Kekasih Bertopeng Misteriusku/C7 Tidak Ada yang Boleh Menyentuh Wanita Milikku
+ Add to Library
Kekasih Bertopeng Misteriusku/C7 Tidak Ada yang Boleh Menyentuh Wanita Milikku
+ Add to Library

C7 Tidak Ada yang Boleh Menyentuh Wanita Milikku

Ketika Wendra ke bagian farmasi dan setelah diberikan daftar obat dan bon, dia mengerti mengapa Vanessa tidak mengambilnya dan mengapa Tuan Sniper mengirimkan uang untuknya.

Harga obat anti penolakan pasca operasi saja sudah lebih dari 10 juta dan itu itu hanya untuk satu minggu.

"Nona Gunawan?" Bagian kasir memanggilnya karena melihatnya melamun, "Apakah kalian masih membutuhkan obat ini?"

Wendra mengangguk dan menyerahkan kartunya, "Ya, tentu saja."

Setelah mengatur makanan paman, waktu sudah menunjukkan jam 8 malam.

Wendra naik taksi ke hotal dan ketika melihat jam di lobi sudah jam 8.50.

Masih ada 10 menit lagi waktu perjanjian dengan Tuan Sniper.

Jika terakhir kali dia salah masuk kamar dan dengan tidak sengaja bercinta dengan Tuan Sniper, kali ini dia melangkah masuk ke kamar 2307 dengan kesadaran penuh.

Wendra menggenggam pegangan pintu dan tangannya gemetar hebat.

"Kamu sudah datang? Masuk saja, pintunya tidak dikunci."

Mungkin karena mendengar gerakannya jadi Tuan Sniper berbicara padanya dari dalam kamar.

Wendra menarik napas panjang. Dia berusaha menenangkan dirinya lalu membuka pintu dan berjalan masuk.

Kamar itu tidak disangka sangat gelap.

Jendelanya terbuka dan cahaya dari luar membentuk siluet seorang pria tinggi.

Dia berdiri di depan jendela sambil membelakangi Wendra. Tangannya memegang sebuah gelas dan Wendra dapat melihat anggur merah bergoyang di dalamnya.

Apakah dia?

Setiap langkah Wendra terasa berat dan tidak yakin akan masa depannya.

Dirinya sudah memiliki hubungan paling intim dengan pria di depannya ini tapi dia bahkan tidak tahu wajahnya seperti apa.

Ironisnya lagi hanya dengan satu malam, dia sudah mendapatkan 600 juta.

Wendra menertawakan dirinya sendiri. Harga dirinya sepertinya terjual dengan harga yang cukup bagus.

Tangan Wendra sudah menekan saklar lampu di dinding tapi dia masih ragu-ragu. Apakah menyalakan lampu akan mengganggu kebiasaan Tuan Sniper.

"Halo, Tuan Sniper."

Pria itu mengangkat tangannya untuk menghentikan ucapan Wendra. Dia dengan santai meminum seteguk anggur merah tersebut. Suaranya lamban dan mempesona, "Apakah kamu mau minum? Hari ini aku menyuruh mereka mengirimkan Lafite kemari dari Prancis. Rasanya lumayan."

Wendra menolaknya dengan lembut, "Terima kasih tapi aku tidak minum."

"Oh ya?" Tuan Sniper terkekeh, "Jika kamu tidak minum, bagaimana kamu bisa tidur denganku tadi malam."

Wajah Wendra tersipu. Meskipun kemarin dia minum tapi ingatan yang membuatnya tersipu dan berdebar, sulit untuk dilupakan olehnya.

"Maaf, aku tidak bermaksud berkata demikian. Jika aku sudah menyinggungmu, aku benar-benar minta maaf dan aku bersedia menebusnya."

"Baiklah. Kalau begitu bagaimana Nona Wendra Gunawan ingin menebusku?"

Wendra terkejut, "Kamu tahu namaku?"

Wendra menyesali ucapannya. Dari ucapan dan tindakannya, dapat terlihat kalau Tuan Sniper pasti orang yang luar biasa dan bukan hal sulit jika ingin menyelidiki dirinya.

Tuan Sniper tidak menjawab dan hanya menjawab, "Aku mengenalmu lebih baik dari yang kamu pikirkan."

Pria ini seolah-olah memancarkan tekanan yang tidak terlihat. Meskipun dia tidak mengatakan sesuatu yang serius, Wendra masih gemetar hebat.

Wendra melipat kedua tangannya erat-erat sampai memutih.

"Tuan Sniper, bagaimanapun juga aku ingin berterima kasih padamu. Jika bukan karena uang yang kamu berikan, pamanku tidak akan bisa diselamatkan hari ini."

"Baiklah." Tuan Sniper sepertinya tidak terlalu peduli.

Wendra menghela napas perlahan lalu mengatakan keraguannya, "Tapi aku tidak begitu mengerti. Mengapa aku? Jelas-jelas berdasarkan kualifikasi yang kamu miliki, masih banyak wanita muda dan cantik di sampingmu. Sedangkan aku..."

Dia hanya seorang wanita yang dibenci oleh ibu mertua dan suaminya karena tidak melahirkan.

Wendra tidak mengerti mengapa Tuan Sniper bersedia memberikan begitu banyak uang padanya.

"Wendra," Suara pria itu menjadi lebih serius dari sebelumnya, "Apa yang kulakukan dan wanita seperti apa yang kupilih, itu adalah hakku. Aku tidak memiliki kewajiban untuk menjelaskan dan melaporkannya padamu."

Wendra tertegun. Dia menggigit bibirnya dan mengangguk, "Maaf, aku mengerti."

"Kamu benar-benar tidak ingin minum?"

Wendra menggelengkan kepalanya, "Tidak."

Tuan Sniper tertawa ringin. Dia melangkah perlahan ke arah Wendra dalam kegelapan dan berhenti di depannya. Wendra menyadari tubuh bagian atasnya basah dan telanjang. Dia hanya mengenakan handuk yang melingkari pinggangnya. Sangat jelas dia baru saja selesai mandi.

Pria itu membungkukkan badannya dan berbisik di telinga Wendra, "Kalau begitu kita bisa langsung mulai?"

Wendra refleks melangkah mundur dan menghindari ciuman di dahinya, "Tuan Sniper, aku masih belum bercerai."

"Apakah itu penting?"

"Bisakah menunggu sampai aku selesai mengurus perceraianku? Wendra menutup mata tidak berani melihatnya dan mengernyitkan keningnya erat-erat, "Bisakah?"

Sepasang tangan besar dan panas mencengkeram bahunya. Suaranya berada di atas kepalanya, "Suamimu berselingkuh dengan adik sepupumu dan mereka bersekongkol untuk mengusirmu dari rumah. Kamu masih ingin menjaga kehormatanmu untuknya?"

Wendra tidak tahu harus menjawab apa.

Kekuatan Sniper terlalu mengejutkan. Saat Wendra ragu-ragu, lengan pria itu sudah memeluk Wendra erat-erat dan tangannya yang lain mengangkat dagu Wendra lalu mencium bibirnya.

Bau alkohol samar di tubuh pria itu membuat kesadaran Wendra sedikit mengabur.

Lengan pria ini sangat kuat tapi ciumannya begitu lembut dan terkendali. Lengannya memeluk erat Wendra sampai menempel di dadanya. Ciumannya seringan bulu tapi tetap posesif.

"Wendra, kamu sudah setuju dengan persyaratanku."

Wendra mendengus pelan, entah menyetujui atau menolak.

"Begitu kamu menyetujuiku, perjanjian di antara kita langsung berjalan dan sekarang kamu adalah milikku."

Telapak tangan Wendra berada di dadanya yang lebar dan kuat. Wendra dapat merasakan detak jantungnya.

Wendra tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas di dalam kegelapan.

Tapi Wendra dapat merasakan kalau pria ini bertubuh tinggi dan ramping dengan tubuh yang proporsional. Wendra juga dapat merasakan napas pria ini semakin memburu.

"Setidaknya beritahu aku siapa dirimu?"

"Kamu akan tahu tapi bukan sekarang," ciuman Tuan Sniper sedikit memanas. Ciumannya bergerak ke sudut bibir Wendra yang terluka, "Maaf, aku tidak memperhatikan kekuatanku tadi malam sehingga menggigitmu sampai terluka."

Gairah yang dipancarkan pria ini terlalu panas sehingga membuat Wendra pusing dan perlahan-lahan kehilangan kekuatannya untuk melawan. Dia masih menolak dengan sedikit akal sehat yang masih tersisa, "Aku tidak tahu kamu siapa lalu bagaimana aku memenuhi perjanjian kita? Bagaimana kalau aku menganggap pria lain sebagai dirimu? Hal itu tidak akan baik."

"Hal itu tidak akan terjadi," Suara Sniper sangat mempesona, "Aku akan menjaga wanita milikku. Siapapun tidak boleh menyentuhnya."

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height