Kekasih Bertopeng Misteriusku/C5 Malam Ini di Tempat Biasa
+ Add to Library
Kekasih Bertopeng Misteriusku/C5 Malam Ini di Tempat Biasa
+ Add to Library

C5 Malam Ini di Tempat Biasa

Wendra menutup teleponnya dengan kesal sampai layarnya hampir pecah ditekan olehnya.

Wendra gemetar saking marahnya. Ini adalah adik sepupu yang dia besarkan bersama pamannya dengan hidup berhemat!

Vanessa malah menjadi orang yang tidak tahu terima kasih!

"Nona Gunawan, Nona Gunawan?" Perawat masih mendesaknya, "Operasinya jadi atau tidak..."

Bip bip bip...

Ada sebuah pesan masuk ke ponsel Wendra.

[Apakah kamu sudah memikirkannya? — — Sniper]

Wendra meremas kartu kecil tersebut dari luar tasnya.

Tanpa ragu-ragu lagi, Wendra mengeluarkan kartu itu dan menyerahkannya pada perawat, "Lakukan sekarang! Di mana aku harus bayar?"

Perawat membawanya ke kasir dan menyelesaikan prosedur. Pintu ruang operasi tertutup lagi dan lampu merah di atasnya menyala terang.

Dia sudah menggunakan 30 juta dari kartu yang diberikan Sniper padanya.

Wendra tersenyum pahit. Akhirnya, dia menjual dirinya juga.

[Aku berjanji.]

Wendra merasa kecewa saat mengirim pesan tersebut.

Tidak lama kemudian dia menerima pesan balasan.

[Baik, malam ini di tempat yang sama. Kamar 2307 di Hotel jam 9. Aku akan menunggumu.]

Wendra menyimpan ponselnya dan tidak ingin melihat pesan itu lagi.

Operasi berjalan lama dan Wendra tidak berani pergi terus berjaga di depan pintu.

Jam 9 Nicholas meneleponnya, "Aku sudah di depan Kantor Catatan Sipil. Kenapa kamu masih belum datang?"

Wendra tersenyum dingin, "Aku tidak bisa kesana."

"Kamu mau ingkar janji?!"

"Tida, aku juga ingin segera menceraikanmu."

"Kalau begitu cepat! Waktunya sangat berharga dan aku tidak ingin membuang-buangnya untukmu!"

Wendra berkata dengan dingin, "Aku juga sama. Aku tidak ingin menghabiskan barang semenit pun untukmu tapi paman sedang dioperasi dan aku tidak bisa meninggalkannya. Tunggu kondisinya stabil aku baru menghubungimu."

"Wendra, trik apalagi yang sedang kamu mainkan? Kamu ingin uang lagi?"

"Tidak perlu. Kamu simpan saja uang busukmu itu untuk memelihara selingkuhanmu yang tidak memiliki hati nurani!"

Wendra langsung menutup teleponnya.

Akhirnya dunia menjadi tenang.

Operasi paman berlangsung sampai jam 7 malam.

Akhirnya pintu ruang operasi terbuka. Wendra melihat wajah dokter yang keluar dengan senyum lega, "Operasi berhasil dan pasien akan baik-baik saja selama menjalani perawatan pemulihan."

Wendra tiba-tiba kehilangan tenaganya dan jatuh terduduk di kursi metal.

"Terima kasih, dokter. Terima kasih..."

Pamannya dipindahkan kembali ke kamar perawatan biasa. Tubuhnya masih tersambung dengan segala macam peralatan. Wendra sama sekali tidak bisa pergi.

Ponsel Nokia model lama dengan cat terkelupas dan keyboard yang sudah rusak milik pamannya diletakkan di samping. Paman tertua masih sayang untuk membuangnya.

Paman tidak ingin menghabiskan uang untuk membeli ponsel baru. Dia lebih rela menyimpan uangnya untuk Vanessa.

Untungnya sepanjang malam semuanya sangat stabil.

Keesokan paginya saat paman membuka mata dan melihat wajah Wendra, dia langsung menangis dan berkata dengan penuh penyesalan, "Wendra, aku sudah bersalah pada ibumu!!"

"Paman..."

"Katakan sejujurnya pada paman, apakah Vanessa salah lihat? Bukan kamu yang berada di kamar hotel, kan?"

Melihat mata penuh harap pamannya, Wendra tidak bisa berbohong padanya.

Tapi melihat Wendra yang ragu-ragu membuat Jonathan sangat depresi.

"Wendra, kenapa kamu menjadi seperti ini? Nicholas adalah anak yang baik. Mengapa kamu bisa melakukan hal yang mengecewakannya!"

"Paman, hal ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Kamu jangan emosi, tolong jangan emosi..."

Jonathan menyeka air matanya dengan tangan keriputnya, "Apakah Nicholas mengetahui hal ini?"

Wendra benar-benar tidak tahu hal ini.

Mengingat Vanessa yang ingin mendapatkan perhatian Nicholas dengan memainkan peran seorang wanita lembut dan pengertian, dia pasti tidak akan mengatakan hal ini pada Nicholas.

"Dia mungkin masih belum tahu."

"Kamu ini jangan berbuat bodoh. Kamu dan Nicholas harus baik-baik saja. Setelah aku mati baru bisa menjelaskannya pada ibumu..."

Ketika pamannya sedang berbicara, pintu kamar terbuka.

Perawat membawa Nicholas masuk, "Presdir Nicholas, ini adalah ruang perawatan Tuan Jonathan Wijaya."

Wendra mendongak dan bertatap muka langsung dengan Nicholas.

Dia masih tetap dengan dingin seperti biasa. Pandangannya melewati wajah Wendra dan melihat Jonathan, "Aku dengar Anda tidak sehat, jadi aku datang melihat Anda."

Jonathan merasa sangat senang, "Nicholas, cepat duduk. Wendra, apa yang kamu lakukan? Nicholas sudah begitu sibuk, untuk apa menyuruhnya kemari? Aku tidak apa-apa!"

"Dia tidak memintaku kemari, Vanessa yang memintaku datang." Nicholas berkata blak-blakan.

Tapi Wendra mengerti maksud ucapannya ini.

Nicholas datang melihat Jonathan bukan karena dia adalah paman Wendra, tapi karena dia adalah ayah Vanessa.

Dan tentu saja Jonathan juga merasa aneh dengan ucapan Nicholas. Senyumnya menjadi sedikit kaku, "Ini....apa yang terjadi?"

Vanessa tidak repot-repot menyembunyikan rasa bangga di wajahnya, "Ayah, hari ini aku akan berkata jujur padamu. Nicholas sekarang bukan kakak iparku, tapi..."

"Bosnya!" Wendra memotong ucapan Vanessa. Paman tertua baru saja selesai operasi, dia tidak ingin paman menjadi emosi.

Wendra berdiri dan berkata sambil tersenyum, "Paman, Vanessa sekarang bekerja di perusahaan Nicholas. Dia sangat pintar, bahkan Nicholas sering memujinya."

"Benarkah? Kalau begitu masa depan Vanessa akan sangat bagus! Tidak sia-sia kita menghabiskan uang untuk menyekolahkannya ke luar negeri!" Jonathan berkata dengan gembira.

Wendra membawa dua kursi dari dari samping, "Ayo berbicara sambil duduk."

"Kami tidak bisa duduk lama-lama. Nicholas bilang kami sebagai yang lebih muda sudah seharusnya mengunjungi yang lebih tua. Tapi di perusahaan masih ada yang harus diurus, jadi kami harus segera pergi."

Kami.

Wendra merasa hatinya ditusuk pisau. Tentu saja, sekarang Nicholas dan Vanessa sudah menjadi satu kesatuan.

Dia melihat Nicholas, "Bagaimana denganmu?"

"Perusahaan memang sedang sangat sibuk," Nicholas menjawab dengan cepat, "Paman, kami sudah tenang melihatmu baik-baik saja. Kalau begitu kami pergi dulu."

Jonathan tidak bisa menahan rasa kekecewaannya mendengar Vanessa sudah akan pergi lagi. Dia tersenyum pahit dan berkata, "Masalah perusahaan memang lebih penting. Kalian cepatlah pergi. Aku tidak apa-apa."

Nicholas mengangguk, "Kalau begitu kami pergi dulu. Paman jika membutuhkan apapun katakan saja pada Vanessa. Aku pasti akan melaksanakan baktiku pada Anda."

Jonathan selalu merasa puas dengan Nicholas sebagai menantu keponakan. Dia semakin menyukainya melihat Nicholas sengaja datang menjenguknya hari ini di antara jadwalnya yang sibuk. Dia buru-buru berkata, "Baik, kamu ini memang sangat sopan dan baik. Tolong jaga Vanessa di perusahaanmu. Anak ini selalu kami manja sejak kecil, aku takut dia akan merepotkanmu."

"Tidak apa-apa. Dia sangat baik dan aku sangat puas."

Jonathan tersenyum puas. Dia berkata dengan sedikit khawatir, "Ada satu hal lagi. Usiamu dan Wendra juga tidak muda lagi. Kalian sudah seharusnya mempertimbangkan untuk memiliki anak..."

Jantung Wendra langsung berdetak cepat.

Anak adalah kelemahan terbesarnya.

"Ayah, kamu masih belum tahu? Bukannya Kakak Sepupu tidak ingin memiliki anak, hanya saja..."

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height