Dosa Berbalut Cinta/C9 Bersama Gavin
+ Add to Library
Dosa Berbalut Cinta/C9 Bersama Gavin
+ Add to Library

C9 Bersama Gavin

Sachi sedikit tergesa memasuki sebuah mall besar di wilayah Surabaya Selatan. Sachi melirik arloji, sudah jam enam lebih. Padahal tadi ia janji jam setengan enam sudah di lokasi. Namun siapa sangka lalu lintas di jalan protokol Surabaya hari ini begitu padat. Membuatnya terjebak begitu lama.

Berkali-kali ia mengirim pesan wassapp kepada Gavin. Dan meminta maaf atas keterlambatannya. Bahkan gavin menelponnya agar tidak terburu-buru. Tapi tetap saja Sachi merasa tidak enak.

Kemarin siang saat menengok mahasiswanya, Gavin mengajak Sachi hang out. Wanita cantik itupun mengiyakan di hari Jum'at karena sabtu ia libur.

Dan sekarang malah ia yang terlambat. Sachi merasa tidak enak dengan mantan kekasihnya itu. Karena pada dasarnya Sachi bukanlah tipe ngaret.Tapi untungnya sebelum masuk mall ia sempatkan sholat maghrib di masjid mall yang kebetulan ada di area parkir. Jadi, sekarang ia bisa sedikit tenang jika nanti ngobrolnya sampai malam. Karena waktu isya' bisa dilkakukan di rumah.

Sachi celingukan mencari sosok Gavin. Tadi ia mengatakan kalo sedang di resto pizza. Seseorang melambaikan tangannya ke arah Sachi. Ternyata Gavin berada di meja pojok, pantas saja tidak terlihat.

“By the way. Wait. Not just gavin?” batin Sachi

Ada empat lelaki dan seorang wanita di sana. Siapa mereka?

Tapi sachi terus mendekati meja mereka.

"Hai Sachi..." Sebuah suara menyapanya dan menatap ke arahnya.

"Haii.... Mas Arga." Wajah Sachi sedikit tercengang melihat ada Arga, salah satu teman kuliahnya ada di sana.

"Kaget yaa ...," bisik Arga begitu Sachi duduk disamping Gavin.

Sachi hanya tersenyum menatap teman satu jurusannya itu, walaupun sebetulnya Arga adalah kakak tingkatnya. Hanya saja karena banyak mengulang mata kuliah akhirnya mereka sering bertemu.

"Mau pesen apa?" tanya Gavin sambil menyentuh punggung tangan Sachi yang ada di paha.

"Aku mau salad sama garlic bread aja deeh. Minumnya lemon tea," pinta Sachi

"Chi, ini resto pizza. Lha malah pesan salad," olok Arga.

"Suka-sukalah, Mas!" bantah Sachi.

"Chi, kamu tambah cantik aja ..." ucap Arga sambil melirik Gavin yang sudah melotot ke arahnya.

Sedangkan Arga hanya terkekeh melihat ekspresi temannya itu.

"Pantesan Gavin sampai gak bisa move on. Sumpah. Aku gak nyangka kamu bisa kayak gini. Padahal dulu cuek abis. Apalgi sama penampilan. Ckckck..." cerocos Arga tanpa jeda, sembari membuka memorinya tentang Sachi sewaktu di kampus dulu.

Ucapan Arga benar-benar membuat Gavin melotot lebih lebar ke arahnya.

Sedangkan Sachi hanya hanya tersenyum kecil emndengar celotehan Arga.

Beberapa teman merekapun ikut terkekeh sebebntar karena ocehan Arga.

"Oh.. ya kenalin ini Dara," kata Arga mengenalkan seorang cewek cantik dengan baju lumayan seksi.

"Ini Nathan. Kekasihnya Dara. Dulunya ia petinggi dari UWM," lanjut Arga mengenalkan seorang lelaki berwajah blasteran indo-spanyol.

Arga sengaja memakai kata petinggi seperti istilah yang sering dipakai Sachi waktu mengoloknya di zaman kuliah.

Sachi akan terkekeh mendengar Arga yang mengcopas istilah yang dia pakai. Begitupun kali ini Sachi kembali terkekeh seperti senyumnya di waktu kuliah dan hanyaitu yang Arga tahu.

"Terus yang ini Abimanyu. Dulunya sih dia petinggi UPN," sambung Arga masih mengenalkan Sachi kepada seorang lelaki berjambang bertubuh tegap dengan wajah khas indonesia.

Sachi mengulurkan tangannya bergantian kepada ketiga rekan Arga dan Gavin.

"Kalau yang di sebelah kamu, gak perlu aku kenalin kan? Petinggi darimana?" goda Arga.

Sachi hanya menoleh ke arah Gavin yang sudah tidak karuan mukanya.

"Haa haa ... mas Arga ... lihat mukanya Mas Gavin masih sama kalu bete dari duluk" komen Sachi yang membuat Gavin bahkan Arga sedikit terhenyak.

"God ... Sachi belum lupa sama aku ...," batin Gavin.

"Sachi itu gak inget apa pernah disakitin Gavin kayak dulu," batin Arga sedikit ada penyesalan melihat gelagat aneh Gavin.

"Aku ambil salad dulu yaa ..." Sachi bangkit dari kursinya menerima mangkuk dari seorang waitress.

Sachi memilih bermacam buah untuk mengisi mangkuk saladnya. Sausnya ia pilih yang original. Sachi tidak begitu suka saus salad yang banyak pilihan. Lidahnya sudah terlalu familiar dengan yang ori.

Setelah memenuhi mangkuknya, Sachi kembali ke mejanya, bersama Gavin dan kawan-kawannya.

"Gaess ... abis ini kita langsung naik yaa ...!" ajak Gavin.

"Siap ...!" jawab mereka kompak.

"Mau kemana?" Sachi yang masih menikmati garlic breadnya.

Sesekali Gavin mencuri potongan roti Sachi dan menyuapkan ke mulutnya. Tentu saja bukan kemauan Sachi, tapi Gavin yang menuntun agar menyuapinya dengan menarik tangan wanita itu ke mulutnya. Pemaksaan ronde pertama.

"Maksa banget sih Loe, Vin. Sachi juga gak mau nyuapin kamu," seru Abimanyu yang sedari tadi terus memperhatikan keduanya tanpa berkedip.

"Mau kok ya sayang. Kamu masih mau kan nyuapin calon suami kamu?" kata Gavin dengan pe-denya.

"Calon suami pe-ak ...!" Dengan konyolnya Sachi memukul lengan Gavin dengan garpu.

"Yang ada mantan ...!" Sambung Sachi, membuat semeja terpingkal-pingkal apalagi melihat wajah blushing Gavin membuat mereka semakin girang. Kapan lagi coba ngerjain seorang Gavin yang terkenal dingin. Tapi ternyata bisa berubah hangat di depan cewek bernama Sachi.

"Eh, Vin jangan kepedean jadi masa depannya Sachi deeh ...!" oceh Arga.

"Kalo dia mau kenapa enggak ...." solot Gavin.

"Kalo aku gak mau gimana?" sahut Sachi.

"Aku bawa ke dukun ...."

"Dosen macam apaa tuh ?"

Haa haa haa ... tawa mereka terdengar lagi.

Kehadiran Sachi ternyata mampu menghidupkan suasana.

"Chi, ntar mampir toilet. Kamu ganti baju kamu pakai ini yaa ...!" Gavin menyerahkan sebuah paper bag dengan logo sebuah departemen store ternama.

"Apaan nee Mas?"

“Udah ganti pakai aja nanti sebelum naik.”

"Uwiik.. niat banget kamu, Vin," Komen Nathan

"Ya.. gak mungkin kan, aku ngajak Sachi yang pake baju kerjanya?"bBisik Gavin ke Nathan.

Setelah membayar bill makanan. Mereka menuju ke lantai tertinggi dari mall tersebut.

Sedangkan Gavin membawa Sachi ke toilet. Memintanya berganti kostum.

Sachi hanya menurut saja, ia segera masuk toilet dan mengganti bajunya.

Sachi sedikit ragu melihat isi paper bag dari Gavin.

Sebuah mini dress berwarna hitam berlengan pendek dengan belahan dada rendah.

berkali-kali ia menatap dirinya di depan cermin besar toilet.

Sachi memoleskan sedikit bedak dan lipstik berwarna pink ke wajahnya, menutupi mukanya yang pucat karena gaun yang ia kenakan sedikit terbuka.

Setelah siap, sachi keluar toilet menemui Gavin yang sudah menunggunya.

Begitu Sachi keluar, Gavin hanya menganga tak percaya melihat penampilan sosok wanita yang pernah ia sia-siakan itu.

"Mana baju kamu yang tadi?" tanya Gavin.

Sachi menyerahkan paper bag yang tadi dibawa Gavin.

"Kita simpan dulu di mobilku!" ajak Gavin.

Akhirnya mereka menuju mobil Gavin menyimpan paper bag tadi.

"Tunggu ...!" pinta Sachi sebelum Gavin menutup pintu mobilnya.

Sachi meletakkan tas besaranya. Ia mengeluarkan sebuah tas selempang kecil dari dalam tasnya. Dompet dan gawai ia pindahan ke ats selempang kecilnya.

"WoW ...! Penampilan yang sempurna.” Berkali-kali Gavin hanya menelan salivanya, bahkan menahan di ujung selangkangkangnnya yang sudah mulai bereaksi menatap Sachi.

"Yuuk ..!” Ajak Sachi, walaupun ia sendiri tidak tahu mau dibawa kemana oleh Gavin.

Keduanya masuk ke sebuah ruangan. Gelap dan berisik, itu penilaian awal Sachi. tapi karena Gavin terus menggandengnya ia merasa aman-aman saja.

Gavin mengedarkan pandangannya mencari rekan-rekannya yang sudah lebih dulu masuk.

Seseorang melambaikan tangan kepadanya, Arga. Mereka duduk melingkar di sofa yang disediakan.

Gavin dan Sachi duduk berdampingan. Sachi tahu dirinya kini berada di salah satu club terbesar di Surabaya. Ada perasaan tidak nyaman. Namun bukan Sachi, jika tidak mampu beradaptasi dengan baik.

Meskipun tidak nyaman ia masih bisa tersenyum dan tergelak.

"Chi mau minum apa?" tanya Gavin

"Soft drink aja ya Mas ...," kata Sachi.

Minuman beralkohol, adalah salah satu jenis minuman yang selama ini ia hindari.

Gavin hanya perlu melambai tangan maka para waitress Club langsung mendatanginya. Gavin memesan minuman untuknya dan untuk Sachi.

Dua menit kemudian, pesanan mereka datang.

Gavin menyerahkan soft drink yang tadi Sachi minta.

Gavin menuangkan cairan merah ke dalam gelasnya. Lalu menyesapnya dalam bebepa teguk.

Sachi tahu itu minuman beralkohol, tapi entah ia tak tahu nama dan jenisnya.

Yang penting ia aman dari alkohol cukup.

Saat sachi lengah. Gavin dengan iseng menuangkan isi botolnya ke dalam kaleng softdrink Sachi.

Saat tenggorokan terasa kering, Sachi meneguk soft drinknya tanpa rasa curiga.

Sesaat kemudian ia merasa kepalanya pusing sekan tak mampu menopang tubuhnya. Sachi menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa sambil memjamkan matanya. Namun, saat ia merasa pusingnya reda, kini ia malah mersa kepalanya lebih ringan.

Sachi mulai melupakan suami dan rumah tangganya.

Sachi menghabiskan softdrinknya. Sachi semakin merasa dirinya terbang.

Gavin yang melihat reaksi Sachi, segera berbisik ke Arga.

"Ga, mobil Sachi kamu bawa yaa.. Antar ke apartemen aku. Aku antar Sachi dulu." Gavin menyerahkan kunci otomatis dan STNK Sachi ke Arga.

"Okay broo ...!" sahutnya.

Gavin menuntun Sachi keluar club menuju mobilnya.

Gavin langsung meluncur ke apartemennya.

***************

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height