+ Add to Library
+ Add to Library

C3 Mengambil Tindakan

Rumah Ruby terletak di Perumahan Permai. Menempati sebuah bangunan berusia sepuluh tahun yang terlihat tua dan lusuh.

Dari tampilannya saja, tidak cocok kalau dikatakan bahwa rumah ini dihuni oleh sebuah keluarga dengan status “Keluarga Kusuma” di Kota Tawang.

Sekembalinya mereka ke rumah, ayah mertua Harris, Guruh Kusuma, dan ibu mertuanya, Lillian Dirga, duduk di sofa dengan ekspresi serius.

Lillian tertawa pendek mencibir, "Harris, kau masih berani kembali ke rumah?"

"Kami sudah mendengar tentang insiden yang terjadi di acara pernikahan hari ini. Kau benar-benar pembawa sial. Lagi-lagi mengacaukan rencana kami!" Lillian menghentakkan kakinya ke lantai karena marahnya.

"Lupakan saja, bu, berhenti memarahinya. Kejadian itu bukan salah Harris. Kak Angga memang tidak pernah berniat membantu kita sejak awal," kata Ruby.

Setelah mendengar kata-katanya, kemarahan Lillian semakin mendidih meluap-luap, "Gadis bodoh, kau berani membelanya? Apa kau tidak cukup menderita di tangannya? Jika bukan karena dia, apa kau akan hidup dalam keadaan seperti sekarang? Kau seharusnya menikahi seorang pria dari keluarga kaya!"

"Bu, kenapa kau selalu ingin mengandalkan orang lain? Tidak bisakah kau mengandalkan dirimu sendiri?" balas Ruby.

"Mengandalkan dirimu sendiri? Baiklah... bagus, benar sekali." Lillian tersenyum pahit dan mengalihkan pandangan ke arah suaminya dengan tatapan kebencian. "Putriku telah bekerja sangat keras setiap hari, menderita untukmu. Tapi bagaimana denganmu? Bisa apa kau ini?"

Guruh menghela nafas berat, wajahnya penuh penderitaan.

Harris sudah mengira akan terjadi situasi seperti ini. Tanpa seorang pun menyadari, dia menyelinap ke dapur.

...

"Makanan sudah siap."

Setelah selesai memasak, Harris juga menyiapkan alat makan di atas meja. Ketika anggota keluarga lainnya berkumpul, mereka semua tetap terdiam.

"Harris, yang dikatakan Vera hari ini, kau pasti juga mendengarnya..." Lillian menatap Harris dengan wajah serius.

"Ibu!" teriak Ruby. "Aku tidak akan menceraikan Harris hanya karena orang lain menekanku untuk menceraikannya."

"Hah? Jangan bilang kau mulai menyukainya?" jawab Lillian sambil menatap putrinya. "Apa kau masih tidak mengerti situasi dipabrik ayahmu? Dia berutang gaji berbulan-bulan kepada karyawannya. Cuma butuh selangkah lagi sebelum pabrik itu gulung tikar. Keluarga kita harus makan apa nantinya?"

"Selain itu, apa kau pikir masalah ini begitu sederhana? Menyinggung Vera dan suaminya, menyerang Jordan, apa kau pikir mereka tidak akan membalas dendam pada keluarga kita?! Perceraian jelas pilihan terbaik saat ini. Kau tidak perlu terlibat dalam hal yang sia-sia ini lebih lama lagi!"

Ruby menggigit bibirnya, tidak menjawab omelan ibunya.

Mendapati putrinya seperti ini, Lillian berkata dengan tegas, "Guruh Kusuma! Kenapa kau duduk diam saja di situ? Bantu aku membujuk putrimu!"

Pria itu tampak tak berdaya dan tetap diam.

Selesai makan, Harris mencuci alat makan yang dipakainya, kemudian berjalan kembali ke kamar.

Dia duduk dengan kaki bersilang di atas tempat tidur.

Meditasi telah menjadi salah satu kebiasaan yang dia kembangkan selama lebih dari sepuluh tahun ini.

Terlepas dari hal dan peristiwa yang terjadi di dunia luar...

Hatinya tidak goyah sedikit pun.

Meditasi ini seolah-olah membersihkan tubuhnya dari semua kotoran yang dikumpulkannya sepanjang hari. Seperti air yang jernih, bersih dari debu dan kotoran. Masalah dunia fana pada akhirnya akan seperti debu di dalam air, jatuh teratur dan terdiam dalam ketenangan.

Setengah jam kemudian...

Harris tiba-tiba mengulurkan tangan dan meraih sebuah kerikil hitam di depan tempat tidurnya. Dalam genggaman eratnya, kerikil itu berubah menjadi debu dan menyelinap keluar dari antara jari-jarinya.

"Tenaga dalamku berhasil terbentuk," gumam Harris pada dirinya sendiri, dengan kilas kegembiraan melintas di matanya.

Gurunya pernah berkata bahwa dia baru bisa dianggap sebagai keturunan sejati Puri Naga hanya setelah berhasil membangkitkan tenaga dalamnya.

Ketika saat itu tiba, maka dia sudah bisa bertindak dan menggunakan tanda bukti batu giok yang diterima dari gurunya untuk mencari anggota keluarga Laksana di ibukota. Selain itu, giok ini juga bisa digunakan untuk mendapatkan berbagai hal seperti obat-obatan kuno, uang, personel, dan dia bisa menemui orang-orang dari dunia seni bela diri kuno untuk mencari pencerahan lebih lanjut dan mengejar puncak kehidupan. Ada potensi tidak terbatas dalam jalan seni bela diri.

Di bawah pengawasan konstan musuh mereka, anggota Puri Naga tidak boleh membocorkan hubungan mereka dengan Puri, atau mereka akan mengancam keselamatan hidup mereka sendiri.

"Tenaga dalamku sudah terbangun, akhirnya aku bisa bertindak dengan tanganku sendiri," pikir Harris pada dirinya sendiri sambil memegang tanda bukti giok berwarna hijau di tangannya. Matanya bersinar cerah dengan rona kegembiraan.

...

Keesokan harinya.

Harris sekali lagi dihentikan oleh sebuah mobil Bentley hitam ketika dia keluar dari Perumahan Permai.

“Haruskah aku yang menemuimu sendiri hingga kau mau berbicara tentang Keluarga Adiwangsa?”

Seorang pria paruh baya dengan setelan biru tua keluar dari mobil dan menatap Harris dengan wajah tanpa ekspresi.

Pria paruh baya itu memiliki bentuk tubuh yang kokoh dengan raut wajah yang tajam. Sorot matanya menghadirkan kesan martabat tinggi dan penuh wibawa.

Garis wajahnya melekuk dengan bentuk yang mirip dengan wajah Harris.

"Siapa pula yang mengharapkan kau datang." kata Harris dengan senyum di wajahnya.

Meskipun sudah lebih dari satu dekade sejak terakhir kali mereka bertemu, Harris masih bisa mengenali ayah kandungnya sendiri, Pandu Adiwangsa.

"Kau tidak ingin bertemu denganku, aku mengerti. Tapi, tidakkah kau ingin melihat kakekmu untuk terakhir kalinya?" tanya Pandu.

Kata-kata tak terduga ini membuat Harris terdiam sejenak. Di antara semua anggota keluarga Adiwangsa, hanya ada satu orang yang memperlakukannya dengan baik. Dia masih ingat jelas wajah kakeknya itu dari hari-hari masa kecilnya di Keluarga Adiwangsa.

Pandu berkata, "Mari kita bicara."

...

Dua puluh menit kemudian di lantai 26 Hotel Tawang.

Di dalam sebuah ruang konferensi yang besar, hanya ada Harris dan Pandu duduk berhadapan di meja rapat yang panjang.

“Kakekmu sudah tidak bisa meninggalkan tempat tidur sejak dua tahun lalu. Kesehatannya semakin memburuk, dan dia terus berkata ingin melihatmu sekali lagi... dan ingin kau kembali.” Pandu menjelaskan dengan perlahan. “Kedua pamanmu hanya memiliki dua anak perempuan. Hanya kau satu-satunya pria penerus darah Keluarga Adiwangsa."

"Satu-satunya penerus darah Keluarga Adiwangsa..." Harris mengulangi dengan nada sinis. "Jadi, kau ingin aku menjadi bidak yang bisa kau manfaatkan untuk mendapatkan warisan keluarga?"

"Kau itu terlalu naif," Pandu mendengus dingin."Keluarga Adiwangsa memiliki bisnis keluarga yang besar di ibukota, dengan cabang keluarga yang tak terhitung jumlahnya. Menurut aturan keluarga, jika kepala keluarga meninggal tanpa ada penerus di generasi ketiga, maka kepala keluarga akan digantikan oleh keluarga lain. Kalau ini terjadi, Keluarga Adiwangsa tidak akan dipimpin oleh cabang keluarga kita lagi."

"Semua itu tidak ada urusannya denganku." kata Harris dengan tenang.

"Selama beberapa tahun terakhir kakekmu jatuh sakit, cabang keluarga ketiga dan kelima telah bersiap memperebutkan kekuasaan keluarga. Semua ini hanya menyebabkan keributan yang tidak perlu. Apa kau hanya akan duduk santai disini dan tidak melakukan apa-apa sementara kakekmu harus menyaksikan semua usaha yang telah dia bangun selama hidupnya hancur tidak tersisa?" Pandu bertanya dengan raut kecewa.

Harris mengerutkan keningnya mendengar semua itu, namun kemudian tertawa kecil.

Bagaimanapun, dia mengerti betul tabiat ayahnya ini. Dia adalah pria yang rela melakukan apa saja tanpa peduli orang lain demi kekuasaan.

Jika bukan karena kakeknya yang jatuh sakit sehingga posisinya di Keluarga Adiwangsa mulai tergoyahkan, bagaimana mungkin pangeran kedua Keluarga Adiwangsa berkenan menurunkan martabatnya hingga datang ke Kota Tawang untuk mencarinya?

"Harris, apa mungkin kau sungguh ingin tinggal di Keluarga Kusuma kecil ini, dipermalukan seumur hidupmu?"Pandu berkata kembali. Dengan ini, Harris paham dengan jelas bahwa Pandu telah menyelidiki situasi kehidupannya dengan teliti.

“Kau menderita penghinaan yang begitu besar di pernikahan Keluarga Kusuma kemarin, tapi kau bahkan tidak punya kekuatan sedikit pun untuk melawan.” tambah Pandu. “Aku yakin kau pasti ingin memiliki kekuatan untuk membalas mereka.”

“Seharusnya semua orang di Keluarga Kusuma berlutut di kakimu kalau kau menginginkannya.”

Namun Harris hanya menggelengkan kepala tanpa kata.

Pandu mendengus, "Kau masih sangat muda. Jangan biarkan api kemarahan yang sesaat membakar kesempatanmu meraih kekayaan dan kemegahan yang seumur hidup. Kau belum pernah merasakan seperti apa kekuatan sejati yang sebenarnya! Tunggu saja setelah kau paksa Keluarga Kusuma untuk berlutut dihadapanmu, kau pasti paham rasanya."

"Aku tahu, dari lubuk hatimu kau membenciku. Tak apa kalau kau ingin membenciku seumur hidupmu dan tidak mengakuiku sebagai ayahmu." kata Pandu dengan wajah datar. "Tapi kembalilah ke Keluarga Adiwangsa dan temui kakekmu, akuilah dia sebagai kakekmu. Hanya itu saja. Setelah itu, kau akan mendapatkan semua hakmu dari Keluarga Adiwangsa dan bebas melakukan apa saja yang ingin kau lakukan."

"Syarat yang sangat sederhana, tapi ini adalah peluang besarmu untuk mendapatkan segalanya. Apa kau yakin masih tidak mau menerima?"

Harris berkata tanpa goyah, "Aku tidak butuh bantuanmu."

Pandu menghela nafas dalam-dalam, "Aku sadar telah mengecewakanmu dan ibumu saat itu. Tapi, kau pasti akan melakukan hal yang sama kalau kau ada di posisiku.”

"Seorang pria boleh kehilangan segalanya dalam hidup. Namun, satu-satunya yang tidak boleh hilang adalah kekuatan yang ada dalam genggaman tangannya."

Harris menggelengkan kepalanya dan mendesah kecewa. Setelah sekian lama, Pandu masih tidak merasa menyesal atau merasa bersalah pada dirinya dan ibunya.

Dia merasa, semua keputusan yang telah diambilnya adalah yang paling benar dan terbaik. Memandang pria di depannya, dia melihat contoh sempurna dari seorang pria tak berperasaan dengan mata yang hanya bisa memandang kekuasaan dan menjadi haus karenanya.

“Aku akan menyempatkan waktu untuk mengunjungi kakek. Tapi urusan Keluarga Adiwangsa tidak ada hubungannya denganku.” kata Harris sebelum dia berdiri dan pergi.

Pandu tidak bisa membendung tatapan tajamnya seakan ingin menusuk ke arah Harris.

Namun dia kembali tenang dan berkata dengan percaya diri, “Untuk saat ini, baiklah, aku akan membiarkanmu pergi. Aku sudah menjelaskan semuanya kepadamu, jadi, aku akan menunggu jawabanmu. Cepat atau lambat, aku yakin kau pasti akan berubah pikiran.”

Dia paham betul situasi Harris saat ini. Tidak mungkin dia akan menolak tawaran yang begitu menggiurkan.

Seorang pecundang yang telah lama menjadi menantu tak berharga, bagaimana mungkin akan menolak kesempatan untuk keluar dari situasi seperti itu, bahkan meraup untung yang lebih besar?

Siapa yang tidak ingin hidup dalam kejayaan?

"Terserah. Tunggu saja kalau kau ingin menunggu."

Harris tertawa hambar dan meninggalkan hotel itu tanpa menoleh sekali pun ke belakang.

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height