C4 Grup Laksana di Samudra Timur
Di sebelah timur Kota Tawang, Gedung Grup Laksana.
Gedung megah ini berdiri setinggi tujuh puluh lantai di pusat kota.
Dibangun di pusat kota yang makmur, gedung ini juga merupakan salah satu dari beberapa tempat yang menonjol di Kota Tawang.
Grup Laksana telah menimbulkan sensasi besar di seluruh Provinsi Samudra Timur sejak pindah ke Kota Tawang beberapa tahun yang lalu.
Grup Laksana yang berasal dari ibukota ini merupakan keluarga aristokrat teratas di seluruh Negara Garuda.
Sesampainya di pintu masuk gedung, Harris melanjutkan berjalan ke ruang tamu.
"Ada yang bisa saya bantu?" Resepsionis bertanya dengan ramah.
"Saya ingin bertemu dengan Direktur Bagas."
"Apa Anda sudah membuat janji temu sebelumnya?" tanya Resepsionis lagi.
Harris yang mengenakan pakaian harian sederhana tidak terlihat seperti seseorang yang memiliki cukup kedudukan untuk berbicara dengan orang penting seperti Direktur Bagas.
Sebagai juru bicara Grup Laksana di Provinsi Samudra Timur, Bagas Laksana memiliki kekuasaan dan kekayaan yang besar. Di seluruh Kota Tawang, tidak ada banyak orang yang cukup pantas untuk bisa berbicara dengannya.
Harris berkata, "Katakan padanya, saya adalah teman dari Yasa Laksana."
"Baik, mohon tunggu sebentar." Karena dia belum pernah mendengar tentang seorang Yasa Laksana di Grup Laksana, Resepsionis itu ragu-ragu sejenak sebelum menghubungi Direktur Bagas.
Di dalam ruangan kantor direktur di gedung yang sama, seorang pria paruh baya sedang memproses beberapa dokumen di mejanya.
Terdengar suara ketukan dari luar pintu.
"Masuk."
Sekretaris itu adalah seorang pria yang masih muda. Setelah memasuki ruangan, dia berkata dengan hormat, "Direktur Bagas, ada yang ingin menemui Anda di meja resepsionis."
"Bukankah saya tidak memiliki janji dengan siapa pun di jam ini?" ucap pria paruh baya itu dengan nada yang tegas. "Mungkin orang itu hanya ingin mencari masalah. Kalian tidak perlu memberi tahu setiap ada orang yang datang mencari saya. Mengerti?"
"Tapi..." Sekretaris itu terdengar ragu sebelum menambahkan, "Orang itu menyampaikan pesan bahwa dia berteman dengan Yasa Laksana."
Kemudian dia menambahkan lagi, "Saya khawatir mungkin orang itu adalah anggota keluarga yang datang mencari Anda..."
Yasa Laksana!
Sesaat, pria paruh baya itu menatap dengan pandangan kosong ke arah sekretarisnya, kemudian berganti dengan ekspresi penuh pertimbangan.
Yasa Laksana adalah nama kakeknya, kepala keluarga dari Keluarga Laksana.
Hanya keturunan langsung Keluarga Laksana yang mengetahui nama itu. Bagaimana mungkin ada orang asing di Kota Tawang yang bisa mengetahui nama itu, dan bahkan datang ke sini mencarinya?
"Seperti apa dia?" tanya Bagas.
Sekretaris menjawab, "Pemuda sekitar awal dua puluhan."
"Bawa dia kemari." perintahnya, namun masih terdapat kebimbangan di wajahnya. "Pemuda dua puluhan?"
Lima menit kemudian, Harris dibawa ke kantor direktur di lantai 66 oleh sekretaris itu.
Ketika Harris duduk dengan santai...
Bagas Laksana memiliki aura yang mengesankan, duduk di sisi lain dari meja itu, menatapnya dengan serius.
"Kalau boleh saya tahu, Anda ini…" Bagas tidak bisa menebak apa pun hanya dari melihatnya.
"Apakah Anda mengenali ini?" Harris membuka telapak tangannya, menunjukkan sebuah batu giok.
Permukaan giok itu diukir dengan pola rumit, serta sebuah kata "Laksana" tepat di tengahnya.
"Ini...?" Bagas tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Batu giok ini melambangkan identitas Keluarga Laksana. Jumlahnya tidak banyak, bahkan sebagai juru bicara yang mewakili Keluarga Laksana di Provinsi Samudra Timur, dia sendiri tidak memilikinya.
Dia hanya pernah melihat batu giok semacam itu di tangan ayahnya saat dia masih kecil. Namun, tampaknya giok yang ada di tangan pemuda ini memiliki tingkat yang lebih unggul.
"Mohon tunggu sebentar, saya akan memanggil Tetua Dharma." ucap Bagas dengan nada hormat, tidak berani menyinggung pemuda ini yang masih diselimuti misteri.
Harris mengangguk.
Dia tidak pernah meragukan kata-kata gurunya. Ketika dia masih muda, dia pernah bertemu tuan besar dari Keluarga Laksana yang bernama Yasa Laksana. Pada saat itu, bahkan Yasa Laksana memiliki sikap yang hormat ketika ada di hadapan gurunya, terlebih lagi cucunya.
Sebelum datang ke sini, dia telah mencari tahu bahwa Bagas Laksana sebenarnya adalah generasi ketiga Keluarga Laksana. Meskipun bukan yang terbaik di antara para generasi ketiga, dengan memandang posisinya saja sudah jelas bahwa dia tidak bisa dianggap remeh.
Bisnis yang ditangani Grup Laksana di Provinsi Samudra Timur diantaranya adalah barang antik, batu giok, perhiasan, penelitian medis, real estate, hingga investasi keuangan. Selama bertahun-tahun, secara alami mereka menjadi pusat kekuatan bisnis di industri ini.
Tidak lama kemudian, datang seorang lelaki tua berambut putih dan berjanggut panjang.
Bagas bergerak menyingkir dari hadapan kedua orang itu.
Dia hanya bertugas mengelola bisnis Grup Laksana. Hal-hal lain yang berkaitan dengan rahasia keluarga ditangani oleh Tetua Dharma, yang dikirim oleh ayahnya.
Meskipun lelaki itu tampak berusia lima atau enam puluhan, setiap langkah kakinya kokoh dan sorot matanya memancarkan semangat jiwa yang tinggi.
Setelah melihat giok di tangan Harris dengan lebih dekat, lelaki tua itu ternganga tak percaya. Dia menarik napas perlahan dan memperkenalkan diri, "Perkenalkan, nama saya Dharma Budiman. Kalau boleh saya tahu nama Anda…?"
"Harris Prasasta."
"Batu giok ini adalah milik Grup Laksana. Maafkan kelancangan saya, saya ingin menguji identitas Anda," ucap Dharma dengan ekspresi yang dalam.
Harris mengangguk mempersilahkan.
Sekilas pandang, Harris tahu bahwa dia bukan orang tua biasa. Dia yakin bahwa Dharma Budiman adalah seorang ahli dalam dunia seni bela diri.
Dharma balik mengangguk, lalu tiba-tiba mengguncang pergelangan tangannya dan menembakkan bola giok, melesat cepat ke arah Harris.
Meskipun serangan itu bergerak sangat cepat dan tiba-tiba, Harris duduk tenang di kursinya dan menangkap bola giok itu dengan tangan kosong.
Ketika tangannya yang terkepal dibuka kembali, bulir-bulir debu batu giok mengalir keluar dari antara jari jemarinya.
Melihat pemandangan yang tidak terduga ini, sepasang mata milik Bagas Laksana melonjak tak percaya.
Wajah Dharma tampak pucat pasi. Dia bergumam pada dirinya sendiri, "Seorang ahli tenaga dalam... di usia yang begitu muda. Mungkinkah dia murid dari orang itu...?"
Sebagai tetua Keluarga Laksana, dia mengetahui rahasia Keluarga Prasasta yang berhubungan dengan seni bela diri kuno. Karena itu, dia bisa menebak identitas asli Harris.
Dharma membungkukkan punggungnya, "Saya Tetua Cabang Ketiga Keluarga Laksana, Dharma Budiman, menyapa Tetua Agung."
"Bagas Laksana menyapa Tetua Agung," ucap Bagas mengikuti.
Batu giok di tangan Harris mewakili identitas Tetua Agung Keluarga Laksana. Keluarga Laksana memiliki aturan keluarga yang sangat ketat dan tidak boleh dilanggar.
Harris mengangguk menjawab kedua orang di depannya.
"Tetua Agung, apa ada yang perlu saya lakukan untukAnda?" Dharma bertanya dengan serius.
Namun tiba-tiba terdengar suara dering telepon.
Ponsel Harris yang berdering.
"Harris sampah, kau ada di mana? Cepat pergi ke rumah sakit kota! Aku sudah meminta seseorang untuk memproses perceraianmu dengan Ruby. Cepat datang ke sini dan tanda tangan sekarang!" Suara cemas Lillian terdengar dari sisi lain.
"Apa yang terjadi?" Harris bertanya.
"Ada keributan di pabrik pagi ini, dan ayah Ruby masuk rumah sakit karena luka-luka. Jordan tiba-tiba datang ke sana ingin membeli pabrik dan memaksa menjual rumah kita sebagai pelunas hutang kita. Ruby juga mencoba melawan, sampai dia pingsan. Akhirnya, Jordan bilang dia bersedia merelakan semuanya kalau kau menceraikan Ruby. Semua ini terjadi karena salahmu! Kumohon…kalau kau masih punya hati nurani, tolong ceraikan Ruby. Kami tidak tahan terus menerus disiksa seperti ini!”
Lillian terisak memohon. Sepertinya, situasi di sana sangat mendesak.
"Baik. Aku akan segera ke sana." Harris menutup panggilan telepon, ekspresi di wajahnya membeku.
Ruby pingsan?
Sorot mata Harris menajam, memandang ke arah Dharma dan Bagas.
"Hari ini juga, aku ingin Grup Kusuma bangkrut," ucapnya tanpa ampun.
"Baik, Tetua Agung, akan segera saya laksanakan," jawab Bagas.
Jujur saja, dia sudah mengira akan diperintah melakukan sesuatu yang besar dan sulit oleh Tetua Agung.
Namun, Bagas bisa menghela nafas lega di dalam hatinya. Menghancurkan bisnis perhiasan Keluarga Kusuma adalah masalah sederhana.