C8 Jangan Macam-Macam Denganku!
Evelyn yang terkejut ketika membaca surat itu langsung menatap Amanda seraya berkata, “A-apa ini, Nona Amanda? S-saya dipecat? Tapi kenapa? Apa salah saya? Kenapa saya bisa sampai …,”
“Bukankah sudah kukatakan padamu di awal, niatmu baik menolong Klan Ou Gang. Tapi, berita mengenai tujuanmu menolong keluarga itulah yang menjadi masalah.”
“A-apa? Apa maksudnya?”
“Jawab dengan jujur, Nona Eve. Apa kau melawan kelompok Black Dragon ketika menolong Jackson dan Hendrik Ou Gang?”
“Benar, Nona Amanda. Apa ada masalah?” tanya Eve semakin penasaran.
“Tak ada. Hanya, Tuan Albert berpesan padaku agar kau tak mencari masalah dengan mereka. Bukankah kau tahu sendiri siapa Black Dragon itu.”
“Apakah mereka mengancam perusahaan ini, Nona?”
“Menurut Anda?” tanya balik Amanda menatap tajam.
“Saya akan bicara dengan mereka!” Tegas Evelyn berdiri dari duduknya.
“Untuk apa? Jangan menyusahkan dirimu sendiri, Nona Eve! Lebih baik kau terima apa yang telah diputuskan!”
“T-tapi, Nona …,”
“Maaf, aku masih banyak pekerjaan. Silakan Anda tinggalkan ruang dan tempat ini, Nona Evelyn.”
evelyn hanya terdiam dan mengepalkan tangannya erat, “Saya permisi, Nona.”
Langkah berat Evelyn segera menyeret dirinya keluar dari ruangan Amanda. Dengan wajah kesal, Eve menuju meja kerjanya sementara teman-temannya tampak bisik-bisik, namun Eve seakan mengacuhkannya dan tanpa buang waktu ia membereskan semua miliknya yang ada di meja kerjanya.
“Kau mau ke mana? Apa yang terjadi?” Seorang pria tinggi, tampan, hidung mancung, mata agak sipit dan kulit putih serta berkacamata menghampiri Eve.
“Apa kau tak lihat aku sedang ‘merapikan’ mejaku?”
Shandy, nama pria berwajah oval oriental itu langsung memegang dan menahan tangan Evelyn.
“Lepas! Apa yang sedang kau lakukan, Shandy?” tanya Eve terkejut.
“Jawab dulu pertanyaanku! Apa yang Amanda katakan padamu?” desak Shandy.
"Hah, kau benar-benar …,” Eve menarik napas panjang, “aku betul-betul sibuk. bisakah kau tak menggangguku, Shandy?”
Shandy langsung melepas genggaman tangannya pada pergelangan wanita itu dan langsung pergi dari hadapannya.
Tanpa ada yang tahu, Eve memecah bulir yang sejak tadi ia tahan karena ia tahu bagaimana Shandy akan khawatir pada dirinya.
‘Maafkan aku, Shandy. Tapi aku tak ingin menjadi bebanmu. Cukup aku yang pergi dari tempat ini.’
BRAKKK!!
Bantingan pintu super kecang memecah kesunyian dan membuat terkejut pegawai lainnya. Mereka langsung menghampiri ruangan Amanda dan melihat Shandy sedang berkacak pinggang dan teriak di depan ruangan wanita seksi itu.
“AMANDA! ADA YANG INGIN AKU BICARAKAN!” teriak Shandy.
Eve yang mendengar suara teriakan Shandy segera menuju ruangan Amanda.
“Ada apa? Kenapa membanting pintu ruanganku?” tanya Amanda dengan santai sambil melihat beberapa majalah di mejanya.
“Apa yang telah terjadi antara kau dan Eve?” Shandy mulai melangkah masuk sementara pintu ruangannya dibiarkan terbuka.
“Kenapa tak kau tutup pintunya, Tuan Shandy?”
“Untuk apa? Biar mereka tahu yang sebenarnya!”
“Begitu?” Amanda menggeser kursinya, kaki jenjangnya melangkah menghampiri Shandy, sementara para karyawan lainnya hanya menelan saliva mereka sambil berkeringat dingin.
“Kau, apa yang ingin kau ketahui, Shandy?” Amanda menarik leher Shandy dan berbisik dengan lembut.
“Oh, my. Aku tak tahan lagi.” Ucap salah seorang anak buah Amanda segera menyingkir.
Tak lama, Eve datang ke ruangan Amanda dan melihat keduanya seolah sedang berciuman. Tak pelak, netra Eve membelalak dan Amanda yang mengetahui kehadiran Eve sengaja memancing emosi wanita cantik itu.
“JIka kau ingin tahu apa yang terjadi dengan Nona Eve, apa kau bisa menolongku?” Tanya Amanda kini menghadapkan wajahnya ke Shandy.
“Apa?”
“Bisakah kau tutup pintu ruanganku? Rasanya tak nyaman jika percakapan kita didengar oleh pegawai yang lain.” Senyumnya.
Shandy tanpa rasa curiga membalikkan badannya dan ….
“E-Eve?!” Shandy terkejut sambil terbelalak.
Eve yang masih berdiri di depan ruangan Amanda hanya mematung dan menatap datar keduanya. Sementara Amanda menyeringai melihat Eve dari belakang Shandy.
Tanpa banyak kata, Shandy perlahan namun pasti menuju pintu ruangan Amanda dan menatap Eve datar dan dalam. Tak ada kata, pintu pun telah tertutup. Eve hanya bisa membayangkan apa yang terjadi di dalam sana sambil mengepalkan tangannya kuat.
“Eve …,”
Bariton laki-laki mengejutkannya dari belakang.
“Kau!” Entah sudah berapa kali Eve harus mengalami shock theraphy hari ini! Kali ini Tony, pria yang telah mengatakan kebohongan yang fatal pada Evelyn.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya.
“Bukan urusanmu!” Dingin Eve dan meninggalkannya.
“A …,” Tony ingin mengejar Eve namun ia tahu sekarang bukanlah waktu yang tepat.
****
“Cepat katakan Amanda, apa yang terjadi sebenarnya?” desak Shandy.
“Kenapa kau sangat peduli pada urusan Eve?”
“Dia juga karyawan perusahaan ini. Apa salah jika aku memberinya perhatian?”
“Tapi, perhatianmu itu …,” Amanda menarik dasi Shandy tiba-tiba dengan kencang dan mendekatkan wajahnya, “aku cemburu. Kau tahu kan jika aku menyukaimu sejak dulu?” tambah Amanda.
“Aku tahu.” Shandy melepaskan tangan Amanda. “tapi aku tak menyukaimu!” tegasnya.
Amanda menatapnya sinis. “Dia dipecat! Apa kau puas sekarang?”
“Apa? Dipecat? Tapi kenapa? Apa salahnya?” tanya Shandy penasaran.
“Dia telah salah berurusan dengan seseorang!”
“Apa? maksudmu?”
“Apa kau tahu jika Eve telah menolong ayah-anak dari Klan Ou Gang?”
Shandy mengangguk. “Lalu?”
“Seseorang yang tak menyukai aksi Nona Eve meminta ‘tolong’ pada Tuan Albert untuk mengurus Nona Eve. Kau tahu apa maksudku, kan?” tanya Amanda.
“Siapa orang itu?” desak Shandy.
“Maaf, Shandy-ku sayang, meskipun aku menyukaimu tapi ini adalah rahasia. Jika kau ingin tahu, carilah sendiri.” Senyum penuh misteri Amanda ulas di wajah cantiknya.
“Pasti akan kutemukan orang itu! Kau lihat saja, Amanda!”
Shandy segera keluar dari ruangan Amanda dengan penuh percaya diri, sementara Amanda memandang siluet Shandy yang perlahan menghilang dari pandangannya dengan sinis dan tajam.
“Kau tak akan bisa menemukannya, Shandy karena aku tak akan biarkan kau menemukan orang itu!”
Amanda segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Sepertinya Anda harus berhati-hati karena akan ada ‘seseorang’ yang mencari tahu tentang surat itu.”
****
Eve yang telah selesai mengemasi barang-barangnya segera bergegas meninggalkan meja kerja, ruangan, serta teman-temannya. Pedih namun Eve berusaha tegar dan kuat.
“Apa benar Nona Amanda tega berbuat seperti itu? Rasanya aku tak percaya jika dia bisa berbuat kejam,” ucap salah satu teman kerja Eve.
“Iya, aku pun tak menyangka jika ia akan bertindak sejauh ini. Padahal apa yang telah dilakukan Eve bisa menaikkan reputasi perusahaan bukan?” tambah lainnya.
“Kau ini! Orang sedang sedih malah bicara reputasi! Punya hati tak, sih!?”
Eve hanya tersenyum mendengar ucapan-ucapan teman-temannya, “kalian, terima kasih ya sudah menjadi bagian dari hidupku selama aku bekerja di tempat ini. Sedih akan meninggalkan kalian, tapi …,”
“Aku akan mencari tahu kebenarannya!”
Ucapan tegas dan dalam tiba-tiba datang dari seorang pria yang tak lain adalah Shandy. Dengan langkah pasti, ia menghampiri Evelyn dan menatap dalam-dalam wajah cantik wanita itu sambil berujar, “Aku akan mencari tahu siapa dalang semua ini.” Shandy memegang tangan Eve.
“Tak perlu! Terima kasih. Aku …,” tatapan mata Eve kini tertuju pada Tony yang berdiri tak jauh darinya.
“Aku senang karena akhirnya bisa keluar dari gerbang neraka tempat ini!”
