+ Add to Library
+ Add to Library

C2 Aku Percaya Padamu

Harris duduk di meja yang dikelilingi oleh para menantu laki-laki Keluarga Kusuma.

Hanya saja, mereka semua adalah tokoh kaya dan berkuasa. Bila dibandingkan, status Harris dan status mereka di Keluarga Kusuma sangat berbeda seperti siang dan malam.

Sambil mengobrol riang dan bersulang penuh semangat, mereka bahkan merasa tidak perlu menyapa Harris. Ketika saling bertukar kartu nama, mereka benar-benar mengabaikannya seolah-olah dia tidak ada.

"Apakah semua orang sudah tiba? Mari bersulang untuk kelancaran hari ini!"

"Jordan, ini tidak benar. Seharusnya kami yang bersulang untukmu."

Saat Jordan berjalan santai membawa segelas anggur ditangannya, para menantu laki-laki lain dari Keluarga Kusuma berdiri dengan rendah hati dengan sikap menjilat. Satu demi satu, mereka mengungkapkan kata-kata sanjungan mereka sambil mengangkat gelas untuk bersulang.

Jordan adalah putra dari Ivan Kusuma, putra ketiga dari Keluarga Kusuma. Karena itu juga, ia adalah penerus cabang ketiga Keluarga Kusuma.

Meskipun Ivan adalah saudara ketiga dalam keluarga, dalam Perusahaan Perhiasan Grup Kusuma, ia memiliki derajat yang sama dengan saudara tertuanya, Januar Kusuma.

Dengan demikian, kekayaan, pengaruh, lingkaran sosial, dan status Jordan semuanya berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada para menantu ini.

"Harris, ada apa denganmu? Apa kau sangat meremehkanku hingga tidak mau bersulang dengan kami?" tanya Jordan dengan tatapan mengancam ke arah Harris.

Ketika mereka bersulang, Harris adalah satu-satunya yang tidak berdiri dan mengikuti karena merasa ragu-ragu selama beberapa saat.

Tak lama kemudian, sesuatu melayang ke arah Harris.

Dalam sepersekian detik itu, Jordan mengguyurkan segelas anggur putih dalam gelasnya ke wajah Harris tanpa ragu-ragu.

"Aku mengajakmu minum untuk memberimu muka di depan orang-orang. Masalahmu apa? Ingin mempermalukanku?"Jordan berkata dengan pandangan jijik di matanya, mencoba menggiring suasana.

Harris merasakan sensasi terbakar menyebar ke seluruh wajahnya. Bau alkohol yang menyengat melekat erat di seluruh tubuhnya

Tidak ada yang berani membela Harris. Sebaliknya, wajah mereka semua dipenuhi dengan ejekan tanpa terkecuali.

Tali kesabaran Harris telah terkikis habis hingga terputus. Matanya menatap Jordan seperti sebuah pisau yang tajam. Namun, ketika dia mengingat Ruby yang sedang bekerja sangat keras demi ayahnya, dia menahan emosi supaya tidak menimbulkan masalah yang menyulitkan Ruby.

"Baiklah, aku akan menunjukkan rasa hormat padamu." Harris menyeka wajahnya dan perlahan berdiri menopang tubuhnya.

Jordan tidak menyangka Harris bisa menahan diri mendengar ejekannya. Bibirnya perlahan melengkung menjadi seringai dan tertawa dalam hatinya. Apa pikirnya dia sudah selamat hanya karena dia bisa menahan diri sejauh ini?

Ketika Harris baru berdiri, Jordan tiba-tiba mundur selangkah dan menjatuhkan diri ke tanah. Dengan sengaja menyentuh meja perjamuan di sampingnya—berisi anggur merah mahal dan hadiah VIP lainnya—dan menggulingkannya.

Suara barang-barang terjatuh, pecah, dan retak memenuhi seluruh ruangan.

Lusinan botol anggur merah mahal dan aksesoris batu giok indah lainnya hancur berkeping-keping di lantai, menyebabkan keributan besar dan menarik perhatian semua orang di ruang perjamuan.

"Harris, dasar sampah, beraninya kau memukulku!"Jordan berteriak keras memperburuk keadaan bagi Harris.

"Apa yang terjadi di sini?"

Vera datang bersama Ruby di sampingnya. Bahkan, sang pengantin pria, Angga Baskoro, juga mendekat dengan pandangan mata yang berat.

Pada saat itu, semua tamu di aula mulai mengelilingi mereka untuk melihat keributan yang terjadi.

"Kak Vera, Kak Angga, meskipun ini hari pernikahanmu, si sampah Harris ini berani membuat keributan dan mengajakku berkelahi. Apa dia ingin mencoba mengacau?" Jordan berkata dengan wajah bersemu amarah, menatap tajam ke arah Harris seolah-olah dia baru saja menerima penghinaan besar.

"Harris, apa yang terjadi?" Angga bertanya dengan raut wajah penuh amarah yang tertahan.

"Jordan menjatuhkan dirinya sendiri. Aku tidak menyentuhnya sama sekali." Harris menjawab dengan jujur.

"Jatuh sendiri? Kalau begitu, kenapa Jordan berkata bahwa kau memukulnya?" Angga bertanya dengan suara yang dalam.

Harris menjawab, "Semua orang di sini melihat apa yang terjadi. Tanya saja kepada mereka."

"Kak, Harris hanya membuat-buat alasan. Aku datang hanya ingin bersulang dengan semua orang, lalu dia memukulku entah kenapa. Semua orang di sini melihatnya dengan jelas," kata Jordan dengan marah. "Jujur saja, Kak, kalau bukan karena kau, aku pasti sudah membalasnya."

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Angga memandang kepada para menantu laki-laki Keluarga Kusuma dan bertanya.

"Semuanya terjadi seperti yang dikatakan Jordan. Harris pasti tidak sadar kalau dia sudah minum terlalu banyak."

"Benar. Bau alkohol di tubuh Harris sangat menyengat, dia pasti terlalu banyak minum hingga tumpah-tumpah. Ketika Jordan datang untuk minum bersama kami, Harris tiba-tiba berjalan mendekat dan memukul wajahnya."

"Ya, itu yang kami lihat."

Beberapa menantu Keluarga Kusuma mengatakan hal yang sama dengan sungguh-sungguh.

Harris menatap mereka penuh rasa tidak percaya.

Kemudian, dia hanya bisa menyimpulkan senyum pahit di wajahnya. Karena Jordan adalah pewaris cabang ketiga keluarga—salah satu tokoh paling kuat di Keluarga Kusuma—siapa yang berani menyinggung Jordan demi menantu laki-laki yang menikah ke dalam keluarga istrinya seperti dia?

Karena itu, mereka semua memilih berbohong tanpa rasa bersalah.

Pada titik ini, Harris tidak lagi memiliki dorongan hati untuk menjelaskan yang sebenarnya. Tidak akan berguna. Yang lemah tidak memiliki kekuatan untuk melawan yang kuat.

Sebagai orang dengan status paling rendah di Keluarga Kusuma, dia tidak memiliki kekuatan untuk berbicara dan membela diri meskipun dia sungguh tidak melakukan kesalahan.

"Sungguh memalukan! Lupa nama keluarganya sendiri setelah minum beberapa gelas anggur!"

"Tuan Besar Keluarga Kusuma sudah sangat pikun membiarkan sampah seperti ini menjadi menantunya."

Para tamu di sekitar saling berdiskusi dengan semangat dan mengejeknya tanpa ampun.

"Harris, kenapa kau sangat tidak berguna?! Kau tidak bisa membantu apa-apa, tapi malah ingin menghancurkan semuanya?" Ruby berjalan mendekati Harris penuh rasa marah. Wajahnya terbakar merah dengan perasaan terhina yang tak terbendung.

Dia baru saja berbicara dengan Vera dan suaminya tentang pabrik ayahnya. Setelah Harris menyebabkan kekacauan besar diperjamuan mereka, bagaimana bisa dia melanjutkan percakapan itu?

"Masih belum mau meminta maaf? Cepat, minta maaf!" Ruby menatapnya dengan sangat kecewa karena telah membuatnya malu.

Melihat mata Ruby yang berkaca-kaca, Harris menggertakkan giginya dan berkata, "Kak Vera, Kak Angga, aku minta maaf telah membuat keributan dan mengganggu acara pernikahan kalian."

Di ujung kerumunan, Jordan hampir tidak bisa menahan tawanya. Wajah berbangga diri dan riangnya seakan berkata dengan jelas, 'Bahkan ketika aku menjebakmu dan mempermalukanmu seperti ini, siapa yang akan membelamu?'

"Harris, kau ini seorang pria. Tidak hanya menolak untuk bertanggung jawab, kau bahkan berani menjebak adik laki-lakiku? Aku paling benci orang-orang sepertimu!" kata Vera tanpa maaf.

Dibandingkan dengan Vera, wajah Angga bahkan lebih pucat melihat hal konyol seperti itu terjadi pada hari pernikahannya. Belum lagi, sebagian besar tamu yang datang adalah orang-orang terhormat dengan pengaruh besar di kota. Seberapa besar insiden ini akan berpengaruh pada reputasinya?

"Harris, aku tidak bisa menerima permintaan maafmu. Hari sepenting ini tidak layak untuk dinodai, jadi aku tidak akan memukulmu meskipun aku sangat ingin. Aku juga tidak akan meminta kompensasi untuk semua yang kau rusak. Cepat pergi saja dari pandanganku. Jangan pernah muncul lagi di hadapanku!" Angga berkata dengan dingin.

Menghela nafas panjang, Harris mengabaikan tatapan para tamu di sekitarnya dan berbalik berjalan keluar dari aula.

Namun, begitu dia berbalik, tiba-tiba Vera berseru...

"Ruby, bukankah kau ingin aku membantu ayahmu? Aku bersedia. Tapi aku tidak ingin melihat Harris lagi, jadi, selama kau mau bercerai dengan bajingan tidak berguna itu dan mengusirnya dari Keluarga Kusuma, aku bersedia membantu ayahmu menyelesaikan masalah pabriknya secepat mungkin!"

Meskipun Harris berhenti melangkah sejenak, dia memilih untuk tidak berbalik dan terus berjalan keluar dari ruang perjamuan.

Setelah meninggalkan lokasi aula perjamuan, Harris menyalakan sebatang rokok dan bertanya-tanya apa yang akhirnya akan dipilih Ruby.

"Ayo pulang."

Tiba-tiba, suara yang familiar terdengar dari belakang. Sepercik perasaan yang dalam menyentuh hati Harris. Ia menoleh dan melihat istrinya, Ruby, penuh dengan air mata yang masih menggenangi kedua mata indahnya.

Harris kemudian berkata, "Baiklah, ayo kita pulang. Tapi, urusan Ayah, apa rencanamu?"

Ruby berkata dengan amarah, "Sudah kubilang, cepat atau lambat kita akan bercerai. Tapi hanya karena keputusanku sendiri, bukan paksaan orang lain!”

"Kita akan pikirkan cara lain untuk menangani masalah Ayah. Tidak peduli apa yang terjadi, kita adalah keluarga. Ketika mereka menindasmu, sama saja dengan mereka menghinaku. Apa lagi yang perlu aku bicarakan dengan mereka!?"

Harris bergumam pada dirinya sendiri, "Keluarga..."

Setelah itu, mereka berdua berjalan beberapa langkah dalam keheningan.

"Harris, maafkan aku. Aku tarik kembali semua yang kukatakan di perjamuan tadi." kata Ruby sambil menyeka bulir-bulir airmata dari sudut matanya. "Aku termakan emosi. Tapi sudah kupikirkan lagi sekarang. Untuk apa kau memukul Jordan? Selain itu, kau juga tidak pernah minum."

Harris berkata, "Kau percaya padaku?"

Ruby langsung menjawab, "Aku percaya padamu."

"Terima kasih..."

Saat Harris menatap mata Ruby, dia membulatkan tekad untuk tidak pernah mengecewakan siapa pun yang menaruh kepercayaan sebesar ini padanya.

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height