannya.

Sial, jangan lagi!

Itu menjijikan

“Menikahlah denganku Juls” Nately kembali melamarku.

Wanita gila ini sudah hampir kehilangan akal sehatnya, aku sudah bosan menekan kata-kata ‘teman’ kepadanya.

Aku sama sekali tidak tertarik padanya meski dia cantik, baik, ceria dan seksi. Aku tidak pernah berpikir untuk menjalin hubungan dengan siapapun, apalagi menikah.

Semua yang aku butuhkan sudah aku miliki, kejayaan, uang, tahta, popularitas, wanita. Kecuali keluraga.

“Menjauhlah Nat, jangan membuatku menjadi pria baj*ngan” aku memperingatkan, walau bagaimanapun aku tidak ingin bersikap kasar padanya.

“Juls.. ayolah, menikah denganku.”

“Kau berlebihan Nat” Aku pergi secepatnya untuk menjauh, sudah cukup Rebeca dan Jeslyn yang membuatku muak, aku tidak ingin Nately menambah daftar kemarahnku di pesta ini.

***

Author Pov

Julian mengambil sebatang rokok dan pemantik dari saku jassnya, sejenak dia menyandarkan punggungnya di dinding menatap danau yang membentang luas cukup jauh dari mansion sambil menghisap sebatang rokok dalam kesunyian, jauh dari pesta.

“Mengapa kau menolak?, apa kau benar-benar sudah jatuh cinta pada wanita itu?” samar-samar terdengar suara wanita di belakang tembok yang Julian sandari.

“Sial jangan menyentuhku!” sahut seorang pria dengan suara yang sangat familiar di telinga Julian.

“Oke oke, maafkan aku. aku hanya merasa cemburu melihatmu dekat dengannya, kau selalu terbiasa menolaknya.”

"Sialan, kau memata-mataiku?."

"Aku mencintaimu, apa aku salah jika aku ingin tahu segalanya?."

Julian membuang asap rokok di dalam mulutnya, dia memilih membuang rokok itu meski hanya baru dua hisapan dia nikmati.

Julian lebih tertarik melihat siapa yang sedang berbicara.

Dengan gerakan halusnya Julian menggeserkan punggunya dan melihat siapa yang sedang bercakap.

“Jangan macam-macam dengan keluargaku!, enyahlah!.” Zicola menatap tajam, sepenuhnya menolak sentuhan Rebeca.

“Aku mencintaimu” ucap Rebeca tidak tahu malu, dia tetap mendekati Zicola dan menyentuh wajah pria itu dengan tatapan memuja,l. “Aku mengerti kau menolakku karena ada ayahmu Thomas. Tapi aku sangat mencintaimu”

“Jangan terlalu percaya diri sialan” Zicola menepis dan mendorong Rebeca dengan kasar.

Zicola langsung pergi tanpa rasa bersalah sedikit pun meninggalkan Rebeca sendirian.

“Menyedihkan” gumam Julian dengan jijik.

Rebeca terperanjat kaget, "Juls.." ucapnya dengan waspada.

Julian berdecih seraya mengedikan bahunya dengan acuh. Wajah Rebeca memucat nampak ketakutan, melihat Julian yang melewatinya dengan angkuh tanpa sepatah kata pun.

***

Suara musik terdengar menghentak penuh semangat semakin membakar kegilaan orang-orang, Yura menari dengan seorang pria yang baru di temuinya, dia terlihat senang dan sedikit mabuk karena terlalu banyak minum.

“Di mana Nat?, kenapa dia lama sekali?” teriak Yura.

Daniel bergerak pelan mendekati meja, dia menuangakan segelas sampanye dan meminumnya untuk meredakan tenggorokannya yang mulai mengering. “Dia pasti sedang menangis.”

“Mengapa dia harus merendahkan harga dirinya sebagai perempuan?” tanya Yura lagi semakin di buat penasaran.

“Ini Neydish Yu, bukan Hong Kong. Wanita melamar pria itu hal yang sangat biasa” jelas Daniel dengan serigaian nakalnya.

“Terima kasih” Yura melepaskan pelukannya dari pria asing yang menari dengannya, dia bergerak mendekati Daniel dan menjatuhkan tubuhnya ke sofa.

“Kau mabuk Yu?”

“Tidak. Aku hanya lelah.”

"Jangan mabuk, aku bisa babak belur di pukul kakakmu."

***

Pandangan Julian mengedar di antara remang-remang cahaya yang berkerlap-kerlip, dia mencari teman-temannya yang sudah menunggu. Namun yang menjadi perhatian pertamanya bukan teman-temannya lagi, melainkan adik Nately dan gadis yang sedang bersamanya.

Julian sudah cukup kenal baik dengan bentuk tubuh dan kecantikan Yura meski jarak mereka cukup jauh.

Langkah Julian langsung tertuju kepada dua orang yang sedang berbincang dan tertawa sangat akrab di depannya.

Menyadari kedatangan Julian, Daniel langsung mengalihkan perhatiannya dari Yura “Juls, di mana Nat?.”

“Bukan urusanku” jawab Julian dingin, matanya mengunci dan bergerak menelusuri pakaian yang di kenakan Yura, kali ini gadis itu memaki gaun hitam selutut yang menambah kesan berkelas.

Julian berdecih merasa terhina, Yura sudah bersikap kasar dan menolaknya tiga hari yang lalu, namun gadis itu kini sangat akrab dan dekat dengan Daniel yang jelas-jelas tidak ada apa-apanya bila di bandingkan dengan Julian.

Yura kembali duduk dan merapikan rambutnya, dia tertunduk di bawah tatapan Julian yang mengintimidasi.

“Aku tidak menyangka, kau sudah menolak kebaikan hatiku dengan cara yang menyebalkan. Ternyata seleramu sebatas ini” ejek Julian menyembunyikan rasa kesal dan harga dirinya. "Aku pikir kelasmu cukup tinggi."

“Apa yang dia bicarakan?” bisik Daniel tidak mengerti.

“Aku ke toilet dulu” Yura beranjak dari duduknya, dia memilih menghindari masalah sekecil apapun kemungkinannya.

Namun langkahnya terhenti karena Julian lebih cepat menahan lengannya.

“Lepaskan aku”

“Aku akan melepaskanmu jika kau bersikap baik padaku” Julian tidak terima di acuhkan saat dia berbicara.

“Lepas” Yura menghempaskan tangan Julian, gadis itu menatap tajam dan dingin membuat kekuasaan dan segalanya yang Julian miliki, sama sekali tidak berpengaruh baginya.

Perasaan terhina semakin melukai hati Julian, dengan sedikit amarah di dalam hatinya dia mendorong bahu Yura hingga membentur di dinding. “Mengapa kau membenciku?, apa salahku padamu?.”

“Kau tidak punya salah.”

“Kalau begitu bersikap baiklah, layaknya gadis baik-baik”

“Lepas! Jangan menggangguku” Yura kembali mendorong dada Julian sekuat tenaganya, namun bukannya mundur Julian malah menghimpit tubuh kecilnya hingga dada mereka bersentuhan.

“Kau tahu, karena uang sialan dua ratus dollar itu. Aku tidak bisa tidur dan terus memikirkanmu sepanjang malam, dan kau seenaknya bersikap seperti ini padaku setelah apa yang kau lakukan”

“Dasar gila” umpat Yura dengan bentakan, dia sudah tidak tahan karena mulai menjadi pusat perhatian semua orang. “Sudah aku bilang jang__”

Suara Yura menghilang di udara, bibirnya terbungkam oleh bibir Julian yang menciumnya dengan rakus, Yura berusaha memukul bahu Julian dan memberontak. Namun, pria itu tidak bergeming sama sekali dan lebih menarik tengkuk Yura memperdalam ciuamnnya, menikmati setiap sudut mulutnya dengan rakus dan menghisap lidah dan bibirnya, merasakan sisa-sisa anggur bercampur rasa strawberry di lipstick yang di pakaianya.

Julian melepaskan ciumannya dan menyerigai puas, melihat api kemarahan di wajah cantik Yura yang semakin membuatnya bergairah dan gemas dengan bibirnya yang membengkak karena ulahnya.

Plak

Tangan kecil Yura mendarat keras di pipi Julian, semua orang terhenyak kaget melihat keberanian gadis itu pada seorang Julian Giedon.

“Brengs*k” isak Yura dengan derai air mata yang membasahi pipinya, dia berlari keluar membelah kerumunan dengan sisa harga dirinya. Sungguh Yura sangat malu dan jijik karena di perlakukan seperti wanita murahan yang mudah di sentuh siapapun.

“Kau keterlaluan Juls. Kau akan menyesal” Daniel membanting botol sampanye di tangannya ke lantai, dia berlari menyusul kepergian Yura.

To Be Continue..

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height