C1 Hancurnya Kehidupan yang Damai
"Tuan Muda Adiwangsa, apakah Anda yakin akan menolak undangan Tuan Besar?"
"Nama belakangku itu Prasasta, bukan Adiwangsa."
"Meski begitu, tetap ada darah Keluarga Adiwangsa mengalir dalam pembuluh darah Anda."
"Sejak mereka mengusirku dan ibuku keluar dari Keluarga Adiwangsa, aku tidak memiliki urusan lagi dengan mereka."
Saat itu adalah sore hari, di sebuah jalan pinggir sungai yang melintasi Kota Tawang. Sebuah Bentley hitam diparkir di jalanan yang ramai, menarik banyak pasang mata pejalan kaki yang berlalu-lalang.
Di depan sebuah kios daging panggang kecil, seorang pemuda berwajah rupawan sedang mengemasi peralatan memanggang.
Pria tua dalam setelan hitam yang turun dari Bentley itu kini membungkuk hormat di depan kios seolah-olah sedang memohon dengan sangat kepada pemuda itu.
"Tuan Muda, Anda juga mengerti situasi pada saat itu, Tuan Besar terpaksa melakukan semua itu. Tidak bisa dipungkiri bahwa dia telah melukai hati Nyonya, tetapi dia tidak pernah bermaksud mengusir kalian berdua..."
"Setahun yang lalu, Tuan Besar menderita penyakit serius dan meminta kami untuk mencari keberadaan Tuan Muda. Setahun penuh kami menggunakan semua kemampuan dan koneksi kami yang tak terhitung jumlahnya untuk mencari hingga lebih dari setengah penjuru negara. Tidak mudah bagi kami untuk menemukan Anda."
"Apakah Anda lebih suka menjadi menantu dari keluarga rendahan seperti Keluarga Kusuma dan menderita segala macam penghinaan daripada kembali ke Keluarga Adiwangsa? Hanya Anda satu-satunya penerus Keluarga Adiwangsa di generasi ini..."
Harris berkata dengan acuh tak acuh, "Aku tidak ingin mendengar apa pun tentang Keluarga Adiwangsa. Kalian juga tidak perlu repot-repot menyelidiki urusan pribadiku. Aku hanya minta, jangan pernah ganggu hidupku lagi."
Setelah mengemasi semua peralatan, dia berbalik dan berjalan pergi.
Melihat sosok Harris yang semakin menjauh, lelaki tua itu hanya bisa berdiri di tempat, menghela nafas berat.
"Keluarga Adiwangsa?" gumam Harris dengan nada mencibir.
Dia berjalan keluar dari jalan di pinggir sungai itu dengan senyum pahit, mengingat kenangan menyakitkan dari masa lalunya.
Keluarga Adiwangsa yang berpusat di ibukota adalah keluarga aristokrat terkenal di seantero negara. Banyak orang berlomba-lomba ingin membangun koneksi dengan mereka karena mengharapkan kesempatan untuk mendapatkan kedudukan di puncak negara ini.
Namun bagi Harris, Keluarga Adiwangsa tidak lain hanyalah sebuah kenangan menyakitkan yang sulit dihapus dari dalam hatinya.
Dalam Keluarga Adiwangsa, Harris terlahir sebagai cucu pertama dari Tuan Besar Adiwangsa. Tidak salah bila dikatakan bahwa ia dilahirkan untuk hidup dalam kemewahan dan untuk dihormati. Namun, ketika dia berusia delapan tahun, ayah kandungnya, Pandu Adiwangsa, tergila-gila dengan wanita lain. Selain memperebutkan tahta pewaris Keluarga Adiwangsa dengan saudaranya, Pandu juga menceraikan istrinya, Hasya Prasasta, untuk menikahi seorang putri dari keluarga kaya lain.
Meskipun Hasya berasal dari keluarga biasa, dia adalah wanita yang kuat. Karena itu, dia menolak menerima kompensasi apa pun dari Keluarga Adiwangsa dan meninggalkan kediaman Adiwangsa seorang diri. Harris yang tidak ingin terpisah dari ibunya, mengabaikan larangan dari Keluarga Adiwangsa dan meninggalkan ibukota bersama ibunya. Sejak saat itu, mereka menjalani kehidupan dengan saling bersandar satu sama lain.
Karena dia memutuskan untuk mengikuti ibunya, akhirnya dia mengubah nama belakangnya menjadi Prasasta.
Sudah genap sepuluh tahun sejak hari itu. Ibunya juga sudah meninggal karena sakit tiga tahun yang lalu. Awalnya, dia berpikir bahwa dia sudah terbebas dari bagian masa lalunya yang menyakitkan itu. Tidak dia sangka, orang-orang dari Keluarga Adiwangsa berhasil menemukan keberadaannya dengan begitu cepat.
Setelah merokok di sudut jalan, Harris memutuskan untuk berhenti memikirkan masalah itu. Kemudian, dia memanggil taksi dan langsung pergi ke Hotel Kencana.
Hari ini adalah hari pernikahan putri dari putra tertua Keluarga Kusuma dengan tuan muda dari Keluarga Baskoro, keluarga paling berpengaruh di Kota Tawang. Mereka mengundang semua tokoh besar dunia bisnis dari seluruh Kota Tawang beserta semua anggota Keluarga Kusuma.
Jika bukan karena statusnya sebagai menantu Keluarga Kusuma, dia tidak akan pernah bermimpi menginjakkan kaki di Hotel Kencana seumur hidupnya.
Dua puluh menit kemudian, akhirnya dia tiba di depan Hotel Kencana.
Di depan pintu yang megah dan mewah, seorang wanita menawan dengan tubuh ramping yang mengenakan gaun biru muda menatap Harris tanpa ekspresi.
Wanita cantik ini adalah istrinya, bernama Ruby Kusuma.
Dua tahun lalu, Harris menikah ke dalam Keluarga Kusuma atas permintaan pendiri Perusahaan Perhiasan Grup Kusuma, Tuan Besar Niyaga Kusuma.
Pada saat itu, kejadian ini menyebabkan keributan besar di lingkaran sosial keluarga konglomerat di Kota Tawang. Mereka semua menertawakan Tuan Besar Kusuma dan menuduhnya sudah terlalu pikun hingga menikahkan cucu perempuannya dengan seorang yatim piatu yang tidak memiliki harta maupun kekuasaan.
Ruby adalah seorang wanita dengan kecantikan yang dikagumi seluruh Kota Tawang. Hanya dengan kecantikannya, ada banyak pria aristokrat berkedudukan tinggi yang berebut ingin mengejar cintanya.
Namun pada akhirnya, dia menikah dengan seorang pria jelata atas permintaan Tuan Besar Kusuma.
Saat itu, hanya Harris dan Tuan Besar Kusuma yang tahu alasan di balik pernikahan tersebut.
Sejak Niyaga Kusuma meninggal setahun yang lalu, hanya tersisa Harris, satu-satunya yang mengetahui rahasia ini.
Ruby sendiri tidak pernah menyetujui pernikahan mereka sedari awal hingga akhir. Meskipun keduanya telah menikah, mereka tidak pernah memandang satu sama lain sebagai suami dan istri.
Bersamaan dengan kematian Niyaga, Grup Kusuma diterpa ombak perubahan kekuasaan yang drastis. Dalam badai ini, ayah mertua Harris didepak dari pusat kekuasaan grup dan tidak mendapat satu persen pun saham. Kedudukan keluarganya ambruk, dia tinggal di dalam Keluarga Kusuma namun mendapatkan tatapan merendahkan dari orang lain.
Ayah dan ibu mertua Harris menyalahkannya karena dianggap tidak berguna. Tidak memiliki kemampuan, tanpa latar belakang maupun uang, dia tidak bisa dibandingkan dengan menantu laki-laki lain dari Keluarga Kusuma.
Harris menjadi bahan ejekan semua orang dan tidak memiliki harga di mata Keluarga Kusuma.
"Harris, kamu tidak usah banyak bicara selama perjamuan nanti," kata Ruby dengan wajah serius. "Ini hari yang sangat penting. Aku membawa hadiah berharga untuk Kak Vera, ingin meminta bantuan padanya. Pabrik yang dikelola Ayah hanya bisa bertahan dari krisis ini jika keluarga suaminya bersedia membantu kita.”
"Aku mengerti." Harris mengangguk.
Saat memasuki Hotel Kencana, terlihat jelas seluruh upaya yang dilakukan untuk memamerkan keindahan dan kemewahan. Dengan dekorasi batu giok di berbagai tempat, dan sebuah taman yang elok dengan kolam kecil. Semua ini adalah milik Tuan Besar Keluarga Kusuma.
Deretan mobil mewah terparkir di luar hotel. Maserati, Porche911, Porche Cayennes, hingga Audi.
"Ruby, kau datang ke sini naik taksi? Kenapa kau tidak memintaku menjemputmu? Ini hari yang sangat penting. Kau ini bisa berpikir atau tidak, bagaimana mungkin kau naik taksi seperti ini? Ingin mempermalukan Keluarga Kusuma?"
Seorang pemuda yang mengenakan kacamata hitam keluar dari Porsche 911 yang terparkir di sana. Setelah melepas kacamata hitamnya, dia menatap Ruby dan Harris sambil tersenyum, namun dengan tatapan menertawakan yang jelas terlihat dari kedua matanya.
Ruby menggigit bibirnya dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Ayah mertua Harris, Guruh Kusuma, adalah salah satu anggota keluarga dengan pengaruh terlemah di antara generasi tua Keluarga Kusuma. Sejak tahun-tahun awal, dia ditekan oleh beberapa saudara laki-lakinya di Grup Kusuma, hingga kemudian dia dikeluarkan. Pada akhirnya, ia hanya ditugaskan dengan sebuah pabrik pengolahan perhiasan kecil yang berada di ambang kebangkrutan dan nyaris tidak bisa menjalankannya selama setahun.
Melihat situasi keuangan keluarga mereka saat ini, tidak mungkin mereka bisa membeli mobil untuk digunakan Ruby sendiri.
"Ruby, ingat tidak saat aku katakan padamu, ceraikan saja pria tidak berguna ini, nanti akan kukenalkan pada tuan muda ketiga Keluarga Baskoro. Kalau saja kau mendengarkan nasihatku dulu, apa mungkin kau akan terjatuh serendah ini?” Semakin lama pemuda itu berbicara, semakin sombong kata-katanya. Dia terlihat sangat puas pada dirinya sendiri, tidak memedulikan Harris sedikit pun. "Tapi tenang saja, kau masih belum terlambat. Kalau kau ingin kembali kaya lagi, katakan saja. Aku akan mengenalkan pria lain yang lebih baik untukmu!"
Dia mengatakan semua ini tepat di depan Harris, penuh kesombongan.
"Jordan Kusuma, sudah puas dengan ocehanmu?" Ruby berkata dengan suara sedingin es, wajahnya memucat karena amarah.
"Ah, sebagai kakak laki-lakimu, aku merasa kasihan melihat kau menikah dengan sampah seperti ini. Aku hanya ingin memberimu nasihat dan menunjukkan jalan yang lebih baik. Jika kau masih tidak mau mendengarkan, artinya kau layak menjadi miskin seumur hidup!" Jordan berkata dengan santai.
Kemudian, dia menatap Harris dengan ekspresi mengejek.
"Harris, kau masih memiliki muka untuk menghadiri acara pernikahan Kak Vera?" Jordan berkata dengan sinis. "Oh,maaf, aku baru ingat. Kudengar pabrik ayah mertuamu sedang krisis. Dia bahkan tidak mampu membayar upah karyawannya, dan pabriknya akan segera ditutup. Jadi,kau ingin menjilat dan meminta suami Kak Vera untuk meminjamkan uang, benar kan?"
Harris hanya menatap Jordan tanpa kata.
Ayah Ruby dikeluarkan dari Grup Kusuma oleh ayah Jordan, putra ketiga dari Keluarga Kusuma yang bernama Ivan Kusuma. Faktanya, Ivan adalah orang di balik semua masalah serius yang dihadapi pabrik ayahnya saat ini.
Ruby menarik napas dalam-dalam dan menekan amarahnya sebelum berkata kepada Harris, "Abaikan saja dia. Aku ada di sini untuk membahas urusan serius hari ini."
Harris mengangguk setuju. Mereka berdua berbalik dan berjalan ke aula utama hotel.
Memandang punggung Harris yang semakin menjauh, Jordan menyeringai penuh ejekan sambil berkata, "Lihat saja berapa lama kau bisa bertahan."
Di dalam gedung bergaya barat ini, aula perjamuan yang disiapkan sangat luas. Tidak hanya didekorasi dengan mewah, lantainya juga dilapisi karpet merah.
Pada saat ini, para tamu konglomerat dari Keluarga Kusuma sudah berjalan satu demi satu mengambil tempat duduk mereka.
Ruby membawa kotak hadiah yang sangat indah dan berjalan ke depan pengantin wanita. Dia kemudian berkata dengan senyum cerah, "Kak Vera, selamat menempuh hidup baru. Semoga kalian berdua bisa hidup bahagia bersama."
Vera Kusuma memiliki raut wajah yang sangat indah. Kulitnya seputih salju, dan dia juga memiliki temperamen arogan karena status yang dimilikinya. Tetapi walau bagaimanapun, dibandingkan dengan Ruby, secara keseluruhan dia masih jauh lebih rendah.
Dia memandang Ruby dengan tidak peduli dan berkata,"Hadiah itu letakkan saja di sana."
"Kak Vera, ayo kutemani kau berkeliling," kata Ruby sambil tersenyum.
"Kau tidak perlu repot-repot menjilatku, aku sudah tahu tujuan utamamu datang ke sini. Simpan saja kata-katamu, keluargaku tidak mau membantu masalah ayahmu," ucap Vera tanpa belas kasihan.
Senyum Ruby membeku digantikan dengan luapan emosi yang tidak dapat disembunyikan.
Tinjunya terkepal erat-erat, tubuhnya gemetar tak berdaya.
Sebelum menikah dengan Harris, dia selalu disayang oleh kakeknya seperti mutiara yang bersinar paling cemerlang di Keluarga Kusuma. Dia juga ingat betapa baiknya sikap Vera kepadanya dulu. Dia tidak mengerti mengapa Vera tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin padanya sekarang.
Pernikahannya hari ini sangat agung hingga seluruh anggota keluarga Kusuma hadir dalam perayaan yang megah dan terhormat ini.
Dibandingkan dengan dirinya sendiri...
Ruby terdiam beberapa saat. Namun, ketika dia memikirkan kesulitan yang dihadapi ayahnya saat ini, dia memaksa dirinya untuk tetap tersenyum dan mengikuti langkah Vera.
Ketika Harris melihat adegan ini dari tempat duduknya, dia merasakan perasaan yang tak terlukiskan dalam lubuk hatinya.