Defective Love/C1 Prolog
+ Add to Library
Defective Love/C1 Prolog
+ Add to Library

C1 Prolog

Lili berdiri di depan pusara Rose, ibunya. Dia tidak lagi meneteskan air mata seperti dulu. Saat Rose menghembuskan napas terakhir di pelukannya, ketika masih berusia 15 tahun. Lili menunduk dan mengucapkan kalimat doa yang panjang.

Setalah beberapa menit dia dalam doanya, Lili kembali menengadahkan wajah. "Hai, Mam." Lili tersenyum tipis. "Aku pulang. Lili sudah di sini. Lili akan sering-sering mengunjungi Mama nanti." Lili kembali menunduk sesaat. Dia menghela napas panjang. "Mama baik-baik ya. Lili tidak akan balas dendam seperti yang Mama perintahkan dulu. Lili hanya akan mengambil apa yang menjadi hak Lili. Itu saja."

Lili mundur dua langkah sambil terus menatap pusara Rose. Dia kembali menghela napasnya sesaat. "Lili pamit dulu. Lili kembali lagi besok. Sampai jumpa lagi, Ma."

Lili berbalik, lalu melangkah menjauh. Meninggalkan tempat di mana Rose di semayamkan. Semua berlalu begitu cepat. Di mana hanya Lili yang merasakan sakitnya ditinggalkan dan dibuang.

Dia berjuang sendiri, berdiri sendiri. Menempuh banyak jalan berduri untuk sampai di tempatnya sekarang. Ada orang-orang baik yang mau menyisihkan harta dan waktu mereka untuk Lili. Membuat Lili mengurungkan niat mengakhiri hidupnya tiap kali patah semangat dan ingin menghilang. Beberapa orang yang kini menjadi istimewa di hati Lili.

Lili, dia tidak hanya secantik bunga lili. Tapi tubuh serta kemampuannya juga dalam berbagai bidang terbilang sempurna. Dia lahir sebagai sosok sempurna bukan tanpa sebab dan tujuan. Sepuluh tahun yang sudah berlalu, bukan waktu yang singkat untuk menjadikannya seperti sekarang. Dia kembali setelah berjuang hingga berdiri pada tangga tertinggi. Kembali untuk menyapa setiap orang yang dulu membuangnya dan Rose.

Dia baru kembali dari Paris sebagai model yang cukup punya nama, yang memutuskan kembali dan memulai karir di negaranya sendiri.

"Let's Begin." Lili tersenyum sinis sambil melangkah menuju mobil yang sudah terparkir menunggunya.

***

Flashback On.

"Mama ... Lili mohon. Bertahanlah." Lili memeluk ibunya dengan erat. Lili muda terus menatap mata Rose.

Rose mengangkat tangannya dan membelai pipi Lili. Menghapus air mata Lili. "Jangan menangis sayang. Kamu harus kuat, untuk dirimu sendiri dan untuk Mama."

Lili terisak. "Paman. Tolong cepat." Lili berteriak pada supir taksi.

"Sayang." Suara Rose sangat pelan, dan terdengar lemah.

"Mama tidak perlu banyak bicara. Cukup bertahan saja untuk Lili."

Rose menggenggam tangan Lili dan menatapnya dalam. "Mama akan pergi sayang. Berjanjilah satu hal pada Mama. Hmmm ...."

Lili diam.

"Jadilah gadis Mama yang bahagia. Jangan menyimpan dendam. Jalani hidup dengan baik. Mama mencintaimu." Tangan Rose yang lainnya membelai pipi Lili dengan sangat lembut. Lalu tangan itu melemas, Rose berlahan memejamkan matanya.

"Mama ...." Lili berteriak dan terisak semakin keras. Dia terus menggeleng-gelengkan kepalanya.

Taksi berhenti di depan pintu rumah sakit. Supir taksi yang diperkirakan berusia kurang lebih 30 tahun itu juga ikut panik. Dia keluar dan langsung memanggil bantuan.

Perawat datang dan membawa tubuh Rose. Lili mengikuti dengan langkah tertatih. Karena kakinya sendiri terluka. Rambut panjangnya yang kusut, baju mahalnya yang terlihat lusuh, dan aroma asap tercium dari tubuhnya.

Begitu juga dengan Rose, wajah cantiknya pucat, bau asap juga tercium dari tubuh itu. Bedanya pada luka, jika Lili terluka pada kakinya, Rose terluka pada kepala bagian belakang, dan tikaman di perutnya.

Lili terus menatap tubuh Rose dengan tetesan air mata yang tak mau berhenti. Saat di mana dia sangat mengharapkan kehadiran Ayahnya, tapi di mana pria itu?

Sesaat Dokter dan perawat menatapnya. Mereka menampak raut wajah sedih. Lili membenci raut wajah itu.

Dokter pergi meninggalkan tubuh Rose. Lili panik melihatnya. Dia berlari menghampiri Dokter muda itu dan berlutut di depannya. "Tolong selamatkan Mama, Dokter. Apapun akan Lili lakukan untuk Dokter." Lili menatap Dokter itu dengan penuh harapan. "Dok ...." Suara pun tak mampu Lili keluarkan.

Dokter itu ikut berlutut di depan Lili. "Maafkan saya."

Lili melihat kesungguhan dari mata sang Dokter. Dia menatap Rose yang sudah ditutupi dengan kain putih oleh perawat. Rose benar-benar sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Lili tersungkur, dia kembali menatap tubuh Rose dengan derasnya derai air mata.

"Mama jahat. Kenapa Mama meninggalkan Lili?" Gadis itu terisak, suara erangannya memenuhi ruangan. "Bagaimana Lili harus hidup, Ma." Dia meremas celana panjangnya, dia mengerang. Dia kehilangan segalanya dalam satu malam.

Dokter menyentuh lengannya dan mengelus dengan lembut. "Kamu harus kuat. Itu yang Mamamu inginkan."

Lili menatap Dokter itu.

Dokter menatap Lili, suhu tubuh gadis itu terasa sangat tinggi. Dokter seketika menyentuh kening Lili. Dia langsung menatap perawat di sampingnya. "Siapkan ranjang untuknya." Dokter kembali menatap Lili. "Untuk menjadi kuat, tubuhmu juga harus kuat." Dia mengangkat tubuh Lili.

Flashback Off.

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height