C6 Hanya Sebuah Kecelakaan
"Vanessa!" Wendra melemparkan tatapan tajam penuh peringatan pada Vanessa, "Perawat tadi memberitahu agar anggota keluarga ke bagian farmasi untuk mengambil obat. Kamu pergilah mengambilnya. Aku ingin berbicara dengan Nicholas."
Vanessa memotong, "Kakak Sepupu katakan saja, kita semua satu keluarga jadi tidak ada yang perlu disembunyikan. Betul tidak, Nicholas?"
Wendra tersenyum dingin, "Vanessa, apakah kamu sudah melupakan sopan santun karena bersekolah di luar negeri? Tidak memanggil Kakak Ipar dan langsung memanggil namanya?"
Wendra tidak ingin memulai pertengkaran dengan Vanessa di depan Paman Tertua tapi Vanessa hari ini sudah keterlaluan. Tidak masalah bagaimana Vanessa memperlakukan dirinya. Tapi jika terjadi sesuatu pada Paman Tertua karena hal ini, dia pasti tidak akan mengampuni Vanessa!
Akhirnya Jonathan berkata dengan tegas, "Vanessa, dengarkan ucapan kakakmu. Cepat pergi."
Vanessa masih ingin mengatakan sesuatu tapi melihat Nicholas tidak membantah, dia hanya bisa pergi bagian farmasi di lantai 1 untuk mengambil obat.
Wendra menarik napas dalam-dalam berusaha agar pamannya tidak melihat apapun, "Nicholas, bisakah kamu keluar sebentar? Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
Jonathan tertawa, "Apakah masalah anak? Hahaha, Wendra merasa malu?"
Wendra merasa sedikit canggung, "Paman..."
"Baik, baik. Aku tidak akan berbicara lagi. Cepatlah kalian pergi."
Pandangan mata Nicholas sedikit bimbang lalu setelah beberapa saat, dia mengikuti Wendra keluar.
Wendra membawanya sampai ke tangga darurat lalu menutup pintu.
Biasanya tidak ada orang yang datang kemari.
Saat menoleh, dia melihat Nicholas berdiri tidak jauh darinya dengan melipat tangannya di dada. Tatapannya tidak ada sedikit pun kelembutan.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?"
Wendra menutup matanya dan berusaha menenangkan diri dan berkata dengan tenang, "Bisakah kamu menyembunyikan masalah perceraian kita dari paman? Kamu juga sudah lihat kalau dia baru saja selesai operasi dan masih dalam pemulihan. Dokter bilang dia tidak boleh mendapat tekanan apapun, kalau tidak selanjutnya belum tentu bisa menyelamatkannya."
Nicholas menjadi kesal, "Wendra, kamu sebaiknya menyadari statusmu sekarang. Kamu memberi perintah padaku?!"
"Tidak, aku sedang memohon padamu," Wendra tertawa pahit, "Kita menikah selama 4 tahun tapi aku tidak pernah memohon padamu. Anggap saja kali ini aku memohon padamu, oke?"
Tatapan Nicholas masih tetap dingin.
Wendra menghela napas, "Bahkan jika kamu membenciku dan tidak ingin mengabulkan permohonanku, tapi pamanku juga ayah Vanessa. Anggap saja kamu memandang wajah Vanessa. Oke?"
"Aku akan membahas masalah ini dengan Vanessa," tatapan mata Nicholas tiba-tiba tertuju pada luka kecil di sudut bibirnya, "Apa yang terjadi pada bibirmu?"
Wendra menyentuh sudut bibirnya dan mengerang kesakitan.
Hatinya mencelos ketika menyadari luka ini disebabkan oleh Tuan Sniper ketika bercinta dengannya tadi malam.
Kedua mata Nicholas memicing, "Kamu bersama pria lain tadi malam?"
Wendra tiba-tiba merasa konyol. Mereka sudah akan bercerai dan lagi dia bisa mencari Vanessa, kenapa dirinya tidak bisa mencari pria lain?
"Wendra, kamu berani berselingkuh dariku sebelum menyelesaikan proses perceraian kita?"
"Itu hanya sebuah kecelakaan," Wendra berkata dengan lemah, "Sudahlah. Untuk apa aku menjelaskannya padamu. Lagipula kamu juga tidak akan peduli. Nicholas, kalau kondisi paman sudah membaik, kita baru ke Kantor Catatan Sipil untuk mengurus perceraian. Aku tidak akan mengganggu hubunganmu dengan Vanessa."
Tentu saja Nicholas tidak berniat untuk melepaskannya dengan mudah. Dia meraih bahu Wendra dan mendorong tubuhnya ke dinding lalu melihatnya dari atas, "Siapa pria itu?"
Tenaga Nicholas terlalu besar sehingga membuat Wendra kesakitan. Dia berusaha mendorongnya dengan putus asa, "Lebih baik kamu perhatikan Vanessa saja. Untuk apa mengurusiku!"
"Sejak kapan kalian bersama? Hm? Bicara!"
Wendra mendorongnya sekuat tenaga, "Apa hubungannya denganmu? Kamu yang selingkuh duluan. Apa hakmu untuk menghakimiku?"
Urat di tangan Nicholas menonjol saat mencengkeram bahunya, "Wendra, kita masih belum bercerai dan aku masih suamimu!"
"Aku sudah tidak memiliki suami." Wendra menggelengkan kepala dan berkata dengan dingin juga tegas, "Atau mungkin aku memang tidak pernah memiliki suami."
Pembicaraan mereka berakhir buruk.
Untungnya Nicholas setuju menyembunyikan berita perceraian mereka untuk sementara waktu. Meskipun dia melakukannya juga demi Vanessa.
Hal itu sama sekali tidak masalah.
Ketika Wendra kembali ke ruang perawatan pamannya dan melihat pamannya tersenyum padanya, dia merasa semuanya baik-baik saja.
Selama pamannya sehat dan bahagia, dia bersedia melakukan apapun.
Jonathan melihat ke arah pintu dengan tidak rela melihat Wendra kembali sendirian, "Dimana Nicholas?"
"Dia sudah pergi ke perusahaan," Wendra duduk di kursi samping ranjang pasien. Dia mengambil sebuah apel dan mulai mengupasnya sambil berkata, "Nicholas menyuruhku menyampaikan pesan pada Anda. Dia harus pergi lebih dulu dan dia akan datang lagi ketika ada waktu."
Jonathan menghela napas, "Nicholas dewasa dan bijaksana. Aku tidak perlu khawatir jika menyerahkanmu padanya."
Wendra tidak mengatakan apapun dan terus mengupas apel.
Kemampuan Wendra sangat baik. Kulit apel dapat dikupas olehnya dari awal hingga akhir tanpa terputus.
Dia kemudian memotong apel menjadi potongan-potongan kecil dan meletakkannya di sebuah kotak agar pamannya dapat makan kapanpun saja.
"Ibumu terlalu cepat meninggalkan kita," Jonathan memandang apel di hadapannya dan menghela napas, "Dia juga ahli mengupas apel, seperti kamu."
Wendra tidak memiliki kenangan apapun tentang ibunya.
Dia juga hanya mendengar beberapa cerita mengenai kedua orang tuanya dari kedua pamannya.
Sebenarnya itu juga sebuah cerita klise. Sang pria demi mengejar karir meninggalkan pacarnya yang hamil dan pergi bersekolah di luar negeri. Kemudian tidak ada kabar lagi darinya.
Ibunya meninggal tidak lama setelah melahirkannya. Mungkin karena terlalu patah hati sehingga dia merasa dunia ini sudah tidak ada harapan lagi. Dia hanya bertahan sampai putrinya lahir dengan selamat baru memutuskan untuk pergi."
Kehidupan manusia terlalu pendek dan kebencian terlalu panjang.
"Harapan paman satu-satunya sekarang adalah kamu baik-baik saja dengan Nicholas. Setelah kalian memiliki anak, paman bisa tenang menemui ibumu. Andai saja Vanessa memiliki setengah saja sifat penurutmu, aku juga akan bisa tenang!"
Wendra tersenyum, "Vanessa lulusan sekolah luar negeri dan wajahnya juga cukup cantik. Dia pasti akan bisa menemukan pria baik yang mencintainya."
"Aku harap begitu." Jonathan sedikit mengernyit, "Lain kali saat Nicholas datang, aku akan menyingkirkan harga diriku dan memohon padanya jika ada pria baik di perusahaan, tolong kenalkan pada Vanessa."
Wendra tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini jadi dia melihat nakas yang kosong dan bertanya, "Vanessa belum mengambil obat?"
"Kamu tidak bertemu dengannya? Aku kira dia mencarimu. Anak ini sejak kecil selalu mengikutimu dan menirumu. Dia seperti anak kucing."
Tapi orang bisa berubah dan gadis kecil yang selalu mengikutinya sekarang sudah bisa berdiri sendiri dan menunjukkan kekuatannya.
"Kalau begitu aku akan ke bawah mengambil obat," Wendra berdiri. "Paman, kamu makan dulu apelnya. Aku akan segera kembali."
Wendra baru saja meninggalkan ruang perawatan saat ponselnya berbunyi.
Pesan lain lagi.
[Kalau uangnya tidak cukup, beritahu aku. — — Sniper]
Sedetik kemudian Wendra menerima pesan pemberitahuan lagi dari bank.
Saldo di kartunya bertambah lagi 500 juta.