C8 episode 8
Julian Pov
Hiruk pikuk kota Loor membosankan pandanganku, mesin-mesin dan robot mulai merajalela di penjuru tempat. Cahaya malam terlihat indah, sama seperti masyarakatnya yang ramah dan modern.
Tidak banyak kendaraan di kota indah ini, mereka lebih suka naik angkutan umum. Selain itu, pajak kendaraan dan harga kendaraan pribadi yang sangatlah mahal menjadi alasan terbesar mereka.
Tidak hanya itu. Aturan hukuman bagi yang membuang sampah sembaragan juga cukup berat, mereka akan di penjara selama empat bulan tanpa bisa membayar denda.
Aku menghabiskan banyak waktu untuk datang kemari, meninggalkan beberapa kesenangan dan kegalauanku di Swedia.
Kembali ke Loor adalah kembali ke rumah.
Malam ini kakakku yang brings*k itu membuat pesta. Aku tidak tahu apa yang membuat manusia es itu memiliki tabiat untuk membuat pesta, kecuali karena kedatangan adiknya.
Setidaknya aku akan datang sebentar dan mengolok-oloknya. Demi apapun, dia dingin dan brings*k, tapi untuk kali ini dia mengejutkan sekaligus kekanak-kanakan.
Mengapa Zicola membuat pesta atas kedatangan adiknya?, bukankah lebih baik melakukan konferensi pers agar semua orang tahu dengan resmi?.
Aku mencari perkiraan yang cocok setelah sampai di depan rumahnya.
Sepertinya ini pesta besar, setelah melihat berapa banyak kendaraan di sini. Mungkin aku juga bisa membawa seorang wanita dan melakukan seks di salah satu kamarnya, itu ide bagus.
Aku melangkah dengan senyuman, beberapa gadis melihat ke arahku dan menyapa. Tidak ada yang menarik, membosankan.
"Hay Julian" Stefy tersenyum lebar. Aku berjabat tangan dan memeluknya sekadar basa-basi, dia lumayan cantik hari ini, kecuali rambut merahnya. Aku tidak suka.
Dan aku melakukan acara basa-basi lagi dengan beberapa gadis yang mendatangiku, mereka terlalu berlebihan.
Ini hanya wajah tampan sayang!
Napasku memberat, mencari si brings*k itu yang belum muncul di setiap penjuru ruangan. Aku berusaha lepas dari gadis-gadis, setelah beberapa alasan dan bentakan penolakan akhirnya aku lepas.
"Aku pikir kau masih liburan" Jane menyambutku dengan cemberutan.
Apa yang salah dengan kedatangaku?.
Dia terlihat murung hari ini, si brings*k itu pasti penyebabnya. Jika bukan dia, siapa lagi yang bisa membuat wanita seperti Jane bisa bertekuk lutut dan rela menangis karenanya.
"Di mana dia?" Aku tersenyum selebar mungkin.
"Lantai atas" bisiknya semakin sedih.
Jane sepertinya butuh waktu sendiri, biasanya dia akan kembali mengejar Zicola meski telah beratus-ratus kali menangis.
Jane yang polos dan cintanya yang tulus. Aku bahagia dan bangga bila dia menjadi kakak iparku nanti.
Kebisingan mulai mereda saat aku menaiki tangga menuju lantai atas, sepertinya aku lebih senang di sini.
Tidak ada karpet merah menjalar sepanjang tangga yang aku pijak. Langkahku terhenti di anak tangga terakhir.
Siapa dia?.
Seorang gadis cantik, sangat cantik. Tertidur di sofa, gaunnya yang kemerahan terlihat cantik, rambut kecokelatannya tergerai berkilauan menyapu wajahnya yang tertidur pulas.
Aku mendekat dalam langkah yang hati-hati dan melihat siapa gadis mungil yang tengah tidur di tempat sembarangan ini.
Sial, dia Yura..
Gadis yang berhasil membuatku jengkel dan gila.
Hati mendorong naluriku untuk semakin mendekat, melihat dia lebih jelas. Sial, kakinya di tekuk menampakkan pahanya, dia memakai sepatu yang bagus. Dia terlihat tenang dan lezat.
Aku sangat ingin menyentuh pipinya yang di sapu anak rambut yang tidak sopan, bibirnya merah penuh, menggiurkan. Aku ingin melihat bulu mata yang lentik dan panjang itu bergerak saat aku menyentuhnya.
Jernihkan pikiranmu Juls!
Bulu matanya yang panjang itu bergerak lebih cepat dari perkiraanku, dia mengeliat, mengerjapkan matanya dan terbangun. Aku langsung menegakan tubuhku lagi, dan tertunduk malu.
Kenapa aku harus malu?
Dia menatapku sejenak, matanya sudah terjaga sepenuhnya. Pandangan kami terkunci, dan aku bisa merasakan kegugupan yang aku alami. Aku tidak pernah gugup oleh wanita sebelumnya!.
Dia bangkit dan pergi. Pergi dan tidak menggubrisku sedikit pun!, dia tidak terpengaruh olehku. Apakah dia tengah berpura-pura tidak mengenaliku?.
Aku berbalik dan melihat punggung gadis itu, aku ingin menyentuh kulitnya yang berkilauan. Aku akan memborol kakinya di pagar besi dan menunggu dia memohon ampun atas ke tidak sopanannya memperlakukan aku.
Apa aku seperti angin berlalu baginya, setelah penawar yang tidak mengenakan hari kemarin?. Secara tidak langsung, dia telah menampar sisi brings*kku.
Aku benar-benar di buat gelisah karena respon buruknya. Tidak ada yang pernah memperlakukan aku seperti ini sebelumnya.
"Rupanya kau datang."
Aku kembali berbalik dengan sedikit rasa jengkel, melihat kakakku datang dengan senyuman lebarnya yang jarang terlihat.
Tunggu, dia tersenyum. Aku tidak pernah melihat dia tersenyum selebar itu sebelumnya. Aku menyipitkan mata, berpikir keras dan menyelidik, apa yang membuatnya berubah.
"Tentu saja" kami berjabat tangan dengan erat. Dan dia masih tersenyum.
Zicola Alexander Franklin, dialah kakakku. Kami sudah saling mengenal sejak di bangku sekolah, banyak hal yang orang tidak tahu di balik sikap brings*knya.
Pada usia empat belas tahun ayahnya meninggal di bunuh suami muda ibunya. Dan saat usianya enam belas tahun, ibunya meninggal karena bunuh diri.
Zicola menghabiskan sisa waktunya untuk menjalankan perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan dan makaanan, orang tuanya cukup banyak meninggalkan harta kepadanya.
Dan sekarang dia adalah saingan terberatku dalam bisnis, kami sama-sama mengejar gelar master di tengah puncak kejayaan bisnis.
Aku sudah gatal ingin bertanya. "Sepertinya, adikmu benar-benar membuatmu menjadi kakak yang paling bahagia di dunia."
"Apa aku tidak boleh bahagia?" Sekarang Zicola tertawa.
Tentu saja kau harus bahagia! Dan aku senang.
Dia tidak mengatakan apa-apa, kami berbicara beberapa patah kata mengenai pekerjaan dan keadaan masing-masing. Aku mengedarkan pandangan mencari Yura, aku masih ingin melihatnya dan mendapatkannya.
Aku merasa sedikit kecewa karena Yura tidak tertarik sama sekali padaku.
Aku berharap bisa membawanya pergi dan mencicipinya di ranjang. Mungkin dengan cara itu dia bisa tunduk padaku dan aku berhenti memikirkannya.
"Di mana adikmu?"
"Nanti aku kenal kan padamu. Sebentar, aku pergi dulu" Zicola pergi berbincang dengan tamu lainnnya. Di tengah kesibukannya dia berbincang dengan tamu, aku mencoba kembali ke kerumunan orang dan mencari Yura.
Aku bertekad untuk membawanya malam ini, karena dia yang berhasil menarik Perhatianku selama dua minggu ini.
Itu dia!
Dia tengah sendirian dan menarik diri dari keramaian, aku harap dia datang sendirian ke sini. Tapi aku tidak yakin, dia sangat mencolok di sini dan aku berani bertaruh, tidak akan ada satu orang pria pun yang berani menolaknya.
Tapi, dengan siapa dia datang?, hampir seluruh tamu pesta aku mengenali mereka. Sepenting apa dia sampai-sampai bisa di undang kemari?.
"Apa yang kau lihat?" Aku mencoba bicara berbasa-basi karena malu setelah kejadian kemarin. pikiranku buntu untuk bertanya apa. Aku jarang mengejar wanita, itulah faktanya.
Yura menengok, mengalihkan pandangannya dari luar. Matanya besar dan bercahaya, tapi aku merasakan kesedihan di dalamnya, "Para pengganggu."
Apa dia menyindirku?, sial ini menyebalkan.
Kita lihat saja seberapa jauh dia tidak terpesona padaku, "Kau datang sendirian?."
"Seperti yang kau lihat"
Bagus. Seperti apa yang aku harapkan.
Zicola datang dengan senyuman yang membuatku merasa aneh. "Kau di sini rupanya" dia meraih pinggang Yura dan mengecup puncak kepalanya.
Sial, aku harus mundur dengan kekecewaan, Zico sudah lebih dulu memilikinya.
"Yu, dia Julian dan Julian ini Zuyura. Adikku" ucap Zicola seperti ledakan kembang api yang mendengingkan gendang telingaku.
Adik?
Zuyura Alexandra Franklin?
Bumi telan aku!. Hapus wajahku!.
Rasa panas menjalar di pipiku. Ini sangat memalukan, aku mengejar dan menawarkan uang pada seorang gadis yang ternyata adik dari kakak angkatku sendiri.
Mengapa aku tidak menyadarinya?.
Zicola selalu memanggilnya Zuyura, bukan Yura. Bahkan panggilannya sekarang adalah Yu, sama seperti kebanyakan orang Hong Kong.
Mengapa aku tidak sadar saat ayahku menemuinya?.
Aku tersenyum canggung terlalu malu. Jadi, inikah orang selama ini Zico ceritakan padaku?.
Zicola tersenyum lebar, menunjukan seberapa besar kebahagiaannya. Aku tahu dia sangat berusaha untuk mendapatkan dan membawa adiknya kembali kemari, dan sekarang dia berhasil. Itulah alasan terbesar kenapa si brings*k itu seperti orang yang baru hidup lagi.
Kami bersalaman, aku merasakan kulit dan tangan kecilnya. Tangannya sangat kecil di tanganku, dan untuk pertama kalinya dia tersenyum, meski memaksakan.
Dan aku tidak bisa tersenyum percaya diri lagi.
***
Aku tidak tahu apa yang telah terjadi dengan otak dan mataku, sejak aku melihat Yu aku tidak bisa mengalihkan pandanganku. Dia seperti magnet, menghipnotisku untuk terus memandangnya.
"Kau irit bicara hari ini" Ariana masih duduk di pangkuanku, memang sejak tadi aku jarang bicara karena terlalu sibuk melihat Yu.
"Kau bosan?"dia bergerak di antara pangkal pahaku, jari lentiknya menyusuri wajahku dengan tatapan memuja.
"Sedikit" aku tersenyum kecut. Ariana menciumku, aku diam memiringkan wajahku, merasakan Ariana mendorong lidahnya memasuki rongga mulutku. Untuk saat ini aku tidak tertarik untuk bercinta, meski Ariana cantik dan seksi.
Bahkan ciuman panasnya tidak senikmat ciuman Yu.
Jernihkan pikiranku Juls!
Aku menjauhkan wajahku dan tersenyum, menghargai usahanya dalam merayu.
Perhatianku kembali kepada si lezat Yu, dia bersama Zicola tengah menyesap segelas wine, mungkin sebaiknya aku ikut bergabung dengan mereka setelah cukup lama mengasingkan diri.
Aku takut Yu menceritakan penawaran yang aku lakukan padanya kepada Zicola. Jika itu terjadi, maka aku akan babak belur di tangannya.
Aku harap dia tidak mengatakannya. Aku harap.
Aku melepaskan Ariana dengan beberapa patah kata.
"Kau menikmati pestanya?" Zicola melihat kepadaku yang baru saja duduk bergabung. Aku mengangkat bahu dan tersenyum kecut, "Kamar ke tujuh bisa kau gunakan dengan seorang wanita" sambungnya.
Jaga bicaramu bung! Aku sedang teratarik pada adikmu yang lezat itu
"Akan aku lakukan" jawabku dengan penuh tekad, aku ingin membawa adik dari kakak angkatku malam ini.
To Be Continue...