Defective Love/C4 First Kiss
+ Add to Library
Defective Love/C4 First Kiss
+ Add to Library

C4 First Kiss

Tidak sengaja Lili memejamkan mata. Ini ciuman pertamanya, dia gugup dan ingin menolak. Tapi apa yang dirasakannya saat ini membuatnya memiliki keinginan untuk sedikit lebih lama menikmatinya.

Ups ... bukan yang pertama. Yang pertama adalah tadi malam. Saat dia pura- pura terpejam.

Gary menghentikan ciumannya. Dia menjauh dua senti dari wajah Lili. Lili membuka mata, dia menatap Gary. Pria itu juga sedang menatapnya.

Entah kenapa mata Lili mengarah pada bibir Gary. Gary mengecup bibir Lili sesaat.

"Maaf." Gary menatap mata Lili. "Aku tidak tahan."

Lili tersenyum tipis. Gary mengerutkan alis. "Kau tersenyum?" Gary seketika menggembangkan senyumnya.

"Apa aku tidak boleh tersenyum?" Lili memegang tangan Gary yang masih di rahangnya dan melepaskannya dengan paksa. Lili kembali meraih gelas yang menyisakan satu tegukan. Lili meminumnya.

Gary tersenyum. "Itu artinya aku boleh mencium bibirmu mulai sekarang?" Gary mengerutkan alis menunggu jawaban.

"Kenapa bertanya? Semalam saja kau menciumku seenaknya tanpa bertanya terlebih dahulu." Lili meletakkan kembali gelas dalam genggamannya.

"Kau tahu? Kau belum tidur?" Gary tergagap. "Seharusnya kau bilang kalau kau belum tidur. Setidaknya itu kan ciuman pertama kita." Gary menatap Lili. "Haruskah aku ulangi lagi." Gary menatap bibir Lili.

Lili seketika berdiri. "Ayo pulang." Lili berjalan menjauh.

Gary ikut berdiri dan sedikit berlari lalu langsung merangkul pundak Lili. Gary mencium pipi Lili sesaat. "Aku mencintaimu." Gary berbisik.

Lili tersenyum tipis. Dalam pikirannya saat ini ada banyak keraguan dan ketakutan tersendiri. Harus bagaimana dia setelah ini, kenapa juga dia harus senang. Lili menghela napas pelan.

***

"Kenapa Syutingnya harus sampai malam?" Gary menggenggam tangan Lili.

"Aku tidak tahu. Sekarang lepaskan. Aku harus masuk." Lili tersenyum.

"Hati-hati. Hubungi aku jika selesai." Gary membelai kepala Lili dengan lembut.

Lili mengangguk pelan. Gary melepas genggamannya, dia menatap gadisnya berjalan masuk menuju gedung tinggi di depannya.

Gary kembali ke mobil dan meraih ponsel di dasbor sampingnya. Dia menghubungi seseorang.

"Ibu."

"Hallo sayang. Bagaimana kabar mu? Bagaimana dengan adikmu? Kalian sehat kan? Sudah makan?"

"Kami sehat. Tadi sudah makan. Lili sedang syuting iklan Bu, aku baru saja mengantarnya."

"Jangan terlalu lelah. Oke. Katakan pada Ibu dan Ayah jika kalian butuh sesuatu."

"Iya. Ibu dan Ayah jaga kesehatan ya."

"Tentu saja sayang. Oh iya, kata Ayah uang semester kalian sudah ditransfer tadi pagi."

"Iya."

"Kau mau bicara dengan Ayah?"

"Gary ingin bicara dengan Ibu dan Ayah. Bisa Ibu loudspeaker?"

"Ada apa sayang? Ada masalah?"

Gary diam. Dia menarik napas pelan.

"Sudah Ibu Loadspeaker. Sekarang bicaralah."

"Ibu, Ayah."

"Iya Ayah di sini Nak." Tuan Wang bersuara.

"Aku mencintai Lili."

"Dia adikmu, jadi itu keharusan." Nyonya Wang.

"Bukan sebagai adik. Tapi sebagai seorang wanita."

Hening. Tidak ada jawaban ataupun suara.

"Apa kalian marah? Dan melarangku? Dia selalu menolakku Ibu, Ayah. Dia takut kalian marah, dia takut akan menyakiti kalian." Gary menghela napas pelan. "Aku sangat mencintainya." Gary menyentuh dada nya sendiri. Ada perih yang berasal dari sana.

"Sejak kapan?" Suara Nyonya Wang bergetar.

"Sudah lama, tepatnya sejak pertama melihatnya didepan rumah, Ibu."

"Kenapa tidak pernah mengatakannya? Bagaimana Lili? Apa dia juga punya perasaan yang sama?"

"Gary takut Ibu. Gary takut kalian akan memisahkan kami. Gary yakin Lili juga punya perasaan yang sama, tapi dia menyembunyikannya. Dia terlalu takut untuk mengakuinya. Dia mencintai kalian, dia tidak mau mengecewakan kalian."

Nyonya Wang terdengar menghela napas palan.

"Nak. Semua ada di tangan kalian. Ayah, ataupun Ibu, tidak akan pernah melarang atau membatasi kalian. Maaf jika Ibu mwmbebani pikiran kalian, Ibu tidak akan marah. Sungguh."

Gary terdiam. Dia ingin menangis. Cerita tragis dari cinta antara kakak dan adik yang ada dinovel tidak terjadi padanya dan Lili. Dia sangat bersyukur untuk itu. Walaupun di novel secara jelas menerangkan hubungan pemerannya, sedangkan dia, Lili dan keluarga Wang tidak ada hubungan apa pun.

"Ibu merestui kalian. Ayah juga kan Yah?" Suara lembut Nyonya Wang.

"Iya sayang. Ayah akan selalu mendukung apapun keputusan kalian. Tidak ada yang salah dengan hubungan kalian. Apa lagi yang harus ditakutkan."

Gary bernapas lega. "Benarkah?"

"Iya sayang. Apa pun yang membuat kalian bahagia. Kami akan mendukung." Tuan Wang menambah keyakinan dan kepercayaan diri dalam diri Gary.

"Terima kasih." Gary akhirnya meneteskan air mata. Kali ini air mata bahagia. Dia tersenyum lega, semua keinginan dalam hati sudah terungkap semua.

"Sama-sama. Jaga kesehatan, jaga Lili. Jaga dan lindungi dia sebagai seorang Kakak. Dan cintai dia sebagai seorang kekasih."

Gary tersenyum mendengar nasehat Nyonya Wang. "Baik Ibu. Akan aku lakukan." Gary diam sejenak. "Ayah?"

"Ayah mu sudah kembali ke dapur lagi. Katanya ada menu baru."

Gary mengangguk pelan. "Baiklah kalau begitu Ibu. Salam untuk Ayah. Jaga kesahatan. Gary mencintai kalian.'

Sambungan diputus. Gary kembali meletakkan ponselnya pada dasbor. Dia tersenyum manis. Lalu menoleh menatap pintu utama gedung dimana Lili sedang disibukkan di sana.

***

Gary melumat, menyecap dengan dalam bibir gadis dalam kukungannya ini. Gary merebahkan gadis itu di sandaran sofa dengan tangannya yang masih tetap merangkul bahunya, dia terus memainkan tangan kirinya di rahang gadis cantik itu. Gary mempercepat ritmenya. "I Love You." Gary masih sempat mengucapkan kata cinta di sela-sela ciuman mereka.

Gadis yang sedang melakukan pergulatan bibir dengan Gary itu adalah Lili. Dia sedang melingkarkan tangan kirinya di pinggang Gary dan tangan kanannya memeluk boneka pinguin dengan erat.

Sudah satu minggu mereka berkencan semenjak Lili secara resmi meminta ijin pada Tuan dan Nyonya Wang. Tidak sulit memang, tapi dia lega. Kala itu penuh dengan debaran di dada saat mengutarakannya.

Lili merepas boneka dari tangannya lalu menjauhkan tubuh Gary. "Sudah." Lili menggigit bibir bawahnya. Lili terengah-engah karena ciuman menggebu Gary.

Begitu juga dengan napas Gary. "Kenapa? Kau tidak suka dengan gaya ciumanku?" Dia berbicara sambil tersendat dengan deru napasnya sendiri.

Lili menggeleng. "Bukan begitu."

"Lalu apa?" Gary kembali mendekat lalu mengecup bibir Lili sesaat.

"Aku tidak mau kita melewati batas." Lili menunduk.

Gary tersenyum tipis lalu memeluk Lili dengan erat. "Kau tidak mau melewati batas jika dengan ku??"

"Aku mau. Tapi belum saatnya."

Gary mengecup puncak kepala dengan lembut. "Apa pun yang kau inginkan sayang."

Lili perlahan melingkarkan tangannya di pinggang Gary.

"Kak." Lili memanggil Gary dengan suara pelan.

"Hmm ...."

"Jika nanti aku punya kesempatan kembali. Aku ingin mengembil apa yang mereka ambil."

Gary terdiam sesaat. "Untuk apa? Bukankah kau sudah bahagia hanya dengan begini saja?"

Lili tersenyum. "Aku bahagia. Sangat-sangat bahagia. Tapi aku tidak bisa berbohong pada diriku sendiri, aku tidak pernah melupakan mereka." Lili menghela napas panjang.

"Aku tahu. Tapi balas dendam itu tidak baik untukmu sendiri, Sayang." Gary kembali mengecup puncak kepala Lili.

"Aku tidak balas dendam yang seperti kau pikirkan. Aku hanya akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku saja. Aku tidak akan melukai atau membunuh mereka." Lili melirik Gary. "Apa pun yang terjadi nanti. Kau tetap di sampingku ‘kan? Bersamaku."

Flashback Off.

***

Gary merenggangkan pelukannya. Tangannya masih di pinggang Lili. Dia mengecup bibir Lili sesaat. "Yuk." Gary benar-benar melepas lingakaran tangannya dan menggenggam tangan Lili mengajaknya masuk keruangan kebanggaannya.

"Sudah sangat lama tidak kemari." Lili melihat sekeliling. "Banyak yang berubah."

"Tidak hanya dekorasi, sebagian besar karyawan juga sudah berubah."

Lili menatap Gary. "Kau memecat karyawan Ayah?"

Gary menggeleng. Dia tersenyum. "Bukan memecat. Mengistirahatkan. Mereka juga sudah tua. Aku masih tetap memberi mereka tunjangan kok. Jangan khawatir."

"Lalu, siapa yang masih tetap di sini?"

"Chen dan pak Andra." Gary membuka pintu ruangannya lalu mengajak Lili masuk.

"Chen anak kecil pencuci piring itu?" Lili mengingat-ingat.

"Hmm ...." Gary kembali mengangguk. "Dia hanya setahun di bawahmu. Bukan anak kecil."

"Dalam ingatanku dia masih anak kecil." Lili tersenyum.

"Bermalam lah di sini. Aku akan mengenalkanmu pada semuanya besok. Dan ...." Gary diam sesaat. "Yang katamu anak kecil itu, dia tumbuh setinggi aku sekarang. Jangan sampai kamu jatuh cinta padanya." Gary duduk di sofa dan menarik Lili ke dalam pangkuannya. "Kau milikku. Ingat itu."

Lili tersenyum. "Sayang sekali." Lili menghela napas. "Kenapa dia harus tumbuh menjadi pemuda tampan? Bagaimana jika aku tegoda?"

Gary seketika mengangkat tubuh Lili dan membawanya keranjang yang ada di ruangan itu. Lalu membaringkannya dan mengukungnya. Gary menatap Lili, dia sangat merindukan gadisnya itu. Gary selesai dengan pendidikannya setahun lebih awal. Mau tidak mau dia harus berpisah dengan Lili. Karena jika saat itu dia mengikuti egonya, dia hanya akan menambah beban keluarga Wang.

Gary mencium bibir Lili sesaat. "Aku merindukanmu. Jangan menggodaku, bagaimana jika aku marah?"

Lili tersenyum. Dia mengangkat kedua tangannya lalu menyentuh dengan pelan setiap inci wajah Gary. Tangannya berhenti tepat di bibir Gary, Lili menatap bibir itu.

Gary tidak mau memperpanjang waktu lagi, dia kembali mencium Lili. Gary melumat bibir Lili dengan segenap kerinduan yang dia rasakan. Mereka berdua memejamkan mata.

Lili membalas lumatan Gary. Kini mereka sudah memainkan lidah masing-masing. Menyecap dengan pelan dan lembut. Terasa hangat dan intim. Ciuman perlahan melambat. Lalu berhenti. Lili membuka mata. Gary masih setia menutup mata sambil tersenyum dan sedikit terengah-engah.

Gary membuka mata, dan mengecup kening Lili sesaat. "Kau lapar?"

Lili mengangguk.

"Ayo masak." Gary bangun, menyempurnakan berdirinya lalu mengulurkan tangannya pada Lili.

Lili menyambut tangan itu. Dia berdiri di atas ranjang. "Aku mau punggungmu."

Gary tersenyum. Dia lalu memunggungi Lili, memberi Lili tempat ternyaman yang menjadi favoritnya selama ini.

Gary berjalan dengan menggendong Lili di punggug lebarnya. Dia menuju dapur.

"Kau mau memasakkanku apa?" Lili menciumi pipi Gary sambil tangannya yang memeluk dengan erat.

"Kau ingin makan apa?"

"Hmm ...." Lili berpikir. "Aku bingung. Apa saja lah, asalkan kamu yang masak. Aku akan memakannya."

Gary tersenyum. "Baiklah, Ratu." Gary menurunkan Lili dan memintanya duduk di kursi yang baru saja diambil Gary dari depan. Gary kembali mengecup kening Lili sebelum memulai mengolah bahan makanan menjadi hidangan lezat.

Gary tersenyum. Lalu menjauh dan mulai memasak.

Lili memperhatikan setiap gerakan Gary, aroma lezat menyapa indra penciumannya. "Hmmm.... Perutku akan segera dimanjakan." Lili menggelinjang ceria tak tentu arah.

Gary tersenyum.

Makanan lezat sudah tersaji di piring putih. Gary membawanya mendekati Lili. "Mau makan di sini atau di kamar?"

"Kamar? Maksudmu ruanganmu?" Lili mengerutkan alis.

Gary mengangguk.

"Yuk." Lili berdiri lalu berjalan menuju Ruangan Gary, Gary mengikuti langkah kaki Lili.

***

"Selamat pagi sayang." Gary mengecup kening Lili. Gadis yang masih berada dalam pelukannya itu sedikit menggeliat. "Bangunlah. Sudah siang. Anak-anak akan segera datang." Gary mengguncang tubuh kekasihnya itu pelan. "Ayolah. Bagaimana jika ada yang melihat kita berpelukan di ranjang seperti ini."

Lili kembali menggeliat. "Kau keluarlah. Aku masih ingin tidur sebentar lagi." Mata indahnya masih terpejam.

"Aku akan mandi. Nanti kalau aku selesai mandi kamu masih tidur maka ...." Gary menyeringai licik.

"Maka apa?" Mengeratkan pelukannya.

"Aku akan mengambil hadiahku. Hadiah yang harusnya aku dapat setelah kita menikah. Bagaimana?"

Lili diam. Mungkin dia mencerna apa yang didengarnya. "Apa hadiah yang kamu maksud??" Lili membuka mata.

Gary mengangkat alis sambil tersenyum nakal.

Lili langsung berbalik dan memunggungi Gary. "Mandilah. Aku akan bangun sebentar lagi."

Gary mencium punggung dan kepala belakang Lili sesaat sambil terkekeh geli. Setelah itu dia beranjak dari ranjang.

Gadis nya itu memang mau bermesraan dengannya, tapi pantangan baginya jika lebih dari itu. Keluarga Wang selalu menekankan pada mereka untuk tidak melewati batas.

Selesai mandi Gary menatap ranjang secara otomatis. Tidak ada Lili di sana, Gary hafal, pasti gadis itu sedang berdiri di depan kompor memanaskan air untuk membuat segelas susu. Segelas susu hangat di pagi hari, itu menu tetap sarapannya.

Gary mengeringkan rambutnya di depan kaca sesaat. Lalu keluar menyusul Lili. "Belum mendidih?"

Lili menoleh sambil menggeleng.

Gary menghampiri dan mengacak-acak rambut Lili. Gary mencium pipi Lili sesaat. "Mandilah. Akan aku buatkan."

Lili tersenyum. "Terima kasih." Lili masuk.

Sambil menunggu mendidih, Gary menyiapkan susu bubuk di dalam gelas. Sambil sedikit mempersiapkan beberapa bahan yang biasa dia gunakan untuk membuat hidangan.

"Selamat pagi ...."

Gary seketika menoleh kearah pintu. "Sudah datang?"

"Bagaimana kabarmu hari ini Bos? Apa gadisku belum datang?" Kennan memasuki restaurant dengan sikap selengekannya.

"Belum." Gary menuangkan air panas yang baru saja mendidih.

"Kau membuat susu? Untukku?" Kennan maju hendak mengambil susu yang sedang diaduk Gary.

"Ish ... lancang." Gary seketika membawa segelas susu itu menjauh.

"Sayanggg ku ...." Kennan tiba-tiba berteriak saat kekasih sekaligus temannya bekerja datang.

"Memalukan." Milly, gadis beruntung sekaligus sial karena memiliki kekasih seperti Kennan pun mendengus kesal.

Gary memasuki ruangannya. Lili masih di kamar mandi. Gary meletakkan susu itu di meja, dan berdiri di depan pintu kamar mandi. "Sayang ... perlu bantuanku?" Gary terkekeh.

"Enyahlah." Lili berteriak dari dalam.

"Baiklah. Susunya aku letakkan di meja. Aku ke depan. Anak-anak sudah datang." Tidak ada sahutan. Gary meninggalkan ruangan itu dan menutup pintu dengan tenang.

"Selamat pagi." Fang dan Dannia datang bersamaan. Mereka adalah koki restaurant milik keluarga Wang, Gary baru saja merekrut mereka.

"Kita nanti berkencan ya? Aku merindukan itu ..." Kennan terus menggoda Milly.

Milly sedang membantu Pak Andra menyiapkan beberapa bahan pokok.

"Pagi." Sapa Pak Andra.

Gary tersenyum. "Sehat pak."

Pak Andra menjawabnya dengan berpose ala binaragawan.

"Selamat pagi ...." Suara renyah dari pemuda tampan dan cantik. Chen.

Chen berjalan dengan santai, senyum cerianya seketika hilang. "Kak wangi?"

Chen berteriak ketika mendapati Lili keluar dari ruangan Gary.

"Aku Lili. Bukan wangi." Lili mendengus. Dia heran. Anak kecil ini selalu memanggilnya dengan Kak Wangi. Alasannya sederhana, karena namanya adalah Lili, Lili adalah bunga dan bunga itu wangi.

Semua mata mengarah pada gadis yang baru saja berteriak itu. Kennan dan Milly saling pandang sesaat. Di depan mereka berdiri seorang gadis cantik yang semalam baru saja mereka lihat wajahnya di layar tv kabel. Sebuah peragaan busana di Paris.

Fang dan Dannia juga. Mereka tidak terlalu mengenal Lili, tapi dia cukup merasa ternganga. Ada seorang gadis, itu yang paling penting. Selama beberapa bulan mereka di sini, bahkan hampir satu tahun. Tidak ada gadis satu pun di dekat Gary. Sebenarnya hari ini sedikit membuat mereka lega. Gary masih di jalurnya.

Pak Andra yang juga mengenal Lili seketika tersenyum. "Lama tidak bertemu. Kau menjadi sangat cantik." Pria tua itu memuji.

Lili tersenyum dan menundukkan tubuhnya pada Pak Andra.

Chen berlari ke arah Lili lalu memeluknya sesaat. "Wah kau cantik sekali sekarang?" Chen kembali memeluknya. "Aku merindukanmun, Kak." Chen kembali melepas pelukannya. "Bagaimana aku sekarang?" Chen berputar. "Aku sudah menjadi seorang pria. Sebaiknya, kau mulai mempertimbangkanku." Chen mengangkat alisnya dengan sombong.

Lili hanya menatap Chen tanpa ekspresi.

Gary geram mendengar kata-kata panjang itu. Dia sebenarnya cukup tahu, jika anak kecil dan karyawan yang paling disayangnya ini menyukai Lili dari dulu. Gary berjalan mendekat, dan seketika menggenggam tangan Lili. "Maaf semuanya. Aku kenalkan. Dia Lili Browns. Kekasihku."

Chen menganga seketika. "Kekasih?"

Di waktu yang sama Lili tersipu malu sambil kembali menundukkan badannya. Riuh tepuk tangan pun terdengar nyaring.

"Selamat. Aku lega. Aku pikir kau penyuka sesama jenis dan akan merebutnya dariku." Milly terkekeh.

"Aku hanya milikmu, Sayang." Kennan tersenyum manja.

"Bukankah kalian Kakak adik?" Chen tidak terima. Dia berteriak dan merasa kesal.

"Kami tidak pernah jadi Kakak Adik." Gary melepaskan genggamannya dan merangkul bahu Lili.

"Lalu bagaimana denganku?" Chen menurunkan nada suaranya.

Pak Andra mengerutkan dahi. "Apa hubungannya denganmu?"

"Aku menyukai Kak Wangi Paman."

"Tenang saja. Kau tampan." Lili menyela dan memperhatikan postur tubuh Chen. "Dan tinggi. Pasti banyak yang mau denganmu."

"Kalau aku tampan dan tinggi. Kenapa tidak Kakak saja yang menjadi kekasihku?" Chen kembali meninggikan suaranya.

"Kamu tidak lebih tampan darinya." Lili menujuk Gary. "Itu masalahnya."

Chen mendengus.

Semuanya justru tertawa. Chen sudah dewasa, tapi dia seperti anak kecil. Dia terlihat dewasa hanya dibeberapa moment saja. Itu pun jarang.

Pria Cantik. Itu julukan karyawan untuk anak itu.

***

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height