+ Add to Library
+ Add to Library

C9 PERJALANAN

AKU MERASA aku bermimpi. Hal-hal yang mengabur dan tidak jelas. Kupikir aku melihat rambut merah Ned, atau bayangan kabur wajah pucat Vooir—tapi segalanya mengabur lebih cepat dibanding debu yang ditiup angin. Kurasa aku sempat terbangun berkali-kali, tapi tenagaku tidak cukup kuat untuk membuka mata lebih dari semenit. Jadi aku tertidur lagi.

Saat mataku benar-benar terbuka, hal pertama yang kulihat adalah wajah pucat ibuku.

Aku terbaring di salah satu kursi van. Suara derum mesin memenuhi telingaku. Kepalaku berdenyut-denyut seolah ada yang memukul-mukul pelipisku dengan tongkat bisbol berpaku, dan tenggorokanku lebih kering dibanding gurun pasir di tengah hari. Gusi dan gigiku sakit dan seluruh tubuhku terasa seperti mumi. Aku berusaha duduk—yang butuh waktu lama karena tulang-tulangku mendadak rasanya seolah tanpa sendi.

Aku bertanya-tanya apa yang terjadi pada Troll-Esmerides itu. Tak ada yang kuingat selain kilatan cahaya terang yang membutakan, dan sesuatu yang menghantam punggungku. Aku menatap pergelangan kaki kiriku. Lukanya sudah sembuh. Aku merasa seperti pernah mengalami penyembuhan secepat ini sebelumnya—tapi sekalinya aku berusaha berpikir, tengkorak kepalaku rasanya bakal rontok.

Aku memandang ke depan. Di kursi supir, aku bisa melihat rambut cokelat gelap berantakan ayahku, dan di sebelahnya, aku bisa mengenali rambut hitam mengilat yang tidak asing—Vooir.

Kepalaku diaduk-aduk jutaan pertanyaan, tapi yang bisa kukuak adalah, “Sudah berapa lama ... aku pingsan?”

Aku yakin suaraku lebih mirip embikan domba dibanding suara manusia normal, tapi ayahku tetap menoleh. Dia kelihatan lega. Aku bisa melihat lebih banyak keriput muncul di wajahnya. Dia tampak beberapa lipat lebih tua dibanding terakhir kali aku melihatnya. “Oh, Leon. Kau sudah bangun? Syukurlah. Ternyata benda itu bekerja.” Dia menatap arlojinya. “Kau pingsan selama—eh, beberapa jam.”

Vooir menyela. “Lebih tepatnya, delapan jam tiga puluh dua menit,” koreksinya.

“Oh, terima kasih, Nak,” kata ayahku. Dia mengusap wajahnya. “Akhir-akhir ini aku tidak bisa fokus.”

Aku melirik ayahku dan Vooir bergantian dengan gugup. Mereka kelihatan ... akrab. Maksudku, seakrab mungkin yang bisa dilakukan manusia dan alien. Jika mereka bisa seakrab ini, apakah Vooir sudah menceritakan semuanya? Tapi kenapa ayahku tidak bertingkah—tahulah, tindakan normal manusia saat tahu alien itu nyata dan kita semua bakal musnah; menjerit, pingsan di lantai, kabur dengan taksi, atau mengunci kami rapat-rapat di rumah sakit jiwa dengan sekotak krayon.

“Jadi ... eh, kalian sudah saling mengenal?” tanyaku, meski suaraku lebih mirip decitan bebek karet.

Vooir menoleh ke belakang. Matanya sebiru langit. “Aku sudah menjelaskan segalanya pada ayahmu,” katanya. “Kewajiban Dasar Pengawalan Militer.”

“Eh ... dia percaya, kan?” tanyaku dengan berhati-hati. Mungkin ayahku sebetulnya berencana memasukkan kami ke rumah sakit jiwa, jika dia bisa setenang itu. Atau Vooir telah menceritakan cerita karangan yang cukup meyakinkan. Tidak setiap harinya kau menemukan putramu sekarat setelah dihajar troll.

Vooir tampak ingin menjawab, tapi ayahku lebih dulu berdeham. “Aku bisa mendengar kalian berdua, tahu,” tegurnya tajam. Sebelum aku bisa beralasan, dia mengembuskan napas. “Awalnya kupikir kau mati, Leon. Kau terkapar di tanah, tak sadarkan diri. Aku nyaris menumpahkan setangki bensin. Untungnya ada Vooir di sebelahmu, jika tidak, mungkin kau tidak akan bisa berjalan lagi.”

Aku menggerakan pergelangan kakiku. Lukanya benar-benar sembuh, mulus tanpa bekas. Mungkin Vooir menggunakan cairan aneh itu lagi, batinku.

Ayahku menggelengkan kepalanya, kelihatan frustasi. “Aku tahu ini akan terjadi, tapi tidak—tidak pernah kupikir putraku sendiri yang menerima takdir itu.”

“Apa?” tanyaku. “Jadi Ayah sudah tahu sejak awal? Tentang Esmerides, Lima Dunia—”

“Ayahmu bisa diandalkan,” sela Vooir. “Dia salah satu dari sedikit manusia yang tahu tentang Lima Dunia. Ini berita bagus.”

Ayahku berdeham, kelihatan resah. Mata gelapnya yang memerah berkilat di kaca mobil. “Mungkin sudah saatnya aku memberitahumu ini, Leon,” katanya. Aku bisa merasakan ini momen yang penting, dan mendadak isi perutku seperti diblender. Dia berdeham lagi dan berkata, “Aku ilmuwan. Astrofisikawan, yah ... dulunya.”

Aku terdiam, menunggu terompet-terompet bergaung dan konfeti jatuh dari langit, dan ayahku beserta Vooir bersorak; TERTIPUUUU! Tapi itu tidak terjadi. Vooir hanya menggumam. “Sebelas kilometer lagi. Benda ini lumayan juga, untuk ukuran Bumi.”

“Tunggu,” sahutku. Ini tidak masuk akal; ayahku? Imuwan? Jika dia menyebutkan musisi metal atau atlet bela diri, aku tidak akan heran. Tapi ilmuwan? Belum pernah kudengar soal ilmuwan penggemar musik metal. “Ini sungguhan? Ayah ... ilmuwan? Bagaimana—sejak kapan?”

Ayahku menggaruk-garuk rambut panjangnya. “Eh ... yah, soal itu, ceritanya panjang. Aku sudah keluar dari pekerjaan itu lama sekali. Oh, Vooir, bisa tunjukkan jalannya lagi?”

Mereka mulai bercakap-cakap, tak menghiraukan aku lagi.

Dari dulu, kupikir ayahku selalu begini. Kerja serabutan, penampilan acak-acakan, dan punya kemampuan bela diri yang hebat. Aku tidak pernah kepikiran kalau dia dulunya punya pekerjaan lain. Apalagi mengira kalau dia ilmuwan—kalau kau mengenal ayahku, gagasan itu lebih kedengaran seperti menghantamkan balok segitiga pada ceruk persegi.

Sejujurnya, aku ingin menanyakan soal kenapa dia keluar, atau ke mana perginya semua uang ilmuwannya itu. Tapi kurasa jika aku terlalu banyak menanyakan pertanyaan-pertanyaan personal, ayah akan marah. Aku bisa merasakan dia menghindari pertanyaanku, seolah aku menanyakannya soal bagaimana anjingnya mati dan apa kata-kata terakhirnya. Aku tidak akan mengorek apa pun kecuali lebih banyak masalah. Tapi bagaimanapun juga, aku butuh lebih banyak informasi. Aku bangun dari pingsan berjam-jam setelah bertarung dengan troll yang nyaris meremukkan tengkorakku, dan tampaknya kedua orang ini tak akan memberitahuku apa-apa kecuali aku menyinggungnya duluan.

“Apa maksud Ayah soal bahaya lain saat itu adalah ... Esmerides?” tanyaku. Aku belum bisa melupakan bagaimana dia berteriak tiba-tiba dan soal balap-balapan gila perdanaku. Setelah kejadian dengan Troll-Esmerides itu, segalanya terasa bagaikan mimpi.

“Ya. Cepat atau lambat, seisi kota akan hancur saat Esmerides benar-benar turun tangan—entah dalam wujud apa. Tak pernah kusangka putraku ada sangkut pautnya dengan ... yah, semua itu,” ujar ayahku, kedengaran letih.

Aku bisa memahaminya. Jika anakku sendiri berhubungan dengan masalah tingkat dunia, aku juga tidak akan percaya. Bahkan hingga saat ini, rasanya aku belum bisa benar-benar mencerna semua kejadian tadi. Mengetahui bahwa ayahku memahami situasiku rasanya sedikit membuatku lega. Akhirnya aku punya ruang bernapas.

“Vooir, ke mana arahnya tadi? Aku benar-benar tidak bisa fokus,” kata ayahku.

“Sepuluh kilometer lagi, lalu belok ke kanan,” ujar Vooir. “Menuju ... oh, Fifth Avenue.”

Aku bisa mendengar ayahku bergumam. “Sudah lama aku tidak melewati jalan ini.”

Saat itulah aku baru menyadari di mana kami berada. Aku menatap jendela. Kami melaju di Manhattan, tepatnya di 76th Street. Tepat sepuluh kilometer menuju Fifth Avenue. Aku tidak bisa benar-benar melihat apa yang terjadi di luar, mataku terasa sakit jika menatap jendela terlalu lama. Yang bisa kulihat hanyalah pancaran cahaya api yang berkobar, beberapa papan penunjuk jalan yang setengah terbakar, dan papan nama beberapa bangunan yang penuh coret-coret. Aku bertanya-tanya apa yang kami lakukan di Fifth Avenue.

“Ayah, memangnya kita mau ke mana?” tanyaku.

“Central Park,” katanya. “Eh ... Vooir bisa menjelaskannya.”

Vooir menoleh. Mata birunya seolah berapi-api dengan cahaya jingga di sekitar kami. “Kita bisa menghentikan kekacauan ini di sana.”

“Jadi maksudmu ... pemecah masalah semua ini ada di Central Park?” ucapku, berjengit. Setelah semua masalah yang kuhadapi, ternyata segalanya bisa dihentikan di Central Park—taman wisata paling populer di Amerika Serikat. Tempatku dulu biasa memetik buah stroberi dan menghancurkan museum. Aku bisa merasakan sesuatu yang dingin menyentuh tanganku.

Vooir tampak berusaha menyusun kata-kata manusia yang tepat. Akhirnya dia berujar, “Ya ... dan tidak. Sulit untuk menjelaskannya sekarang. Kau akan paham saat berada di sana.”

Sebetulnya, aku ingin bertanya lebih banyak. Tapi aku lebih penasaran pada pisauku. Aku bisa merasakan bilah dinginnya menyentuh permukaan kulitku. Aku berbalik, menduga akan menemukan sebuah pisau lipat mencekam yang berkilat-kilat, tapi yang kutemukan adalah ... sebuah tongkat? Benda itu berwarna keemasan, dengan ujung runcing setajam silet, dan ukiran rumit yang bisa membuat orang buta sakit mata. Gagangnya terbuat dari semacam kayu dan berbentuk menggembung. Aku menggenggam tongkat itu, menggoyangkannya layaknya penyihir tolol. “Vooir ... eh, benda apa ini?”

Vooir berbalik. Mata birunya berkilat. Aku bisa merasakan ketertarikannya pada tongkat entah apa di genggamanku. “Ikatan yang termaterialisasi,” gumamnya.

“Apa?”

“Ikatan yang termaterialisasi,” ulang Vooir, seolah aku bakal mengerti jika disebut dua kali. “Ikatan. Aku lupa belum menjelaskannya. Kau ingat kekuatanku? Itu adalah ikatan yang dialirkan secara fisik. Kau boleh menyebutnya sihir—tapi orang-orang Aldeoirgh kurang menyukai itu. Ikatan yang termaterialisasi terbentuk saat ikatan batin seseorang mendadak menjadi sangat—tidak, terlalu kuat, dan benda itu akan jadi pusakanya.”

Vooir menatapku lurus-lurus di mata. “Saat kau menghadapi Esmerides itu, barangkali kau menjalin ikatan yang kuat dengan salah satu sifat sejati Araez Exatra; keberanian.”

“Keberanian,” ulangku, seakan itu mantra ajaib. Aku baru menyadari saat itu bahwa benda di genggamanku bukanlah tongkat sihir, melainkan baton konduktor. Aku pernah melihatnya saat orkestra perpisahan sekolah dasarku dulu. Tapi kenapa benda ini? Aku ingin menanyakannya, tapi perhatianku teralih pada nama aneh itu; Araez Exatra. Rasanya aku pernah mendengar Vooir menyebut-nyebut nama itu sebelumnya. Aku bertanya-tanya apa hubungannya dengan ini semua.

“Jadi siapa—eh, Araez apalah ini?” tanyaku.

Vooir tampak malu. “Oh. Aku lupa belum menjelaskannya.” Dia berdeham, matanya berbinar. “Dia berhubungan dengan takdirmu, Redwine. Araez Exatra adalah seorang Esmerides—”

“Esmerides?” selaku, mengernyitkan dahi. “Jadi Esmerides nggak benar-benar jahat?”

“Tidak. Mereka tidak benar-benar baik ... atau jahat. Esmerides berperilaku sesuai keinginan mereka, seperti orang biasa,” kata Vooir. “Araez Exatra tidak setuju dengan keputusan Esmerides lainnya memusnahkan penduduk Lima Dunia. Dia berkeliling, melewati dunia demi dunia, mencari orang-orang yang pantas terikat padanya. Dia melihat takdir mereka, Redwine. Seperti takdirmu.”

Takdirku, batinku. Adalah menyelamatkan Lima Dunia. Jadi orang ini yang memilihku? Aku ingin menanyakan kenapa dia memilih bocah dua belas tahun sepertiku, tapi Vooir masih belum selesai.

“Dia mengikat mereka pada dirinya, memberikan mereka kekuatan-kekuatan luar biasa yang dia miliki, dan akhirnya mengikat mereka dalam satu takdir; Takdir Araez. Orang-orang yang ditakdirkan menyelamatkan dunia dan melawan Esmerides.” Mata biru Vooir berkilat, sebiru lautan. “Kau adalah salah satu dari yang memiliki Takdir Araez, Leon Redwine, dan kau mampu mencegah ini semua. Ikatanmu dengan Araez Exatra sangat besar.”

“Jadi,” ucapku, “apakah dia juga yang memberikan kekuatan aneh saat aku menghadapi tro—eh, Esmerides itu?”

Vooir mengangguk. “Tepat. Ikatanmu terjalin saat itu, dan kau mampu menghadapi Esmerides.” Dia mengangkat bahu. “Beberapa orang bilang ikatan Takdir Araez lebih kuat dibanding ikatan darah, tapi itu masih jadi perdebatan.”

Sebetulnya, aku ingin mengatakan sesuatu yang lebih cerdas, tapi aku hanya bisa bergumam, “Jadi aku diberi kekuatan super oleh seseorang yang nggak kukenal. Hebat.”

“Sebenarnya lebih rumit. Tapi jika itu lebih nyaman bagi orang-orang Bumi, tak masalah,” kata Vooir.

“Tapi,” selaku, bibirku gemetar. “Kenapa dia memilih—yah, aku? Bocah dua belas tahun dari New York? Bukannya lebih baik kalau dia memilih orang yang lebih—eh, berpengalaman?”

“Araez Exatra melihat takdirmu, Redwine,” kata Vooir, dia kelihatan memelas. “Kau punya potensi yang hebat, sifat sejati yang sama sepertinya; keberanian, jiwa, dan tekad yang besar. Keputusannya tidak bisa diragukan. Sekarang kau belum mengetahuinya, tapi perlahan-lahan, kau pasti akan paham.”

Aku ingin berdebat, mengatakan kalau aku sama sekali tidak punya bakat apa pun untuk menyelamatkan dunia, tapi aku tahu Vooir hanya akan mengulang kalimat terakhirnya. Aku mendesah. Mungkin aku tidak perlu seresah ini jika Araez apalah itu memberikanku buku panduan. Aku tahu aku berhasil menghajar Esmerides itu—entah dia mati atau tidak—dan mendapatkan baton emas ini, tapi aku berani bersumpah kalau semua ini cuma keberuntungan konyol seperti menang lotere. Aku bahkan masih tak bisa menjelaskan bagaimana pastinya aku bisa mengerahkan kekuatan itu, meski Vooir sudah menjelaskan panjang lebar tentang ikatan. Jelas sekali aku tidak punya otak yang sepadan untuk menyelamatkan dunia.

“Lalu,” sahutku. “Kenapa Esmerides menginginkan kita semua musnah? Maksudku, kalau mereka benar-benar makhluk mahakuasa, bukannya kita seperti semacam semut atau apalah?”

Vooir menunduk, menyembunyikan wajahnya. Aku punya firasat dia tengah mengertakkan giginya. “Untuk saat ini, kami tidak tahu,” katanya lemah. “Kami hanya tahu kalau mereka tinggal di suatu tempat tak tergapai bernama Kosmodeur. Bahkan beberapa orang beranggapan itu cuma mitos.”

Aku ingin bertanya lebih banyak soal itu, tapi aku punya firasat kalau itu hanya akan membuat Vooir resah. Mungkin dia tertekan dengan semua ini, karena secara teknis ini kiamat, apalagi dia bertugas mencari orang-orang sepertiku. Jadi kuputuskan untuk melupakannya dengan menggoyangkan batonku.

“Benda ini ... kenapa bentuknya baton? Kalau ini pusakaku, bukannya bakal lebih ker—maksudku, lebih berguna, kalau benda ini pedang atau apalah?” tanyaku, mengayunkan baton itu seperti konduktor orkestra.

“Pusaka mencerminkan jati diri penggunanya,” ucap Vooir, menatap batonku. “Mungkin kau akan mengetahui artinya nanti. Ini pertama kalinya aku melihat pusaka seorang Takdir Araez, jadi aku juga penasaran.”

“Terus, kau juga punya beginian?” tanyaku, memutar-mutar baton di tangan seperti pemimpin marching band konyol.

“Sayangnya, tidak,” kata Vooir. “Pusaka hanya terbentuk bagi orang-orang tertentu. Tidak semua orang memilikinya. Kau harus jaga baik-baik benda itu.”

“Baiklah,” kataku, meski aku masih tidak mengetahui kegunaan baton untuk menyelamatkan dunia. Kalau memang ini mencerminkan jati diriku, aku masih tidak mengerti kenapa mereka—atau ikatan, apa pun itu—memberikanku sebuah baton. Aku tidak pernah ikut paduan suara.

“Omong-omong, mana pisauku? Benda itu hilang begitu saja.” Aku meraba-raba kursi van. “Jangan bilang barang itu berubah bentuk jadi ... ini?” tanyaku, menatap tajam baton keemasan di genggamanku. Aku agak merasa kesepian setelah kehilangan pisauku, meski aku baru memegangnya selama beberapa menit, rasanya aku sudah keliling dunia bersama benda itu.

“Kemungkinan besar, iya,” kata Vooir. Aku merasa agak kasihan padanya karena perlu menjelaskan semua ini. Pasti lidahnya kelu. “Pusaka jarang terbentuk dari udara kosong. Kau perlu benda fisik untuk dijadikan pusakamu.”

Aku mengingat-ingat saat aku berada di atas kepala Troll-Esmerides itu, bagaimana pisauku memberat, dan kilatan cahaya terang yang mengaburkan segalanya. Mungkin saat itulah pusakaku terbentuk? Namun jika benar, apakah troll itu benar-benar mati atau ...?

“Troll itu,” gumamku. “Esmerides. Apakah mereka sudah ... mati?”

Vooir menggeleng. “Tidak. Esmerides tidak bisa benar-benar mati. Mereka hanya terkikis menjadi partikel yang lebih kecil.”

“Partikel yang lebih kecil?” ucapku. Apakah ini alasannya kenapa Esmerides bertudung itu kembali? “Jadi mereka ... abadi?”

“Tergantung kau bertanya pada siapa,” kata Vooir. “Kau bisa mengikis mereka menjadi partikel-partikel sekecil bakteri. Beberapa orang menganggap kondisi itu sebagai kematian Esmerides. Kau bisa mengusir mereka, tentu saja, tapi itu dibutuhkan kekuatan dan ketelitian yang luar biasa.”

“Tunggu,” selaku. “Bukannya Esmerides itu—eh, cuma monster?”

“Monster?” gumam Vooir. “Apa itu julukan Bumi?”

Aku nyaris lupa dia alien. “Eh, kau lihat mereka kan? Mereka kelihatan mengerikan. Kami menyebut sesuatu seperti itu sebagai monster,” kataku. Kali ini aku merasakan kenapa Vooir enggan menjelaskan semuanya dari awal. Sulit menjelaskan sesuatu yang normal kepada spesies lain.

“Jadi itu artinya? Sepertinya aku belum menjelaskan semuanya soal Esmerides,” kata Vooir, pipi pucatnya bersemu merah muda. “Esmerides—seperti yang dulu kujelaskan—adalah makhluk mahakuasa. Mereka bisa berwujud apa saja, melakukan apa saja, dan memiliki kekuatan yang luar biasa. Mereka mirip dengan dewa-dewi—mitos kuno. Beberapa bangsa di Aldeoirgh bahkan masih menganggap mereka begitu.”

“Mereka bisa berubah wujud?” gumamku. Kupikir kata-kata ayahku cuma perumpamaan. “Tapi kalau mereka benar-benar makhluk mahakuasa, kenapa mereka tidak mengambil wujud yang lebih—yah, berwibawa?”

“Esmerides selalu menunjukkan tujuan mereka lewat wujudnya. Mungkin mereka mewujud menjadi ketakutan orang-orang Bumi—apa yang kau sebut tadi? Oh, monster,” kata Vooir, kelihatan berusaha mengingat-ingat kata itu.

Mungkin itu alasan kenapa Esmerides-Esmerides itu kelihatan seperti tiruan monster-monster mitologi. Aku masih bertanya-tanya mitologi mana yang mereka gunakan untuk anjing kelabu berkepala dua itu. Aku teringat dengan monster anjing berkepala banyak Yunani dari kelas seni Bu Garcia—apa namanya, Cerberus?

Aku melihat Vooir menunduk, kelihatan sedih. Aku ingin menghiburnya, tapi dia sudah bicara duluan. “Maafkan aku. Seharusnya aku tidak menggunakan kekuatanku sebanyak itu. Rogeid benar, aku melemah. Esmerides kembali menemukanmu.”

Butuh waktu buatku untuk mencerna informasi itu. “Bukan salahmu,” kataku.

“Itu salahku. Aku gagal. Aku seharusnya melindungimu,” Vooir berkeras. “Mereka Esmerides bawah. Mereka butuh satu sama lain. Jika dulu aku berhasil mencegah Esmerides itu kembali, kejadian ini tak akan terjadi.”

“Aku tidak memintamu melindungiku,” kataku. “Lagi pula, aku sendiri yang—eh, melemparkan diriku ke Esmerides itu. Menentangmu.”

Vooir menggeleng keras-keras. “Melindungimu sudah tugasku. Mengawasimu, menjagamu, memastikan kau aman. Kau tanggung jawabku. Itulah kenapa aku di sini.”

“Tapi aku selamat kan?” kataku. “Bukannya itu yang terpenting? Kau berhasil.”

“Untuk sekarang,” timpal Vooir lemah. “Seorang Elledoire diharapkan selalu berhasil. Itulah kenapa kami dikenang.”

Aku ingin menenangkannya, tapi tiba-tiba suatu cahaya kebiruan memancar dari pergelangan tangannya. Kupikir benda itu cuma gelang biasa. Lalu kusadari kalau gelang itu bukan cuma perhiasan. Warnanya keemasan, seperti dibuat dengan kuningan, dan di tengahnya terdapat layar kecil kebiruan yang berkedip-kedip. Logam gelang itu bersilangan membentuk pola unik. Kelihatannya seperti benda kuno yang dicampur aduk dengan teknologi canggih.

“Apa itu?” tanyaku penasaran.

“Bukan apa-apa,” jawab Vooir cepat-cepat, mengetuk layar itu. “Cuma ... Aldeoirgh.”

Aku bisa melihat bibirnya gemetar, dan itu membuatku merasa iba. Apakah kehidupannya di Aldeoirgh benar-benar buruk? Aku belum pernah melihatnya tersenyum.

Sebelum aku menyadarinya, kami mulai memasuki Fifth Avenue. Mataku yang akhirnya membiasakan diri bisa melihat gedung yang bertengger di kanan-kiri kami terbakar. Beberapa orang berlalu-lalang, tapi tak ada seorang pun yang tampak tertarik pada van kami. Tetap saja, meski semuanya kelihatan tenang di sini, aku tak yakin apakah sebuah organisasi bersenjata akan berhenti setelah kekacauan besar-besaran kemarin. Barangkali di depan sana, mereka tengah merayakan ritual sambil bernyanyi gembira dan memanggang orang hidup-hidup. Cuma imajinasiku, tapi tak ada yang tahu kan?

Tiba-tiba, aku teringat dengan kata-kata Vooir tadi. Dia bertugas menjaga, mengawasiku, dan kedengarannya itu penting baginya. Aku bertanya-tanya bagaimana dia melakukan itu—dan sejak kapan. Gagasan soal orang asing mengawasimu kedengaran mengerikan bagi siapa saja yang punya akal sehat.

“Em ....” Aku membersihkan tenggorokanku. Itu tindakan bodoh, karena berikutnya tenggorokanku terasa seperti disengat-sengat kalajengking. “Jadi, sudah berapa lama kau mengunti—maksudku, mengawasiku?”

“Beberapa bulan,” kata Vooir.. Aku berpikir apakah dia akan berbalik dan bersorak; TERTIPUUU! Tapi tampaknya itu tidak akan terjadi.

“Beberapa ... bulan?” tanyaku.

“Lebih tepatnya, dua bulan dan dua puluh empat hari—” Vooir menatap gelangnya, “—dan delapan jam tiga puluh dua menit.”

“O-oh,” kataku, meski lebih untuk menjaga kewarasanku. Aku tidak tahu—atau ingin—ada seseorang yang memata-mataiku selama itu. Kepalaku mulai berputar memikirkan hal-hal konyol apa saja yang kulakukan dua bulan sebelumnya, dan kurasakan mukaku bersemu merah. Oh, ya ampun, kuharap dia tidak pernah melihat semua itu.

“Jadi kau baru datang ke sini setelah Tornado Brooklyn terjadi?” tanyaku, berusaha keras menghindari topik itu.

“Tidak. Aku sampai dua bulan sebelumnya. Jadi aku sudah di Bumi selama lima bulan. Tiga bulan setelahnya, barulah aku menemukanmu,” kata Vooir. Nada bicaranya ringan, tapi aku bisa mendengar sedikit kekecewaan di dalam suaranya. “Aku tahu kami terlambat. Esmerides mencapai Bumi lebih cepat dibanding yang kami perkirakan.”

“Nggak apa-apa. Setidaknya kau berhasil ke sini,” kataku. “Tapi—tapi aku tidak mengerti. Kenapa Amerika? Kenapa New York? Aku tahu menanyakan ini kedengaran egois, tapi kenapa Esmerides mengacaukan tempat tinggalku duluan?”

“Esmerides berencana memusnahkan penduduk Lima Dunia, Redwine,” ujar Vooir. “Amerika adalah negara yang jadi pusat Bumi sekarang, dan kebetulan kau tinggal di ibu kotanya. Dua burung satu batu—seperti perumpamaan kalian orang-orang Bumi.” Vooir menatap gelang kuningannya. “Bumi adalah planet pertama yang berhadapan dengan Esmerides secara langsung. Mungkin Esmerides mudah mencapai kalian karena tak ada informasi apa pun soal Lima Dunia di sini.”

“Begitu,” gumamku, merasa lelah. Aku menggenggam batonku erat-erat. Ujung runcingnya berkilat jingga. Aku bertanya-tanya apa yang bisa dilakukan benda ini untuk menyelamatkan Bumi, semua orang, dan keluargaku—dan yang lebih penting, apakah aku bisa menggunakannya?

Central Park ada di depan kami sekarang. Aku memicingkan mata. Di rerumputannya, terdapat banyak sampah berserakan. Bukan sampah yang biasa kau temui di taman wisata; tak ada bungkus keripik kentang atau setoples kosong selai kacang. Melainkan potongan kayu, papan pemrotes, gergaji mesin rongsok, berbagai macam peluru, dan tiang lampu jalan yang tercerabut dari tanah. Aku tidak tahu bagaimana mereka bisa membawa-bawa lampu jalan, tapi aku khawatir apakah ada pegulat profesional yang jadi anggota mereka. Coret-coretan cat semprot menghiasi taman itu seperti kanvas orang sakit jiwa.

Beberapa orang berkumpul di sana, tepat di depan balkon museum. Jika kau memicingkan mata hingga segaris, kilatan cahaya kecil akan terlihat di pakaian mereka. Aku menebak itu adalah kilatan sebuah lencana. Pemrotes bersenjata, batinku. Seseorang berdiri di atas undakan, memegangi megafon. Dia berteriak: “KITA AKAN MELAWAN! KITA AKAN MENGGULINGKAN PEMERINTAHAN! MEREKA MENGANGGAP REMEH ORANG-ORANG YANG TERTIMPA BENCANA DAN MEMPERLAKUKAN MEREKA SEPERTI SAMPAH! BEBASKAN AMERIKA!”

Orang-orang yang berkumpul ikut bersorak. “BEBASKAN AMERIKA!”

“Em ... Ayah—” Aku mengintip takut-takut. “Apa Ayah yakin di sana ... aman?”

“Mereka tidak bisa melakukan apa pun di Central Park pada pagi-pagi buta,” kata ayahku. “Sementara kita tidak mencurigakan, semuanya akan baik-baik saja.”

Kami terus melaju. Fifth Avenue ramai, tapi para pemrotes lebih mementingkan sesuatu di depan. Apakah ini alasannya 76th Street lengang? Aku tidak bisa melihat dengan jelas karena api yang membara. Mungkin soal mereka yang memanggang orang hidup-hidup itu betulan. Sorakan mereka memenuhi telinga.

Kami menukik menuju 86th St Transverse. Sementara kami melaju, van menukik lagi—melejit dengan kecepatan tinggi menembus pepohonan. Tampaknya peraturan jalan tidak berlaku lagi di sini. Bangunan dan monumen-monumen menjadi korban vandalisme pemrotes—patung air mancur penuh coret-coret, museum-museum terbakar dan jadi kanvas tiga dimensi raksasa, bahkan lampu jalan yang nyaris redup di samping bengkok ke bawah. Central Park kini terlihat seperti tempat pembuangan sampah raksasa, bukan tempat yang cocok untuk rekreasi. Kami terus menembus pohon demi pohon, beberapa monumen yang setengah hancur, kebun binatang, dan menuju tempat yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Kami mendadak berhenti. “Kita sudah sampai,” ucap ayahku, memutar persneling. Dia dan Vooir turun, sementara aku terduduk di kursi mobil seperti orang tolol. Selanjutnya, pintu van bergeser dan ayahku serta Vooir membantuku turun dari mobil menapaki rerumputan. Pintu menutup dan wajah pucat ibuku diselubungi kegelapan.

Saat berjalan, kakiku rasanya seperti terbuat dari egrang. Tapi aku tidak bisa mengeluh di tempat seperti ini. Kami memasuki pepohonan kelam yang seolah tanpa ujung. Kalau kau tidak melihat dengan baik, bisa saja kau mengira pohon-pohon itu berwarna biru. Burung-burung dan kelelawar berterbangan di cakrawala. Aku tidak pernah tahu kalau Central Park punya tempat seperti ini. Tentu, ada The Ramble, tapi aku tidak tahu ada hutan tak terawat dan sekelam ini di Central Park.

Vooir menyahut. “Di sana!”

Dia menunjuk tempat di sebelah kanan kami-yang tampak seperti sebuah lingkaran. Pohon-pohon tumbuh dengan susunan lingkaran sempurna seukuran tujuh meter persegi. Kami memasuki lingkaran itu. Mungkin cuma imajinasiku, tapi ayahku kelihatan seperti menghayati sesuatu.

“Tempatnya di sini,” kata Vooir, menyentuh permukaan rumput. “Rogeid—eh, asistenku, akan segera datang. Dia membawa semua barang-barang yang diperlukan untuk menempuh perjalanan lewat Lubang Exatra.”

“Dia yang akan melakukannya?” tanya ayahku. Entah kenapa dia kelihatannya tak asing soal hal ini.

Vooir mengangguk. “Ya. Aku tak bisa masuk tanpa izin Kekaisaran. Hukum Dasar Pengawalan Militer.”

Aku ingin mengatakan sesuatu, khususnya soal apa yang bakal kami lakukan di sini, tapi ayahku lebih dulu bicara. “Sebelum itu ....” Dia merogoh sesuatu dari saku jaketnya. Benda hitam itu berkilat dalam gelapnya malam. Aku baru menyadari itu pistol saat Ayah mengangkatnya tinggi-tinggi di udara.

“Apa yang akan Ayah lakukan dengan ... barang itu?” tanyaku. Aku baru teringat soal ke mananya pistol itu.

“Sebuah tes, kalau mau disebut begitu,” kata ayahku. Bibirnya gemetar. “Aku hanya ingin tahu, Leon. Apakah kau menggunakan benda ini atau tidak.”

Aku ingin membantah, tapi ayahku sudah mengokang pistol itu duluan. Dia menekan pelatuknya dan ....

DOR! Peluru meletus keras-keras di udara.

Logam itu melesat ke tanah. Ayahku tersenyum. “Kau hebat, Putraku. Kau tak menggunakannya. Aku mengisinya dengan satu peluru-hanya untuk hal ini.” Dia menatap sedih pistol kosong di tangannya. “Benda ini ... dirancang hanya untuk membunuh,” ucapnya lemah.

“Ayah ....” ucapku, berusaha menghiburnya. “Terima kasih.”

Ayahku tersenyum. “Seharusnya aku yang bilang begitu. Kau hebat, Nak. Kau memang putraku,” katanya bangga. Dia berbalik menghadap Vooir. “Apa Leon harus segera pergi? Aku tahu kalian dari Aldeoirgh-kalian bisa dipercaya. Aku hanya tidak ingin putraku ... yah ....”

“Tenang saja, Tuan Redwine,” kata Vooir, suaranya profesional. Aku merasa dia sering menangani hal semacam ini.

“Kami tahu ini tanggung jawab yang besar-apalagi untuk anak seusianya. Leon Redwine akan baik-baik saja selama dalam pengawasan kami. Aku berjanji akan membimbingnya mengemban tugas ini. Araez Exatra telah memberinya kepercayaan untuk menopang bebannya.”

“Yah ... kau benar,” aku ayahku lemah. “Araez selalu memilih yang terbaik, bukan?”

Vooir mengangguk. “Kita hanya perlu percaya pada Redwine,” katanya, menatapku penuh damba.

Aku merasa gugup. Sekalipun Vooir telah menjelaskan banyak hal padaku, aku masih merasa tak pantas dipuji. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkan dunia. Apakah Araez melakukan kesalahan memilihku? Tapi kurasa tak pantas bagiku untuk meragukan seorang dewa.

Saat aku berpikir untuk mengatakan sesuatu supaya memecah keheningan canggung ini, aku teringat akan Ned.

“Ned,” gumamku. “Bagaimana dengan Ned? Apa dia menghubungi Ayah?”

Ayahku tampak sedih. Dia menggeleng. “Tidak. Aku belum dapat kabar darinya.”

“Sial,” umpatku. Aku mulai merogoh-rogoh saku celanaku. “Aku harus menghubunginya. Di mana ponselku?”

“Ini.” Ayahku menyodorkan ponselku. Kacanya retak. “Terjatuh. Eh ... sepertinya kau perlu ponsel baru.”

“Makasih, Yah,” kataku, tak memedulikan retakan di layar. Aku langsung menelepon nomor Ned. Keringat mengalir di dahiku.

Satu deringan ....

Dua deringan ....

Klik. Seseorang mengangkatnya.

“Ned!” aku langsung berseru begitu telepon diangkat. “Kau nggak apa? Di mana kau sekarang? Oh, syukurlah. Kukira kau bakal sekarat!”

“Oh ... Leon,” kata Ned lirih. Suara-suara aneh terdengar di balik deru napasnya. “Aku nggak apa. Cuma ... yah, sedikit masalah teknis. Tapi nggak ada yang serius kok! Em ... yah, pokoknya, semuanya baik-baik saja!”

Entah apa yang berusaha dia yakinkan, tapi sepertinya tidak berhasil. Aku bisa mendengar suara statis sesuatu yang nyaring.

“Ned, suara apa itu? Apa yang terjadi di sana?” tanyaku panik. “Jangan-jangan ... tembakan?”

“O-oh, itu, eh .... Bukan apa-apa kok! Nggak penting! Anu, Leon, kau ada di mana?" Ned mengeraskan suaranya. "Di luar sana berbahaya. Kami-eh, aku dan ayahku, mungkin bisa membantu. Kita bisa mencari tempat aman bersama-sama. Aku dengar stasiun STA dibobol, syukurlah kau nggak apa-apa.”

Seperti kata ayahku, stasiun STA tidak bertahan lama. Satu tim SWAT bersenjata lengkap berhasil dikalahkan. Apa ini ulah Esmerides?

Aku menutupi ponselku, melirik hati-hati ke Vooir. “Dia bisa kan, ke ... em, tempat ini?”

“Selama dia tak berbahaya,” kata Vooir, mengangkat bahu. “Informasi tentang Esmerides seharusnya diberitakan di seluruh Lima Dunia. Tapi situasi Bumi sekarang mungkin bukan waktu yang tepat.”

Mungkin cuma imajinasiku, tapi ayahku kelihatan bersalah.

“Baiklah, Vooir. Makasih atas—eh, informasinya,” kataku. Aku kembali bicara pada Ned. “Kami ada di Central Park. Eh ... bagian paling belakang.”

“Central Park?” tanya Ned.

“Ya. Ceritanya panjang. Kami berada di pepohonan bagian paling belakang Central Park. Eh ... yah, pokoknya, jalan terus di 86th St Transverse dan kami akan melihat kalian.”

“Oh, oke. Baiklah. Kami akan datang ke sana-setelah ini selesai. Ayah, kita harus—”

Panggilan terputus.

Setelah setengah jam yang melelahkan, cahaya mobil kekuningan menerangi pohon-pohon.

“Ned! Di sini!” seruku, berlari menuju arah cahaya itu. Mobil berhenti tepat di samping van. Kedua lampu Bentley itu menyorot terang di kegelapan. Kurasa ini pertama kalinya aku melihat mobil Bentley sungguhan.

Ned keluar dari mobil, diikuti dengan seseorang yang mirip dengannya dari kursi supir. Rambut ikal merahnya terlihat seperti api di kegelapan. Dia berlari cepat ke arahku, terengah-engah, sambil menggendong tas ransel hitam. Kaus Star Wars kuningnya kelihatan seperti baru saja diambil dari cucian.

“LEOOOON!” serunya, berlari ke arahku seperti atlet. Dia berhenti dan memegangi lututnya sambil terengah-engah. “Leon! Untunglah kau baik-baik saja! Oh, selamat malam, Tuan Redwine.” Dia menyapa ayahku. Awalnya kukira Ned buang angin, tapi dia hanya menatap kebingungan pada Vooir. “Oh ... eh, hai,” sapanya canggung.

“Ned!” seruku, mengguncang-guncang bahunya. “Dari mana saja kau? Bagaimana kau bisa selamat di luar sana? Dan bunyi apa tadi?”

“Tunggu, tunggu. Tahan pertanyaannya dulu,” kata Ned, menurunkan tanganku. “Ceritanya panjang, tapi intinya, aku berhasil sampai ke perumahanku. Bahkan sistem keamanan kami yang terkenal itu dibobol. Beruntung di sana ada ayahku, dia cukup bisa diandalkan soal-eh, masalah Amerika. Aku perlu berterima kasih pada ayahmu soal bantuan itu. Pemukul bisbol logamnya lumayan mengatasi keadaan.”

“Oh, baguslah,” gumamku lega. “Aku sempat menghadapi tro-maksudku, masalah kecil. Ayahku menjemputku kemarin dari stasiun. Makasih, Ned,” kataku, berusaha tersenyum dengan bibir yang sekering padang pasir. “Berkatmu aku bisa keluar dari sana.”

“Sama-sama.” Ned mengacungkan jempolnya. Lalu dia melirik Vooir dengan gugup. “Jadi, eh ... kalian sudah saling mengenal?”

Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Maksudku, secara teknis, kami sudah saling mengenal-Vooir si gadis alien dan Leon payah dari Bumi. Tapi tetap saja, aku nyaris tidak tahu apa-apa soal dirinya. Dia bertugas mengawalku-tapi bakal aneh menyebutnya pengawal. Di sisi lain, aku tidak bisa menganggapnya bukan siapa-siapa. Tidak setelah dia berkali-kali menyelamatkan hidupku. “Yah, semacam itulah,” aku memutuskan.

Suara derap kaki terdengar di kejauhan. Dia orang dewasa yang bersama Ned tadi. Rambut merahnya berkibar seperti bendera karena tiupan angin. Dia berseru dengan aksen aneh yang nyaris tak bisa kuartikan. “Ned, kau bersama teman?”

“Ayah!” sahut Ned, berlari mendekati sosok itu. “Bisa nggak taruh benda itu di tempat lain?”

Berkebalikan dengan dugaanku, ayah Ned sama sekali tidak normal. Mendengar keluh kesah Ned tentang orangtuanya yang ketat, kupikir aku akan menemui sosok membosankan yang setengah depresi. Aku tak pernah mengira dia akan muncul dengan piyama compang-camping, celana tartan, sandal tidur kelinci, dan bersandang senapan berlaras panjang. Tentu, dia mengenakan kacamata tebal dan rambut yang disisir rapi, tapi dialek Skotlandianya akan mengaburkan semua itu.

“Tak bisa, Anak Muda,” katanya. “Semangat Amerika ada di sini, Nak. Aku tak bisa pindahkan dia. Sayang tak bisa pakai peluru sungguhan. Oh, kau lihat kan, betapa hebat dia di sana?” Dia mengokang senapannya.

Aku hanya pernah mendengar soal pekerjaannya yang profesor Harvard dari Ned. Tapi aku tak pernah mengira ada satu pun profesor Harvard yang seperti ... ini.

“Jadi ini maksudmu soal menyelamatkan kita semua?” tanyaku pada Ned, agak frustasi. “Apa benda itu juga sumber suara-suara di ponsel?”

“Yah, senapan bius nggak buruk kan?” Kata Ned. Dia mengedikkan bahu. “Ayahku suka menggila jika ada kesempatan menggunakan benda itu. Bakal susah menjelaskannya. Dia penggemar berat-em, budaya Amerika. Jadi jangan heran dia agak unik.”

“Tiga bulan lalu aku menang perunggu rodeo koboi di Texas,” katanya dari kejauhan. “Mungkin aku bisa dapat emas tahun depan. Jangan anggap remeh aku, Anak Muda. Kau Leon?”

Aku tak yakin aku bakal mengeluarkan suara macam apa dengan adanya senapan itu, jadi aku hanya mengangguk gugup.

Dia berjalan mendekat, mengelus-elus senapannya seperti hewan piaraan kesayangan. “Aku Craig. Ayah Ned. Profesor Harvard. Ajar sejarah,” katanya, seolah mengucapkan kalimat lengkap bakal membuat lidahnya sakit. “Di mana ayah kau? Aku harus terima kasih pada dia. Putraku Ned tak akan selamat tanpa ayah kau.”

Ayahku berjalan cepat ke arahnya, mengulurkan tangan. “Aku Arthur Redwine. Senang sekali bisa bertemu orang hebat sepertimu, Craig Pattinson.”

“Arthur Redwine?” gumam Craig, tak menyambut tangan ayahku. Jika dia cuma bengong, situasinya bakal canggung. “Sepertinya aku pernah dengar nama itu. Apa kau dulu kerja di NSF?”

Ayahku kelihatan kaget. “Eh ... ya. Itu sudah lama sekali.”

“Aku tak sangka,” katanya senang, menjabat tangan ayahku. “Kau tampak beda sekali sekarang. Aku dengar kau keluar? Padahal kau yang cetuskan Teori Energi Redwine. Kau astrofisikawan yang hebat. Senang bertemu dengan kau.”

Tadinya aku masih setengah tidak percaya ayahku ilmuwan. Namun dengan adanya ayah Ned yang mengenali ayahku, segalanya jadi jelas. Seberapa tidak mungkinnya itu, ayahku memang ilmuwan. Tetap saja, aku tidak menyangka dia bakal bekerja di agensi nasional seperti NSF. Aku bertanya-tanya kenapa dia keluar. Kerja di agensi nasional tak mungkin seburuk itu.

“NSF?” gumam Ned. “Teori Energi Redwine ... kedengarannya nggak asing. Jadi Anda benar-benar astrofisikawan yang kerja di NSF?”

Ayah mengangkat bahu. “Yah, begitulah. Sudah lama sekali sejak aku keluar. Mungkin orang-orang sudah lama lupa tentangku.”

“Wah,” kesiap Ned, memandangku dengan mata berbinar. “Ternyata ayahmu ilmuwan! Aku nggak nyangka, Leon! Kenapa kau menyembunyikan ini padaku? Ini keren banget!”

“Yah ... aku juga baru tahu sekarang. Kukira selama ini dia, tahulah, ayahku yang biasa,” kataku, tak bisa menjelaskan lebih banyak. “Omong-omong, di mana ibumu? Dia nggak ikut?”

“Oh, ibuku? Berlibur ke Belgia. Kautahulah, mengurus persahaan itu nggak mudah,” ujar Ned, mengangkat bahu. Ia memandang ke sekeliling, menatap aku, ayahku, dan dengan hati-hati, melirik Vooir. Burung-burung bertengger dan terbang di cakrawala. Jangkrik berderik-derik di setiap sudut.

Aku sudah tahu apa yang ingin dia katakan. Mimpi burukku yang kedua.

Ned berdeham. “Jadi, apa yang terjadi di sini?”

Aku merasa gugup. Apakah kita perlu menjelaskan semuanya pada Ned?

========

*NSF: The National Science Foundation, agensi sains nasional Amerika Serikat.

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height