+ Add to Library
+ Add to Library

C2 Bagian 2

Matahari bersinar dengan sangat terang. Vestele menatap beberapa manusia yang berlalu lalang di bawahnya. Jumlah manusia yang datang ke hutan kembali seperti biasa. Vestele tidak perlu khawatir mereka mengambil terlalu banyak tanaman.

“Vestele! Apakah kau akan pergi ke festival nanti malam?” tanya Marlie.

Vestele menatap seorang peri yang juga hidup di hutan itu. Vestele berpikir sejenak. Sepertinya dia memang harus datang ke festival itu. Vestele mengangguk dan menjawab, “ya, aku akan pergi. Aku masih balita saat terakhir kali pergi ke festival.”

Theo menatap Vestele dengan tatapan terkejut. “Akhirnya kau mau pergi ke festival! Aku dan Marlie sudah sangat lelah mengajakmu untuk pergi ke festival.”

“Baiklah jika begitu! Aku sudah meminta uang kepada tetua peri agar kita bisa berbelanja di festival itu. Kalau begitu sampai jumpa nanti malam!” pekik Marlie.

Marlie dan Theo kemudian kembali ke rumah mereka masing-masing. Vestele mendesah dan tertawa pelan. Rumah merekalah yang paling dekat dengan Vestele. Mereka berdua merupakan saudara kembar namun mereka tidak tinggal bersama.

Kelahiran mereka berdua benar-benar menghebohkan semua peri. Kelahiran kembar saja sudah sangat langka, dan mereka berdua adalah kembar perempuan dan laki-laki. Vestele baru berumur lima tahun saat mereka lahir tapi ia masih bisa mengingat reaksi semua peri.

Vestele kemudian terbang ke bawah dan segera mencari tanaman yang diinginkan oleh pemesan. Itulah pekerjaan yang paling sering dilakukan oleh para peri. Terkadang manusia kesulitan untuk menemukan tanaman yang mereka inginkan. Karena itu mereka membayar peri untuk mencari tanaman itu.

Vestele segera pergi ke tempat tanaman itu berada. Kliennya kali ini memintanya untuk mencari mawar hitam. Vestele tahu jika ia bisa memberikan mawar putih yang ia rubah warnanya menjadi hitam, namun ia bukan orang yang licik.

Mawar hitam sangat sulit dicari karena biasanya mereka menolak kehadiran manusia. Sudah banyak kejadian di mana para manusia terbunuh oleh asap yang diciptakan mawar hitam. Vestele bersyukur mereka tidak membunuh para peri.

Vestele bisa merasakan kehadiran mawar hitam. Ia mengalihkan pandangannya ke sebuah semak-semak. Ia menyibak semak itu dan menemukan beberapa mawar hitam. Tanpa sengaja Vestele mengambil energi mawar hitam itu dan membuatnya hampir layu.

Vestele terkejut dan segera mengontrol dirinya. Ia mencabut satu mawar hitam dan memastikan bahwa bunganya tetap segar. Vestele kemudian segera pergi ke perbatasan hutan dan desa. Ia bisa melihat seorang wanita tua yang sedang duduk.

“Ah, halo. Anda adalah orang yang meminta saya untuk mengambil mawar hitam, bukan?” tanya Vestele.

Ia mengangguk pelan. Ia kemudian memberikan beberapa uang kertas kepada Vestele. Vestele kemudian menyadari bahwa pakaian yang dipakai wanita tua itu kurang layak. Vestele menahan ludahnya dan memutuskan untuk bertanya. “Jika saya boleh bertanya, apa yang ingin anda lakukan dengan mawar hitam ini?”

“Cucuku memiliki badan yang lemah sejak ia lahir. Entah mengapa akhir-akhir ini kondisinya semakin parah. Dokter menyarankan agar kami memberikannya mawar hitam. Kami bekerja keras hanya agar bisa membeli mawar hitam ini,” ucapnya.

“Bolehkah saya menjenguk cucu anda agar saya bisa memberi tahu pengolahan yang tepat untuk mawar hitam ini?” tanya Vestele. Mawar hitam tidak boleh diberikan begitu saja. Vestele harus memastikan bahwa anak itu tidak meninggal setelah memakannya.

Wanita tua itu mengiyakan Vestele. Mereka berdua kemudian berjalan ke rumah wanita itu. Vestele bisa merasakan tatapan para manusia yang menatapnya dengan kagum. Vestele mengabaikan mereka dan masuk ke dalam rumah wanita itu.

Vestele bisa melihat seorang anak laki-laki yang napasnya tidak beraturan. Vestele mendekatinya dan menyadari bahwa ada energi tanaman yang diam di dalam tubuh anak itu. Vestele memegang tangannya dan menyerap energi itu ke dalam tubuhnya.

Hal seperti ini sangat sering terjadi pada anak kecil. Tubuh mereka tidak sanggup menahan energi tanaman yang mereka makan sehingga lama-kelamaan mereka bisa meninggal. Di dalam kasus anak ini mungkin saja ibunya memakan tumbuhan itu saat dia hamil.

“Rebus dua helai mawar hitam ini hingga airnya berubah menjadi warna merah. Berikan seminggu sekali selama satu bulan. Saya sudah menyerap energi tanaman yang membuatnya sakit. Semoga dia bisa cepat sembuh,” ucap Vestele tulus.

Wanita itu menangis dan mengenggam tangan Vestele dengan erat. “Terima kasih, terima kasih banyak. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau tidak ada. Ini bayaran yang sudah saya janjikan,” ucapnya sambil memberikan lima ratus barrel.

Mata Vestele mendelik ketika mendapat jumlah uang sebanyak itu. “Saya rasa itu terlalu banyak. Lagi pula kami tidak terkena racun mawar hitam saat mengambilnya. Lebih baik anda menggunakan uang itu untuk cucu anda.”

Wanita tua itu menggeleng dan tetap memaksa Vestele. Vestele akhirnya menyerah dan memutuskan untuk menerima dua ratus barrel pada akhirnya. Vestele menghilangkan sayapnya agar ia tidak terlalu menarik perhatian.

Walaupun begitu, tetap saja mereka semua tidak bisa mengalihkan pandangan mereka. Sayap Vestele yang terpecah berubah menjadi cahaya yang mengelilinginya. Terkadang Vestele mengeluh kenapa sayapnya itu sangat menarik perhatian.

Vestele menatap jalanan yang dihias dengan baik. Sepertinya mereka benar-benar semangat untuk merayakan festival itu. Vestele tertawa kecil dan segera mempercepat langkahnya untuk pulang ke rumah.

Malam tiba dengan sangat cepat. Kini Vestele sedang memilih baju apa yang akan dia gunakan. Setelah menimbang-nimbang, Vestele memutuskan untuk memakai sebuah gaun berwarna putih yang berisi motif bunga.

Marlie menatap Vestele dengan tatapan kagum. “Kau cantik sekali. Aku heran kenapa kau bisa memiliki wajah yang cantik dan juga tubuh yang bagus. Sepertinya aku terlalu banyak berbuat buruk di masa lalu.”

Theo tertawa mendengar hal itu. “Kau memang terlalu banyak melakukan hal buruk! Kau sering memfitnahku ketika aku tidak melakukan apa-apa. Sangat menyebalkan karena kita kembali terlahir sebagai saudara kembar di kehidupan ini.”

Theo dan Marlie adalah saudara kembar di kehidupan mereka yang dulu. Karena itu saat mereka bayi mereka sering sekali bertengkar karena tidak terima dengan kenyataan itu. Mereka juga tidak terlahir di bumi namun di sebuah planet antah berantah.

“Aku memang sudah cantik sejak dulu. Tapi sadarlah, fisik kita memang di atas rata-rata manusia. Biasanya hanya bangsawan atau keluarga kerajaan yang memiliki fisik seperti kita,” ucap Vestele.

“Benar. Tapi tetap saja hanya beberapa peri yang memiliki fisik malaikat sepertimu. Aku akui jika Arel dan Elisen memiliki wajah yang bagus sehingga tidak heran jika kau memiliki wajah yang cantik,” sahut Theo.

Marlie mengangguk setuju. “Aku harap kau tidak menyia-nyiakan wajahmu dengan menikah dengan laki-laki yang buruk. Wajahmu sangat berpotensi untuk membuat generasi baru menjadi lebih baik.”

Vestele tersentak ketika mendengar hal itu dan dia tersenyum. Hal itu sangat menyakitkan untuk diingat bahkan setelah ia terlahir kembali. Vestele benar-benar membenci dirinya sendiri karena hal itu.

Marlie menggaruk kepalanya yang tidak gatal ketika ia menyadari bahwa ia berbicara tentang trauma Vestele. “Bagaimana jika kita berangkat sekarang? Aku yakin kalian ingin mencoba banyak hal di festival itu!”

“Ayo kita berangkat sekarang!” pekik Theo semangat. Laki-laki itu mengenggam tangan Marlie dan Vestele dan segera terbang ke bawah dengan kecepatan tinggi. Marlie tertawa kencang karena hal itu.

Vestele langsung mengeluarkan sayapnya agar mereka tidak terjatuh ke bawah. “Sial. Jika aku terlambat mengeluarkan sayapku maka kita semua akan batal pergi ke festival. Lain kali jangan lakukan hal itu lagi, Theo.”

Theo mengangguk dan mereka bertiga segera berjalan ke pemukiman masyarakat. Vestele menelan ludahnya. Jantungnya berdebar-debar seolah dia akan bertemu dengan sesuatu yang mengejutkan. Vestele mendesah dan menatap ke depan dengan percaya diri. Apa pun yang menyambutnya nanti, dia akan menghadapinya.

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height