Kekasih Bertopeng Misteriusku/C1 Tuba Falopi Tersumbat
+ Add to Library
Kekasih Bertopeng Misteriusku/C1 Tuba Falopi Tersumbat
+ Add to Library

C1 Tuba Falopi Tersumbat

Matahari bersinar terik di puncak musim kemarau Kota Langsa.

Udara seharusnya kering dan panas tapi Wendra malah merasa seperti disiram air dingin oleh seseorang.

Ibu Mertuanya berdiri di pintu bagian kandungan yang ramai dan menunjuk dahinya sambil mengomel, "Apa kubilang? Kamu yang tidak bisa memiliki anak. Hasil tes sudah keluar, apalagi yang ingin kamu katakan!"

Tangan Wendra yang memegang hasil tes gemetar.

Membaca diagnosisnya yang mengatakan bahwa saluran tuba falopi tersumbat, dia pun menggigil kedinginan.

Wendra tidak pernah bisa hamil dalam 4 tahun pernikahannya dengan Nicholas.

Karena hal ini, Ibu Mertuanya tidak menyukainya dan apapun yang dilakukan Wendra selalu salah di mata Ibu Mertuanya.

Orang-orang di sekitar melihatnya dimaki oleh Ibu Mertuanya seperti sedang melihat pertunjukkan komedi. Mereka menunjuknya dan ada juga yang menertawakan nasib sialnya. Tempat itu menjadi sangat ramai.

Nicholas adalah putra tunggal Keluarga Winata. Wendra mengerti keinginan Ibu Mertuanya untuk memiliki cucu, maka dia selalu menahan diri.

"Ibu," Wendra berusaha untuk tetap sabar, "kita bicarakan di rumah saja."

"Itu adalah rumahku, bukan rumahmu. Kamu harus tahu kalau aku tidak pernah mengakuimu sebagai menantu perempuan Keluarga Winata! Kamu tidak pantas!"

Wendra menutup matanya dan menjawab dengan lemah, "Aku dan Nicholas adalah pasangan suami istri yang sah ..."

"Cepat kamu ceraikan Nicholas! Dan jangan berharap mendapatkan sepeser pun uang Keluarga Winata!"

Orang-orang yang menonton mereka semakin banyak. Panas yang menyengat dan pandangan tajam mereka membuat Wendra merasa semakin malu.

Wendra menghela napas, merasa putus asa dan tidak berdaya.

Pernikahannya dengan Nicholas adalah permintaan Kakek Nicholas sebelum meninggal. Agar Kakeknya meninggal dengan tenang, Nicholas pun terpaksa menikahinya.

Selama 4 tahun pernikahan, sikap Nicholas terhadapnya acuh tak acuh. Mereka mengenal satu sama lain hanya sedikit lebih baik dari orang asing. Wendra sama sekali tidak berharap Nicholas akan melawan Ibunya sendiri demi dirinya, tapi Wendra juga tidak menduga pernikahan ini akan menemui jalan buntu.

"Ibu, pernikahan kami adalah keinginan Kakek ..."

"Kamu masih menggunakan Kakek untuk menekanku? Wendra, kamu sudah hebat sekarang?!"

Ibu Mertuanya menjadi semakin marah dan Wendra mengira dia akan mulai kembali memaki. Tapi tiba-tiba Ibu Mertuanya tersenyum lebar, menunjuk pasangan yang tidak jauh dan berkata, "Kamu sudah lihat? Kamu tidak bisa hamil, tapi masih banyak wanita yang bisa memberikan Nicholas anak ..."

Pandangan Wendra mengikuti arah yang ditunjuk Ibu Mertuanya dan langsung membeku.

Tidak jauh dari sana berdiri suaminya di pintu rumah sakit sambil menggandeng seorang wanita hamil. Dia menundukkan kepalanya melihat wanita itu dan tersenyum penuh kasih karena mendengar ucapannya.

Nicholas tidak pernah tersenyum padanya seperti itu.

Wendra merasa familiar melihat wanita yang digandeng Nicholas.

Wanita hamil di pelukannya itu adalah sepupunya, Vanessa yang disayanginya sejak kecil.

Wendra tidak bisa mempercayai matanya. Rasa terkejut, marah dan tidak percaya memenuhi hatinya.

Vanessa menyadari tatapan Wendra dan menarik Nicholas berjalan ke arahnya.

"Kakak sepupu," Vanessa berkata sambil tersenyum bahagia seperti ibu hamil lainnya, "Aku mengandung anak Nicholas. Dokter baru saja mengatakan anak yang kukandung ini laki-laki."

Wendra melihat perut Vanessa dan berteriak, "Kenapa kamu bisa melakukan hal ini? Dia adalah suamiku. Kamu tidak merasa malu merayu suamiku?!"

Wendra mengangkat tangannya tapi dihentikan di udara.

Nicholas yang berwajah muram mendorong tangannya ke samping dan melangkah maju untuk melindungi Vanessa di belakangnya, "Wendra, ayo kita bercerai."

Wendra menutup matanya. Gelombang rasa lelah dan tak berdaya menekan dirinya, "Kapan terjadi?"

"Kamu masih berani bertanya? Aku beritahu padamu kalau kamu tidak berhak mencampuri urusan keluarga kami apalagi mencampuri masalah Nicholas!" Ibu Mertuanya menjadi semakin bersemangat mendengar akan mendapatkan cucu laki-laki. Dia hampir melompat dan menunjuk hidung Wendra sambil memakinya.

Wendra yang merasa kesal juga berteriak, "Aku adalah istri Nicholas. Aku punya hak untuk mengetahui sejak kapan suamiku berselingkuh, bukan?"

"Kamu tidak berhak untuk melakukan hal ini. Kamu bahkan tidak mengetahui siapa Ayahmu, tapi masih ingin menjadi Nyonya Muda Keluarga Winata? Kakek saat itu sudah terlalu linglung, tapi aku tidak!"

Semakin banyak orang berkumpul di sekeliling mereka seolah-olah sedang melihat drama televisi.

Wendra sama sekali tidak menyangka kalau dirinya suatu hari akan menjadi tokoh utama keributan seperti ini.

Vanessa malah bersandar lemah pada Nicholas dengan wajah bersalah dan berbisik, "Bibi, tolong Anda jangan menyalahkan Wendra. Masalah ini memang salahku."

Ibu Mertua seperti berubah kepribadian ketika menarik tangan Vanessa untuk menghiburnya, dan dengan sangat puas berkata, "Vanessa, kamu sangat berjasa terhadap Keluarga Winata, bisa memberikan Nicholas seorang anak. Kamu tidak perlu mengurusi masalah lain. Aku akan menanganinya dengan baik."

Wendra merasa sangat muak melihat ini.

"Vanessa, aku memberimu makanan dan pakaian, bahkan mengirimmu sekolah ke luar negeri. Aku tidak pernah mengecewakanmu!" Air mata Wendra mulai mengalir karena dikhianati oleh keluarga terdekatnya, "Bagaimana kamu bisa melakukan ini padaku?"

"Wendra," ucap Nicholas sambil melangkah maju dan dan terlihat jelas ingin melindungi Vanessa, "Vanessa sekarang adalah wanitaku. Jika kamu marah, tujukan saja padaku."

Marah?

Kemarahan apa yang bisa dimilikinya sekarang?

Selama 4 tahun Wendra menelan bulat-bulat semua penderitaan dan bersusah payah mencoba mengambil hati Nicholas, Ibu Mertuanya, bahkan pengasuh Keluarga Winata. Kemarahan apalagi yang bisa dia miliki?

Alasan dirinya melakukan semua itu karena dia mencintai Nicholas.

Wendra hanya ingin menjadi istri yang baik, mengurus suaminya dan Ibu Mertuanya juga memiliki anak yang lucu. Apa salahnya?

Dia sudah tidak memiliki banyak keluarga yang tersisa. Sekarang bahkan adik sepupunya sendiri juga sudah menjadi orang ketiga dalam pernikahannya.

Wendra merasa hatinya seperti dikoyak-koyak oleh tangan besar yang tidak terlihat. Rasanya sangat sakit sampai dia tidak bisa berdiri tegak.

"Ayo kita bicarakan di rumah."

Nicholas harus menjaga reputasinya di Kota Langsa. Pertunjukkan ini akan dilanjutkan setibanya di rumah.

Tapi ketika tangan Wendra menggapai pegangan pintu mobil, Nicholas berkata, "Kamu naik taksi saja. Jangan berdesak-desakkan dengan Vanessa."

Di mobil ini ada 4 tempat duduk. Nicholas mengemudi dan Ibu Mertua duduk di depan. Sedangkan Vanessa duduk sendirian di belakang. Dia tersenyum dan meminta maaf, "Maaf, kakak sepupu. Dokter bilang kehamilanku sedikit kurang baik dan Nicholas juga hanya mengkhawatirkan anak ini ..."

Senyum Wendra menghilang lalu membanting pintu mobil.

Anak adalah akar permasalahannya. Semua ini karena dirinya tidak bisa hamil.

Nicholas mengendarai mobil Bugatti hitam tersebut, meninggalkan Wendra sendirian di pintu rumah sakit dan menjadi bahan pembicaraan orang-orang.

Dirinya hanya istri Nicholas dalam akta saja dan merupakan orang luar di Keluarga Winata.

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height