+ Add to Library
+ Add to Library

C9 Ciptaan Kita Berdua

"Harris, aku tidak menyangka kau tahu banyak tentang perhiasan," kata Ruby dengan nada lembut. Dia tidak pernah menyangka akan ada saat dimana dia bisa memandang Harris dengan cara yang berbeda.

Harris hanya tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa lagi.

"Sebenarnya, aku punya desain yang sangat kusukai sejak lama, tapi aku tidak pernah punya kesempatan untuk membuatnya," kata Ruby dengan serius.

"Desain ini membutuhkan berlian yang sangat mahal. Aku tidak punya kemampuan untuk mendapatkan bahan seperti itu, dan perusahaan juga tidak menerima proposalku..." Ruby bercerita dengan sedih.

Mengeluarkan sebuah kotak kayu merah yang indah dari lacinya, dia kemudian mengeluarkan draf tebal dari dalam.

"Ini adalah salah satu desain yang paling kubanggakan. Tapi aku belum memikirkan nama yang tepat," kata Ruby selagi menyerahkan rancangan itu ke tangan Harris.

Harris menerimanya dan menganalisis desain itu dengan serius.

Semakin dia melihat, semakin takjub dia dibuatnya.

Harus dikatakan bahwa Ruby memiliki bakat luar biasa dalam desain perhiasan.

Sangat disayangkan bahwa dia tidak ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi di dalam perusahaan. Keadaan di keluarganya juga sangat membatasi perkembangannya.

Draf ini adalah desain liontin. Tidak hanya indah luar biasa, tetapi juga menekankan keterampilan unik dari perancangnya. Jika bisa dibuat dan diterbitkan, pasti akan menimbulkan sensasi besar di dunia perhiasan.

"Boleh juga kalau ditambahkan desain lengkungan diatasnya, kemudian ukiran bunga yang halus di sekitarnya. Dari segi bahan, tentu saja harus berlian berwarna kelas atas, dan ukurannya harus besar.” Saran Harris.

"Tapi, bukankah jadinya terlalu mahal? Selain masalah biaya, proses produksinya juga jadi lebih sulit nanti," kata Ruby ragu-ragu.

"Tidak juga," ucap Harris meyakinkan. "Kau hanya perlu lebih percaya diri lagi. Cobalah menganggapnya sebagai perhiasan terbaik di dunia."

"Detail liontin dapat ditata secara manual oleh pengrajin tua. Dengan cara ini, pasti akan memberikan perasaan klasik dan serius, tapi tidak kehilangan nilai jual utamanya sebagai barang fashion," Harris menunjukkan detailnya dengan hati-hati.

Ruby mendengarkan dengan penuh perhatian dan mata berbinar.

Tidak terasa, mereka berdua mengobrol dengan penuh semangat selama setengah jam.

Akhirnya, desain akhir liontin itu selesai.

Ruby sangat puas menatap draf desain ditangannya.

"Sangat bagus! Harris, kau memiliki standar yang sangat tinggi untuk desain perhiasan," puji Ruby.

"Aku hanya menyampaikan apa yang sudah pernah kupelajari dari orang lain," Harris tersenyum. "Ini semua adalah idemu, aku hanya menambahkan beberapa detail di sana-sini."

"Tidak, ini ciptaan kita berdua," kata Ruby dengan serius.

"Baiklah, aku mengikutimu saja," Harris mengangguk.

"Sudah kuputuskan! Aku akan mengusulkan desain ini kepada Ketua Satria," kata Ruby penuh rasa percaya diri.

Namun seketika, ia cemberut dan merenung, "Tapi, akan kita beri nama apa?"

Harris berpikir sejenak dan menyarankan, "Raja Dunia."

"Raja dunia?"

"Iya, Raja Dunia," Harris tersenyum. "Apa kau sudah pernah menonton film Titanic? Ada adegan ketika Leonardo berteriak, 'Aku adalah raja dunia,' saat dia berdiri di haluan kapal."

Harris melanjutkan, "Aku menyukai kalimat klasik itu."

"Tentu saja aku pernah menonton Titanic! Aku ingat adegan itu." sepasang mata jernih Ruby berbinar. Memikirkan adegan itu di benaknya, dia tiba-tiba merasakan dorongan besar dari hatinya.

Sempurna!

"Raja dunia!" Ruby berkata dengan penuh semangat, "Aku akan menamainya Raja Dunia!"

Ruby akhirnya memutuskan.

Dengan cepat, Ruby memilah-milah draf desain miliknya dan mengirim proposalnya melalui surel.

Setelah menyelesaikan makan malam bersama keluarganya dihari yang sama, dia akhirnya menerima jawaban.

Ketua Satria menyatakan dalam surel balasannya, "Idemu cukup kreatif. Datanglah ke perusahaan besok dan temui saya di kantor."

Kegembiraan dalam hati Ruby meledak-ledak membacanya.

...

Hari berikutnya, di pagi hari.

Atas permintaan Ruby, Harris menemaninya ke perusahaan.

Setelah bersiap-siap, mereka berdua naik taksi menuju Menara Kila.

Ruby sangat bersemangat karena ini adalah kali pertama desain perhiasannya diakui nilainya oleh seseorang, terlebih lagi orang itu adalah ketua dari sebuah perusahaan besar.

"Jantungku berdebar sangat kencang,” kata Ruby dengan nada gugup. “Apa yang akan ditanyakan nanti? Aku khawatir salah bicara, nanti desainku tidak diterima…”

"Santai saja. Ceritakan saja pikiran dan idemu sejujurnya. Itu sudah lebih dari cukup," Harris membantu Ruby meyakinkan dirinya.

"Kalau nanti desain perhiasanku berhasil diterbitkan dan menerima pujian dari banyak orang, aku akan merasa puas seumur hidup!" seru Ruby dengan mata penuh kerinduan. Ini sudah menjadi keinginannya sejak lama.

Harris berkata, "Jangan khawatir. Aku yakin desainmu akan diterima. Seluruh dunia pasti bisa melihat dan menikmati keindahannya."

"Kuharap begitu."

"Jika ini berhasil, kau bisa menjadi desainer perhiasan seperti yang selama ini kau inginkan. Kau bisa melakukannya!" Harris menyemangatinya.

Ruby mengangguk, "Aku akan melakukan yang terbaik!"

Karena dari hatinya yang paling dalam, dia selalu ingin menjadi desainer perhiasan terkenal.

Tak lama kemudian, taksi mereka tiba di Menara Kila.

Mereka berjalan berdampingan memasuki gedung.

Lantai 28...

Ini adalah lantai di mana kantor Ketua Satria berada.

Area di sekitar lantai ini sangat besar, dengan pintu kaca dan meja-meja kantor yang diatur dengan rapi.

Para staf berlalu silih berganti, sangat sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.

Menginjakkan kaki keluar dari lift, mereka menerima tatapan aneh dari semua orang.

"Ruby? Bukankah Anda karyawan dari departemen pemasaran? Siapa yang mengizinkan Anda datang kemari? Ini adalah kantor departemen manajemen. Apakah Anda tidak mengerti status Anda sendiri?" Salah seorang eksekutif wanita yang kebetulan lewat berkata dengan ekspresi tidak mengenakkan.

"Oh? Ruby? Bukankah pria yang berdiri di sebelahmu itu orang yang mempermalukan Keluarga Kusuma? Dia menantu yang tidak berguna, Harris Prasasta, kan?" Seorang eksekutif senior Keluarga Kusuma yang duduk di kursi meliriknya dengan tatapan merendahkan.

"Saya ingat Nona Vera pernah memperingatkannya untuk tidak pernah muncul di depannya lagi. Anda berani membawanya ke sini?"

"Apa hubungannya dengan kalian semua?" Ruby mendengus tidak peduli. Biar saja orang-orang bermulut kotor itu terus bicara.

Tanpa ragu, dia berjalan menuju kantor ketua membawa draft di tangannya.

"Tunggu sebentar."

Suara yang akrab di telinga Ruby terdengar lantang dari seberang ruangan.

Seorang wanita mengenakan gaun ungu muda yang mewah berhiaskan perhiasan mahal sedang berjalan perlahan ke arah mereka.

Kedua bibir Ruby tertutup rapat, tidak bisa menahan sedikit perasaan gugupnya.

Dia adalah wanita yang dia kenal betul. Nona muda dari Keluarga Kusuma, Vera Kusuma.

Vera menjabat sebagai wakil kepala departemen desain Grup Kusuma. Pada saat yang sama, dia juga kepala desainer perhiasan perusahaan.

Selain itu, dia adalah putri direktur eksekutif, Januar Kusuma. Tidak perlu dikatakan, posisinya dijamin penting di perusahaan.

"Kak Vera..." sapa Ruby, merasa sedikit tidak nyaman.

"Diam!" Vera memotongnya dengan paksa dan menatap Harris di sampingnya dengan tatapan dingin. "Masih berani kau muncul di depanku?"

"Kak Vera, maaf, Harris dan aku datang ke sini untuk melakukan beberapa pekerjaan saja. Nanti kami akan segera pergi." Ruby berkata dengan gugup. Setelah ditekan oleh keluarga pamannya selama bertahun-tahun, secara naluriah dia diliputi rasa takut dan rendah diri yang besar di hadapan Vera.

"Ruby, kau tidak perlu meminta maaf. Kau tidak berutang apa pun padanya," kata Harris.

"Kau pikir kau itu siapa, berani bicara di depanku?" Vera mengangkat dagunya dengan bangga dan memandang Harris dengan jijik. "Aku masih punya masalah denganmu. Beraninya kau menunjukkan batang hidungmu di depan mataku?"

"Aku sudah meminta maaf. Terlebih lagi, yang saat itu bukanlah salahku." kata Harris dengan tenang.

"Punya nyali juga! Harris, apa kau sudah lupa apa yang pernah kukatakan?" tiba-tiba terdengar suara pria dari arah samping.

Angga Baskoro berjalan mendekat sambil menatap Harris dan Ruby seakan mereka tidak pantas mendapat tatapannya. Kemudian, dia mencibir merasa dirinya lebih tinggi, "Kau pikir bisa menyelesaikan masalah hanya dengan permintaan maaf? Apa kau sudah lupa nama keluargamu sendiri? Kau benar-benar berpikir aku tidak bisa menutup pabrik perhiasan bobrokmu itu?"

Angga telah menginvestasikan sejumlah besar uang ke dalam Perusahaan Perhiasan Grup Kusuma. Di antara anggota Dewan Direksi, ia juga pernah menjadi salah satu eksekutifnya.

Dia juga adalah Tuan Muda Pertama dari keluarga papan atas di Kota Tawang, Keluarga Baskoro. Dengan kekuatannya sendiri, dia bisa dengan mudah memaksa keluarga Ruby terusir ke jalanan dengan satu jentikan jari.

Ruby menggigit bibirnya, tidak tahu harus berbuat apa.

"Oh?" Vera tiba-tiba melihat tas berisi rancangan perhiasan di tangan Ruby dan berkata dengan jijik, "Jangan bilang kau datang ke sini karena lowongan pekerjaan yang dikeluarkan Ketua Satria?”

"Apa kau ingin melucu!? Dengan keterampilan rendahanmu itu, masih ingin menjadi perancang perhiasan? Berapa banyak desain perhiasan yang telah kau buat dalam beberapa tahun terakhir ini? Aku sudah lihat semuanya. Semuanya sampah! Lupakan saja mimpimu memasuki industri ini selama sisa hidupmu!" Vera mencibir tanpa belas kasihan.

"Ruby, sebagai wakil kepala departemen desain perusahaan dan kepala perancang perhiasan, secara resmi saya meminta Anda untuk meninggalkan gedung ini." Vera berkata dengan arogan. "Ide desain Anda ditolak!"

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height