Kekasih Bertopeng Misteriusku/C3 Malam Penuh Cinta
+ Add to Library
Kekasih Bertopeng Misteriusku/C3 Malam Penuh Cinta
+ Add to Library

C3 Malam Penuh Cinta

Mobil ambulans tiba dengan cepat.

Nicholas menggendong Vanessa masuk ke ambulans tanpa menoleh sedikit pun.

Ibu Mertuanya memerintahkan para pelayan untuk membuang semua barang Wendra dan sekaligus mengusirnya.

"Pergi jauh dari kami dan jangan pernah kembali lagi!"

Wendra hanya bisa melihat pintu vila tertutup secara perlahan.

Wendra mengepalkan tangan erat-erat melihat semua barangnya yang berserakan di tanah sampai kukunya menancap ke dalam daging.

Sebenarnya dia juga tidak memiliki banyak barang. Dia juga tidak memiliki mahar saat menikah dengan Nicholas kecuali sepasang anting peninggalan almarhum Ibu.

Wendra tidak tega mengenakan anting tersebut dan menyimpannya baik-baik dalam sebuah kotak kecil.

Sekarang anting-anting ini dilempar dengan kasar, satu tergeletak di rerumputan berlumpur dan satu lagi tidak tahu di mana.

Ponsel Wendra berdering nyaring di kegelapan malam.

Dia mengangkat telepon, "Halo?"

"Wendra, aku tadi melihat Nicholas di rumah sakit! Dia memeluk ..."

"Adik Sepupuku," Wendra tertawa pahit, "Aku tahu."

Orang yang meneleponnya adalah sahabat baiknya, Nancy.

Ayah Nancy adalah direktur rumah sakit. Beliau pasti tahu keributan yang dibuat oleh Ibu Mertua Wendra di luar rumah sakit tadi siang.

Ini mungkin alasan Nancy meneleponnya sekarang.

"Wendra ..." Nancy merasa keadaan Wendra tidak terlalu baik dari suaranya. Nada suara Nancy melembut, "Kamu sekarang di mana? Aku akan menjemputmu."

Nancy datang dengan cepat.

Dia menghentikan mobil sport merahnya di depan vila Keluarga Winata.

Ketika Nancy melihat Wendra, dia sudah mengumpulkan semua barang-barangnya yang berserakan ke dalam koper kecil di kakinya. Wendra duduk sendirian di pinggir petak bunga dengan kepala menunduk seperti anak yang ditinggalkan,

"Nancy, kamu sudah sampai!" Wendra berdiri dan berusaha tersenyum.

Mata Nancy memerah, "Kamu bodoh sekali. Saat itu aku sudah mencegahmu menikah dengan Nicholas tapi kamu tidak mau mendengarku."

Wendra tersenyum mendengarnya, tapi malah terlihat lebih buruk daripada menangis, "Iya, apa yang kudapatkan sekarang memang pantas."

Hati Nancy sakit mendengar ucapannya. Dia lalu membantu Wendra naik ke mobil, "Sudah jangan bicara lagi. Aku sekarang akan membawamu mencari tempat untuk beristirahat."

"Nancy, aku ingin minum bir." Wendra berkata pelan sambil melihat dirinya di kaca spion.

Nancy melihat kondisinya yang tidak terlalu baik dan dalam hati tahu bahwa Wendra ingin minum sampai mabuk, dia pun mengangguk, "Baiklah."

Mobil Nancy berhenti di depan bar.

Nancy sering datang kemari. Dia langsung mencari tempat duduknya yang biasa dan memesan sebotol anggur.

Wendra meraih botol tersebut dan langsung meminumnya.

"Pelan-pelan, kamu tidak pernah minum, tidak boleh minum tergesa-gesa ..."

Wendra tertawa tapi air mata yang hangat mengalir di pipinya, "Tidak apa-apa, aku sedang senang."

"Kamu tidak senang!" Nancy menjadi khawatir. Di bar ada berbagai macam orang. Tidak aman bagi dua orang wanita di sini apalagi salah satunya mabuk.

Nancy memberi isyarat pada seorang pelayan, "Antar Nona ini ke kamar 2301."

Kamar 2301 adalah kamar yang sering ditinggali Nancy. Akan lebih aman jika minum di dalam kamar.

Wendra minum terlalu cepat sehingga kepalanya langsung terasa pusing. Dia hanya ingat Nancy menepuk tangannya dan berkata, "Kamu akan keracunan alkohol kalau terus minum seperti ini. Di bar tidak ada susu, aku akan ke minimarket depan untuk membeli susu. Kamu tunggu aku di atas."

Wendra mengangguk. Seorang pelayan membantunya ke lift dan dia langsung terjatuh di ranjang begitu masuk ke kamar.

Wendra merasa pusing juga dingin.

"Uh ..."

Seseorang mencium Wendra dengan bibirnya yang hangat dan wangi cologne pria mengelilingi tubuhnya.

Seorang pria!

Pikiran Wendra langsung kosong dan dia berusaha mendorongnya, "Kamu siapa? Bagaimana kamu bisa masuk kemari?!"

Wendra malah mendengar suaranya yang rendah dan mempesona di telinganya, "Aku akan membantumu membalas dendam dan mengambil kembali semua milikmu jika kamu bersedia bersamaku."

Kemudian mereka menghabiskan malam bersama.

Ketika Wendra terbangun, dia mengira yang terjadi semalam hanya mimpi.

Langit di luar masih gelap dan suram, membuat orang susah bernapas.

Nancy sudah hampir gila. Dia tidak bisa menghubungi ponsel Wendra dan tidak bisa menemukannya. Secara kebetulan kamera pengawas hotel hari ini juga rusak dan Nancy sudah hampir mengamuk.

Sampai dia mendengar seseorang memanggilnya dari dalam kamar.

Nancy masuk ke kamar sambil terengah-engah, "Pelayan itu pasti memiliki masalah pendengaran. Aku jelas-jelas berkata kamar 2301, kenapa dia mengantarmu ke kamar 2307? Tidak heran aku tidak bisa menemukanmu."

Wendra melihat jam di ponselnya. Sekarang sudah jam 2 pagi.

Seluruh tubuhnya terasa sakit dan kepalanya juga sakit, "Mungkin di bar terlalu berisik sehingga dia tidak mendengar dengan jelas."

Nancy menghela napas panjang, "Baguslah jika kamu baik-baik saja. Susu ini untukmu. Minum dulu sedikit."

Wendra merasa lebih baik setelah meminum sebotol susu.

Ponsel Wendra berdering.

Telepon dari Nicholas.

Akhirnya Nicholas mengingatnya.

Wendra menjawab, "Halo?"

"Kamu pergi kemana?" tanya Nicholas dengan dingin.

Sikap Wendra juga tidak terlalu baik, "Bukan urusanmu."

Nicholas berkata, "Besok pagi kita bertemu di Kantor Catatan Sipil. Setelah kita bercerai, kamu bebas melakukan hal memalukan apapun."

"Memalukan?" Wendra bingung.

Nicholas berkata, "Ibu melihatmu naik ke sebuah mobil sport. Wendra, tidak disangka kamu begitu cepat sudah menemukan calon suamimu selanjutnya."

Wendra tiba-tiba tersenyum, "Orang yang menjemputku adalah Nancy. Sudahlah, kamu juga tidak akan percaya apapun yang kukatakan."

Wendra menutup telepon.

Wendra tiba-tiba merasa percakapannya dengan Nicholas tidak ada artinya.

Ketika kamu bersama orang yang tidak mencintaimu, bersikap manja dan menangis adalah sebuah kesalahan, bahkan bernapas pun juga sebuah kesalahan.

Lagipula dirinya juga tidak pantas.

Tidak pantas untuk membuatnya percaya.

Nancy berkata, "Kamu tidak perlu takut untuk bercerai dengannya. Tidak ada gunanya terus bersama pria bajingan seperti dia. Kamu begitu cantik, pasti dapat menemukan pria yang lebih baik."

Di rumah sakit, Nicholas melihat layar hitam di ponselnya dengan sedikit frustasi.

Vanessa menarik tangannya dan bertanya dengan manja, "Apa Kakak Sepupu baik-baik saja?"

"Seharusnya baik-baik saja. Wendra bersama Nancy." Dia meletakkan ponselnya.

Vanessa mengangguk, "Kalau begitu aku bisa tenang. Nicholas, untung anak kita baik-baik saja. Kalau tidak, aku juga tidak ingin hidup lagi."

Suasana hati Nicholas langsung membaik begitu membicarakan anaknya.

"Jangan takut. Aku akan melindungimu. Aku tidak akan membiarkan orang lain mencelakai anak kita."

Vanessa mengangguk dengan patuh, "Nicholas, masalah kita ini pasti merupakan sebuah pukulan besar untuk Kakak Sepupu. Bagaimanapun, aku memiliki budi kepadanya, kamu jangan mempersulitnya."

Senyum Nicholas menghilang sedikit, "Jangan berpikir berlebihan. Istirahatlah, aku akan menyuruh perawat untuk menjagamu di sini. Aku harus kembali ke perusahaan untuk mengurus sesuatu."

"Baik, mengemudilah dengan hati-hati."

Setelah melihat Nicholas pergi, Vanessa duduk lalu mencari ponselnya, dan menghubungi sebuah nomor.

Ketika telepon tersambung, dia bertanya dengan tidak sabar, "Mana fotonya? Sudah begitu malam, mengapa fotonya masih belum dikirim ke emailku?"

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height