CRAZY RICH MAN/C9 episode 9
+ Add to Library
CRAZY RICH MAN/C9 episode 9
+ Add to Library

C9 episode 9

Julian pov

"Jaga Yu. Aku akan menemui Jane dulu." Kata Zicola sebelum dia pergi dengan cepat, dia memberikan peluang bagiku untuk berbicara dengan Yu.

Aku harus memperbaiki komunikasi kami terlebih dahulu selagi Zicola pergi.

"Aku minta dengan kejadian tadi pagi" ucapku penuh penyesalan dan rasa malu. Sejujurnya aku tidak terlalu menyesal, tapi rasa maluku yang telah menggunung.

Aku benar-benar malu, Yu menolakku dan aku tidak tahu jika dia adik dari kakak angkatku.

"Apa?."

Dia ingin aku mengakui kesalahanku dengan jelas. Tapi tidak ada salahnya aku melakukannya, aku telah melukai harga diri seorang wanita.

Itu salah

Dengan satu tarikan napas aku berkata. "Aku minta maaf telah menawarkan uang padamu, aku salah. Dan aku harap kau tidak mengatakannya pada Zicola dan memaafkan kesalahanku."

Kali ini tatapan tajam dari mata indah itu melunak, bibir mungilnya di tekan keras. "Kau selalu melakukannya pada setiap wanita?"

Apa? Tidak! Ini untuk yang pertama kalinya karena dia menolakku.

Dan aku tidak tahu caranya mengejar wanita selain dengan wajah dan uangku.

"Tidak pernah" aku mengakuinya.

"Aku tidak akan mengatakannya pada kakakku. Mau tidak mau, sekarang kau kakakku juga."

Kakak?, aku kecewa dengan ucapannya.

Memang seharusnya aku mundur, jika aku menyentuh Yura, Zicola tidak bisa akan mengampuniku.

"Apakah kau mau bermain piano?" Zicola kembali datang, tanpa Jane.

Aku mengintip Yu di balik bulu mataku, pandangan kami kembali terkunci. Dia menatapku cukup lama, lalu berpaling lagi dengan tatapan dingin, tatapan itu sama seperti milik tatapan kakaknya. Zicola.

"Tidak perlu. Kapan pestanya selesai?" tanya Yu pada kakaknya. "Mengapa kita harus terjebak dalam acara yang membosankan dan kaku seperti ini." Dia memangku dagu dengan tatapan polosnya.

Aku dan Zicola menukar pandangan, kami menganga kaget.

"Kita bisa berdansa jika kau tidak mau bermain piano" Zicola tersenyum lebar.

"Aku tahu kau akan merayuku disana, aku tahu itu" ucap Yu penuh curiga.

Zicola tertawa seketika, aku hampir tidak percaya jika pada akhirnya aku akan melihat Zicola tertawa lepas setelah enam belas tahun lamanya kami bersama.

"Kau keras kepala" ejek Zicola.

"Karena aku pekerja keras, maka kepalaku juga harus keras" jawab Yu dengan enteng.

"Apa pekerjaanmu?" tanyaku setelah membungkam sebentar.

Yu mengambil segelas wine lagi, dan meminumnya. "Mengumpulkan koin"

Gadis yang rendah hati.

Yu gadis yang membingungkan, biasanya aku langsung tahu kepribadian seseorang dari pandangannya, tapi dia selalu menatap dingin tanpa ekspresi.

Sama seperti Zicola, saat dirinya merasa kesepian dan tidak di inginkan.

Ada kebaikan yang tersimpan dalam hatinya, aku merasakannya saat dia menolongku. Namun, ada banyak dendam dan benci dalam sorot matanya. Dia terlihat sedang membentengi diri dari siapapun.

"Jangan minum lagi, nanti kau mabuk" Zicola mengambil gelas di tangan Yu.

Aku tersenyum geli, pria yang biasanya dingin dan kasar bisa selembut dan seperhatian itu pada wanita.

Zicola memiliki rasa benci yang tidak bisa diartikan kepada wanita, semenjak dia di pisahkan dengan adiknya dan semenjak ibunya memilih bunuh diri meninggalkannya sendirian.

Zicola trauma karena ibunya memiliki dua suami.

Aku masih duduk dengan tenang, senang melihat dua orang di depanku berinteraksi.

Yu menopang dagunya dengan malas, pipinya kemerahan menandakan dia mulai mabuk.

"Kau tidak boleh meniduri wanita di rumah ini" gumam Yu tiba-tiba.

Aku dan Zicola saling bertukar pandangan.

Yang benar saja!, ada pesta, ada seks.

"Ini bukan Asia. Kau harus terbiasa" aku menyela, membenarkan pandangannya tentang kesenangan.

Neydish sangat liar meski tingkat pendidikan sangat tinggi, anak-anak yang masih duduk di sekolah menengah sudah mengenal seks, mereka seperti kelinci liar.

Yu melihat ke arahku, dia menatap tajam dan melucutiku. Aku menegang, dan bergairah dengan tatapannya.

"Jika itu maumu. Aku tidak akan meniduri pel4cur lagi" Zico menyerah begitu saja seperti pengecut. atau mungkin dia sudah mulai menetapkan hatinya pada Jane.

Yu memutar bola matanya dengan jengah, dia melotot pada Zicola.

"Mereka membuka pahanya pada setiap pria. Dan kau menusukan kejantanannmu pada setiap wanita. Kalian sama-sama menikmatinya, jika kau memanggil mereka pel4cur, itu artinya kau juga juga gig0lo!."

S.I.A.L!!

Dia menampar dan menusuk hatiku. Kata-katanya sangat tepat, membuat aku dan Zicola terpaku kehilangan kata-kata.

Selain menggairahkan, mulutnya sangat tajam dan cerdas.

Yu yang cantik..

Kenapa aku dan Zicola menjadi seperti orang bodoh saat di depannya?.

Zicola berdeham dan bergerak malu, aku pun begitu. Sekilas dia melihat ke arahku "Aku dengar kau menjual salah satu kapalmu minggu ini" ucap Zicola.

Dia mengalihkan pembicaraan dari si kecil Yu.

Aku mengedikan bahuku dengan malas, aku malas membahasnya.

"Kenapa kau menjualnya?."

"Anak-anak penderita leukimia lebih membutuhkannya untuk pengobatan, kapal itu sudah lama tidak terpakai juga."

Aku selalu mengingat wajah ibuku ketika melihat anak-anak penderita leukimia, aku tahu sakitnya seperti apa.

Aku ingin mereka sembuh meski sedikit kemungkinan akan terjadi, tapi aku tidak ingin ada Julian lainnya yang kehilangan keluarganya karena Leukimia.

Seorang pria datang menemui Zicola, mereka berbicara beberapa patah kata dengan serius. Zicola melirik ke arahku dengan ragu, dia mendekat.

"Aku ada urusan penting, awasi dia jangan sampai mabuk. Jaga tangan dan kemaluanmu, jangan macam-macam. Jika dia mabuk bawa ke kastil lantai tiga." Bisiknya mengancam.

Jaga tangan?. Aku tidak berjanji

Perhatianku kembali kepada Yu yang kembali meninum segelas wine.

"Kau ingin berdansa?" Ajakku memecahkan rasa canggung dan gugup yang tidak dapat di artikan.

Sebelum Yu menolak aku langsung menarik tangannya dan membawanya menuju lantai dansa.

***

Author Pov

"Aku tidak bisa berdansa" protes Yura saat pinggangnya di tarik dan menempel di tubuh Julian.

"Ikuti saja gerakanku" serigai Julian saat meraih tangan Yura yang sangat kecil saat dia genggam.

Mau tidak mau Yura bergerak, Julian menuntunnya dengan telaten.

Wajah Yura memerah di bawah pengaruh alkohol, tatapannya lekat melihat setiap ekspresi yang Julian berikan padanya.

Yura terpukau dengan warna matanya antara biru dan hijau, bercahaya mencermikan kecerdasan, ambisi, pesona dan kebaikan di antara kenakalan.

Sama seperti mata Raymen…

"Kenapa kau menatapku seperti itu?, aku tahu aku tampan," ejek Julian dengan keras hingga membuyarkan lamunan Yura.

"Kau percaya diri sekali"

Julian melepaskan pelukannya dan mendorong Yura untuk berputar dengan tangan di atas kepala gadis itu, lalu Julian menariknnya lagi lebih keras hingga dada Yura membentur dada Julian.

"Kenapa kau sangat menarik?" tanya Julian.

"Apa maksudmu?"

Julian mecondongkan kepalanya saat musik berubah menjadi lambat dan lembut, kedua tangannya melingkar di tubuh Yura.

"Apa masih belum jelas Juga?. Kau menarik dan membuatku penasaran, karena itu aku mengejarmu" bisik Julian di telinga Yura.

Yura hanya berdecih seolah apa yang di dengarnya sebuah bualan belakan.

"Aku serius" Julian memutar bola matanya seketika, dia tidak menyangka jika Yura benar-benar tidak beda jauh dengan Zicola. Dingin.

Perhatian Julian langsung mengarah pada Nately yang baru datang, dengan tangkas Julian menarik Yura menuju kerumunan orang lebih ramai.

Yura menarik diri dari pelukan Julian. "Aku pusing."

"Bagus" Julian kembali menarik pinggang Yura dan membawa gadis itu pergi ke lantai atas.

Langkah Yura tertatih-tatih mencoba melihat dengan benar, penglihatannya berputar, lambungnya bergejolak panas di penuhi alkohol.

"Kakikku menghilang" pekik Yura tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.

***

Julian Pov

"Kakiku menghilang."

Aku memutar tubuhku dan mendapatkan Yura menarik roknya sepaha, matanya membulat sempurna melihat ke lantai.

"Ada apa?"

Yura melangkah oleng dan jatuh di pelukanku, "Aku lupa caranya berjalan"

Aku tertawa geli, karena dia mabuk dengan cara yang manis.

"Kau tidak perlu berjalan" aku mengangkat tubuhnya dengan mudah. Dia ringan dan kecil.

Apakah dia tidak cukup makan?

Lupakan Juls. Yang terpenting sekarang adalah jauh dari Nately, aku muak bila terlalu lama dekat dengannya.

"Aku terbang.." gumam Yu dengan takjub, kedua kakinya bergerak-gerak.

Kedua tangannya meraih leherku, dia menatapku yang sedang berjalan. Aku berhenti dan membalas tatapan itu, matanya kecokelatan berbinar indah.

"Kenapa?" tanyaku gugup. Dia berhasil membuatku gugup lagi.

"Ray..."

Ray? Siapa Ray?. Kekasihnya? Mantan, atau pujaannya?

Aku tidak peduli, aku tertarik padanya secara visual. Tubuh yang cantik dan penolakannya. Aku tidak peduli dengan kehidupan pribadinya atau masa lalunya.

Aku tertarik tanpa hati.

Bermain dengan hati bukan gayaku.

Hatiku hanya di kuasai uang dan kesenangan, aku bahagia bermain hati hanya dengan uang.

Mungkin sebaiknya sekarang aku membawa Yura ke lantai tiga. Dia harus di kamarnya agar tetap aman, dan Zicola tidak akan menampakan taringnya karena mengomeliku.

Aku sangat bersemangat membawanya pergi dari keramaian. Aku terlalu penasaran dengan semua hal tentang dia, dan semua itu hanya ada aku yang melihatnya.

To Be Continue..

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height