C5 VOOIR ELLEDOIRE
AKU MEMBANTING PINTU apartemenku, mendesah dan berjalan menuju sofa, merebahkan tubuhku dengan malas. Badanku merosot dengan sengaja dan aku menghela napas panjang-panjang.
Aku tidak mengira hari ini bakal jadi begitu melelahkan. Dijahili Jake habis-habisan sudah cukup buruk, tapi pergolakan batin benar-benar menguras energiku. Rasanya seperti dibanting berkali-kali oleh raksasa seukuran empat puluh kaki ke gundukan tanah berduri-duri. Jika ada hal lain yang perlu memperburuk hari ini, aku akan membakar hidup-hidup siapa pun yang merencanakannya.
Mendadak aku teringat air mata Ned yang merebak di gerbong. Sesaat aku merasa seperti telah menyakiti sahabatku sendiri. Dan saat menyadari aku tidak punya apa pun untuk dilakukan, aku menyambar remot dan menyalakan televisi secara cuma-cuma.
Piksel-piksel warna layar menyala. Menampilkan seorang pembawa berita yang duduk berceloteh ria dengan latar pemrotes liar dan penjarah-penjarah. Di sebelahnya, seorang pria paruh baya menanggapinya dengan gembira. Aku mendesah. Acara berita. Tayang setiap saat. Setelah bencana Tornado Brooklyn terjadi, semua saluran televisi mengubah jadwal mereka dengan memenuhi acara berita setiap hari—lebih tepatnya, setiap jam. Mereka berhenti menayangkan kartun, acara masak-masak, serial televisi kisah nyata—semuanya. Bahkan saluran kartun tiba-tiba mogok dan menampilkan kalimat-kalimat suram penuh duka dengan latar belakang hitam. Aku menggeleng resah, sama sekali tidak pantas dilihat anak-anak.
“Kabar gembira! Penawar BTD sedang dalam proses penelitian. Seluruh dokter di Amerika telah bekerja sama dalam penelitiannya. Benar begitu kan, Profesor Dawson?” celoteh wanita pembawa acara.
Pria di sebelahnya, paruh baya, berkeriput dan ubanan serta berkacamata tebal, mengangguk. “Benar, Nona Regina. Penawar BTD sedang dalam proses penelitian—dan akan diresmikan dalam waktu dekat, oh, barangkali diedarkan saat itu juga. Bersyukurlah karena kau tidak perlu khawatir lagi pada sepupumu yang tiba-tiba berdansa tap dengan mulut penuh darah!”
Tawa seisi studio pecah. Ternyata orang dengan tampang membosankan bisa bercanda juga.
Wanita pembawa berita berhenti tertawa. “Bagaimana menurut Anda, Profesor Dawson?” katanya, sambil mengelap air mata dengan jari bermanikurnya.
Latar berubah dari amukan para penjarah menjadi sebuah video amatir yang menampilkan tornado dahsyat. Mataku melebar. Video yang ditunjukan Ned tempo hari.
Wanita itu tiba-tiba berubah serius. “Seperti yang Anda tahu, internet lagi-lagi dihebohkan dengan video amatir. Bisa Anda lihat, tayangan video ini menampilkan tornado Brooklyn berkilat-kilat merah dan membentuk bayangan serupa wajah manusia. Bagaimana pendapat Anda, Pak?”
Pria paruh baya itu mengangguk, lalu tertawa kecil. Tampak agak meremehkan, barangkali menahan niatnya untuk mengejek habis-habisan. “Yah, seperti yang kubilang sebelumnya, kontroversi ini agak konyol.”
Wanita pembawa berita menyesap minuman di mugnya, menyimak. Seluruh studio terasa lebih sunyi dibanding sebelumnya.
Pria penyandang gelar profesor itu menggenggam kedua tangannya di meja, masih tertawa. “Aku sama sekali tidak mengerti kenapa para pemrotes langsung membabi buta seperti serigala dan menyerang seluruh kota. Maksudku, aku paham orang-orang Amerika bukan jenis manusia tercerdas di dunia, tapi petir merah dan bayangan wajah? Ayolah!” Si pria paruh baya berdeham, kembali ke mode seriusnya. “Petir merah—sprites, memang sulit dilihat dengan mata telanjang. Ditambah dengan durasinya yang hanya beberapa milidetik, dan bahkan sering kali tak terlihat dari tanah. Melihat sprites terhitung langka sekali, dan lebih sulit lagi untuk dipotret,” ujarnya, seraya membenarkan posisi duduknya.
“Namun, aku tidak bisa tak mengakui bahwa video ini bukanlah sebuah momen bersejarah. Mengabadikan sprites selama itu benar-benar mengesankan. Tetapi ....” Profesor itu sekilas menyeringai, “bukan keahlianlah yang dibutuhkan untuk melakukannya. Tornado Brooklyn adalah tornado dengan skala besar-besaran. Tentu saja, sprites yang muncul begitu lama sangat memungkinkan. Apalagi, kita tidak melihat sprites itu secara langsung. Hanya semburat-semburat kecil di balik tornado.”
Wanita pembawa acara itu mengangguk. “Penjelasan yang bagus, Profesor Dawson,” pujinya, seraya meletakkan mugnya menjauh. “Namun bagaimana dengan bayangan berbentuk wajah itu?”
Profesor itu menggeleng. “Kurasa itu tidak bisa dikatakan masalah serius untuk dibahas, Nona Regina. Pareidolia biasa, dari efek kamera.” Dia menjentikkan jarinya. “Tanah merah serupa debu bulan itu satu-satunya aset dari kejadian ini yang layak diteliti.”
Aku mengerang, makin merosot di sofa. Pembahasannya mulai makin ilmiah dan membosankan. Serat kimia, bulan, tanah, bla, bla, bla. Kalau profesor itu mebelokkan karirnya jadi komedian, aku bakal menontonnya sampai tengah malam. Yah, setidaknya, bayangan wajah itu tak semengerikan yang kukira. Sesaat aku kepikiran untuk tidur sepanjang hari di sofa karena kebosanan, aku melihat tas ayahku tergeletak di seberang. Aku langsung menyambarnya, mengeluarkan sebuah laptop tebal. Mungkin nonton film bakal sedikit menghiburku.
Aku menjejalkan jemariku di keyboard—beberapa tombolnya tidak berfungsi. Setelah sesekali mengutak-atik, aku menekan tombol power. Sistem perangkatnya masih Windows 7. Tak masalah, toh, komputer ini memang sudah tua. Barang primitif jika disandingkan dengan komputer zaman sekarang. Aku mengetik alamat situs dan mulai mencari-cari film yang layak ditonton.
Mendadak, suara di televisi terputus. Aku mendongak dari layar laptopku, semua lampu meredup dan aku berada di tengah-tengah gelap gulita. Aku melirik layar lagi dan melihat simbol dua garis menyilang dengan tulisan besar-besar: TIDAK ADA KONEKSI INTERNET.
Aku beranjak dari sofa menuju saklar. Aku menekannya berkali-kali, tapi tidak terjadi apa pun. Lampu-lampunya tetap redup. Lalu aku mencoba menepuk-nepuk TV. Aku tahu ini tampak bodoh, tapi biasanya berhasil. Namun akhirnya sama saja, benda elektronik ini tetap tak menyala seakan ada sesuatu yang mencabut nyawanya. Aku mengerang, terenyak kembali ke sofa. Ini New York, kota metropolitan besar di Amerika, pemadaman listrik bukan hal yang lumrah terjadi. Namun mengingat kondisi komplek apartemenku yang bobrok, listrik yang tiba-tiba padam bukanlah hal yang betul-betul perlu kukhawatirkan.
Aku bangkit, memicingkan mata hingga segaris untuk bisa melihat di kegelapan. Aku berjalan menuju meja di seberang, meraih-raih ponselku yang tergeletak. Aku memasukkan nomor montir listrik yang kukenal dengan hati-hati. Kegelapan di sini betulan nyaris total. Seakan aku mendadak tinggal di gua prasejarah alih-alih apartemen. Aku mengetuk-ngetuk layar, hingga tinggal dua nomor terakhir.
Suara statis uapan napas terdengar, lalu suara berat pria paruh baya. “Ini Jasa Perbaikan Elektrik Jackson. Montir listrik Roger di sini, ada yang bisa saya bantu?”
Aku mengambil napas. “Ya, em, komplek apartemenku—”
BRAK!
Guncangan hebat tiba-tiba mengguncang kakiku. Aku nyaris jatuh terjerembap ke lantai, ponselku terlepas, tergelincir menjauh ke bawah meja. Dengan napas terengah-engah, aku berusaha mempertahankan posisiku. Aku berjongkok sambil menebar pandangan dengan waspada. Jantungku berdentum-dentum tak terkendali seperti genderang perang. Apa yang terjadi barusan? Lalu aku mendongak menatap langit-langit dan mendapati stalaktit-stalaktit yang bergantungan bergerak-gerak seperti ular, dan semua benda-benda di dalam bergetar seolah ketakutan. Aku terkesiap. Gempa bumi, pikirku.
“Halo? Halo? Ada orang di sana—?” Suara statis lirih terdengar dari bawah meja. Dibarengi dengan bunyi klik dan kesunyian yang hampa. Aku meliriknya sebentar. Aneh, montir itu tak merasakan apa pun. Aku cepat-cepat menggeleng. Tidak, itu tidak penting. Langkah pertama dalam menghindari gempa bumi adalah: CEPAT KELUAR DARI RUMAHMU, BODOH!
Dengan mengendap-ngendap, aku berusaha meraih kenop pintu di depan. Kakiku gemetaran hebat dan gigiku bergemelutuk. Jika aku terlambat, tamat sudah. Satu kali selipan dan aku akan buyar dihantam ratusan puing bangunan. Namun sebelum kaki kiriku bisa menyentuh lantai, guncangan hebat menggoyang-goyangkan seluruh ruangan dan aku terdorong ke depan tiba-tiba. Pelipisku menghantam pintu kayu. Aku menggeleng mengusir rasa sakitku, lalu cepat-cepat memutar kenop pintu.
Jantungku nyaris berhenti berdegub. Pintunya terkunci. Aku mencoba menarik-nariknya—tidak terjadi apa-apa. Aku menebar pandangan ke belakang dengan resah. Di mana kuncinya? Mungkin aku meninggalkannya di suatu tempat. Pasti itu yang terjadi. Namun sebelum aku sempat berbalik, aku menyadari cahaya terang memancar dari bawah melewati sela-sela pintu. Aku mengernyit. Bukannya ada pemadaman listrik?
Dengan penasaran, aku menunduk ke bawah untuk memeriksa. Cahayanya begitu terang sampai-sampai mataku terasa perih untuk sesaat. Sambil mengerjap-ngerjap, aku berusaha melihat keluar. Perlahan-lahan, mataku mulai menyesuaikan diri dengan cahaya. Dan segalanya mulai terlihat jelas.
Ada dua tiang hitam—tidak, sepasang kaki hitam. Aku terkesiap. Orang lain. Bantuan. Mungkin aku bisa memintainya sedikit pertolongan. Tapi segera kututup mulutku rapat-rapat. Bagaimana jika orang itu penjarah? Tidak, bakalan jadi mimpi buruk setelahnya. Tapi apa yang dilakukan penjarah di salah satu komplek apartemen termiskin di New York? Di tengah-tengah gempa bumi? Kulihat dua kaki itu menjauh, mengekspos lebih banyak sosoknya pada jarak pengelihatanku.
Dia berbaju hitam, dari ujung sepatu hingga bajunya. Seperti bayangan yang bisa berjalan ....
Lalu aku melihat ke atas.
Aku mengenali wajahnya.
Aku langsung menutupi mulutku dengan tangan supaya tidak berteriak. GADIS ITU! Pekikku tanpa suara. Gadis bermata biru!
Tapi, tidak, matanya bukan berwarna biru. Matanya hitam. Maksudku, dari pupil hingga putih matanya. Benar-benar hitam. Seperti dua buah gua. Wajahnya sepucat mayat. Otot-otot wajahnya menonjol seperti kawat-kawat yang berlilitan. Wajahnya mengerikan. Seperti habis menelan sesuatu yang tidak layak dimakan.
Penampilannya yang sekarang sudah cukup mendorongku untuk lari terbirit-birit.
Lalu matanya bergerak menatapku.
Aku terlonjak ke belakang, mundur tak terkendali hingga menubruk punggung sofa. Aku menoleh mencari-cari ponsel. Aku harus menelepon polisi. Sekarang juga. Aku tidak tahu apa yang merasuki gadis itu atau apa pun mengenai dua bola matanya yang sehampa gua, tapi dalam benak terdalamku aku tahu kalau dia sangat—sangat berbahaya.
Mataku melebar saat melihat ponselku yang berkedip-kedip di bawah meja. Dengan cepat aku berusaha mengambilnya, tapi aku tersungkur ke bawah gara-gara guncangan gempa. Rasanya gempa bumi bahkan tidak ada apa-apanya dibanding gadis gila sadis berbola mata hitam. Daguku terasa perih, tapi lenganku tetap bergerak meraih-raih ponsel. Hingga jemariku menyentuh layarnya, aku menggenggamnya sangat erat hingga buku-buku jariku memutih dan berusaha menyalakannya. Aku menyeret tubuhku kembali dalam posisi duduk bersandar pada punggung sofa.
911. Sembilan-satu-satu. Cuma tiga angka, harusnya mudah. Namun di situasi genting ini, setiap detik rasanya sangat berharga sampai-sampai tiap gerakan yang kau lakukan berpotensi mengancam nyawamu sendiri.
Jariku mengetuk angka sembilan. Aku mendengar pintu digedor-gedor. Awalnya cuma ketukan biasa, tapi makin lama makin keras. Seperti ada pasien rumah sakit jiwa yang kabur dan mau menerobos masuk untuk menggorok tenggorokanku. Jantungku berdentum-dentum hebat seperti dipukul-pukul. Aku menarik napas dalam-dalam, dengan jari gemetar mengetuk nomor satu di layar. Suara dari pintu makin keras dan memekakkan telinga, dibarengi dengan bunyi logam aneh yang lirih dan menggesek. Seperti ada rantai besi yang diseret-seret pada lantai dan mulai mendekat buas bagaikan ular. Aku menggelengkan kepalaku dengan resah, mencoba menghilangkan pemikiran-pemikiran menakutkan tentang bunyi-bunyian itu. Namun dibarengi dengan suara-suara dari depan pintu yang menggelegar, guncangan gempa semakin keras hingga ponselku tiba-tiba terlepas dari genggaman. Dengan panik aku berusaha meraihnya, kini memegangnya dengan genggaman yang lebih kuat. Dengan jemari yang masih gemetar, aku mengetuk nomor satu terakhir. Mataku melebar pada tulisan PANGGIL yang seolah memancarkan sinar berkerlap-kerlip. Hanya satu ketukan. Cuma satu—
BRAK!
Pintu hancur dan sisi-sisi dindingnya retak, lalu bersamaan dengan kemunculan sosok yang menghancurkannya, dindingnya roboh menjadi puing-puing sebesar mobil dan menembus menghancurkan lantai. Jantungku seolah memaksa keluar dari tempatnya dan tubuhku berusaha mundur untuk menghindar, tapi kusadari aku berimpit pada punggung sofa. Kabut-kabut tebal menutupi pandangan, hingga sesuatu menembusnya seperti banteng yang murka.
Mataku membelalak. Seekor anjing raksasa kelabu menerjang membelah kabut bagai peluru. Aku mengerjapkan mata. Anjing itu bertanduk ... dan berkepala dua. Ekornya mengibas-ngibas liar dan ujungnya menyala dengan percikan bunga-bunga api. Dia menunduk mengarahkan tanduknya yang mengulir tajam bagai belati. Aku bakal diseruduk.
Tanpa sadar, aku mengangkat tanganku, seolah bersiap untuk menghadapi anjing raksasa itu seperti pegulat. Kepalaku dihajar dengan ribuan pertanyaan yang terpental-pental. Tapi insting bertahan hidup menguasaiku. Aku tidak menguras satu detik pun untuk bertanya apakah anjing jenis ini betulan ada.
Kedua moncong anjing raksasa itu hanya sesenti dari hidungku, lalu sebelum aku menyadarinya, sesuatu yang setajam tombak menembus tanganku dan napas hangat berhembus ke bulu-bulu wajahku.
Anjing itu berusaha menerkamku.
Kaki depannya mencengkeram tanganku dan cakarnya yang sepanjang penggaris menembus daging dan otot-otot—barangkali juga tulang—kedua punggung tanganku. Darah hangat mengalir seperti air terjun memasuki sela lengan jaketku. Rasa sakit menghujamku bagai peluru. Aku mengerang tanpa suara dengan rahang terkatup. Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya seperti orang gila, tapi empat mata kuning pekat dua kepala monster anjing ini seakan menusuk mataku hingga ke urat-uratku yang terdalam. Aku tidak bisa membuat diriku terlihat lemah—apalagi di hadapan hewan liar.
Dua kepalanya menyalak-nyalak ganas mengarah ke leherku, memamerkan taring-taringnya yang setajam tombak, dan air liurnya berciprat ke wajahku. Dengan tanganku yang mati rasa, aku mencoba sekuat tenaga mendorongnya menjauh, yang membuat kuku-kukunya menembus lebih dalam di punggung tanganku hingga rasanya bakal mencuat keluar. Rasa sakitnya bukan main, tapi aku berusaha menahannya. Aku beradu pandang pada keempat matanya dan berusaha menunjukkan wajah terganasku. Hingga dari ujung mataku, aku memperhatikan ekornya yang menampar-nampar lantai memercikan bunga api ke mana-mana, dan di kejauhan aku bisa melihat dua sosok hitam berjalan perlahan melewati lubang tembok yang hancur dari arah berlawanan.
Mereka kurus kering dan berjubah hitam longgar hingga menyentuh lantai seperti malaikat maut. Kukira ada tiga buah lampu neon oranye di wajah mereka yang bertudung kelam dan hampa, tapi kusadari mereka memakai topeng logam hitam dengan jeruji yang menyala-nyala. Seolah wajah mereka terbakar selamanya dan benda itu menahan apinya. Rantai-rantai besi menyembul dari bawah jubah mereka dan menggesek lantai dengan derit-derit mengerikan. Mereka mendekat seakan-akan melata menuju diriku yang tersungkur. Dan di balik lengan jubah mereka yang longgar dan panjang, jari-jari kurus kering mereka meraba-raba, dan perlahan mereka mengeluarkan pedang pendek hitam berkilat yang mencekam.
Aku terperanjat. Membuat dua kepala anjing raksasa di hadapanku langsung menggeram dan menyalak-nyalak hingga nyaris menyentuh leherku. Tanganku berkedut-kedut sementara darah terus bercucuran seperti air terjun dan kuku tajamnya menusuk lebih dalam hingga barangkali meremukkan tulang-tulangku.
Habis sudah, batinku. Aku akan tamat.
Aku memejamkan mataku rapat-rapat. Mungkin ini cuma mimpi buruk, cuma khayalan paranoid. Orang-orang kerap berhalusinasi saat sedang stres. Tapi masih bisa kurasakan darah merembes deras di lenganku. Rasa sakitnya terus menghujamku seperti ditusuk-tusuk. Aku menyadarkan diriku; ini semua nyata.
Aku mengambil napas dalam-dalam. Kurasakan sesuatu yang tidak kukenal mendekat. Aku bisa merasakannya. Aku akan lenyap. Semua yang kulakukan selama tahun-tahun ini akan menguap. Aku bahkan belum sempat mengucapkan selamat tinggal kepada Ayah ....
Sontak, aku merasakan sesuatu—bukan taring-taring yang meremukkan leherku atau pedang yang menembus jantungku—sesuatu yang ... dingin. Sekujur badanku merinding. Seolah-olah ada hantu tak kasat mata yang menembus tulang-tulang igaku. Perlahan-lahan, aku memberanikan diri membuka mata. Sambil mengerjap-ngerjap, aku memandangi ruangan dengan mulut menganga dan kepala yang diaduk-aduk jutaan pertanyaan.
Monster anjing kelabu bertanduk di hadapanku berhenti menyalak, mematung dengan rahang terbuka, seolah beku tiba-tiba. Aku menarik kedua tanganku dari cengkeraman cakarnya dengan gemetar. Darah langsung menyembur hebat dari luka-lukanya. Aku mengertakkan gigiku, menahan sengatan rasa sakit yang menusuk-nusuk. Keingintahuan menguasaiku lebih banyak hingga aku tidak begitu memikirkan rasa sakitku yang luar biasa. Bola mataku berputar-putar, mencari-cari dua sosok kurus kering yang berjubah. Mereka juga sama—tak bergerak barang sesenti pun. Pedang pendek hitam di genggaman mereka bahkan belum sepenuhnya keluar dari jubahnya. Rasanya kepalaku bagai ditubruk tanpa henti oleh pemain rugbi yang mengenakan seragam berpaku-paku. Sementara otakku terasa bakal meledak, mendadak aku teringat.
Gadis itu.
Dengan cepat mataku berputar-putar mencari sosoknya yang serbahitam. Aku mengerutkan kening. Di depan lubang menganga bekas pintu yang hancur bergelimpangan, dia masih berdiri di tempat yang sama, wajahnya juga masih mengerikan dan bermata hitam kelam. Seolah-olah para monster bengis itu bahkan tidak menyadari keberadaannya barang setitik pun.
Aku melihatnya mengucapkan sesuatu—yang cuma terdengar seperti bisikan bagiku—dan seketika, tubuh monster-monster yang memojokkanku berlubang-lubang menganga. Aku terlonjak. Anjing raksasa berkepala dua di hadapanku juga berongga-rongga mengerikan. Aku memicingkan mata setengah terbelalak. Tidak, mereka tidak mendadak berlubang-lubang besar seperti spons raksasa. Ada sesuatu yang melubanginya. Sesuatu yang tak kasat mata.
Dan sesaat gagasan itu terbesit di pikiranku, sesuatu yang melubangi itu mulai mewujud—bagaikan pasir-pasir hitam yang ditarik magnet superkuat, sekelebat benda runcing hitam mulai tersusun, memanjang tajam dan runcing seperti belati bermata dua. Bilah tombak, batinku.
Bilah-bilah lainnya mulai menyusun, membentuk sekelebat bayangan hitam runcing yang menusuk. Bilah itu mencuat dari leher si anjing raksasa dan nyaris menyentuh kerah jaketku. Aku berjengit. Mungkin terdapat selusin bilah di satu monster, menembus daging—jika dua sosok berjubah itu bahkan punya daging—hingga tulang-tulang dan mencuat keluar dengan ngeri. Saat bilah terakhir terbentuk, dengan suara KRAK nyaring bagai ranting raksasa yang terinjak, mereka meledak. Buyar.
Aku menduga akan disimbah cairan menjijikan, air liur kehijauan, atau semacamnya. Namun warna merah menyala menyambutku, merebak di udara seperti bunga-bunga yang bermekaran. Serbuk merah itu berjatuhan ke mana-mana; mengotori lantai, puing-puing, meja, dan tentu saja, diriku sendiri. Seluruh tubuhku terasa seperti disiram seember pasir merah menyala. Aku mengerjap-ngerjap, mendapati serpihannya menyelip ke mataku. Aku menguceknya. Teksturnya lebih halus daripada pasir, mirip debu. Warna debu-debu ini mengingatkanku pada sesuatu—pendar merah di klip video Tornado Brooklyn.
Lalu aku mendengar sesuatu di kejauhan.
Aku mendongak, menganga sementara gadis itu mendekat. Hak sepatu hitamnya berkelotak bagai menikam lantai. Matanya biru cerah seperti semula. Meski begitu, aku bisa merasakan aura mencekam pembunuh menguar dari dirinya, dan secara tidak sadar aku mundur ketakutan. Hingga dia cuma sesenti dariku dan aku baru menyadari badanku menghimpit sofa saat itu juga.
Ia mengenakan jaket hitam bertudung yang sama saat pagi tadi, yang sekarang disampirkan di bahu kanannya, memamerkan pakaian hitam berkancing perak yang mirip seragam militer kuno hingga mencapai leher. Dia juga mengenakan celana panjang hitam dan sepatu bot khas militer. Mata birunya jernih dan cemerlang, berkilat-kilat dengan tatapan kosong yang mencekam. Dan aku yakin—yakin sekali kalau dia benar-benar ingin menikam leherku.
Aku pikir dia bakal mengatakan kata-kata mengerikan atau mantra kutukan atau apalah, tapi dia malah bilang, “Tak kusangka para Esmerides bakal menemukanmu secepat ini,” dan menebar pandangan ke seisi ruangan yang hancur.
Aku mengerjap. Aksennya aneh, seolah-olah dia bahkan tak punya aksen—memangnya itu bisa terjadi? Dan aku sama sekali tidak memahami kata bahasa Spanyol yang diucapkannya pada tengah kalimat.
Aku cuma bisa mengucapkan, “Apa?”
Dia memandangku. “Tentu saja, Leon Redwine. Tapi sebelum itu, bukankah lebih baik periksa lukamu terlebih dahulu?”
Aku tidak mengucapkan apa-apa, berusaha mencerna kata-katanya dalam otakku yang telah dihajar beruntun oleh kejadian tak masuk akal. Lalu aku melihat kedua tanganku yang bersimbah darah, dan rasa sakit yang hebat langsung terasa setelahnya. Rasanya seperti kedua tanganku telah ditikam ratusan kali. Aku meringis, mengerang, mengertak-ngertakkan gigi. Seluruh pembuluh darah tanganku terasa buyar dan otot beserta tulang-tulangku remuk menjadi jutaan keping.
Gadis itu tiba-tiba menunduk, menggamit kedua tanganku secara paksa. Aku berjengit. “Hei! Apa-apaan—”
Dia mendelik dan menempelkan jemarinya pada bibirku. Dan aku—entah karena terhipnotis atau takut—langsung menutup mulutku rapat-rapat dengan penurut.
Gadis itu memperhatikan kedua telapak tanganku lekat-lekat. Lalu mengambil sesuatu dari balik bahunya. Sebotol—tunggu, memangnya itu botol? Bentuknya menggembung, dan ujungnya lancip. Dia menuangkan isi botol itu ke dua tanganku, mengeluarkan cairan bening dengan bau menyengat yang tidak kukenal. Mendadak, rasa sakit menyengat terasa pada telapak tanganku. Aku nyaris menjerit. Rasanya seperti disetrum jutaan volt listrik. Namun setelahnya, rasa sakit itu menghilang seketika. Tidak terasa sakit sedikit pun—malahan, aku merasa segar. Seakan tanganku telah tumbuh kembali. Aku cepat-cepat menarik tanganku dari genggamannya, mengusap darah yang mulai menghitam di telapak dengan jemari gemetar. Tidak ada luka. Tidak ada bekas tusukan kuku-kuku tajam apa pun yang telah menembus tanganku.
Aku terkesiap. Lega, bercampur bingung, lalu merasa takut. Aku mendongak, memandang ketakutan pada gadis bermata biru yang berwajah datar. “Siapa kau? Dan bagaimana kau tahu—”
“Aku Vooir,” katanya, sambil berdiri membersihkan debu-debu pada baju hitamnya. “Aku bertugas mengawasimu, Leon Redwine.”
“Voo— siapa?”
“Vooir Elledoire. Kau mungkin tidak tahu, tapi aku berasal dari Aldeoirgh.”
Banyak yang harus dicerna di sini, namanya Voo— Elle— apa? Dan kata aneh yang kedengaran berasal dari bahasa Jerman. Otakku berputar-putar, tapi berkat kejadian hidup-dan-mati yang menggebu-gebu bagai kereta supersonik tadi, emosiku meledak. Tidak ada kejadian aneh seperti ini; kecuali kejadian itu tidaklah nyata.
Aku mengambil napas dalam-dalam. “Dengar, aku nggak tau siapa kau, Voo— apa? Atau kau mungkin penguntit setiaku atau apalah, maupun kata aneh yang tadi kau sebut-sebut. Tapi apa-apaan monster tadi, dan apartemenku? Kau dan kru-kru membermu menghancurkan setengah apartemenku dan nyaris membunuhku! Entah sihir apa yang kalian gunakan, atau serial televisi macam apa yang kalian siarkan, aku menuntut ganti rug—”
Dia mendesah. “Sungguh. Jadi manusia di bumi benar-benar tidak tahu apa pun, ya?” Ia mengenakan jaketnya, menutupi pakaian serbahitam gaya militernya.
Aku mengerutkan kening. Nah, ini baru ajaib. Dia mengatakan 'manusia' seolah-olah dia bukan manusia. “Apa maksudmu?”
Dia mengembuskan napas. “Ceritanya ... panjang. Dan kau dari bumi ....” Ia menarik ritsleting jaketnya, terkesan buru-buru. “Para penduduk di seluruh lima dunia dalam ambang kepunahan. Aku bertugas mencari orang yang mampu mencegahnya.” Ia mengenakan tudungnya dan berkata, “Itu saja yang perlu kau tahu. Untuk sekarang.”
Kepalaku terasa diaduk-aduk. “Lima dunia? Kepunahan?” kataku. “Kau ngomong apa sih?”
Dia kelihatan resah. “Lima planet berpenghuni—salah satunya bumi—menyebar di alam semesta. Tampaknya kalian tidak mengetahui fakta ini.” Dia menatapku lekat-lekat, seperti profesor yang bakal nyerocos panjang lebar pada murid balitanya. “Penduduk lima dunia berada dalam ancaman berbahaya. Ancaman mengerikan bagi semua spesies—”
“Kepunahan?” selaku. Aku sama sekali belum memahami situasinya, tapi aku berusaha bertindak normal. “Itukah yang terjadi?”
“Kepunahan. Kebinasaan. Kemusnahan,” katanya getir. Ia mengertakkan gigi. “Semuanya terjadi karena ... suatu kaum mahakuasa merencanakannya. Selama beribu tahun.”
Aku terdiam. Bulu-bulu kudukku merinding pada kata 'punah'. Tapi aku menyadari sesuatu yang membuatku merasa janggal. “Tunggu, jadi kau alien?”
Dia tetap melanjutkan. “Namun, ada orang-orang yang mampu mencegahnya. Salah satunya kau, Leon Redwine.” Ia memandangiku penuh damba seakan aku benda paling berharga di dunia.
Sejuta pertanyaan langsung membuyar di kepalaku. Aku ingin membombardir berbagai pertanyaan padanya saat itu juga, tapi aku langsung menutup mulutku rapat-rapat. Dilihat dari gelagatnya, dia tak punya banyak waktu tersisa.
Aku mencoba mengingat-ingat. Ada empat planet lain yang berpenghuni—persis seperti teori Pak Murphy, yang sukar kubayangkan. Sulit menganggap Pak Murphy sebagai manusia normal. Para penduduk lima dunia, termasuk bumi, berada dalam ambang kepunahan. Karena suatu kaum mahakuasa yang merencanakannya. Dan, yang paling sulit dicerna olehku, aku adalah orang yang mampu mencegahnya. Mendengarnya saja membuat kepalaku terasa diledakkan. Tapi aku mencoba tetap melanjutkan.
“J-jadi,” gagapku, “aku semacam ... Sang Terpilih?”
Rasanya aku ingin menghajar mukaku sendiri saat itu juga.
Vooir terdiam sesaat. Terlihat seperti tengah memilih kata-kata pada kamus bahasa manusia di dalam kepalanya. “Satu dari beberapa yang terpilih,” katanya akhirnya. “Araez Exatra telah menghabiskan separuh hidupnya memilih orang-orang sepertimu.”
“Siapa—”
Dia cepat-cepat menyela. “Vooir Elledoire, dari Aldeoirgh. Senang bertemu denganmu, Leon Redwine dari Bumi.” Ia menjulurkan tangannya.
Aku tidak menanggapinya. Aku masih ragu jika semua ini betulan nyata atau tidak. Tapi debu merah masih bertebaran di tubuhku, dan apartemenku juga masih hancur lebur. Tak ada teknologi manapun yang bisa membuat semua itu. Lukaku sebelumnya benar-benar menyakitkan, dan monster-monster tadi ....
Aku menghembuskan napas. Semua yang terjadi barusan benar-benar sulit dicerna. “Oke. Jika ini sungguhan, jika ini bukan khayalan, jika aku tidak bermimpi dengan mata terbuka, dan nggak ada siaran televisi atau semacamnya—apa yang harus kulakukan? Kenapa aku?” Aku gemetaran. “Aku cuma bocah dua belas tahun dari New York! Dan apakah alien bisa sihir? Yah, pokoknya, aku nggak bisa melakukan apa pun yang tadi kau lakukan. Sekarang aku harus apa? Menyelamatkan dunia?”
Vooir lantas terdiam, kelihatan getir. Aku bisa memakluminya. Aku cuma bocah dua belas tahun biasa yang tak punya keahlian. Apa yang mereka pikirkan—siapa pun mereka, memilihku untuk menyelamatkan penduduk dunia dari ambang kepunahan? Lima dunia? Dan lagi pula, di keadaan yang seperti ini, memangnya bahkan ada apa pun yang bisa dilakukan? Aku tidak bisa sihir, aku tidak tahu apa pun yang terjadi selain secuil informasi. Menyelamatkan lima dunia dengan seluruh tenaga militer bahkan kedengaran mustahil. Lalu bagaimana dengan diriku?
Vooir tampak muram. “Akan kujelaskan detailnya nanti. Hal yang perlu kau waspadai adalah, kaum yang berencana memusnahkan kita semua; para Esmerides.”
Esmerides. Mendengar namanya saja membuatku merinding. Aku teringat Vooir menyebutkan kata itu sebelumnya, saat dia menebar pandangan pada monster-monster yang buyar. Tunggu, mereka Esmerides? Makhluk mahakuasa itu? Mereka dikalahkan dalam sekejap.
Aku ingin menanyakannya, tetapi aku segera menyadari setengah bagian depan apartemenku yang lebur menjadi puing-puing tak beraturan. Temboknya hancur berantakan, memamerkan lubang menganga, dan puing-puingnya menembus lantai. Pintunya terkoyak hingga tak menyerupai apa pun seperti pintu. Seluruh ruangan tampak seperti bekas pertempuran dua batalion pasukan abad pertengahan yang keracunan jamur gila. Ayah akan lumpuh mendadak saat melihatnya. Dan uang yang kami kumpulkan akan hangus terbakar seperti bungkusan kembang api di hari raya.
Mendadak perutku terasa mual memikirkannya.
“Hei! Bagaimana dengan—” Aku berdiri, menunjuk-nunjuk seisi apartemen yang porak poranda sambil menginjak-nginjak lantai penuh amarah. “—INI SEMUA?”
“Oh, maaf,” katanya datar. Seperti gayanya sendiri dalam mengucapkan 'ups'. “Akan kulakukan sesuatu. Untuk sementara, anggaplah orang-orang di sekitarmu tidak menyadarinya—akan kubuat mereka begitu.”
Bukan jawaban yang ingin kudengar. Kupikir dia akan memberikanku uang alien untuk ganti rugi atau apalah. Namun sebelum aku sempat menyinggungnya, ia melongok ke balik sofa. “Bagaimana dengan ibumu? Dia sakit, kan?”
Tenggorokanku tercekat. Aku sama sekali tidak mengingat ibuku—sama seperti saat itu. “Kau ben— tunggu, dari mana kau tahu ...?”
Tapi dia menghilang.
Dan kini aku kehilangan akal bagaimana membuat orang-orang tidak menyadari lubang raksasa di tembok yang menganga.