+ Add to Library
+ Add to Library

C9 Bagian 9

Vestele mendengkus pelan ketika melihat Mathew yang masih diam di dekat rumah orang tuanya. Laki-laki itu tidak mau pergi berapa kali pun Vestele mengusirnya. Vestele memutuskan untuk menemui Mathew.

Ia ingin membicarakan tentang dunia ini kepada Nevarth. Vestele sudah berusaha mencari informasi tentang segala hal yang ada di komik itu dan ia bisa memastikan jika dunia ini adalah dunia dalam komik itu.

“Halo Mathew. Sepertinya kau benar-benar gigih dalam melaksanakan tugasmu. Aku ingin membicarakan suatu hal yang sangat penting kepada Nevarth. Bisakah kau memberitahuku di mana ia berada?” tanya Vestele.

Mathew tersenyum lebar ketika Vestele berbicara dengannya. “Tentu saja aku sangat gigih. Kau adalah satu-satunya perempuan yang membuat Nevarth menolak semua lamaran yang datang kepadanya! Dia benar-benar mencintaimu.”

Vestele memalingkan wajahnya mendengar hal itu. Dia juga masih sangat mencintai Nevarth. Namun setelah mendengar posisi Nevarth yang masih sama tingginya dengan dulu, nyali Vestele menciut.

Dia benar-benar ketakutan jika orang tua Nevarth menolak anaknya. Vestele memiliki pengalaman buruk dengan beberapa orang yang memiliki status tinggi. Mereka sombong dan menyebalkan. Mereka menggunakan kekuasaan mereka untuk melakukan hal jahat.

“Pantas saja aku merasa aneh karena dia belum menikah walaupun sudah berumur lima puluh tahun. Omong-omong, sejak kapan kau bekerja dengan Nevarth? Kalian berdua tampak sangat dekat,” ucap Vestele.

Tubuh Mathew kemudian berubah menjadi naga dan segera mengisyaratkan Vestele untuk naik ke atas punggungnya. Vestele segera terbang dan duduk di punggung Mathew. Wujud naga Mathew benar-benar besar.

“Kami sudah bersama sejak masih kecil. Duyung jarang ditemukan di daratan karena mereka tidak bisa lama-lama berdiam di bawah sinar matahari tanpa air. Mereka akan dehidrasi dan bahkan bisa mati.”

Vestele mengangkat satu alisnya. “Lalu kenapa Nevarth bisa tinggal di daratan dan bahkan menjadi bangsawan? Dia adalah duyung murni, bukan? Bukankah berarti semua leluhurnya adalah duyung?”

“Benar. Leluhur Nevarth memiliki kemampuan untuk bertahan di daratan dalam jangka waktu yang sangat lama. Karena itulah kerajaan duyung memerintahkan keluarga mereka untuk tinggal di daratan. Mereka bertugas untuk menjaga hubungan kaum duyung dengan kaum lainnya,” jelas Mathew.

Vestele mengangguk-angguk mendengar itu. Ia menghembuskan napas lega. Itu berarti Biru akan memiliki kemampuan seperti ayahnya dan bisa bertahan hidup di daratan.

“Nevarth sering sekali menceritakan dirimu sejak dia masih kecil. Aku tidak memiliki ingatan istimewa dari masa laluku jadi aku hanya mendengarkannya. Dia selalu mengatakan bahwa dia menyesali semua perbuatannya,” lanjut Mathew.

Vestele menatap Mathew bingung. “Aku tidak mengerti kenapa dia selalu menyesal seperti itu. Dia adalah suami yang benar-benar baik dan aku bersyukur bisa bersamanya. Masalah kami hanya berasal dari orang tua Nevarth.”

“Aku tahu. Dia benar-benar menyesal karena tidak bisa melawan orang tuanya saat itu. Namun kini kau tidak perlu takut dengan orang tua Nevarth di dunia ini. Mereka adalah orang yang sangat baik dan aku yakin mereka berdua akan menyukaimu.”

Jantung Vestele berdebar mendengar hal itu. Dia tidak bisa menghilangkan ketakutannya walaupun Mathew telah berkata seperti itu. Trauma yang disebabkan orang tua Narendra sepertinya benar-benar melukai jiwa Vestele.

Mereka akhirnya tiba di sebuah kastel. Vestele segera turun dari punggung Mathew dan menatap kastel itu. Mathew berubah ke wujud manusianya dan segera mengantarkan Vestele ke sebuah ruangan.

Beberapa pelayan mengantarkan makanan dan juga minuman. Vestele berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak dengan kencang. Ia tidak tahu bagaimana caranya mengatakan semua hal itu kepada Nevarth.

Nevarth kemudian datang dan menatap Vestele dengan tatapan rindu. Vestele tersentak melihat tatapan itu dan tersenyum tipis. Semua kenangan di masa lalu menyeruak dan membuat Vestele merasa sendu.

“Aku tahu jika kau merasa tidak siap untuk bertemu denganku. Akulah orang yang menyebabkan hidupmu benar-benar buruk. Aku tahu jika itu semua adalah kesalahanku dan aku ingin memperbaikinya,” ucap Nevarth lirih.

“Sudah berapa kali aku katakan jika itu semua bukan kesalahanmu. Lagi pula aku tidak ingin membicarakan masa lalu. Aku ingin memberitahumu tentang masa depan Biru dan aku ingin kau menghindari takdir buruknya,” balas Vestele.

“Biru?” Nevarth menatap Vestele bingung. Vestele tersenyum dan menunjuk perutnya yang masih rata. Mata Nevarth berkaca-kaca ketika menyadari bahwa itu adalah panggilan mereka untuk bayi yang tidak pernah ada di masa lalu.

“Saat melihat wajahmu, aku merasa sangat familiar denganmu. Namun itu bukan karena kau adalah Narendra. Apakah kau ingat jika aku sangat suka membaca komik saat kita SMA? Aku ingat ada seorang karakter yang wajahnya mirip denganmu.”

Nevarth menyimak kata-kata Vestele. “Aku mengingat beberapa hal tentang komik itu dan berusaha mencari informasi. Ternyata dunia ini adalah dunia yang ada di komik itu, dan kau adalah ayah dari sang tokoh utama laki-laki,” lanjut Vestele.

Tubuh Nevarth menegang sejenak, namun dia merilekskan badannya. “Aku percaya dengan kata-katamu. Sejak terlahir di dunia ini aku tahu jika yang mustahil bisa menjadi nyata. Lalu apa yang akan terjadi dengan anak kita?”

“Well, dia mewarisi darah kaum duyung dan peri. Dia memiliki banyak musuh namun suatu hari nanti dia akan menang. Masa kecilnya memang sedikit buruk dan aku rasa kita bisa mengubahnya. Sayang sekali aku tidak bisa mengingat namanya,” jawab Vestele.

“Aku yakin akan banyak orang yang membencinya karena dia memiliki darah dua kaum. Aku dengar perkawinan peri dan duyung sulit untuk menghasilkan anak. Aku yakin kekuatannya akan sangat hebat.”

Vestele mengangguk. “Dia memiliki masa depan yang sangat cerah. Namun ada satu hal yang harus kau ketahui. Walaupun Biru bisa terlahir selamat. Ada hal lain yang harus dikorbankan demi keselamatannya.”

Nevarth menelan ludahnya. “Apa itu?”

Vestele memegang dadanya. “Nyawaku. Ibu dari tokoh utama meninggal ketika melahirkannya karena dia tidak mampu menahan energi yang dihasilkan oleh sang bayi. Karena itu dia benar-benar menginginkan sosok ibu di dalam hidupnya.”

Vestele mempersiapkan dirinya untuk melihat reaksi Nevarth. Ia mengangkat kepalanya dan melihat Nevarth yang menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Vestele tersenyum tipis dan kembali memegang perutnya.

“Apa? Bagaimana bisa kau masih tenang? Aku tidak ingin kehilanganmu lagi, Vestele! Kau tahu jika aborsi sudah ada di dunia ini, bukan? Dokter pasti mengizinkanmu karena bayi itu akan membahayakan nyawamu,” ucap Nevarth dengan nada memelas. Dia sangat putus asa.

Vestele menggeleng pelan. “Aku akan tetap melahirkannya walaupun itu akan merenggut nyawaku. Takdir telah memberiku kesempatan dan aku tidak ingin menyia-nyiakannya. Aku yakin jika kau pasti akan menemukan ibu yang bisa merawat Biru.”

Nevarth dengan cepat memeluk Vestele dan membuat perempuan itu tersentak. Vestele kemudian bisa mendengar suara isakan tangis Nevarth. Hati Vestele merasa sakit ketika mendengar laki-laki itu menangis.

“Aku sangat senang ketika aku mengetahui bahwa aku bisa bertemu denganmu lagi. Aku ingin memperlakukanmu dengan lebih baik di dunia ini. Aku benar-benar pengecut dan aku tidak ingin menjadi sosok Narendra lagi di hidupmu,” ucap Nevarth terbata-bata.

Vestele membalas pelukan Nevarth dan mengelus rambut hitamnya. “Sosok Narendra adalah sosok yang sangat hebat. Begitu juga denganmu, Nevarth. Aku tidak bisa memaksamu untuk melawan orang tuamu sendiri. Aku mengerti dengan pilihan mereka. Lagi pula aku juga tidak berpikir untuk meninggalkan anakku sendirian di dunia ini. Aku akan melakukan apa pun untuk mengubah rute cerita ini.”

Nevarth hanya mempererat pelukannya pada Vestele. Ia percaya pada perempuan itu.

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height