Denting Cinta/C2 Part 1. Lupa Karena Memang Tak Penting
+ Add to Library
Denting Cinta/C2 Part 1. Lupa Karena Memang Tak Penting
+ Add to Library

C2 Part 1. Lupa Karena Memang Tak Penting

Setelan jas berwarna navy, kemeja berwarna putih, tanpa ada dasi melingkar di kerah bajunya. Tampilan biasa tapi masih terlihat menawan buat siapa saja yang melihatnya. Kaki panjangnya melangkah ke dalam rumah salah satu sahabatnya. Apa ada perayaan hari ini? Maka jawabannya adalah tidak.

Mereka hanya akan berkumpul seperti biasa. Meskipun dua dari mereka sudah memiliki pasangan dan berkeluarga, tapi persahabatan mereka tetap sama.

"Assalamualaikum." David masuk dengan wajah super datarnya. Sedangkan di dalam kediaman Kiev, sudah ramai oleh teman-temannya.

Cokhi sudah duduk dengan tenang dengan tiga triplets di depannya yang tengah tertawa-tawa karena lelaki itu menggelitiki secara bergantian bocah kecil itu. Sedangkan Marvel sedang sibuk dengan putrinya yang sudah berusia dua tahun dan aktif-aktifnya berjalan.

Sydney dan Sha? Mereka sibuk di dapur membuatkan makanan dibantu dengan pembantu Sydney.

"Waalaikum salam." jawab mereka serentak. Mata David langsung mengarah di mana Cokhi berada dan langsung menoyor kepala lelaki itu.

"Bocah udah ketawa-tawa begitu masih lo gelitikin. Udah ngantuk noh." begitu katanya sambil duduk di sofa rumah Kiev. Tiga bocah lelaki itu memang sudah terlihat sekali mengantuk dan kelelahan, tapi Cokhi masih saja terus menggoda mereka.

Tapi tiba-tiba, seorang bocah kecil lainnya malah menjerit-jerit karena tak terima di gendong oleh sang ayah. "Pa... Pa." teriaknya. Gadis kecil itu memang masih belajar berbicara, jadi belum bisa memanggil secara utuh.

David menggeleng melihat aksi dari putri Marvel itu, gadis kecil yang sudah terlihat keras kepala ketika dewasa nanti. Sudah berjalan lebih dari dua tahun ketika sahabat-sahabatnya menikah. Tapi sampai sekarang, dia bahkan belum bertemu dengan gadis yang cocok dengannya.

Lamunannya buyar, ketika ada kerusuhan lain di sana. Bahkan Cokhi sudah meninggalkan kembar tiga yang sudah terlelap di kasur lantai.

"Astaga Bang, gue nggak nyangka kalau lo bisa secakep ini." suara asing tertangkap di pendengaran David. Kepalanya menoleh dan mendapati seorang gadis sedang berdiri berhadapan dengan Cokhi.

Tentu saja kening David mengkerut melihat itu. Cokhi memang mudah dekat dengan siapapun, berbeda sekali dengannya. Entah siapa lagi kenalan Cokhi kali ini dan ikut bergabung di perkumpulan mereka.

Masih dengan melihat interaksi kedua orang tersebut, tiba-tiba gadis asing itu menatap ke arahnya. David hanya menatap Datar saja kepada gadis tersebut kemudian mengalihkan tatapannya di mana Marvel dan Love sudah berpelukan dengan romantis. Akhirnya, Marvel bisa menidurkan putrinya juga setelah perjuangan panjang.

"Kiev lama banget sih." komentar Marvel ketika Kiev tak terlihat Batang hidungnya sejak tadi. David akan menjawab ketika Cokhi menggandeng tangan gadis asing tersebut.

"Sini-sini Kyra, gue kenalin sama sahabat-sahabat gue. Lo pasti udah kenal sama Marvel kan?" gadis tersebut mengangguk dan menyapa Marvel.

"Hai Bang." begitu sapanya sambil tersenyum.

"Hai Ky. Masih kerja aja jam segini." gadis yang dipanggil Kyra itu memang masih menggunakan pakaian kerjanya.

"Iya Bang. Pulang kantor langsung ke sini tadi."

"Dan yang di depan itu, namanya David. Kalau wajahnya nggak ada manis-manisnya, maklumin aja ya. Soalnya dia itu jelmaan kuda." itu suara Cokhi kembali terdengar. David tak peduli dengan ucapan Cokhi dan asyik dengan semangkuk bubur kacang hijau dicampur roti tawar, dan mutiara buatan Sydney.

Lelaki itu hanya mengangguk saja dengan Kyra tanpa berbasa-basi mengucapkan 'Hai' kepada gadis itu. Sama sekali tidak menyadari jika Kyra tak bisa mengalihkan tatapannya dari David.

°•°

Semua orang sudah berkumpul di ruang keluarga rumah Kiev dan Sydney. Sang tuan rumah, Kiev, sudah kembali ke rumah dan berkumpul bersama sahabat-sahabatnya. Pekerjaannya yang padat membuatnya telat pulang.

"Gimana bisnis kamu Ky?" Marvel yang bertanya.

"Lumayan Bang." gadis itu mengangguk sambil mengunyah. Tapi tatapannya sesekali melirik ke arah David. Dia sungguh tak menyangka dengan apa yang di lihatnya malam ini.

"Kalau gue nikah nanti, gue mau elo yang buat pakaian buat gue." Cokhi bersuara membuat Kyra menatap lelaki itu.

"Nggak masalah. Yang penting bayarannya deal aja."

"Kayaknya kamu perlu buka toko baru lagi deh Kyr." suara Sydney terdengar. Tapi gelengan Kyra, membuat Sydney mengerutkan kening. "Kenapa?" tanyanya lagi.

"Nanti dulu lah Bos, masih ngumpulin modal." kalau ada yang bertanya apa sebenarnya pekerjaan Kyra? Jawabannya adalah designer.

Gadis itu bekerja di perusahaan milik Sydney dua tahun terakhir ini. Dan juga memiliki bisnis kecil-kecilan yang digelutinya selama hampir lima tahun.

"Tapi Ra, kamu hebat banget sih. Mendesign buat perusahaan, buat bisnis kamu sendiri, idenya kok kayaknya nggak habis-habis?" itu suara Sha. Perempuan dari Marvel itu memang suka sekali dengan pakaian yang Kyra buat.

"Enggaklah Kak, kalau habis, berabe nanti urusan. Nggak dapet duit lah aku." mereke mengobrol ringan sambil sesekali tertawa kecil.

Karena keasyikan mengobrol, Kyra bahkan lupa dengan tujuannya datang ke rumah Sydney. Entah kenapa, bosnya itu memiliki sahabat-sahabat yang begitu luar biasa. Lebih tepatnya adalah sahabat suami bosnya. Kecuali lelaki tampan yang dia ketahui bernama David itu.

Kembali menatap David yang sedang mengobrol dengan ketiga sahabatnya, senyum Kyra tercetak. Kalau boleh Kyra menilai, dia tak setampan ketiga sahabatnya. Tapi bagi gadis itu, David memiliki sesuatu dalam dirinya yang tak bisa dia abaikan begitu saja.

"Kyra!" sebuah panggilan membuat gadis itu menoleh dan meledakkan balon bayangan yang berada di atas kepalanya.

"Ya. Bos." begitu jawabnya kepada Sydney.

"Coba kamu tunjukkan bagaimana desain pakaian baru yang kamu buat." Kyra mengangguk dan mengeluarkan sketch yang sudah di susunnya, kemudian di berikan kepada Sydney. Sambil menunggu Sydey berkomentar, Kyra kembali melirik ke tempat di mana David berada. Lelaki itu masih saja terlihat mengobrol dengan wajah datarnya.

Tapi tak jarang, David juga tertawa pelan bersama mereka. Melihat itu, Kyra juga ikut melengkungkan bibirnya menjadi sebuah senyuman. Gadis itu sepertinya sudah terpikat oleh David.

"Aku suka gaun yang ini." Sha tiba-tiba bersuara membuat Kyra menyudahi tingkah konyolnya dengan terus menatap David.

"Itu konsepnya sarimbit Mbak. Kalau ada acara kondangan kan bisa sarimbitan sama keluarga. Kita bisa membuat gaun semacam itu dengan ukuran kecilnya. Jadi Mbak Sha dan Love bisa samaan nantinya." Kyra menjelaskan. Sha sudah suka sekali melihat sketch gaun kecil untuk ukuran anak dari mulai umur dua tahun sampai dewasa itu.

"Ok. Saya tunggu contoh gaunnya ya." ucap Sydney mengakhiri perbincangan masalah pekerjaan malam ini.

Sedangkan Kyra sendiri, pamit undur diri dari rumah bosnya tersebut untuk pulang ke rumahnya. Meskipun seandainya boleh, dia ingin tetap di sana dan memandangi David sepuasnya.

"He is my hero." begitu katanya dalam hati. Gadis itu berada di dalam taksi yang akan mengantarkannya ke rumah.

Sedangkan di tempat lain, David sedang duduk di kursi malas rumah Kiev. Lelaki itu menatap langit malam yang begitu hitam tanpa ada bintang di sana. Sesekali matanya terpejam entah memikirkan apa.

"Nglamun aja lo." Kiev datang membawakan segelas minuman untuknya. Marvel dan Cokhi sudah pulang lebih dulu, dan tinggal dirinya masih betah berlama-lama di sana.

David hanya menatap Kiev sebentar kemudian kembali menatap langit. Begitulah David, tak terlalu banyak bicara. Bangun dari baringnya, David meminum minuman yang dibawakan Kiev tadi.

"Gue pulang deh. Ngantuk banget." mendapatkan anggukan dari Kiev, David berlalu dari sana. Dia ingin segera sampai di apartemennya dan mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah.

Besok pagi, dia akan kembali melanjutkan aktifitas yang selalu sama setiap harinya.

•°•

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height