Defective Love/C2 Meet You Again
+ Add to Library
Defective Love/C2 Meet You Again
+ Add to Library

C2 Meet You Again

Lili melangkah masuk ke sebuah ballroom mewah hotel berbintang lima. Di tempat itu sedang berlangsung sebuah pesta megah dari BR Group. Lili masuk dengan satu undangan esklusif di tangannya. dia melenggang dengan anggun sambil meneliti seluruh ruangan. Ada beberapa yang mengenali wajahnya. Dia bergelut dalam dunia modeling cukup lama, meski bukan di negara ini, tapi dia cukup punya nama di modeling kancah Dunia.

Cukup banyak mata menatapnya, baik pria atau wanita. Kecantikannya memang tidak diragukan lagi. Lili berjalan melewati beberapa orang yang menatapnya dengan penuh tanda tanya. Lili mengambil minuman dari nampam yang dijinjing pelayan, dan berdiri di sudut ruangan. Sudut yang membuat dia bisa memperhatikan semuanya dengan jelas. Dia bersandar pada dinding dan memainkan gelasnya dengan anggun dan senyum tipis selalu tergaris di wajah cantiknya.

Acara berlangsung sebagaimana mestinya. Sudah 30 menit berlalu, Lili tidak mendengar sepenuhnya apa saja yang dikatakan oleh pembawa acara, atau setiap sambutan yang ada. Tiba saatnya Lili harus menempuh jalan yang sudah menjadi pilihannya dari awal. Dia menegakkan bendirinya, matanya mengarah pada satu titik.

"Selamat malam. Saya Jhon Browns." Pria paruh baya itu membungkukkan badannya sesaat. "Terima kasih kepada semua tamu undangan, telah meluangkan waktunya menghadiri pesta kecil-kecilan yang sangat sederhana ini."

Lili meletakkan gelas itu di meja. Bibirnya menyeringai sesaat.

"Tujuan utama BR Group mengadakan acara ini untuk memperingati ulang tahun perusahaan. Malam yang sangat berharga untuk kita semua. Di mana dulu saya benar-benar memulainya dari bawah." Jhon tersenyum. “Menaikkan omset, harga saham, yang sempat mengalami keterpurukan pada era orang tua saya.”

Lili berjalan mendekati panggung dengan perlahan. Tempat di mana pria paruh baya itu berdiri.

"Selain itu, melalui pesta malam ini. Saya akan mengenalkan keturunan saya, anak saya, penerus saya." Jhon tersenyum sangat teduh.

Lampu sorot mengarah pada sosok pemuda tampan yang berdiri tidak jauh dari panggung. Pria itu membungkukkan badan pada semua tamu. Jhon mengisyaratkannya untuk mendekat. Pemuda itu pun berjalan menghampiri Jhon. Jhon menepuk pundaknya sesaat saat pria itu telah berdiri di sampingnya. Jhon tersenyum bangga.

Lili tersenyum menyaksikan itu, dia masih melangkah dengan berlahan, tinggal beberapa langkah lagi.

"Dia William Browns. Dia akan melanjutkan pejalanan saya, dia akan menjadi CEO BR Group, menggantikan saya."

Riuh tepuk tangan dan ucapan selamat dari para tamu memenuhi ruangan, dan Jhon juga ikut bertepuk tangan sambil menatap Will dengan bangga. Menjadi latar belakang yang sangat sempurna untuk moment seperti ini.

Jhon tersenyum. "Setelah pembangunan yang saya tangani selesai, saya akan beristirahat dan semua urusan BR Group, akan diatasi oleh anak saya, Will."

William Browns, dia memeluk ayahnya sesaat. Senyum manis di bibirnya terukir.

Lili mendekat, dan semakin dekat. Dia sudah ada di samping panggung, dia melangkahkan kaki dengan derap langkah yang anggun dan berkelas, dia menaiki panggung. Sontak kehadirannya itu membuat semua mata mengarah pada gadis cantik itu. Tidak terkecuali Jhon, dan Will. Mereka terkejut sekaligus tidak percaya dengan penglihatannya.

Lili tersenyum, lalu menundukkan tubuh sesaat pada para tamu. Lili menatap Jhon dengan cermat. Pria tua itu menatapnya dengan mata terbelalak. Lili mendekat dan langsung memberikan pelukan hangatnya pada Jhon. "Hallo Dad, I'am back." Lili menepuk punggung Jhon berkali-kali. "Jangan tegang Ayah."

Lili merengangkan pelukannya, dia memberi tatapan kerinduannya pada pria paruh baya di depannya. "Lili sangat merindukanmu." Kerinduan yang sesungguhnya.

Pria itu masih dalam mode shock dan tercengang. Begitu juga dengan Will. Dua pria itu sama-sama mengepalkan tangannya saat ini.

Lili masih dengan senyumnya. Dia beralih menatap Will, lalu memeluknya. "Kenapa terkejut Kak? Apa kau pikir aku sudah mati waktu itu?" Lili merenggangkan pelukannya, dan menatap Will dengan senyum bahagianya, senyum bahagia dalam artian yang berbeda.

Semua tamu masih bertanya-tanya, siapa gadis cantik yang tiba-tiba hadir itu. Dan memeluk kedua pria yang menjadi pimpinan mereka.

Will masih dengan kepalan tangannya. "Kau ...."

"Iya. Aku Lili, Kak. Gadis yang 10 tahun yang lalu kalian buang." Lili tersenyum sinis.

Will mengeraskan rahangnya. "Pergilah. Sebelum aku memanggil satpam untuk mengusirmu." Will menatap dengan tatapan ancaman.

Lili kembali tersenyum. "Jika yang kau ancam gadis 10 tahun yang lalu, mungkin dia akan takut." Lili berjalan merebut microfon dari tangam Jhon lalu menghadap ke para tamu.. "Selamat malam. Maaf mengejutkan semuanya."

Jhon maju merebut microfon yang di genggam Lili dengan kasar.

Bukannya bergeming, Lili tersenyum manis lagi. Dia menyentuh tangan Jhon yang menggenggam microfon. Jhon berusaha menjauhkan microfon dari bibir mungil Lili. Lili menggenggamnya dengan kuat, tidak rugi selama ini dia berlatih fisik dengan Gary.

"Ayah ...." Lili mengeluarkan suara manjanya.

Semua terbelalak. "Ayah?" Bahkan setiap tamu menanyakan hal yang sama.

"Maaf, jika kepulanganku tidak memberi kabar pada Ayah. Mohon ampuni aku. Jangan marah ya? Aku merindukan Ayah."

Lutut dan kaki Jhon lemas. Will melangkah maju dan mendekat. Dia melepaskan dengan paksa genggaman tangan Lili. Will mengomando satpam untuk mendekat dan mengusir Lili.

Lili kembali merebut Microfon dengan cepat. "Hallo. Saya Lili Browns. Saya anak kedua dari Jhon Browns. Ayah saya sangat terkejut karena sebelumnya saya tidak memberi kabar akan pulang." Lili menundukkan badan di depan Jhon sesaat. "Maafkan aku, Ayah."

Satpam tiba, tapi tangan Jhon menghentikan semuanya. Will tidak lagi berani berbuat lebih. "Pestaku tidak boleh berantakan." Jhon menatap Will sesaat.

Lalu menatap Lili dengan tajam. Dia meraih microfon dari tangan Lili. Jhon menghadap ke para tamu, lalu mengeluarkan senyum palsunya. "Ya. Dia anak kedua saya. Maaf, Saya terlalu terkejut dengan kedatangannya. Sebelumnya tidak ada kabar sama sekali." Jhon menundukkan kepala sesaat.

Lili mendekat lalu merangkul pinggang Jhon. Tangan Jhon ada di pundak Lili, dan mengelusnya dengan lembut. Lili tersenyum. Seperti dugaannya, pria tua ini terlalu takut dengan reputasinya selama ini. Mau tidak mau dia harus mengakui Lili sebagai keturunannya.

"Saya perkenalkan, dia Lili Browns. Anak perempuan saya."

Lili melepaskan rangkulannya dan kembali membungkukkan badan. Riuh tepuk tangan pun menyambutnya malam ini dan semua akan dimulai dari sekarang. Lili tak dapat menghentikan senyumnya. Dia ikut bertepuk tangan, matanya mengarah pada Jhon dan Will secara bergantian. Mereka sibuk menatap Lili dengan Tajam.

"Sialan." Will terus mengumpat dalam hatinya. Gadis muda yang dulu ingin dimusnahkannya. Kini muncul lagi, bagaimana jika dia mengambil semuanya, bagaimana jika gadis ini merusak keluarganya. Dia mulai menyusun hal-hal yang bisa diperbuatnya untuk menyingkirkan Lili.

Tamara Browns. Dia baru datang, cukup terlambat untuk ukuran nyonya pesta. Kedatangannya disambut dengan hal yang sangat mengejutkan. Mungkin jantungnya sedang diuji. Wanita tua yang merebut tempat Rose 10 tahun silam itu, melenggang mendekati panggung dengan mata merah menahan marah. Tangannya mengepal, apalagi ketika gadis yang mengingatkannya pada wanita perebut pria nya itu tersenyum.

Will yang mengetahui kedatangan mamanya itu langsung turun panggung dan menghampiri Tamara. "Mama." Will menatap Tamara dengan nanar.

"Apa yang terjadi?" Tamara mengarahkan tatapannya pada Lili. "Kenapa dia masih hidup?" Tamara beralih menatap Will. "Kenapa dia di sini?" Tamara menatap Lili sejenak lalu kembali pada Will.

Tubuhnya gemetar. Will memeluknya. "Sabarlah Ma. Kita akan menyingkirkannya lagi, kali ini Will sendiri yang akan memastikannya." Will berbisik di sela pelukannya.

Lili juga menyadari kehadiran Tamara. Dia tersenyum, lalu berjalan turun panggung menghampiri tamara. "Lepaskan Mama, Kak. Aku juga ingin memeluknya. Aku juga sangat merindukannya." Kata-kata manis itu sontak membuat Tamara semakin geram. Dia menahan amarah yang meletup dalam dadanya.

"Ma, ingat. Ayah akan marah jika kita merusak malam yang sangat berharga baginya." Will melepas pelukan. Dan menatap mata Tamara. Will meyakinkan Tamara untuk tidak bertindak ceroboh.

Ketika tubuh Will menjauh, seketika Lili menyambar tubuh Tamara dan memeluknya dengan erat. "Senang melihatmu lagi. Selama sepuluh tahun Lili menunggu moment seperti ini. Lili pastikan kali ini, semua akan kembali pada tempat yang seharusnya." Lili merenggangkan pelukannya. Kedua tangannya masih mengapit lengan Tamara. Lili tersenyum. "Hmmm, aku sangat merindukanmu Mama."

Lili menyembunyikan perasaannya sekarang dengan sangat sempurna. Semua mata tertipu oleh senyum manisnya. Hanya tiga orang dari pesta ini yang mengetahui segala kepalsuannya.

Jhon yang sudah berdiri di samping Tamara, merangkul pundak Tamara dengan lembut. "Ayo kita menyapa tamu yang lain." Pria tua itu berbicara dengan lembut.

Lili melepas apitannya pada lengan Tamara. Sejujurnya dia geram dengan adegan sok romantis ini, mereka masih bisa bahagia setelah semua yang mereka lakukan pada dia dan Rose. Oke, berbahagialah dahulu. Sebelum kalian menuai apa yang kalian tanam.

Lili menahannya. Dia kembali tersenyum. Jhon membimbing Tamara menjauh, Will mengikuti kedua orang tuanya. Lili tidak mau kalah. Dia sudah meniatkan ini dari awal. Dia ikut melangkah, mengikuti langkah mereka yang sebenarnya sangat dibencinya.

"Selamat datang Nona Lili Browns atas kedatangannya yang mengejutkan semua orang. Sungguh kejutan yang sempurna. Dengan pesta ini juga kita jadi mengenal keluarga Browns dengan keseluruhan. Untuk para Tamu, silahkan menikmati acara malam ini, selamat bersenang-senang." Pembawa acara menutup acara inti dengan suara renyah, dan senyuman yang manis.

Lili sejenak menoleh pada pembawa acara, lalu tersenyum dan melambaikan tangan dengan anggun. Lili kembali berbalik, lalu mengikuti Keluarga Browns nya.

"Kenapa kau masih di sini?" Will menoleh saat menyadari Lili mengikutinya juga.

Lili tersenyum, lalu melingkarkan tangan di lengan Will. "Kak. Aku kan juga keturunan Jhon Browns. Saat ayah akan menyapa tamunya, bukankah aku harus ada. Setidaknya aku harus berkenalan dengan orang-orang yang akan bekerja untukku di masa depan."

Will menyeringai. "Jangan harap. Kau tidak akan bertahan di sini Adik. Aku sendiri yang akan memastikannya. Aku akan menjadikan semua tempat adalah neraka untukmu." Will menekankan setiap kata yang keluar dari mukutnya.

"Uuhh ... bukankah itu terlalu jelas. Kau mengancamku di hari pertama kita bertemu lagi setelah 10 tahun lamanya. Setidaknya berpura-puralah menyambutku dengan hangat." Senyum manis terus tersungging dari bibir manis Lili.

Tamara mendengarnya, dia menghentikan langkah dan berbalik menatap Lili dengan tajam.

"Ada apa Mama?" Lili tersenyum.

"Jangan panggil aku Mama dengan mulut kotormu itu."

Jhon menyentuh pundak Tamara. "Ayo. Belum saatnya kita mengumbar emosi." Jhon menenangkan Tamara.

Tamara sosok wanita yang sangat membenci mengalah, bersabar, dan menunggu. Tamara sangat geram dan kesal pada Lili. Di saat apa yang ditunggu-tunggunya hadir malam ini, pernyataan jika Will adalah penerus BR Group. Kenapa wanita dari masalalu suaminya ini juga hadir.

"Tidak bisakah dia di usir saja? Aku tidak mau melihat wajahnya." Tamara menatap Jhon.

"Kita harus bersabar dulu. Tiap kebahagiaan butuh proses, ‘kan?" Jhon membimbing Tamara untuk meneruskan langkahnya. "Untuk sekarang kita biarkan saja dulu. Nanti setelah acara ini, kita akan memikirkan selanjutnya."

Lili tersenyum miring. Suara Jhon memang lirih, tapi telinganya masih dengan jelas mendengar semua ucapan Jhon. "Kebahagiaan butuh proses. Benar. Tapi karma juga butuh proses, kalian sedang menuju tempat itu."

Tamara kembali menghentikan langkahnya. Dia kembali berbalik dan menatap Lili. "Jika kau terus berbicara hal konyol dengan mulut kotormu. Aku akan menjambakmu dan menendangmu dari tempat ini."

Lili kembali menyeringai. "Aku sangat penasaran dengan hal itu. Tapi ..." Lili melirik Jhon. "Ayah tidak akan membiarkanmu merusak pesta ini. Ya ‘kan, Ayah?"

Jhon hanya meliriknya sesaat. Lalu kembali menatap Tamara. "Yuk."

Tamara terpaksa menurut.

Mereka berjalan kembali mendekati salah satu kolega bisnis Jhon. "Terima kasih sudah hadir, Tuan Edwin." Jhon tersenyum manis, Tamara juga. Mau tidak mau dia menyisihkan dulu emosi dalam hati nya.

"Selamat malam, Tuan. Senang melihat keluarga sempurna, Tuan Jhon." Orang yang bernama Edwin itu menatap mereka berempat satu persatu. "Mempunyai anak yang hebat-hebat pasti sangat bangga."

Jhon tersenyum pahit. "Tuan datang bersama siapa?"

"Tunangan saya. Kebetulan sedang ke toilet." Edwin menatap Lili. "Tunangan saya salah satu fans nya anak, Tuan."

"Fans?" Tamara mengerutkan alis.

Edwin tersenyum. "Dia adalah model dan actor. Benarkan Nona?" Edwin menatap Lili.

Lili menyambutnya dengan senyuman. "Bukan aktor, tapi hanya sesekali menjadi bintang iklan." Lili masih mengumbar senyum manisnya. "Maaf, Tuan. Keluarga saya tidak terlalu tahu jika saya berkecimpung di sana." Lili mentap Jhon dan Tamara. "Maaf. Lili hanya ingin punya kesibukan." Lili menyatukan kedua tangannya dan memasang ekspresi manja yang membuat Tamara muak melihatnya. "Jangan marah. Jika Lili sudah di perusahaan nanti. Lili tidak akan jadi model lagi."

Siapa yang peduli kau berhenti atau tidak. Yang pasti, aku akan memastikan kau tidak akan menunjukkan wajahmu itu di perusahaanku. Amit-amit. Tamara hanya mengucapkan itu dalam batinnya, sambil mata yang terus menatap Lili dengan tajam. Wanita tua itu menyeringai. "Kau belajar banyak rupanya."

Edwin menatap Tamara. "Benar Nyonya. Anak Anda ini tahu bagaimana cara tidak menyusahkan orang tua. Kalian pasti bangga." Edwin tersenyum.

Lili menatap Tamara. "Ini semua atas didikan Mama dan Ayah. Tanpa kalian, Lili yakin, Lili tidak akan sekuat ini kan??" Lili tertawa sumbang dan tawa itu disambut dengan tawa Tuan Edwin.

Jhon mau tidak mau ikut tertawa. Lili menatap Tamara sesaat. "Ya, tanpa kalian, aku tidak akam seperti ini. Terima kasih karena telah mengajarkanku semuanya selama ini. Sungguh pelajaran berharga."

"Yah, Will mau ke sana dulu. Ada teman Will." Will berbisik pada Jhon dan Lili masih mampu mendengarnya.

Jhon mengangguk pelan.

"Saya permisi dulu, Tuan Edwin." Will menundukkan kepala pada Tuan Edwin.

Tuan Edwin menyambutnya dengan gerakan yang sama. "Silahkan, Tuan." Lili menatap Will yang berjalan menjauh sesaat. Lalu kembali fokus pada Tamara dan Jhon.

"Kalau begitu. Silahkan menikmati malam ini, Tuan. Saya permisi dulu menemui tamu yang lain." Jhon berpamitan dengan Tuan Edwin.

"Silahkan, Tuan. Terima kasih." Tuan Edwin tersenyum pada Jhon, Tamara , dan Lili.

Lili membungkukkan badan sebelum mengikuti kembali Tamara dan Jhon.

Tamara menghentikan langkahnya dan menatap Lili. "Kau tidak ada kerjaan? Kenapa mengikuti kami terus? Menyebalkan."

Lili hanya tersenyum sambil mengangkat alisnya.

"Ayo Ma. Jangan pedulikan dia." Jhon kembali mengajak Tamara melanjutkan jalannya.

Jujur, dia sakit hati dan kecewa. Ayah kandungnya seperti ini padanya karena salah paham masa lalu. Lili menghela napas panjang. Kakinya kembali mengikuti langkah kaki sepasang paruh baya ini.

Dia kembali untuk balas dendam, tapi tidak dapat dipungkiri jika ada sebersit rasa di hatinya pada Jhon, Lili merindukan Pria tua itu. Sambutan yang pernah menjadi mimpi terindahnya kini hanya sebatas mimpi buruk. Jhon memang benar-benar tidak memperdulikannya. Dia sangat mencintai keluarganya sekarang. Lili kembali menghela napas panjang. Bersabarlah. Kau kembali bukan untuk pelukan seorang Ayah. Kau kembali untuk mengambil apa yang mereka ambil.

Lili memainkan satu wajah yang sebetulnya sangat bertentangan dengan hatinya saat ini. Dia berbincang dan bercanda dengan semua tamu yang dihampiri oleh Jhon dan Tamara. Lili terus dengan semangat menunjukkan dirinya, karena misi pertamanya diketahui semua pihak bahwa dia adalah Lili Browns, anak dari Jhon Browns. Di mana dunia tahu hanya William lah anak dari keluarga Browns.

Tatapan dan lirikan sinis dari Jhon ataupun Tamara, menjadi hidangan utama nya malam ini.

***

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height