C4 Kamu Sangat Kejam dan Menarik
Pria di ujung telepon juga marah, "Belasan saudaraku bersembunyi di kamar 2302 sepanjang malam. Jangankan seorang wanita, mereka bahkan tidak melihat wanita cleaning service! Vanessa, kamu mempermainkan kami? Kamu sudah bilang akan ada wanita cantik yang bermain dengan kami dan gratis. Tapi tidak ada wanita, bagaimana kami bisa memotret!"
Vanessa mengernyit, "Dia tidak kesana? Tidak mungkin..."
Dia tahu Nancy sering ke bar itu sehingga dia sudah menyuap penjaga pintu sejak awal. Ketika penjaga pintu melihat Nancy, langsung cari orang untuk memperkosanya dan menggunakan foto telanjang sahabatnya untuk memaksa Wendra bercerai.
Wendra hanya memiliki satu sahabat. Dia tidak mungkin membiarkan foto senonoh Nancy tersebar sehingga dia pasti akan tunduk.
Tapi tak disangka bahkan Tuhan juga membantunya. Saat Nicholas keluar untuk menerima telepon, Vanessa menerima telepon dari penjaga pintu bar dan mengatakan Wendra juga bersama Nancy!
Dia langsung menyuruh orang untuk membawa Wendra ke kamar 2302 untuk diperkosa ramai-ramai lalu memotret foto telanjangnya.
Semua rencana sudah diatur dengan baik. Salah di mana?
Pria itu terus mengomel, "Aku tidak peduli. Vanessa, kali ini kamu sudah mempermainkan kami. Kamu beri kamu uang atau carikan wanita lain. Kalau tidak aku akan memberitahu semua rahasiamu pada Nicholas!"
Vanessa menutup telepon dengan marah.
Preman-preman ini bisa melakukan segalanya.
Dia memaki dengan suara rendah. Dia tidak mungkin memberi mereka uang. Sedangkan masalah wanita, dia memutar matanya. Dia tidak percaya Wendra masih bisa lolos untuk kedua kalinya.
Sementara itu Wendra menerima sebuah pesan dari nomor asing di ponselnya.
[Lebih dari sepuluh orang menunggumu di kamar 2302. Mereka dikirim oleh Vanessa.]
Wendra terkejut. Insulasi suara hotel ini cukup bagus. Dia sama sekali tidak bisa mendengar apapun di kamar sebelah sehingga membuatnya semakin khawatir.
Jari Wendra menari dengan lincah di ponsel.
[Anda siapa?]
[Kita masih bersama satu jam lalu...]
Dia!
Pria itu!
Tangan Wendra sedikit gemetar.
Pesan lain muncul di layar ponselnya : [Kamu pikirkan baik-baik ucapanku semalam dan telepon aku kalau sudah siap.]
Di akhir pesan ada sebuah tanda tangan, Sniper.
Wendra tidak tahu kata sniper ini jadi dia mencari artinya di internet yang berarti penembak jitu.
Orang ini menawarkan diri untuk membantunya membalas dendam. Apakah dia juga memiliki dendam terhadap Nicholas?
Siapa orang ini?
Apakah dia lawan bisnis Nicholas? Atau pengagum yang menyukai Vanessa?
Wendra merasa bingung lalu menutup mata dan menggelengkan kepalanya.
Dia seorang wanita miskin, tidak cantik dan tidak memiliki apapun. Apa yang dia miliki untuk bersekongkol dengan orang lain?
Langit mulai terang dan sinar matahari pertama menyinari ruangan.
Hari sebelumnya sudah berakhir. Kemarin bagaikan sebuah mimpi buruk.
Setelah terbangun dari mimpi, dia menyadari hanya sendirian.
[Di atas nakas ada sebuah kartu bank dan di dalamnya ada 100 juta. Kamu boleh menggunakannya dan bilang saja padaku kalau tidak cukup.]
Amarah Wendra meluap : [Tuan Sniper, apakah Anda ingin memeliharaku?]
[Aku tahu jumlahnya tidak banyak. Tadi malam aku keluar terlalu terburu-buru dan tidak membawa banyak uang. Nanti aku akan menebusnya.]
Wendra tersenyum marah dan memutar nomor di pesan tersebut.
Teleponnya baru berdering sekali sudah dijawab.
Terdengar suara rendah dan serak seorang pria, "Wendra?"
Namanya diucapkan pria itu terdengar sangat memikat.
Wendra tidak pernah merasa seperti ini saat Nicholas memanggilnya.
Dia terpana sejenak tapi lalu dengan cepat sadar kembali, "Tuan Sniper, meskipun aku tidak ada uang tapi harga diriku tidak mengizinkanku untuk dipelihara oleh Anda. Aku menghargai kebaikan Anda. Anggap saja tadi malam sebagai percintaan satu malam dan kita tidak berhutang satu sama lain sejak saat ini."
Pria itu terkekeh, "Kamu sangat kejam dan juga menarik."
"Kamu..."
"Wendra, kamu tidak perlu terburu-buru menolakku. Aku memahamimu dan lebih mengenal dirimu lebih baik dari dirimu sendiri. Kamu membutuhkan uang ini."
"Aku tidak membutuhkan uang Anda dan aku juga tidak akan menggunakannya."
Ucapan Wendra terdengar sangat tegas, tapi yang namanya takdir selalu siap untuk memukul wajahmu kapan saja.
Begitu Wendra menutup telepon dengan marah, dia menerima telepon dari rumah sakit.
"Nona Gunawan, penyakit paman Anda kumat setelah menerima telepon, Dia sekarang dalam kondisi kritis dan harus segera dioperasi. Tolong Anda datang kemari sesegera mungkin!"
Ketika Wendra bergegas ke rumah sakit, paman tertuanya sudah berada di ruang operasi.
"Perawat, bagaimana keadaan pamanku?" Wendra dengan panik menghentikan seorang perawat.
Perawat itu berkata, "Kondisinya sudah stabil tapi pagi ini kumat setelah menerima sebuah telepon dan tekanan darahnya melonjak sampai 180. Sekarang dokter sedang berusaha menyelamatkannya. Anda jangan panik, dokter akan berusaha semaksimal mungkin untuk menolongnya..."
Para dokter akan berusaha sebaik mungkin menyelamatkannya tapi mengapa kata-kata ini terdengar lemah di depan sebuah nyawa.
Paman tertuanya, Jonathan Wijaya memiliki penyakit jantung. Beberapa tahun ini dia terus mengandalkan obat untuk mengobati tapi kondisi fisiknya juga terus menurun.
Paman tertua adalah orang yang paling menyayangi dirinya.
Tiba-tiba seorang dokter berjas putih mendorong pintu ruang operasi. Ada noda darah di pakaiannya, "Apakah Anda kerabat Jonathan Wijaya?"
"Ya, dokter. Bagaimana keadaan pamanku..."
"Kondisinya kritis dan dia perlu segera dioperasi..." Dokter tersebut juga cemas sampai berkeringat, "Kita tidak bisa menunda lebih lama lagi..."
Wendra segera mengangguk, "Ya, dokter tolong selamatkan dia..."
"Tapi biaya operasi..."
Biaya operasi adalah 30 juta. Wendra sudah mengetahui hal ini.
Meskipun Wendra adalah menantu perempuan Keluarga Winata, tapi 30 ribu saja tidak bisa dia keluarkan apalagi 30 juta.
Paman juga takut menyusahkan dirinya. Takut ibu mertuanya akan menyulitkannya sehingga dia terus menunda pengobatan. Paman mengatakan pengobatan tradisional saja sudah cukup.
Tapi sekarang situasinya mendesak dan Wendra sudah tidak ada jalan lain lagi!
Apalah harga diri jika dibandingkan dengan nyawa pamannya? Wendra bisa menundukkan kepala juga bisa menyingkirkan harga dirinya untuk memohon orang itu.
Wendra menemukan nomor telepon Nicholas dan meneleponnya.
Panggilan itu berdering cukup lama sebelum tersambung.
Nicholas bertanya dengan suara dingin, "Sudah tidak sabar untuk bercerai?"
Wendra baru ingat kalau hari ini mereka sudah berjanji akan bertemu di Kantor Catatan Sipil untuk mengurus perceraian.
Jam di ponselnya menunjukkan 7.30 dan Kantor Catatan Sipil baru akan buka jam 9.00
"Nicholas..." Wendra sedikit sulit membuka mulut, "Bisakah kamu memberiku 30 juta..."
"Ah!" Nicholas mendengus, "Menyesal? Cek yang kuberikan padamu kemarin tidak cukup?"
"Bukanm, aku..." Dokter masih mendesaknya dan membuatnya cemas, "Nicholas, anggap saja aku memohon padamu. Aku hanya ingin 30 juta. Memandang hubungan kita sebagai suami istri..."
Nicholas memotong ucapannya, "Wendra, keserakahanmu benar-benar membuatku muak."
Dair kejauhan dia dapat mendengar suara perawat yang terus mendesaknya, "Nona Wendra, cepat putuskan. Pasien tidak dapat menunggu lebih lama lagi!"
Wendra menggertakkan giginya, "Nicholas, tidak masalah jika kamu bilang aku menjijikkan atau tidak bermoral. Anggap saja aku meminjam 30 juta darimu. Aku akan bekerja keras untuk mengembalikannya. Sekarang pamanku dalam kondisi kritis. Aku tidak pernah meminta apapun darimu. Kali ini anggap saja aku memohon padamu..."
"Sangat kritis?"
Tiba-tiba terdengar suara Vanessa di telepon dan nada bicaranya sangat kejam, "Dia belum mati?"
Wendra membeku, "Di mana Nicholas? Kenapa kamu yang menjawab telepon?"
Suara Vanessa terdengar malas dan centil, "Nicholas bilang tidak ingin mendengar suaramu jadi dia membiarkanku menjawab. Kakak sepupu, pagi-pagi teleponmu sudah membangunkan kami. Tadi malam Nicholas bermain denganku sampai pagi baru tidur. Aku juga sangat mengantuk."
Tubuh Wendra menegang, "Kalian berdua tidur bersama tadi malam?"
"Menurutmu? Aku tidur di ranjangmu, Kakak Sepupu. Di ranjangmu dan dengan suamimu. Aku benar-benar merasa nyaman..."
"Kamu punya malu tidak?! Aku tidak ada waktu untuk omong kosong ini sekarang. Cepat berikan teleponnya pada Nicholas!"
"Nicholas bilang jika bukan masalah perceraian, dia tidak ingin berbicara denganmu," Vanessa berkata, "Aku sudah dengar kalau Jonathan membutuhkan operasi dan kamu mencariku untuk meminta uang, kan?"
Wendra berusaha untuk mengendalikan emosinya.
Paman tertua masih menunggu uang untuk menyelamatkan nyawanya. Wendra terpaksa harus menundukkan kepala.
"Vanessa, penyakit ayahmu kumat setelah menerima sebuah telepon pagi ini. Kondisinya tidak begitu baik. Bisakah kamu meminta Nicholas untuk membayar30 juta dulu? Aku bisa membuat surat hutang..."
"Boleh." Vanessa terkekeh, "Tapi walaupun Nicholas bersedia, aku juga tidak akan membiarkannya membayar. Karena aku yang menelepon ayahku.
Wendra terkejut, "Apa yang kamu katakan padanya?"
"Bukan apa-apa. Aku hanya mengatakan kamu menghabiskan malam penuh gairah dengan seorang pria. Tidak disangka pria tua ini tidak bisa menerimanya dan langsung masuk ke ruang operasi..."