+ Add to Library
+ Add to Library

C11 ERDEOS

NAH, BIASANYA aku sudah terbiasa dengan luka fisik dan sebagainya, tapi saat wajahmu berada di tumpukan salju sedingin kurang dari 10 derajat Celcius, satu-satunya yang bisa kuucapkan adalah, “Eeeeeeeh?”

Sepatu bot berderap di depanku, dan saat itu aku mengira aku sudah gila—karena tak ada satu pun sepatu bot di dunia yang bisa bicara—tapi kemudian kulihat tangan pucat yang diulurkan. Rupanya Vooir. “Kita berada di Gua Frid. Salah satu Situs Exatra di Erdeos. Cepat berdiri, nanti kau bisa sakit.”

Aku mendongak dan meraih tangannya. “Gua—apa?” tanyaku, menggeleng-gelengkan kepala dari tumpukan salju seperti anjing yang kebasahan.

Aku mendongak ke atas. Tak ada yang spesial dari gua ini, selain permukaannya yang berkilau keunguan dan lembing-lembing es yang menggantung di langit dengan cara yang kurang bersahabat. Luasnya kurang lebih dua puluh meter, yang artinya tak akan ada masalah soal ruangan, tapi saat aku menoleh ke seberang, aku melihat Ned, muntah-muntah tak terkendali di sisi gua.

Aku berusaha tidak memperhatikannya. “Jadi—em, ini Erdeos?”

“Nah, nah, entah benturan tadi memengaruhi kepalamu atau apa, tapi lihatlah ke depan, Nak.” kata Rogeid, mendesing sambil membersihkan butiran-butiran salju dari tubuhnya.

Kalau boleh jujur, aku tidak begitu memercayai Rogeid setelah percakapan sengitnya dengan Vooir, tapi aku tetap menoleh ke depan dan terkesiap, “Wow.”

Di depan, ratusan flora fauna yang aneh berjajar dengan cahaya redup. Seandainya aku bisa melihat lebih dekat dan main tebak-tebakan National Geographic sebentar, tapi ada terlalu banyak benda yang sulit dicerna. Misal saja dedaunan merah-biru yang berbentuk seperti tangan manusia, kadal hitam-biru berekor sepanjang ular dengan ujung kemerahan seperti api, burung-burung merah berjambul aneh yang mengintip di pohon dengan batang memilin, dan berbagai tumbuhan warna-warni yang menusuk mata. Warna-warna itu terlalu mencolok sehingga tak cocok dengan salju, seperti buatan anak lima tahun yang menoreh cat pada kanvas dengan asal-asalan.

“Jadi ... ini ... Erdeos,” gumamku.

“Yah, yah, planet berpenghuni terkecil dari Lima Dunia. Mereka sedang mengalami musim dingin parah,” Rogeid mendengus dan melempar setumpuk salju dari kepala nyaris-botaknya. “Sebetulnya mereka bukan daerah yang dingin, tapi mereka sering mendapat cuaca ekstrim akhir-akhir ini. Nah, ayo, saatnya kita keluar dari gua terkutuk ini—”

“M-maaf?” Ned mengerang, mengelap setetes muntahan dari dagunya. “Aku masih belum selesai dengan urusan—”

Lalu dia memuntahkan seember cairan menjijikan ke tanah.

Aku berjengit. “Eh ... sepertinya bakal butuh waktu lama.”

Rogeid mengernyitkan hidungnya dengan tidak suka. “Warga sipil. Bukankah aku telah memperingatkanmu, Nona Elledoire?”

“Kurasa bukan cuma warga sipil yang bisa muntah,” tukas Vooir dingin.

Setelah Ned selesai dengan urusan lambungnya yang menyiksa, kami akhirnya beranjak keluar dari gua. Angin menerpa wajahku seperti tombak es, dan salju membenamkan kakiku sampai nyaris tak kelihatan. Di cuaca begini, sebagai bocah Amerika, seharusnya aku sudah menggigil setengah mati dan menggigiti semua kuku jemariku sampai habis. Namun yang kurasakan hanyalah wajah yang seakan diterpa semut-semut tak kasatmata dan angin yang membelai rambutku. Aku bertanya-tanya apakah ini ada hubungannya dengan pakaian hitam rancangan Rogeid. Sulit mengakuinya, tapi pakaian ini lumayan juga.

Saat kami melewati beberapa pohon besar memilin yang ditutupi salju—Ned hampir mati karena tak sengaja menabrak tumbuhan bertotol-totol merah yang mengeluarkan asap beracun—Rogeid melempari kami bertiga pakaian berbulu aneh dari kursi piringannya.“Kita tak bisa terlihat dengan baju itu,” katanya, sebelum menutupi tubuhnya dengan kain berbulu panjang yang membuatnya terlihat seperti pria tua setinggi tujuh kaki.

Aku menangkap salah satu yang berwarna gelap. “Dibuat dari apa ini?”

“Bulu Dagren. Satwa endemik Erdeos,” kata Vooir sambil menutupi tubuhnya dengan kain berbulu.

“Dag—apa?”

“Anggap saja seperti ... antelop. Antelop berbulu tebal.”

“A-a-antelop?” desis Ned, wajahnya sepucat hantu. Ia menangkap pakaian berbulu terang. “A-aku nggak tahu planet asing punya s-sesuatu seperti itu.”

Aku menunduk untuk melewati sulur-sulur hijau-kemerahan. Di atasnya terdapat sarang-sarang burung yang tertutupi daun. Cuaca ekstrim, pikirku. Aku bertanya-tanya apakah itu alasannya kami jarang menemui hewan.

“Kalian butuh ini.” Rogeid mengeluarkan beberapa keping logam. Caranya mengeluarkan benda-benda itu dari kursinya, sementara ia terlihat seperti pria setinggi tujuh kaki, kelihatan—yah ... kurang menyenangkan. “Ini penerjemah. Kekaisaran memastikan—dengan keras—setiap orang di sini agar selalu transparan. Yah, perkara sulit dari menyatukan lima bangsa asing dari dunia berbeda adalah bahasa. Kau tak bisa bayangkan bagaimana dulu kami menjalankan rencana Araez Exatra. Saat itu kami—”

Vooir segera meraih dua buah dari telapak tangannya. “Satu buah per orang.”

Benda itu berbentuk segitiga tipis dengan celah di tengah-tengahnya. Aku menyadari Rogeid memiliki satu yang tersemat di telinganya, tapi Vooir tidak.

Aku meraih sekeping. “Ini penerjemah? Kenapa kau nggak pakai?”

“Orang-orang militer diwajibkan mempelajari bahasa tanggung jawabnya,” kata Vooir, mengedikkan bahu. “Termasuk aku.”

Jadi itu kenapa aksennya aneh, pikirku. Aku menyematkan logam penerjemah di ujung daun telinga. Benda itu berdenging keras sesaat seperti radio rongsok yang ditendang pemain rugbi. Aku mendesis. “Itu lumayan sakit.”

“Ini nggak akan merusak pendengaranku, kan?” tanya Ned parau, menyematkan salah satu ke telinganya.

“Kalau itu masalahnya, seharusnya benda-benda ini tidak diedarkan dari awal,” kata Rogeid ketus. “Dasar warga sipil tak tahu—”

“Bisakah kita lanjutkan perjalanannya?” sela Vooir tajam, melotot pada asisten setengah-botaknya.

Rogeid kelihatannya tak bisa berkata-kata, dan kami kembali menyusuri hutan lebat penuh salju Erdeos. Saat ada pria tua yang merengut tepat di belakangmu, situasinya agak ... kurang bagus. Jadi aku tak bisa bicara banyak, dan hanya mengamati tumbuhan-tumbuhan aneh dan beberapa binatang kecil yang mengintip lewat sarang mereka. Namun situasinya berbanding terbalik dengan Ned. Aku tak tahu pasti apa yang terjadi setelah ia menyematkan penerjemahnya, tapi satu hal yang bisa kupastikan adalah; Ned telah kembali menjadi Ned. Bangkit dari kubur. Hidup kembali. Apalah. Pokoknya, sekarang dia sedang mengamati sesuatu yang kelihatan seperti jeli rambut abnormal yang tergeletak di tanah dan menggumam, “Ini penemuan terbaik abad ini!”

Firasatku mengatakan kalau jeli-alien itu bukan makhluk hidup. “Memangnya apa sih yang kau perhatikan?”

“Aku nggak tahu. Tapi ini keren banget. Lihat deh.” Ned menjulurkan tangannya yang dilumuri lendir berwarna biru keunguan. “Kayak sesuatu yang muncul di film-film, kan?”

Tanpa sadar, aku melangkah menjauh. Aku merasakan kalau benda itu bukan sesuatu yang ... layak disentuh. “Em, apa ada yang tahu apa pastinya ... lendir ini?”

Aku bisa melihat wajah Rogeid berwarna merah, seperti setengah menahan tawa dan menahan buang angin sekaligus, dan Vooir berdeham sambil pura-pura menatap cakrawala.

Aku berdeham. “Aku ulangi, ada nggak orang yang tahu apa pastinya benda di tangan Ned?”

“M-mungkin sebaiknya kau tak perlu tahu, Redwine.” Ini pertama kalinya aku melihat Vooir tergagap. “Bukan sesuatu yang bagus.”

“Memangnya apa sih?” Ned mengambil lendir di atas salju dan menempatkannya di telapak tangannya. “Ini telur binatang alien atau apa?”

“Kotoran,” kata Rogeid. “Kau dengar aku, kotoran.”

Aku berjengit ke belakang dan terjatuh. Ned terpaku dan menatap lendir itu dengan tak berdaya.

“Yah, bentuknya u-unik.” Ned cepat-cepat membersihkan lendir itu dari tangannya. “Em, kuharap k-kotoranku juga berbentuk seperti ini.”

“Nggak apa-apa, Ned. Kau nggak perlu mencoba,” kataku parau. “Nggak ada yang merasa senang menyentuh itu.”

Ned menelan ludah. “Aku bukan maniak kebersihan. Ini langkah pertama mencapai—”

“Mencapai ketololan sepanjang masa. Nah, apa ada yang masih ingat kenapa kita semua di sini?” sergah Rogeid ketus.

Setelah penemuan menjijikan itu, Ned, Vooir, Rogeid, dan aku melanjutkan perjalanan. Di atas, cakrawala membentang pucat, persis seperti salju di bawahnya. Aku menoleh dan menyadari tumbuhan-tumbuhan di sini tidak ada yang kelihatan layak dimakan. Tak ada buah, sayuran, atau apa pun sebutan alien untuk kedua benda itu. Di saat-saat langka, aku menemukan sesuatu yang terlihat seperti jamur—dan kalau kau setidaknya pernah menonton satu film dokumenter soal bertahan hidup di alam liar, jamur tidak selalu bisa disantap—tapi saat kudekati, semuanya mengerut dan berubah menjadi busuk. Sebaliknya, ada banyak benda-benda beracun yang berpotensi mengambil nyawamu, dan Ned senang—senang sekali—mengusik mereka semua. Aku bertanya-tanya kenapa Ned saat ini belum tewas secara mengenaskan.

Sementara itu, aku menyadari Vooir menatap gelangnya yang berkedip-kedip dengan resah. Aku juga bisa melihat Rogeid melotot, yang artinya itu bukan sesuatu yang bagus. Aku ingin menanyakannya, tapi firasatku mengatakan kalau itu adalah sesuatu yang ... pribadi. Kuputuskan sebaiknya tak semua pertanyaan perlu ditanyakan.

Aku tak tahu berapa lama kami telah berada di sini. Langit selalu berwarna putih, dan aku tak yakin bisa melihat matahari. Kupikir tak ada artinya menanyakan hal ini pada Vooir maupun Rogeid, karena bagaimanapun juga, segalanya tak akan berubah meski kau mengetahui di mana matahari sekarang. Perjalanan kami masih lama.

Ned menunduk untuk menghindari sulur hijau-merah. “Jadi, berapa umurmu?”

“Sama seperti kalian, menurut standar waktu Bumi,” jawab Vooir datar.

“Bagaimana kalau bukan waktu Bumi?”

Vooir masih menatap gelangnya. “Itu pertanyaan yang sulit.”

“Di planetmu, kalian makan apa sih?”

“Apa saja.”

“Bagaimana kalian berkomunikasi?”

“Bicara.”

“Apa teknologi kalian canggih?”

“Aldeoirgh adalah planet dengan teknologi termutakhir di Lima Dunia.”

“Kau ... lumayan nasionalis,” kataku, mengikuti pembicaraan mereka berdua.

“Itu kenyataannya,” kata Vooir defensif. “Salah satu alasan kenapa Araez Exatra bisa menghubungi kami, meskipun—”

Ia terdiam.

“Meskipun? Meskipun apa?” tanyaku. “Memangnya apa yang terjadi dengan Araez?”

“Kau pasti bertanya-tanya mengapa dia perlu memilih orang dari seluruh Lima Dunia,” ujar Vooir parau. “Araez Exatra adalah Esmerides tingkat tinggi. Dia lebih dari cukup untuk mencegah kepunahan.”

“Yah, setelah kau bilang begitu, aku jadi penasaran,” kataku. “Kenapa dia nggak mengurus semuanya sendiri?”

“Dia ... dia ... dia sekarat,” kata Vooir, suaranya tercekat. “Dia dieksekusi di Gunung Vlodmir. Dihancurkan sampai habis. Dia dihancurkan di tempat tinggalnya sendiri.”

Aku terkesiap. “Dia ... hampir mati? Selama ini dia—”

“Kau dan Takdir Araez lain adalah harapan terakhir kami, Redwine.” Vooir menatapku, mata birunya berkilau pilu. “Kumohon. Lakukan semuanya dengan baik, ya?”

“Aku—aku—” Aku tak bisa berkata-kata. Orang yang telah memberikan kekuatan super padaku ternyata sekarat. Kenapa Vooir tidak memberitahuku sejak awal? Jika begini, keyakinanku soal menyelamatkan semua orang jadi makin berkurang.

“Kalian hanya perlu berbaur,” kata Vooir. “Cari informasi tentang benda itu dari orang-orang di sini. Mereka mengetahui segalanya.”

“Yah, tapi—” aku merasa ragu-ragu, “aku masih belum bisa mengendalikan kekuatanku.”

“Sebagian besar orang-orang Erdeos memahami konsep Ikatan. Kau bisa mempelajarinya dari mereka,” kata Vooir. “Mereka juga punya seorang Takdir Araez. Tapi kami belum mengetahui siapa tepatnya.”

“Ada satu orang lagi selain aku?” tanyaku. “Oh, ya ampun. Coba saja kau bilang dari awal—”

“Lihat!” Ned berseru.

Kira-kira tiga meter di depan, pepohonan dan tumbuhan mulai menipis, dan cahaya redup mulai memasuki celah-celahnya. Kami berempat berjalan keluar dari hutan, melewati berbagai tumbuhan yang agak menyakitkan, dan aku bersama Ned terkesiap, “Wow.”

Sebuah taman seukuran stadion Super Bowl membentang. Di tengah-tengahnya terdapat danau yang menggelegak. Rerumputan dan bunga-bunga tumbuh subur di tanah. Jika di hutan tadi salju akan menutupi kakimu, di sini hampir tidak ada salju. Lusinan antelop aneh berjalan ke sana-kemari, mengunyah tumbuhan-tumbuhan segar dan rerumputan, atau meneguk air dari danau yang berkilauan. Kubilang mereka antelop, tapi mereka tidak persis seperti itu. Tanduk mereka berbentuk spiral dan memilin tak beraturan seperti puting beliung, bulu kelabu mereka sangat tebal sampai-sampai kakinya yang jenjang kelihatan pendek dan gemuk. Ini mungkin kedengaran aneh, tapi wajah mereka lebih mirip seperti anak anjing dibanding hewan ruminasia.

Kami berdiri di atas salju tipis dan menatap satu sama lain.

“Kupikir nggak ada salahnya membelai mereka,” kata Ned.

“Mereka Dagren,” kata Vooir. “Salah satu dari sedikit hewan Erdeos yang bisa bertahan hidup di cuaca dingin.”

Rasanya aneh saat mengetahui kami mengenakan bulu-bulu mereka. “Jadi, artinya mereka nggak berbahaya, kan?”

“Mereka akan menusuk punggungmu kalau kau terlalu mengusik mereka,” jawab Rogeid.

Aku mengerjap.

“Pengalaman.” Rogeid mengelus-elus punggungnya.

“Herbivora selalu ramah,” Ned berseru dan melompat, mengelus-elus kepala salah satu Dagren yang mengunyah rumput. Aku bertanya-tanya keberanian jenis apa yang Ned miliki untuk sanggup menyentuh hewan dengan tanduk setajam itu. Ia memekik. “Wah. Bulu mereka seperti bantal terempuk di dunia!”

Aku menebar pandangan ke kiri kanan kami. Segalanya kelihatan seperti surga. Di seberang, ada sebuah gua raksasa berwarna gading yang diselimuti sulur-sulur hijau. Aku tak bisa melihat apa pun di dalam, tapi karena itulah aku merasa penasaran.

Tanpa repot-repot berpamitan, aku berjalan menuju ke ambang gua. Hawa dingin menusuk tubuhku seperti tombak, padahal aku bersumpah tak pernah merasa kedinginan sebelumnya. Tak ada yang bisa kulihat selain bayangan-bayangan hitam.

Mungkin ini kedengaran tolol, tapi aku melangkah memasuki gua itu. Aku merasa seperti ada yang memanggilku. Sesuatu. Ada yang menarikku ke dalam sini.

Semakin dalam aku memasuki gua, semakin aku merasakan hawa dingin yang menusuk. Aku bertanya-tanya apakah hawa dingin ini bukan dingin cuaca. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, itu tidak mungkin. Di luar cuma ada antelop-antelop alien yang mengunyah rerumputan dan bermain di danau. Sulit memikirkan apa pun yang mematikan di tempat seindah ini.

Perlahan-lahan, mataku mulai terbiasa dengan kegelapan di gua. Aku menoleh ke belakang dan melihat cahaya luar yang membuat mataku menyipit. Aku memandang ke atas dan segalanya rata, berkilauan tapi tak ada lembing-lembing es mematikan yang akan membelah kepalamu jadi dua. Memang benar, tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Sesuatu mulai terlihat di kejauhan sana. Sesuatu yang pucat. Nyaris tak bergerak. Cahaya? Tapi tak ada cahaya yang berbulu—

Kemudian aku menyadari apa yang sebenarnya tertidur di sana.

Satu-satunya kata yang bisa kupikirkan adalah; naga. Ada naga putih berbulu yang tidur tepat di hadapanku. Cuping hidung besarnya kembang-kempis dan ia mendengkur. Tanpa sadar, aku mundur beberapa langkah. Keringat dingin bercucuran di dahiku. Saat kupikir semuanya akan baik-baik saja, aku malah menemui ini.

Namun saat kulihat lebih dekat, entah mengapa, aku merasa naga ini tidak kelihatan berbahaya. Aku berani bertaruh sepuluh dolar kalau naga ini sama sekali tidak suka menggigiti orang sampai mati. Mungkin cuma gigitan kecil. Benar, seperti anjing manis yang baik. Mungkin dia seramah seekor golden retriever. Perlahan-lahan, aku mulai mendekati naga itu kembali.

Saat dilihat lebih dekat, naga ini tidak kelihatan seperti naga. Maksudku, dia besar, punya sayap, bergigi tajam, dan terlihat seperti kadal kebesaran. Tapi ia tak bersisik seperti naga di film-film, melainkan diselimuti bulu-bulu tebal putih seperti burung merpati. Dia juga tidak bermoncong seperti kadal, tapi punya paruh aneh serupa pterodaktil—reptil prasejarah yang bisa terbang sekaligus mencaplok kepala pamanmu hidup-hidup—dan ia punya jambul tajam di balik kepalanya, yang menurutku cukup keren.

Ada aura aneh yang menyelimuti hewan ini. Rasanya dingin dan membeku, sekalipun aku telah memakai pakaian ajaib rancangan Rogeid. Mungkin jika aku masih di Amerika, aku bakal mengira aku berdiri di puncak Gunung Alaska tanpa busana. Tapi aku masih merasa naga-pterodaktil ini tidak berbahaya. Hawa dinginnya justru membuatku ... merasa penasaran. Seperti ia memanggilku ke sini. Ia menarikku ke dalam guanya.

Aku tak tahu apa yang kulakan setelah itu. Aku hanya ingat berjalan mendekati si naga hingga hampir menyentuh bulu-bulunya. Lalu tiba-tiba, mata besarnya terbuka.

Matanya. Besar. Mengilat. Berwarna-warni indah. Irisnya berwarna pelangi yang berpendar-pendar. Seperti berlian. Pupilnya seperti titik kecil hitam yang mengikat benang multiwarna itu dan mengendalikannya. Sebuah danau dari surga. Benar, surga. Aku pasti sudah berada di surga sekarang. Rasanya tak ada gunanya aku hidup lagi—

“LEON!” Aku mendengar Vooir menjerit.

Saat itu, aku merasakan sesuatu terputus di dalam diriku. Aku mendongak dan melihat naga itu, matanya terbuka lebar dan bulu-bulu di kepalanya menegak. Rasanya aku pernah melihat sesuatu seperti itu pada landak yang marah. Tapi meski aku menyadari itu, tak ada satu pun bagian tubuh yang bisa kukendalikan. Aku terdiam di sana seperti patung porselen pucat yang hampir pingsan. Membeku. Bukan pilihan yang bagus dalam menghadapi naga yang sewaktu-waktu bakal mengamuk—

Vooir meraih bagian belakang kain berbuluku dan menyeretku keluar.

Tepat saat itu, bulu-bulu di atas kepala si naga terlepas dan berdesing seperti ratusan panah, memantul-mantul di gua dan menusuk setiap benda yang ada. Aku merasakan sesuatu berdesing tepat di depan hidungku, tapi aku sudah terlempar keluar dan tercebur ke dalam danau.

“Apa-apaan itu tadi?” aku menjerit, menyembul keluar dari kubangan air. Dagren-Dagren di sekitar danau memekik dan berlarian menjauh. Tumbuhan air tergeletak di atas kepalaku, dan aku sama sekali tidak tahu apakah Dagren di sebelahku menginginkan tumbuhan ini atau kepalaku.

Vooir membungkuk sambil memegangi lututnya. “Itu—Dvittur—” ia terengah-engah. “Makhluk berbahaya di Erdeos. Mereka akan membunuh siapa pun yang memasuki teritori mereka.”

Aku mengerjap. Entah dari mana aku mendapat gagasan memasuki gua sendirian adalah ide yang bagus.

“Dvi—apalah. Bagaimana bisa ada makhluk seperti itu di sini?” tanyaku, memandang ke sekeliling. Segalanya masih begitu indah. Tak ada orang yang bakal mengira ada sesuatu yang mematikan di sini. Lebih-lebih lagi seekor naga.

“Aku tidak tahu. Yang jelas, mereka berbahaya,” kata Vooir, mengulurkan tangannya. “Dan jangan pernah dekati mereka lagi, Redwine.”

Aku meraihnya. Wajah beserta tanganku basah kuyup, tapi pakaianku tetap kering. Barangkali aku tak perlu mencuci baju. “Entahlah. Aku nggak tahu bagaimana, tapi aku merasa seperti dipanggil ke sana,” kataku parau, berusaha keras mengingat apa yang terjadi barusan.

“Hipnotisme. Dvittur punya keahlian itu.” Vooir menyingkirkan tumbuhan merah muda di atas kepalaku. “Intinya, jangan pernah mencoba-coba melakukan sesuatu seperti itu lagi.”

Aku menunduk. “Sori,” kataku. “Aku cuma penasaran—”

“Leon, apa yang terjadi?” Ned memekik, berlari dengan untaian bulu-bulu Dagren menggulung di jemarinya. “Kau—kau nggak apa?”

“Yah, cuma hampir dibelah dua dengan panah-panah berbulu,” kataku, memeriksa pantulan wajahku di permukaan danau. Aku terlihat seakan menghabiskan separuh hidupku dengan depresi. “Kau tahulah, perjumpaan supranatural harian yang biasa.”

Rogeid mendesing menghampiriku. “Astaga, apa yang—” Ia mendadak menatap tajam pada Vooir. “Nona Elledoire, lain kali awasi tanggung jawabmu dengan baik.”

Vooir tampaknya tak bisa berkata-kata dan menunduk. “Aku tahu,” katanya parau. “Maaf.”

“Aku tak bisa memercayai ini—” desah Rogeid, menggeleng-gelengkan kepala. Ia mengintip lewat celah kacamatanya. “Bagaimana aku akan menghadapi ayahmu?”

Vooir hanya terdiam.

“Kau melemah. Seperti yang diduga semua orang,” kata Rogeid tajam. “Sudah kubilang Kekaisaran seharusnya—”

“Rogeid. Cukup. Kita punya misi,” Vooir memohon. “Redwine, apa kau sudah merasa baikan?”

“Eh—yah, kayaknya,” kataku terbata-bata. Rasanya canggung mencampuri percakapan mereka.

“Em ... apa ada orang yang mau memberi tahuku apa yang terjadi?” tanya Ned, menatap Vooir, Rogeid, dan aku bergantian.

“Simpan dongengnya untuk nanti, Warga Sipil. Kita harus pergi.” Rogeid mendesing menuju pepohonan.

“Tunggu!” Ned memohon. “Apa itu artinya aku nggak bisa menemui mereka lagi?” pintanya sedih, memandangi sobat antelopnya yang menyantapi rumput.

“Kita lihat apakah Rogeid bakal menyetujuinya atau nggak,” kataku, berjalan menepuk bahu Ned. “Kita harus pergi sekarang. Ayo, Ned. Perjalanan kita masih jauh.”

Setelah Ned dengan berkaca-kaca mengucapkan selamat tinggal kepada para Dagren, kami pergi meninggalkan taman indah itu menuju pepohonan di depan. Aku bertanya-tanya apakah Ned mulai menjelma jadi putri dongeng atau apa. Dengan langkah lunglai, dia berjalan mengikutiku, terus-terusan menoleh ke teman-teman binatangnya dengan wajah sedih.

Kami melewati pepohonan yang mirip dengan hutan yang kami lewati sebelumnya. Namun dibanding lebat dan nyaris tanpa ujung, tempat ini jauh lebih bersahabat dengan pepohonan tipis dan tumbuh-tumbuhan yang tak mematikan. Ada beberapa tetumbuhan yang layak dimakan, seperti buah kecil berwarna merah yang menggantung di semak-semak, pohon yang ditumbuhi buah-buahan berwarna jingga, dan jamur-jamur yang tak membusuk jika kau mendekatinya. Ned yang awalnya lemas dan sedih, mulai berwajah cerah kembali dan mencicipi buah-buahan itu sambil sesekali memekik; “Asam!”, “Manis!”, atau “Blaaargh—rasanya kayak taoge!”

Kenapa tempat ini lebih subur dibanding sebelumnya? Aku bertanya-tanya. Saat melewati beberapa sulur-sulur, Ned bertanya padaku tentang apa yang terjadi di gua dengan mulut penuh. Aku mulai memberi tahunya segala hal yang terjadi, berharap Ned tidak menganggapku tolol, berpikir reptil raksasa mematikan sama ramahnya dengan golden retriever.

“Taphi, khenapha dia meherangmu?” Ned bertanya sambil mengunyah beri-beri aneh sewarna darah. “Mhaksudku, hahu kan, bhinatang manaphun nggak mhungkin menherang orang begihu saja.”

“Aku nggak tahu. Vooir bilang mereka membunuh siapa pun yang melewati teritorinya,” kataku parau. “Padahal kupikir dia sedang tidur.”

“Vooir bihang merekha punha kemamhuan hipnosis, khan?” kata Ned, menelan beri-beri di mulutnya. “Apa itu artinya dia sudah memengaruhimu di ambang gua?”

“Entahlah,” kataku, menunduk untuk menghindari sulur-sulur. “Yang jelas, aku nggak bakal pergi ke gua mana pun sendirian lagi.”

Saat kami mulai dekat dengan cahaya di depan, Vooir berkata, “Ingat ini, Redwine. Waktumu hanya tiga minggu.”

Aku terbelalak. “Tiga ... minggu? Mana mungkin kami bisa—”

“Waktu Erdeos lebih lambat dibanding waktu Bumi,” kata Vooir. “Namun karena itulah semakin lama kita di sini, maka semakin banyak waktu Bumi yang terkuras.”

Ia menatapku dengan mata birunya. “Kekaisaran telah menentukan tiga minggu adalah batas waktu kita. Karena setelah itu Bumi akan—”

Ia terdiam, tapi aku mengerti maksudnya.

Bumi akan hancur.

Ini lebih sulit dari yang kubayangkan. Aku tahu tiga minggu bukan waktu yang cukup, tapi aku tetap tidak bisa mengeluh. Jika setelah tiga minggu berlalu Bumi akan hancur, aku tak punya pilihan.

“B-baiklah.” Aku tergagap. “Aku nggak akan menyia-nyiakan tiga minggu itu,” janjiku.

“Bagus,” kata Vooir. “Aku yakin kau bisa melakukannya.”

Ia berkata begitu, tapi aku meragukannya.

“Leon,” Ned memanggilku. Ia menyipitkan mata. “Apa itu ... pemukiman?”

Aku segera menoleh. Di celah pepohonan, pemukiman luas membentang di kejauhan. Benaman salju menutupi rumah-rumah aneh berbentuk bulat, tapi aku tidak bisa melihat apa pun yang terlihat seperti makhluk hidup.

“Kau benar.” Aku menyipitkan mata. “Tapi kenapa semuanya kosong?”

“Sepertinya kalian perlu memeriksanya sendiri.” Rogeid berdeham. Ia dari tadi berjalan mendahului kami, tapi aku nyaris tak menyadari kehadirannya. “Kita berpisah di sini.”

Aku mengerjap. “Apa yang—”

“Satu orang Elledoire cukup untuk menjalani misi,” sela Rogeid dingin, melotot pada Vooir. “Sudah tradisi. Aku tak perlu ikut campur mulai dari sekarang—”

“Tapi itu nggak adil!” sergah Ned, wajahnya memerah. “Kau nggak bisa meninggalkan tiga orang anak se—”

“Aku bukan pengurus kalian, Anak Muda.” Rogeid menguap. “Tapi tak perlu khawatir. Kekaisaran dan aku akan terus mengawasi.”

Aku ingin bicara, tapi Vooir menarikku kembali.

“Rogeid benar,” katanya lemah. “Satu Ellodoire cukup untuk menangani misi.”

Aku tergagap. “Tapi—tapi—”

“Aku akan berkunjung sewaktu-waktu.” Rogeid menekan-nekan tombol pada kursi piringannya. Benda itu berdesis seperti ular. “Semoga kalian bersenang-senang di Erdeos.”

Tapi sebelum terjadi apa-apa, ia menatap Vooir tajam lewat celah kacamatanya. “Ingat ini, Nona Elledoire, Kekaisaran dan aku akan terus mengawasi.”

Dan dengan desisan keras yang memekakkan telinga, ia menghilang.

“Hebat. Sekarang kita cuma bertiga,” aku mendesah. “Nggak ada orang dewasa bertanggung jawab yang bakal menjaga keselamatan kita—”

Vooir menyentuh bahuku. “Tak apa. Aku akan membantumu, Redwine. Rogeid juga akan berkunjung. Semuanya sesuai rencana.”

Ned menyela. “Tapi kita masih—”

“Waktu kita terbatas. Kita hanya perlu ... menjalankannya,” katanya datar, tapi kilat matanya memberi tahuku sebaliknya. “Ayo, kita harus pergi.”

Vooir melangkah ke depan, meninggalkan kami berdua. Dengan terpaksa, Ned dan aku berjalan mengikutinya, sama-sama merasa resah. Apa kita benar-benar harus melakukannya bertiga saja?

Saat kami keluar dari hutan, angin menerpa wajah kami lebih keras. Di pemukiman, salju jauh lebih tebal daripada sebelumnya sehingga kami perlu mengerahkan tenaga ekstra untuk sampai ke tujuan.

Di sana, rumah-rumah berbentuk bulat berjejeran di kanan-kiri kami. Bentuknya mengingatkanku pada tempat tinggal orang-orang Inuit, hanya saja tidak dibuat dari balok-balok es superdingin, tapi semacam tanah liat yang berwarna kemerahan. Di atas pintu masing-masing rumah, setidaknya ada satu buah tengkorak burung aneh dengan bulu-bulu putih-merah. Aku sama sekali tak ingin tahu alasan mereka memajang sesuatu seperti itu. Gerobak-gerobak yang ditinggalkan tergeletak di sisi kiri dan kanan kami, dan puluhan bulu putih-merah berterbangan di mana-mana, dan entah bagaimana, itu membuat tempat ini terasa jauh lebih kosong. Di tengah benda-benda itu, terdapat sebuah monumen berwarna gading setinggi sepuluh kaki.

Ia berbentuk seorang pria berambut sebahu, berkumis tipis, mengenakan pakaian dengan lengan berbulu-bulu burung, memegang tongkat panjang aneh, dan menggenggam buku tebal. Aku bertanya-tanya apakah ia adalah orang hebat yang Vooir sebut. Jika iya, mungkin orang-orang di sini mengetahui di mana pusakanya berada. Dan kuharap mereka tidak suka menyantap burung hidup-hidup.

Ned mendekati monumen raksasa itu dan terkesiap. “Wow.” Ia menyentuh sepatu si patung, yang membuatku merasa ngeri. “Ternyata mereka membuat monumen juga.”

Aku punya firasat kalau benda seperti ini tak bisa disentuh sembarangan. “Hei, kau tahu, kayaknya monumen nggak bisa disentuh seenaknya—” Aku tergagap. “Yah, kau nggak bisa bayangin kan, turis-turis menyentuh patung Liberty.”

Ned menoleh ke belakang dan menurunkan tangannya. “Kayaknya kau benar,” akunya. “Kita sebaiknya segera menemui orang yang—”

Cahaya biru mendesing dan menyabet baju berbulu Ned.

Lalu cahaya lain berdesing tepat di samping telingaku. Dan kemudian mendesing di atas kepala Vooir. Lalu lagi, lagi, dan lagi. Selusin cahaya berdesing di antara kami seperti peluru.

Aku memekik. “Apa yang—”

Kemudian, puluhan tombak biru tipis mengelilingi kami, membentuk lingkaran setajam silet.

“Kita dikepung,” bisik Vooir, matanya mulai menghitam.

Ini bukan pertama kalinya aku melihat Vooir menggunakan kekuatannya, tapi aku masih belum terbiasa. Namun aku tahu ini bukan saatnya untuk membahas itu, karena puluhan tombak tipis bercahaya mengelilingi kami, membentuk formasi dan siap menyerbu.

“Apa yang harus kita lakukan?” desisku.

“Kita hanya perlu siaga,” bisik Vooir tajam, mengepalkan tangan dan menebar pandangan ke sekeliling dengan mata hitamnya. “Jika mereka bergerak, kita sudah siap melawan.”

Oke, pikirku. Itu masuk akal. Aku menggenggam baton di sakuku dengan gugup. Dinginnya logam seolah menyengat tanganku. “B-baik.”

Ned mencengkeram tas ranselnya kuat-kuat. “Eh... aku ada pemukul bisbol—”

“Ssssst!” Vooir mendesis, dan aku langsung tahu apa maksudnya.

Di balik gerobak kayu dan rumah-rumah, terlihat kilat mata orang-orang asing. Lalu kemudian, mereka mulai menampakkan diri, sekitar selusin, masing-masing menjulurkan tangan seolah menjaga tombak-tombak cahaya agar tidak terjatuh. Mereka berkumpul mengelilingi kami, melotot seakan memastikan kami tak bakal kabur.

Hal pertama yang kupikirkan adalah orang-orang hippie. Mereka mengenakan hiasan kepala dari bulu burung berwarna putih-merah seperti Pribumi Amerika, pakaian berbulu tebal dengan berbagai perhiasan, dan punya tanda merah di dahi berbentuk huruf T terbalik. Cuma tiga dari mereka yang mengenakan hiasan kepala, dan ketiganya kelihatan paling tua. Mereka berkulit kecokelatan, bermata kelabu, dan berambut hitam yang dikepang dua di kedua sisi pelipis. Mereka jauh lebih tinggi dibanding kami.

Awalnya yang kudengar cuma bahasa aneh yang tak dapat kuartikan, lalu perlahan-lahan, suara mereka berubah menjadi Bahasa Inggris beraksen Amerika.

“Apa mereka orang-orang yang disebut Rym?” salah satu dari yang tertua berbisik. Dia pria tua kurus berbadan pendek.

“Tak bisa dipastikan, Gyda,” kata yang satunya, pria tua tinggi yang agak kekar. “Mereka anak-anak, tentu. Tapi aku tak yakin apakah mereka tipe orang yang akan disukai Rym—apalagi yang berambut merah itu.”

Si pria tua kecil menoleh ke wanita tua di sebelahnya. “Bagaimana menurutmu, Astyr?”

“Aku tak bisa melihat mereka dengan jelas di balik sihir ini,” keluh si wanita tua. Dia berwajah bulat dan berpipi kemerahan. “Kurasa sebaiknya kita biarkan mereka bicara.”

“Jangan bodoh,” sergah si kekar. “Mereka mungkin penyusup dari Rot.”

“Omong kosong, Ilyak,” kata si kecil. “Untuk apa Rot mengirimkan anak-anak untuk melawan kita? Kau tahu kan, betapa mereka terobsesi dengan perang.” Ia bergidik. “Oh, demi Rym.”

“Biarkan Rym yang menentukan,” sela si wanita tua. Aku baru menyadari dia memegang tongkat yang sama seperti orang di patung. “Apa pun yang dikatakan Rym adalah demi kesejahteraan Tria. Kalian tak mungkin menyangkal Rym, bukan?”

“Oh, ya ampun, kau ini keras kepala,” desah si kekar. “Baiklah. Semuanya terserah padamu, Astyr. Aku tak akan ikut campur.” Ia menoleh ke kesembilan orang yang mengelilingi kami dan berteriak, “Hentikan sihirnya!”

Semua tombak di sekeliling kami menghilang.

Ned terjatuh ke belakang. “Astaga—”

Vooir mendesis. “Ini bisa jadi jebakan—”

“Jebakan apa, Gadis Muda?” kata si wanita tua, berjalan menuju ke arah kami dan tersenyum. “Kami tidak akan menyakiti kalian, Anak-Anak. Tria menyukai kedamaian.”

Vooir mengernyitkan dahi. “Dan bagaimana kami—”

Si wanita tua mengeluarkan sesuatu dari kain berbulunya. Sebuah liontin berwarna kehijauan. “Aku Tetua suku Tria, Astyr Tivarr Vre. Senang bertemu denganmu, Elledoire Muda.”

Vooir ternganga. Warna matanya kembali menjadi biru. “Bagaimana Anda bisa—”

“Sang Agung Rym memberitahuku segalanya.” Astyr tersenyum ramah. “Silakan masuk. Di sini dingin, kalian pasti lapar.”

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height